Kekayaan

09/02/2015 at 16:19 (novel)

“Mas Badrun, jadi besuk malam, kita harus mandi di sendang itu? Mbak siapa Mas, pasangan sampeyan itu? Mbak Miah! Mengapa dia belum datang? Tapi dia pasti akan datang kan? Ya wong sampeyan ada HP, dia ada HP, jadi ya tidak susah kontaknya. Tapi aku belum punya pasangan lho Mas Badrun. Sampeyan harus tanggungjawab, mencarikan pasangan. Ya, memang. Sekarang ini yang penting kita istirahat. Mandi lalu makan. Aku menjadi sangat lapar Mas Badrun. Sampeyan juga lapar kan Mas Badrun? Mbak Miah sudah berangkat dari Purwokerto ya? O, dia ini bukan Purwokerto ya? Kata Mas Badrun tadi Purwokerto? Banyumas itu sebelah mananya Purwokerto to? Kalau dari Yogyakarta, sebelum Purwokerto ya? Aku memang pernah lewat situ, tetapi itu dulu sekali.”

Hari itu masih Rabu Legi. Ritual Gunung Kemukus baru akan berlangsung besuk malam. “Apakah benar aku akan bisa menjadi kaya? Apakah Yuyun, istri Kuswanto dari Ponorogo ini akan menjadi kaya karena datang ke Gunung Kemukus ini? Sebenarnya aku hanya ikut apa kata Juragan Badrun. Aku sendiri tidak terlalu peduli, apakah akan menjadi kaya atau tidak. Tetapi aku ingin hidupku tenteram. Berumahtangga dengan Kuswanto aku rasakan tidak pernah bisa tenteram. Ya aku akan minta ketenteraman hidup, pada Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan. Bukan kekayaan. Aku tidak berani menjadi kaya. Asal cukup, tidak kekurangan, itu sudah terlalu baik bagi diriku.”

“Mas Badrun, apakah sampeyan memang benar ingin menjadi kaya? Lalu untuk apa kekayaan itu andaikan sudah sampeyan dapatkan? Untuk anak isteri? Untuk kawin lagi? Akan kawin lagi sampai berapa kali sampeyan Mas Badrun? Empat kali sesuai dengan Syariat? Atau hanya cukup yang ini saja? Mas Badrun, apakah kalau perempuan juga boleh menikah sampai punya empat suami? Kalau tidak boleh, berarti aturan itu tidak adil. Aku akan minta pada Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan, agar perempuan juga disetarakan dengan laki-laki. Kalau laki-laki boleh poligami, maka Pangeran dan Nyai juga harus mendoakan pada Allah, agar perempuan juga bisa poliandri.”

“Ya, sebenarnya, dengan ngalap berkahmu, perempuan dan laki-laki di Gunung Kemukus ini sudah menjadi setara. Tanpa perlu menuntut untuk berpoliandri, sebenarnya aku, Yuyun dari Ponorogo, sudah bisa setara dengan Juragan Badrun. Hanya saja dia sudah lima kali datang kemari. Sementara aku baru kali ini. Dia sudah punya pasangan Mbakyu Miah dari Banyumas, sementara aku belum dapat pasangan. Awas kamu Juragan Badrun. Kalau sampai kamu tidak bisa mencarikan pasangan untukku, maka hanya cukup sekali ini sajalah aku ke Gunung Kemukus. Tak ada gunanya aku datang dua kali, tiga kali, atau malahan seperti katamu sampai sebanyak tujuh kali. Itu tidak mungkin kan Mas Badrun?”

“Mudah-mudahan Gusti Kang Nggawe Urip, bisa memberikan jalan pada aku ini, Yuyun dari Ponorogo, agar bisa memperoleh jalan terang, menuju hidup yang lebih baik. O Gusti, lewat Pangeran Samodro aku nyenyuwun, lewat Nyai Ontrowulan aku berharap, mudah-mudahan ada laki-laki yang juga punya niat sama denganku, lalu laki-laki itu diketemukan oleh Juragan Badrun, dan kemudian diantarkan pada Yuyun ini. O Gusti, mudah-mudahan apa yang aku harapkan ini bisa terkabulkan. O Pangeran Samodro, apakah Sampeyan mendengarkan doaku. O, Nyai Ontrowulan, apakah Nyai juga bisa mendengar doaku ini? O, bodohnya aku ini. Orang sudah mati tentunya ya tidak bisa mendengar doa manusia yang masih hidup.”

Yuyun dan Juragan Badrun, pagi itu menjadi bagian dari Komunitas Gunung Kemukus. “Tadi malam sampeyan bisa tidur Mas? Jadi Bu Miahnya belum datang juga? Katanya kemarin sudah berangkat? O, menginap di Jogya? Jadi sampeyan itu tadi malam tidur sendirian to? Saya kok curiga. Jangan-jangan sampeyan sudah kelonan sama mbak-mbak yang ini tadi? Belum ya? Saya ngantuk sekali ya terus tidur. La sampeyan itu katanya mau mencarikan pasangan ya belum dapat kok. Kalau tadi malam sudah dapat, saya kan sudah bisa kelonan. La kalau sampeyan itu belum ada pasangan dan saya juga, mengapa tadi malam kita tidak kelonan saja to Mas Badrun? Malu ya sama saya? Atau takut?”

* * *

Kamis Pahing, 10 Mei, pagi-pagi sekali, Sarmin sudah sampai ke Gunung Kemukus. Dia turun dari bus malam di Terminal Bus Tirtonadi, Surakarta. Dari sini dia ganti bus jurusan Purwodadi. Dia dapat jurusan yang langsung ke Blora. “Kalau mau turun di Barong bisa kan Pak?” Tanya Sarmin pada kernet bus itu. Kernet menjawab. “Barong yang mau ke Gunung Kemukus? Ya bisa.” Dan Sarmin lalu pindah dari bus malam, ke bus siang Surakarta Purwodadi, Blora. “Kali ini aku harus berhasil mendapat pasangan. Bukan pasangan lonte seperti selapan yang lalu, tetapi pasangan sejati, perempuan yang juga punya niat sama dengan niatingsun. Aku harus sangat berhati-hati, hingga tidak ketemu lonte lagi.”

Hari masih sangat gelap ketika Sarmin turun di Barong. Tukang ojek belum ada yang bangun. “Malah kebetulan. Kalau banyak ojek seperti Jumat Pon yang lalu, repot aku ini. Tidak naik, dikejar-kejar terus, mau naik duit pas-pasan. Mending seperti sekarang ini sepi.” Baru saja Sarmin berkata sendiri dalam hati, deru sepeda motor dengan sorot lampunya datang dari belakang. “Ojek mas. Murah, hanya Rp20.000 saja.” Sarmin terpaksa berhenti dan menoleh, sambil menggeleng dan menjawab. “Mboten kok mas. Kulo mlampah mawon.” Ojek itu masih tidak mau menyerah. “Sepuluhewu mawon! Airnya tinggi lo mas, jadi ojeknya harus memutar dari Pungkruk.” Sarmin tetap menggeleng. “Mboten!” Tukang ojek itu nekat. “Pun pitungewu limangatus mawon!” Sarmin tetap menggeleng, “Mboten”.

Ternyata air benar-benar sangat tinggi. Beda dengan Jumat Pon yang lalu.  Jalan itu dibatasi bambu dan tali rafia, hingga orang masih bisa tahu batas jalan. Tetapi Sarmin yakin, ojek sepeda motor tidak akan bisa lewat. Sebab air setinggi pinggangnya itu akan masuk ke lubang knalpot. Berarti benar kata tukang ojek itu, mereka harus memutar dari Pungkruk. Di mana itu Pungkruk? Dompet ia pindahkan dari kantong celana ke kantong baju. Tas ia angkat ke atas agar tidak terkena air. Kalau air menggenang setinggi ini, jarak yang harus ditempuh Sarmin juga lebih panjang. Untung langit sudah agak terang, hingga ia tidak terperosok ke dalam waduk, yang pasti dalam sekali. Kaki Sarmin terus meraba-raba, agar tidak terperosuk ke dalam lubang.

Setelah sekitar seperempat jam berjuang, akhirnya Sarmin sampai ke seberang. Ia segera ke Sendang Ontrowulan untuk mandi dan ganti celana. Di sendang, belum ada orang yang mandi. Orang-orang di Kompleks Kemukus, memang tidak ada yang mandi di sendang ini. Masing-masing rumah, biasanya punya kamar mandi sendiri. Kamar mandi itu penting, sebab rumah-rumah di seluruh kompleks Kemukus, tiap malam Jumat Pon, berubah menjadi kamar-kamar sewaan. Kamar-kamar itu perlu kamar mandi. Itulah sebabnya ketika Sarmin ke Sendang Ontrowulan, tidak ada orang yang ada di sana. Juru kunci juga tidak ada. “Ya, memang baru nanti sore sendang ini ramai. Sekarang celana telah ganti yang kering, sebaiknya aku minum dan sarapan. Kalau tidak ada nasi, ya sarapan apa saja, yang penting perut terisi.”

Sarmin masuk ke Warung dan sekaligus penginapan terdekat. Jumat Pon yang lalu ia pernah mau menginap di sini, tapi terlalu berat kalau harus membayar Rp30.000 semalam. Di  warung itu sudah ada pasangan laki-laki dan perempuan, yang sedang sarapan, juga beberapa PSK. Sarmin minta teh manis dan nasi rames. “Andaikan aku jadi orang kaya, maka pagi-pagi begini, sudah bisa minum teh dan makan nasi rames. Tidak perlu lagi mendorong gerobak bakso. Tapi aku bukan orang kaya. Aku orang yang sedang jatuh. Aku orang yang sedang tirakat mencari srono. Jadi ya harus sabar. Mari Pak, mari bu, sarapan.” Kata Sarmin pada pasangan laki-laki dan perempuan itu. “Silakan, kami baru saja. Sampeyan ini baru sampai ya? Dari mana?” Tanya si laki-laki. Sarmin merasa sedang diselidiki. “Ya saya baru saja datang, dari Jakarta.”

Sarmin merasa terganggu. Padahal ia ingin sekali menikmati nasi rames yang hangat itu seenak mungkin. La kok diselidiki. Ini orang item ini kok kelewatan amat. Padahal pasangannya putih, cantik, dan kelihatannya kaya. Kok ada juga ya orang kaya yang sampai ke tempat ini? Saya kira yang kemari ini hanya orang-orang susah seperti dirinya ini.E, ternyata ada juga orang kaya. Ya memang, banyak sekali kan yang datang dengan membawa mobil. Sambil menikmati sarapannya, beberapa kali Sarmin melirik ke pasangan di depannya itu. Kadang ia melirik yang laki-laki, tetapi lebih banyak ia melirik yang perempuan, yang berkulit putih, yang wajahnya cantik, yang memakai kalung, gelang dan suweng, dan roknya bagus.

* * *

Juragan Badrun lalu mencecar Sarmin. “Jadi sampeyan ini baru datang? Baru pertamakali ini, atau sudah yang ke berapa? Apa sampeyan sudah punya pasangan? Apa dagangan sampeyan di Jakarta? Bakso? O, ini sudah untuk kedua kalinya? Jadi sudah punya pasangan to? Belum? Lo, kok bisa begitu?” Juragan Badrun lalu tertawa terbahak-bahak. “Itulah kalau sampeyan tidak hati-hati. Di sini ini banyak sekali perempuan yang mencari makan dengan cara begitu. Ya kasihan sampeyan ini. Jadi ini, saling berkenalan dengan Ibu Yuyun, saya menggeser ke sini ya? Saya juga akan SMS Bu Miah, sudah sampai di mana dia ya? Katanya sih sudah masuk Solo. Berarti sebentar lagi akan sampai kemari. Sampeyan siapa namanya? Sarmin? Ya ini Bu Yuyun!”

“Ini bukan sandiwara kan Mas? Mas siapa sampeyan? Mas Badrun? Sebab saya benar-benar kapok, dan tidak ingin pengalaman Jumat Pon yang lalu terulang lagi. Bu Yuyun ini benar dari Ponorogo kan? Boleh saya lihat KTPnya? Ya dulu itu saya juga ditunjuki KTPnya, KTP Donorejo. Ternyata dia perempuan bayaran. Habis duit saya jadinya. Untung aku hanya membayar Rp 30.000. Kalau tidak, aku tidak bisa pulang. Ya maaf lo Bu Yuyun, sebab pengalaman Jumat Pon yang lalu memang tidak baik. Lo, jadi sampeyan ini bukan pasangannya to? Tadinya saya mengira sampeyan berdua ini pasangan. O, jadi Mas Badrun sudah lima kali ini, dan Bu Yuyun baru sekali? Saya sudah dua kali ini, tetapi yang kemarin tertipu.”

“Bu Yuyun, impian saya dan impian Wati, istri saya, sebenarnya sangat berbeda. Aku hanya bermimpi ingin seperti dulu lagi, sebelum menikah. Ketika itu bakso saya laris. Saya bisa hidup dengan tenang. Impian wati adalah impian yang memang hampir tidak mungkin diwujudkan. Ia mimpi menjadi boss besar, kaya, dan berkuasa. Karena kenyataan yang dia hadapi tidak seperti itu, maka ia menjadi boss besar bagi anak-anak dan suaminya. Karena ia ingin kaya secara instan, maka suaminya dipaksa untuk ke mari ini. Sebenarnya saya tidak terlalu yakin, apakah dengan ngalap berkah dari Pangeran Samodro, saya bisa menjadi kaya. Tapi demi istri akan kujalani semua ini.”

Sarmin dan Yuyun lalu berpasangan dan berpisah dengan Juragan Badrun, yang juga sudah bertemu dengan Miah, pasangannya dari Banyumas. “Pokoknya besuk kita ketemu di warung ini, kalau salah satu belum sampai, ya kontak-kontakanlah Bu Yuyun. Sekarang kita mencari jalan hidup masing-masing.” Begitulah Juragan Badrun yang menggandeng pasangannya dengan gaya seorang warok, lalu menghilang di tikungan yang mengarah ke cungkup. Sarmin dan Yuyun juga meninggalkan warung itu, tetapi Yuyun menyarankan, agar tas Sarmin ditaruh di penginapan dulu. “Ya di penginapan saya. Juragan Badrun tidak tahu, menginap di mana. Biarkan saja dia.”
Kamis Pahing malam Jumat Pon, tanggal 6 April, Sarmin merasakan sensasi kehidupan. Ia merasakan tidur dengan perempuan yang meskipun jauh lebih tua darinya, tetapi cantik, lebih kaya, dan sangat bermartabat. Baginya, menjadi kaya lalu tidak penting lagi. Tetapi ia juga merasa bersalah. Ia juga ingat Wati yang tidur di rumah petak dengan anak-anaknya. “Rumah Bu Yuyun pasti besar dan bagus bukan? Ya, saya yakin pasti beda dengan rumah orang tua saya di Gunung Kidul sana, juga beda dengan rumah petak yang saya tempati di Jakarta sana. Jadi kita harus bertemu sebanyak enam kali lagi tiap Jumat Pon? Ya, yang akan saya lakukan dengan Ibu Yuyun ini, tidak akan saya ceritakan secara detil dengan Wati.”

Maka malam itu, Sarmin seperti mimpi. Ia seperti naik montor mabur, dari lapangan terbang Maguwo di Yogyakarta, menuju Jakarta. “Mboké, aku biso mabur lo Mboké, ini lihat, aku terbang dan terapung-apung di langit. Ya benar di langit, naik dan turun melayang-layang? Yo penak to Mboké, terbang kok tidak enak. Bagaimana to Mboké ini. Ya tidak takut. Aku dulu memang selalu ngimpi pengin bisa terbang naik montor mabur. Lo kok sekarang keturutan bisa melayang-layang seperti ini to? Mboké, aku sampai di Purwokerto lo. Ya memang cepet kok. Kalau jalan kaki, dari Pucanganom ke Karangwuni ya ngos-ngosan tidak nyampe-nyampe. La sekarang sudah di atas Jakarta! Lo Mboké, aku mau jatuh lo ini. La, rak jatuh tenan to! * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: