Yuyun

03/02/2015 at 12:29 (cerpen)

Sehari-hari, Sri Wahyuni dipanggil Yuyun. Umurnya 45 tahun. Ia menikah pada umur 22 tahun. Tetapi setelah lima tahun menikah, baru punya anak. Selanjutnya, hampir tiap tahun ia melahirkan, sampai anaknya empat orang, laki-laki tiga, perempuan satu. Anak tertuanya sekarang umur 18 tahun, yang paling kecil baru 13 tahun. Suaminya Kuswanto, pekerjaan utamanya tani, tetapi tidak pernah tekun. Kadang ia menyewa tanah lalu menyemai cengkeh. Karena katanya bibit cengkeh harganya tinggi. Ketika bibit siap dicabut dan dijual, tidak ada yang mau membeli. Harganya jatuh. Suatu ketika ia menanam cabai keriting dengan modal sampai Rp100.000.000. Sebab harga cabai keriting mencapai Rp20.000 per kg. Tetapi ketika panen, harga cabai jatuh hanya Rp800 per kg.

Begitu ada isu tentang komoditas yang hebat, Kuswanto akan segera menanganinya. Mulai dari cacing, jangkrik, buah naga, sampai lobster air tawar. semuanya gagal. Teman-temannya memang banyak pengusaha sukses, dan banyak di antara mereka etnis Cina. Dari mereka inilah Kuswanto mengenal perjudian. Kalau sudah judi, bisa seminggu ia tidak pulang. Tahu-tahu uangnya habis. Mobil, sepeda motor, sawah juga ia gadaikan. Untunglah Yuyun sempat menyembunyikan sertifikat tanah yang ada rumahnya ini. Kalau tidak tanah dan rumah yang mereka tempati itu juga akan dijadikan taruhan di meja judi. Sebenarnya bisnis beras Yuyun berjalan sangat baik. Ia membeli gabah petani langsung di sawah. Setelah dipanen, dijemur, dan diselepkan, berasnya dia jual sendiri di pasar.

Tetapi rongrongan suaminya terlalu berat bagi bisnis Yuyun. Hingga ibarat mobil, ia harus selalu menekan gas sekuat mungkin, sementara kecepatannya tidak juga tambah. Akibatnya bensin habis, mesin panas, dan kilometer yang dicapainya tak seberapa. Sebenarnya Yuyun tahu, bahwa yang salah bukan suaminya, melainkan ia sendiri. Suaminya sudah jelas kesalahannya. Tidak pernah menekuni pekerjaan, dan mudah hanyut dalam arus deras perjudian. Dirinya lebih bersalah lagi, karena tidak bisa mengendalikan suami. Seharusnya ia tegas. Contohnya, ketika semua harta benda sudah habis, Yuyun berubah. Dengan tegas ia menyembunyikan sertifikat tanah. Suaminya memang sempat ngamuk, tetapi ia juga yang menang. Tanah, dan rumah itu terselamatkan. Sampai sekarang, suaminya tidak tahu, di mana sertifikat itu berada.

Sejak itulah Yuyun seperti punya kekuatan. Ia jadi berani mengatur suaminya. Sekarang ia berubah menjadi kepala keluarga. Ia juga harus bertanggungjawab  terhadap biaya pendidikan keempat anaknya. Anak-anak itu harus terus sekolah, dan lepas dari pengaruh buruk ayahnya. Sekarang Yuyunlah yang mengomando suaminya untuk menengok padi yang akan ditebasnya. Suaminya itu juga harus patuh untuk menjadi mandor ketika panen padi, mengantar gabah ke selepan, dan lain-lain pekerjaan, yang dulunya dilakukan oleh sopir. “Daripada kamu menjadi buruh dan disuruh-suruh oleh mantan sopirmu, lebih baik aku, istrimu, yang menyuruh-nyuruh kamu.” Begitulah Yuyun selalu berdalih, ketika suaminya itu mengeluhkan pekerjaannya sakarang.

Tapi dasar setan judi sudah mengendap di hati Kuswanto. Suatu hari dia membelokkan satu pickup beras yang baru saja diselepkan, dan menjualnya di pasar. Setelah itu selama tiga hari dia tidak pulang. “Pasti keplèk lagi bapakmu itu.” Kata Yuyun pada salah satu anaknya. Sejak itulah Yuyun membatasi aktivitas suaminya. Dia hanya akan disuruh mengerjakan hal-hal, yang tidak terlalu beresiko menggugah kembali semangat judinya yang terpendam. “Sekarang begini ya Pak, sampeyan hanya boleh kerja di sawah dan di ladang sana. Biar orang lain yang mengurus gabah serta beras. Kalau sampeyan tidak mau sembuh, ya sudah kita cerai saja. Kasihan anak-anak kita Pak, kalau kau lanjutkan hobimu itu. Sudahlah, sekarang saya saja yang cari uang, sampeyan mau duduk-duduk saja silakan, asal jangan judi.

Untunglah, Kuswanto, suami Yuyun itu sangat sayang dan memperhatikan anak-anak mereka. Mungkin hanya anaklah yang selama ini membuat pasangan tersebut tidak bercerai. Sebab selama ini, Yuyun justru terlalu sibuk di pasar. Yang lebih sering di rumah ya suaminya. Hingga anak-anak pun, jadinya lebih dekat dengan bapaknya, dan bukan dengan Yuyun. Padahal, anak orang-orang itu, biasanya ya dekat sama ibunya, bukan sama bapaknya. Yang dikhawatirkan Yuyun adalah, hobi judi suaminya itu, akan menular ke anak-anak. Untunglah hal itu tidak terjadi. Anak-anak itu tumbuh normal, tidak nakal, dan sekolahnya juga lancar. Yuyun tidak terlalu tahu, apakah anak-anak itu tahu kelakuan bapaknya yang suka judi atau tidak.

* * *

Yuyun agak heran dengan juragan Badrun. Dulunya ia juragan tembakau terbesar di Ponorogo ini. Tidak tahu mengapa, pelan-pelan bisnisnya surut, lalu jatuh miskin. Pekerjaan sehari-harinya lalu hanya mencari rumput untuk tiga ekor sapinya. Untung bisnis istrinya masih terus lancar. Narsih, istri Badrun, membuka warung nasi di dekat pasar hewan. Dulu yang mencarikan tempat dan membangun kios ya suaminya. Sekarang berbalik, yang menjadi tulang punggung keluarga Narsih, bukan Badrun suaminya. Setahu Yuyun, juragan Badrun tidak pernah judi. Entah mengapa bisnisnya mundur lalu habis sama sekali. Kadangkala ia memang masih mau membantu bandar-bandar muda mencari tembakau. Tapi kerja sehari-harinya lebih banyak ke ladang menyabit rumput.

Yang Yuyun herankan, tahun ini juragan Badrun seperti terbangun dari tidur panjangnya. Awalnya ia hanya main-main ke kebun tembakau, membantu menaksir harga daun. Kemudian tahu-tahu ia sudah bisa membawa pulang beberapa keranjang daun, lalu merajangnya. Tak berapa lama kemudian, di rumahnya sudah ada puluhan keranjang tembakau rajangan. Dia tidak menyabit rumput lagi, juga tidak merajang tembakau sendiri, tetapi sudah bisa menggaji beberapa orang. Badrun kembali menjadi juragan, dalam waktu kurang dari satu tahun. Yuyun pun menyempatkan diri untuk menemuinya. Ia sangat berharap, suaminya bisa mengikuti jejak juragan Badrun, yang setelah jatuh, bisa bangkit lagi dengan prestasi yang lebih baik. “Benar Bu Yuyun, saya sendiri juga heran. Padahal saya ke Kemukus baru lima kali, langsung nasib kembali berpihak kepada saya.”

“Kemukus itu di mana to Mas Badrun? Dekat sini? Cuma di Solo situ? Solo itu di mananya? Apa di keraton Kasunanan sana, atau di Mangkunegaran, atau di Gunung Lawu? Masih harus naik bis lagi ke arah Purwodadi? Lalu jalan kaki atau naik ojek? La kok jauh sekali to Mas, tadi katanya dekat? Apa memang ampuh sekali tempat itu? Tetapi jangan-jangan pakai tumbal atau syarat macam-macam? Tidak ada tumbal? Harus pakai syarat? Kita harus datang kesana sebanyak tujuh kali tiap Jumat Pon? Lalu apa Mas Badrun? Harus tidur dengan pasangan yang punya niat sama dengan niat kita? Mas Badrun dengan pedagang soto dari Purwokerto? Nasibnya juga sama dengan nasib Mas Badrun? Setelah tiga kali Jumat Pon, sama-sama bisa bangkit? Lalu Mas Badrun menyarankan saya untuk ikut ke sana pada Jumat Pon mendatang ini?”

Sebenarnya, Yuyun ingin suaminya yang berangkat ke Gunung Kemukus, bersama dengan Juragan Badrun, tetapi Kuswanto justru ingin Yuyun saja yang pergi. Sudahlah Bu, saya menyerah. Saya ikut sampeyan saja. Kalau sampeyan sukses, saya juga akan ikut sukses kan? “Lo, apa sampeyan tidak cemburu kalau saya berangkat dan tidur dengan laki-laki yang juga ingin ngalap berkah? Sebab kata Juragan Badrun, syaratnya memang harus begitu. Kalau sampeyan tidak cemburu ya tidak apa-apa. Ini kan juga cuma syarat. Jumat depan ini kan sudah Jumat Pon, jadi tinggal kita tentukan saja, apa saya atau sampeyan yang berangkat. Jadi saya saja? Ya sudah. Sampeyan juga harus membantu doa dari rumah.”

Meskipun suaminya yang justru mendorong agar Yuyun berangkat ke Gunung Kemukus, tetapi kepergian ini harus dirahasiakan. Hanya Yuyun, suaminya, dan Juragan Badrun yang tahu. Maka ia pun mengatakan kepada anak-anak dan saudara-saudaranya akan pergi ke Pacitan, menengok Bulik Narti yang katanya tidak enak badan. Kepada para tetangga pun ia juga mengatakan hal yang sama. Selama ia pergi, kios beras akan ditunggu oleh Yadi, yang selama ini sudah membantunya, dengan ditemani Mbok Minah, orang kepercayaannya di rumah. Jadi semuanya beres, tinggal siap-siap untuk berangkat. Juragan Badrun mengajaknya berangkat hari Rabu Legi, hingga ada waktu cukup panjang di Gunung Kemukus untuk mendapat pasangan.

Yuyun tidak keberatan. Baginya, pergi menginap dua malam, atau tiga malam itu biasa. Dia kan pernah mendapat julukan sebagai juragan beras nomor satu di Ponorogo, yang tiap hari kerjanya jarang pulang. Tetapi itu dulu. Jadi sekarang ini, mau berangkat Rabu, atau malah Selasanya, atau Minggu sekali pun, Yuyun siap. Bukan hanya siap waktunya, tetapi juga siap uangnya. Ya, semiskin-miskinnya Yuyun, masih lebih baik dianding Juragan Badrun. Sama-sama orang miskin, memang tetap ada kelas-kelasnya. Juragan Badrun itu sudah sampai ke titik paling bawah. Sementara Yuyun masih ada di titik yang agak ke tengah. Dan mudah-mudahan, usulan Juragan Badrun ini, akan membawa perubahan pada nasib dirinya, hingga bisa kembali ke titik paling atas.

* * *

Meskipun Juragan Badrun sudah punya pasangan, dan akan bertemu di lokasi ziarah, Yuyun tetap tidak mau berangkat bersama-sama dari Ponorogo. “Kalau nanti ada yang melihat kan tidak baik to Mas Badrun. Meskipun suami saya sudah memberi ijin, tetapi lebih baik kalau kita jalan sendiri-sendiri. Sebaiknya kita ketemu di terminal bus Wonogiri. Dari sini kita akan bareng-bareng ke Solo, baru kemudian ke tempat itu. Begitu ya Mas Badrun?” Badrun sangat setuju. “Itu semua terserah Ibu Yuyun saja. Saya kan hanya perantara, agar niat Bu Yuyun untuk ke Gunung Kemukus, bisa kesampaian. Jadi nanti kita saling kontak-kontakanlah, tetapi Ibu Yuyun jangan berangkat terlalu siang, sebab nanti disananya akan susah kalau harus menyebarang segala.”

Ponorogo adalah ibukota kabupaten yang letaknya di pojokan barat daya Jawa Timur. Sebenarnya, yang persis berada di pojok barat daya adalah Kabupaten Pacitan. Kabupaten Ponorogo terletak di sebelah timur laut Pacitan. Di tenggara Ponorogo, ada Kabupaten Trenggalek, di sebelah utaranya Kabupaten Magetan, Madiun dan Nganjuk. Di sebelah baratnya, berbatasan dengan Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Selama ini, Kabupaten Ponorogo dikenal dengan kesenian reognya. Kesenian Reog Ponorogo, pernah diklaim sebagai kesenian khas Malaysia. Selain reog, ponorogo juga dikenal dengan tradisi waroknya. Warok adalah tokoh tradisional yang sangat sakti.

Kesaktian para warok ini, akan turun kualitasnya, apabila yang bersangkutan berhubungan kelamin dengan perempuan. Padahal para warok juga berumah tangga seperti lazimnya laki-laki lain. Agar kesaktiannya bisa pulih, para warok ini harus memelihara gemblak. Gemblak adalah laki-laki muda, umumnya masih remaja, yang akan dijadikan kekasih sesama jenis, oleh para warok, untuk memulihkan kesaktian. Dengan memelihara gemblak, kesaktian para warok akan terus terjaga, meskipun mereka secara rutin melakukan hubungan seks dengan sang isteri. Awalnya, Yuyun curiga, jangan-jangan Juragan Badrun itu juga seorang warok. Tetapi mengapa ia tidak memelihara gemblak? Ternyata Juragan Badrum memang bukan Warok.

Kabupatern Ponorogo terletak di deretan pegunungan kapur yang tandus, di bagian  selatan pulau Jawa. Deretan pegunungan kapur ini membentang mulai dari Gunung Kidul di DIY, Wonogiri di Jateng, dan Pacitan, Ponorogo, serta Trenggalek di Jatim. Ponorogo masih sedikit agak beruntung, punya lembah yang subur. Lembah di sekitar kota Ponorogo itu diapit oleh Gunung Lawu di bagian barat, dan Gunung Liman serta Gunung Wilis di bagian timur. Di sebelah selatannya, deretan Pegunungan Seribu yang membentang mulai dari Gunung Kidul sampai Trenggalek, yang menjadi benteng bagi lembah Ponorogo. Di lembah inilah Yuyun lahir, dibesarkan, dan kemudian tumbuh menjadi seorang ibu, yang sekarang menjadi tumpuan hidup bagi keluarganya.

“Ya, sekarang aku harus kuat. Aku harus menempuh cara apa saja agar bisa menjadi tulang punggung keluarga. Yang penting, usaha ini dibenarkan di mata Allah. Aku tidak tahu apakah ritual ini termasuk dibenarkan oleh Allah, atau justru yang dikutuk olehNya. Andaikan ritual ini termasuk yang terkutuk, maka aku siap saja menerima ganjaran berupa apa pun. Termasuk menjadi penghuni neraka jahanam sekalipun. Yang penting anak-anakku bisa sekolah dengan lancar, bisa menjadi manusia yang baik, berbakti kepada dua orang tuanya, dan juga menjalani perintah agama. Biarlah hanya aku seorang yang menjadi korban, apabila jalan yang akan kutempuh ini memang bukan jalan Allah.

Saya sebenarnya memang pernah mendengar nama Gunung Kemukus. Tetapi kata orang-orang pasar itu, Kemukus itu kan tempat saru. Saru bagaimana? Mereka malah cekikikan. Jangan-jangan orang-orang pasar itu sudah banyak yang kesana ya? Maka lebih baik kalau aku ini diam-diam saja. Nanti kalau cerita-cerita, lalu mereka tertawa cekikikan lagi, kan malu juga saya ini. Orang tua kok menjadi bahan tertawaan yang muda-muda. Maka ketika Juragan Badrun cerita, lo kok benar to kata orang-orang pasar itu. Kok ternyata benar ada to tempat saru seperti ini. Kok yang ke sana, kata Juragan Badrun, juga sangat banyak to? Ya termasuk Yuyun Sri Wahyuni ini, yang katanya ingin menjadi tulang punggung keluarga.” * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: