Demak Bintoro

16/02/2015 at 14:26 (novel)

Meilan merasa, catatan tentang Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan dalam brosur pariwisata Pemkab Sragen, berbeda dengan literatur yang selama ini pernah ia baca. Dalam brosur versi pemerintah itu, diceritakan tentang Pangeran Samodro yang menyebarkan Syiar Islam di sekitar Bukit Kemukus sekarang ini. Kemudian pangeran itu menderita sakit, lalu meninggal dan dimakamkan di Bukit Kemukus. Nyai Ontrowulan, ibu Pangeran Samodro, sangat bersedih, lalu menyusul ke Bukit Kemukus, kemudian meninggal dan dimakamkan di samping makam puteranya. Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan sendiri, menurut beberapa ahli, bukanlah figur sejarah, melainkan legenda.

Setelah merasakan suasana Jumat Pon di Kompleks Gunung Kemukus, Meilan memutuskan untuk tetap berada di Surakarta, melengkapi bahan, baik bahan tertulis maupun sumber lisan. Meilan juga masih ingin datang lagi ke Gunung Kemukus pada Jumat Kliwon mendatang, sebab ia masih ingin memperoleh narasumber yang gagal ngalap berkah dari Gunung Kemukus. Maka ia pun banyak mendatangi ahli naskah kuno, baik dari Universitas Negeri Sebelas Maret atau UNS, maupun dari Museum Radya Pustaka. Di antara sekian banyak narasumber yang didatanginya, ada satu orang yang jelas-jelas menentang kisah Pangeran Samodro versi brosur wisata. Nama narasumber itu Raden Mas Djoko Sumitro, profesi pedagang barang antik.

“Saya sangat tidak sependapat dengan brosur wisata yang dibuat pemerintah itu. Jelas ngawur itu. Memang ada beberapa versi tentang legenda Pangeran Samodro, tetapi semuanya menceritakan tentang hubungan asmara antara pangeran ini, dengan Nyai Ontrowulan, ibu tirinya. Nyai Ontrowulan itu bukan ibu kandung Pangeran Samodro, melainkan ibu tirinya. Menurut legenda itu, Nyai Ontrowulan adalah salah satu selir Girindrawardhana, raja terakhir majapahit yang bergelar Brawijaya VI  dan berkuasa antara tahun 1478 sampai 1498. Pangeran Samodro adalah salah satu anak Brawijaya VI dari selir yang lain. Setelah Majapahit runtuh, elite politik kerajaan cerai berai. Mereka ada yang tetap Hindu dan lari ke Bali, atau ke Tengger.

Ada pula elite Majapahit yang masuk Islam. Mereka terbagi menjadi dua. Kelompok pertama berada dalam lingkar kerajaan di Demak Bintoro, yang tentu saja berdomisili di Demak. Kelompok kedua bermukim di Tanah Perdikan Pengging, di antara Boyolali dan Kartosuro. Konflik antara Demak dan Pengging, akhirnya tak terhindarkan. Puncaknya adalah, terbunuhnya Ki Ageng Pengging, dan Syech Siti Jenar. Menurut legenda. Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan, termasuk elite Majapahit, yang masuk Islam, dan berada dalam lingkar Kerajaan Demak, di Demak Bintoro. Semua versi, menceritakan, bahwa anak dan ibu tiri ini menjalin hubungan asmara.

Dalam versi yang paling banyak beredar di masyarakat, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan diusir dari Demak Bintoro. Dengan pengikutnya, mereka berdua lari ke arah selatan. Waktu itu, perjalanan bukan ditempuh melalui jalan darat, melainkan sungai. Kemungkinan besar, mereka menyusuri Sungai Serang, dan sampai di sekitar Gunung Kemukus sekarang. Di sinilah menurut legenda, tentara Kerajaan Demak yang mengejarnya, menangkap dan membunuh dua sejoli ini, lalu menguburkannya dalam satu liang lahat. Versi inilah sebenarnya yang paling banyak beredar di masyarakat, tetapi tidak terlalu disukai oleh aparat pemerintah. Pemerintah lebih senang kalau Pangeran Samodro diceritakan sebagai sosok yang soleh.

Tetapi masyarakat tidak akan pernah percaya. La kalau Pangeran Samodro itu penyebar Islam yang soleh, kok orang-orang berhubungan seks dengan pasangan yang bukan muhrimnya dibiarkan saja oleh pemerintah? Lalu itu PSK-PSK itu, mengapa mereka juga menjajakan diri di sana? Pemerintah itu memang terkesan bodoh dan sekaligus munafik. Maksud saya ya aparatnya. Mestinya ya dibiarkan aja legenda itu menurut versi yang paling banyak beredar di masyarakat. Tidak usah diubah-ubah, apalagi untuk menipu rakyat. Itu kan malah jadi aneh. Wong makam penyebar Islam, kok lalu dijadikan tempat mesum, dan pemerintah juga menarik retribusi. Kalau versi masyarakat itu dicetak di brosur, pemerintah malah menjadi lebih jujur.”

* * *

Beberapa ahli yang dihubungi Meilan, membenarkan versi ini. Seorang ahli sejarah dari UNS, bahkan mengatakan, ada kemungkinan, terusirnya Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan dari Demak Bintoro, bukan sekadar soal asmara. “Kalau hanya seorang pangeran, selingkuh dengan ibu tirinya, itu biasa di lingkungan kerajaan. Kalau kemudian hal demikian menjadi perkara besar, ada kemungkinan Petinggi di Kerajaan Demak, atau malah Raja Demak sendiri, ikut naksir Nyai Ontrowulan. Karena yang ditaksir menolak, maka mereka berdua diusir, bahkan kemudian dibunuh. Kalau hanya ada anak tiri selingkuh dengan ibu tirinya, kok rasanya tidak akan sampai bunuh-bunuhan.”

“Tapi begini ya Mbak Meilan ya,  ada kemungkinan, Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan, sebenarnya bagian dari kekuatan Pengging, yang diselundupkan ke Demak. Dan kemudian ketahuan, lalu mereka lari, dikejar, lalu dibunuh di Gunung Kemukus. Agar “kepahlawanan” mereka tereliminasi, maka diciptakanlah cerita perselingkuhan itu. Bahkan ada versi yang menceritakan, bahwa mereka dibunuh pada saat melakukan hubungan intim, dan belum sempat selesai. Hingga mereka berdua lalu berkata, bahwa barang siapa mau melanjutkan hubungan intim ini di sekitar sini, di tempat terbuka, pada malam Jumat Pon, maka segala keinginannya akan terkabul. Versi itulah yang paling banyak dipercaya masyarakat.”

“Dugaan saya, versi inilah yang paling masuk akal. Sebab Mbak Meilan pernah mendengar kisah Syech Siti Jenar? Sebenarnya ajaran Syech Siti Jenar, tidak ada yang aneh di lingkungan Kejawen. Mengapa dia dibunuh para Wali? Karena Syech Siti Jenar adalah bagian dari kekuatan Pengging. Pengaruh Pengging dan Syech Siti Jenar, ketika itu demikian meluasnya di wilayah Demak Bintoro, hingga para penguasa formal menjadi ketakutan. Kalau Siti Jenar dibunuh dengan dalih politik, dia akan jadi pahlawan. Maka dalih keagamaanlah yang dipakai. Ia dituduh mengajarkan bidaah. Bahkan setelah dibunuh, diberitakan bahwa mayatnya berubah menjadi anjing budugan.”

“Tetapi mengapa versi yang sekarang disebarluaskan oleh pemerintah, justru menyimpang jauh dari versi yang beredar di masyarakat?” Meilan tidak habis mengerti. Mengapa, dari isu politik, perselingkuhan, kemudian bergeser menjadi isu Syiar Islam? “Ya, itu kan begini ya Mbak Meilan. Pemerintah itu sebenarnya kan sangat ambigu. Di satu pihak mereka ingin ada uang masuk dari Kemukus, tetapi tidak mau kalau tempat ziarah ini dikait-kaitkan dengan perselingkuhan, apalagi kemaksiatan. Tetapi semakin ditutup-tutupi, daya tarik versi masyarakat justru akan semakin tinggi. Seperti Syech Siti Jenar itu. Yang kemudian berkembang di Jawa Tengah, kan justru Islam Siti Jenar atau Islam Abangan.”

Meilan masih ingin memburu beberapa narasumber, atau mereka yang bisa memberi teks tertulis berbahasa dan berhuruf Jawa. Biar saja aku tidak bisa membaca dan tidak tahu artinya. Yang penting teks itu ada, dan aku bisa foto, untuk illustrasi. Meilan lalu membayangkan, Nyai Ontrowulan itu pasti cantik sekali, dan sensual. Buktinya, ia berhasil menggaet anak tirinya, yang pasti jauh lebih muda dari dirinya. Kalau jaman sekarang, Nyai Ontrowulan itu tergolong perempuan yang pintar mencari brondong. Dan brondong itu tidak usah dicari jauh-jauh, karena sudah tersedia di dekatnya. Ada kemungkinan Nyai Ontrowulan juga berdarah Mongoloid, sebagaimana banyak selir Raja Majapahit pada umumnya.

“Ya silakan saja Mbak Meilan. Di sini banyak yang tahu. Teks legenda itu juga ada. Di perpustakaan UNS ini ada, di Radyapustaka juga ada, banyak kok. Bahkan di Perpustakaan Nasional di Jakarta juga pasti ada. Dan memang benar Mbak Meilan itu. Selir para Majapahit itu banyak yang ras Mongoloid. Lo kalau kita bicara Dayak, Nias, Toraja, Manado, itu semua kan juga ras Mongoloid kan? Bahkan kalau diadakan tes genetika, saya yakin orang-orang Kuningan, Sumedang, dan Tasikmalaya, itu semuanya termasuk ras Mongoloid. Jadi dugaan Mbak itu bisa saja benar. Hubungan antara Jawa, India, dan Cina itu kan sudah berlangsung sejak lama ya, dan penyebabnya adalah rempah-rempah.”

* * *

Teks yang dicari Meilan, ternyata cukup banyak. “Tetapi ini legenda lo Mbak. Jadi Mbak jangan menyamakannya sebagai fakta sejarah. Yang dimasyarakatkan oleh pemerintah melalui brosur wisata, juga bagian dari legenda itu. Fakta sejarah tentu beda. Tidak pernah ada fakta sejarah, yang menyebutkan ada tokoh bernama Samodro, dan Ontrowulan. Sama halnya dengan fakta sejarah, tidak ada yang menyebutkan keberadaan Damarwulan dan Menakjinggo.” Meilan manggut-manggut, sambil memotret teks-teks kuno berhuruf Jawa itu. Selain di Museum Radya Pustaka, Meilan juga memperoleh data tentang Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan, dari sumber-sumber lain.

Seorang tokoh masyarakat di Surakarta, menasehati Meilan, agar berhati-hati. “Begini Mbak Meilan ya. Pemerintah Kabupaten, itu meskipun sekarang sudah era reformasi, kadangkala juga masih sangat arogan. Mbak kan akan menulis dengan menampilkan semua sisi bukan? Tentu temasuk kenyataan yang ada di masyarakat. Masyarakat selama ini percaya, bahwa Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan itu anak dan ibu tiri, yang menjalin kisah asmara. Karena hubungan ini tidak direstui oleh kerajaan, maka mereka tersingkir, bahkan kemudian terbunuh. Tetapi nasib legenda Pangeran Samodro saat ini, ternyata mirip dengan kisah itu sendiri. Kisah yang dipercayai masyarakat ini, justru ditolak oleh aparat pemerintah.”

“Tetapi memang benar, bahwa Mbak harus menulis apa adanya. Pemerintah daerah itu, kalau uang retribusinya mau, tetapi mengakui bahwa ritual di Gunung Kemukus, harus disertai dengan hubungan seks, pakai malu-malu. Tetapi, pendapat saya ini jangan dikutip lo Mbak Meilan? Benar ya? Nanti kalau Mbak mengutip pendapat ini, lalu nama saya disebut, bisa celaka badan ini. Kalau hanya kena semprot dari mana-mana, masih lumayan. Salah-salah saya dimutasikan ke lereng gunung Lawu sana, di Alas Krendowahono!” Meilan memang pernah mendengar nama itu disebut-sebut oleh Redpel Bimo. “Alas Krendowahono itu apa sih Pak, kok kelihatannya menakutkan sekali?”

“Begini ya Mbak Meilan ya, Krendowahono itu kerajaan lelembut, atau makhluk halus terbesar di Jawa ini. Letaknya di lereng utara Gunung Lawu, yang masuk wilayah Kabupaten Sragen. Wujudnya sih ya hutan milik Perum Perhutani. Tetapi angkernya luar biasa. Orang yang pernah ke sana, jarang sekali yang bisa pulang. Kebanyakan hilang. Apa Mbak Meilan juga tertarik untuk menulis yang begitu-begitu itu? Saya sarankan jangan Mbak. Sama sekali jangan. Krendowahono, itu dari kata krendo atau bandoso, artinya alat untuk mengangkut jenasah. Wahono artinya keadaan. Jadi krendowahono adalah keadaan yang mengarah ke kematian. Jadi benar-benar menyeramkan.”

“Saya tetap akan membantu Mbak Meilan, kapan saja diperlukan, asal ya itu tadi. Nama saya tidak usah disebut-sebut. Apalagi foto saya, sama sekali jangan dipasang. Apakah Mbak Meilan sudah bertemu dengan Romo Drajad? Ya, orang-orang menyebutnya begitu. Dia itu mungkin sekarang ini tinggal satu-satunya penyair yang masih tetap setia menulis, bukan hanya dalam bahasa Jawa, melainkan juga dengan huruf Jawa. Mbak Meilan harus ketemu dia, sebab Romo Drajad itu banyak tahu tentang Gunung Kemukus. Dia pernah diwawancarai oleh televisi Jepang, juga oleh majalah dari mana begitu. Pendapat dia memang kadang-kadang agak aneh. Tetapi sekarang ini kan yang laku justru yang aneh-aneh begitu.”

“Saya sendiri tidak tahu di mana rumahnya. Tetapi alamatnya ada. Nanti biar dicarikan oleh anak-anak itu. Saya sering sekali ketemu dia. Malah kami pernah ke luar negeri bareng. Ke Jepang waktu itu. Lo Mbak Meilan juga sering ke Jepang to? O, malah pernah lama di sana? Ya itu memang negeri yang sangat indah, dan juga bangsa yang sangat hebat. Beberapa waktu yang lalu, ada undangan dari mana kemarin itu ya. O, ya, ya, dari Walikota. Tetapi sponsornya memang Air Mancur. Nah di situ juga saya ketemu Romo Drajad. Dia malah baca puisi segala kok. Ya puisi bahasa Jawa. Kayaknya dia itu juga masih muda. Saya dan juga teman-teman memang tidak terlalu tahu. Wong dia itu selain aneh memang misterius kok.”

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: