Revolusi Kultural

23/02/2015 at 12:18 (novel)

Rumah Romo Drajad terletak di Kartosuro. Bukan di kotanya, tetapi masuk ke arah barat laut, melewati sawah-sawah, kuburan, dan sebuah sungai kecil. Rumah itu terletak di atas tanah yang agak tinggi, dan di kiri kanannya masih berupa lahan kosong. Rumah terdekat, berjarak sekitar 200 m, dari rumah Romo Drajad. Dia hidup sendirian, hanya ditemani oleh pembantu laki-laki, meskipun usianya sudah lebih setengah abad. Kata orang-orang, Romo Drajad itu memang hombreng. Pembantu laki-lakinya itu, sebenarnya ya istrinya. Meilan datang dengan diantar tukang ojek. Sebab satu-satunya kendaraan yang bisa sampai ke rumah Romo Drajad hanyalah ojek sepeda motor.

“Wah, saya merasa mendapat kehormatan, didatangi oleh seorang wartawati dari Jakarta. Selamat datang Ibu!” Romo Drajad menyalami Meilan. Meskipun ia jauh lebih tua, dari Meilan, tetapi cara salamannya dengan menunduk, dan mencium tangan Meilan. Diperlakukan demikian, Meilan menjadi agak kikuk. “Ah Romo ini kok berlebihan sih. Saya bisa diterima Romo kan sudah sangat beruntung. Ya, kenalkan Romo, nama saya Meilan. Saya wartawati Majalah Fidela. Ini saya bawakan contoh majalahnya, supaya Romo tahu. Sebelumnya saya sangat berterimakasih, Romo bersedia menerima saya. Hampir semua yang saya temui di Surakarta, merekomendasikan, agar saya sowan Romo.”

“Wah, saya yang merasa sangat terhormat kedatangan Ibu. Silakan duduk ibu, mau minum apa? Kalau Ibu berkenan, saya ada kelapa muda. Kelapa hijau yang segar Ibu.” Romo Drajad lalu memanggil pembantunya. “Katno, sini No, ini kenalkan, ini Ibu Meilan dari Jakarta, ini Katno Bu, pembantu setia saya. Coba No, di belakang itu kan ada kelapa muda, Ibu Meilan ini pasti haus. Jadi kamu carikan kelapa hijau seperti yang biasanya itu ya?” Rumah Romo Drajad itu khas Jawa. Ada pendopo, berupa bangunan joglo, kemudian rumah utama, dapur, kandang ternak, sumur dan kamar mandi. Meilan diterima Romo Drajad di pendopo. Di situ ada seperangkat meja kursi, amben bambu, bangku panjang, seperangkat gamelan Jawa, dan satu kotak wayang kulit.

“Begini Romo, saya ke Surakarta, ditugaskan untuk meliput obyek wisata ziarah Gunung Kemukus. Tentu banyak pihak yang saya temui. Saya juga membaca literatur, termasuk yang berhuruf jawa. Karena saya tidak bisa bahasa Jawa, ada yang membacakannya. Semua yang saya temui itu, selalu menyarankan agar saya menyempatkan diri untuk bertemu dengan Romo. Jadi kedatangan saya kemari, sebenarnya dalam kaitan tugas saya, ingin mendapatkan penjelasan dari Romo, tentang ritual ziarah di Gunung Kemukus. Orang-orang itu mengatakan, bahwa Romo pernah diwawancarai oleh tivi Jepang, lalu majalah apa begitu. Jadi itulah Romo, saya sangat berharap Romo bisa membantu saya.”

“Ya, sudah tentu Ibu, saya akan membantu sebisa mungkin. Tapi minum dulu ini kelapa mudanya. Katno! Kamu bukankah tadi juga menggoreng pisang sama singkong? Bawa kemari! Benar Ibu, ketika saya diwawancarai majalah dari Amerika itu, saya kemudian dipanggil ke kantor polisi. Saya bertanya, untuk apa? Katanya mereka akan minta keterangan. Kalau kalian yang akan minta keterangan, ya datang saja kemari. Kalau saya yang perlu surat keterangan, saya yang akan datang ke kalian. Tampaknya mereka takut menangkap saya. Malah ketika itu ada utusan bupati yang datang, katanya bupati minta maaf, dan minta agar semua dianggap selesai. Saya yang kemudian bertanya, apa salah bupati kok minta maaf ke saya, dan yang dianggap selesai itu apanya?”

“Aparat pemerintah kabupaten yang katanya utusan Bupati itu jadi bingung. Ya jangan bingung to Pak. Mau minum apa? Dia lalu tersipu-sipu, lalu saya panggil Katno dan dia bawa kopi. Ayo ngopi dulu Pak. Sudahlah, lain kali kalau atasan nyuruh-nyuruh, jangan asal mau. Saya itu diwawancarai majalah, lalu saya ngomong bener, e, mau ditangkap polisi. Tapi kalau dia benar menangkap saya, akan tambah malu itu polisi, juga bupati. Saya senang saja ditangkap. Di kantor polisi kan enak. Tidak usah kerja, diberi makan, ada tempat tidur, apa tidak enak to? Saya tidak pernah melawan, tetapi biasanya orang-orang itu lalu takut pada diri mereka sendiri. Ya mereka takut pada diri sendiri yang telah berbuat salah.”

* * *

Meilan menyimak tayangan CD di monitor tivi itu dengan seksama. Benar, ternyata yang mewawancarai Romo Drajad sebuah stasiun televisi Jepang. Majalah yang memuat wawancara Romo Drajad ada beberapa. Ada majalah Belanda, Singapura, Taiwan, Amerika Serikat, dan Australia. Intinya, Romo Drajad berpendapat, bahwa ritual seks di Gunung Kemukus adalah sebuah revolusi kultural. Dia mengatakan, bahwa selama ini di Jawa, yang boleh berselingkuh, yang boleh punya selir banyak, hanya laki-laki bangsawan, terutama raja, atau saudagar kaya. Rakyat kebanyakan, terlebih perempuan, tidak boleh ikut-ikutan. Kalau ada rakyat berselingkuh, hukumnya diarak ramai-ramai dan dinikahkan.

“Itu semua tidak adil!” Kata Romo Drajad dalam hampir semua wawancaranya. “Mengapa hanya bangsawan dan orang kaya yang boleh menikmati seks bebas? Dan mengapa hanya laki-lakinya? Mengapa perempuannya tidak boleh?
Maka digagaslah sebuah ritual seks antara pasangan yang bukan suami isteri, di alam bebas. Di sini laki-laki dan perempuan setara. Yang laki-laki boleh memilih pasangannya, perempuannya juga bebas memilih pasangan masing-masing. Hubungan seks di tempat terbuka secara massal, adalah hal yang sangat unik di dunia ini. Agar acara kurangajar ini memperoleh legitimasi, maka dikaranglah legenda Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan.”

“Saya yakin Ibu, yang punya ide menciptakan ritual ini sangat jenius. Kaum bangsawan, dan alim ulama Jawa ketika itu, sama sekali tidak berdaya melarangnya.  Saya pribadi sangat tidak percaya kalau ada orang yang namanya Pangeran Samodro, putera Brawijaya VI, berselingkuh dengan ibu tirinya, dan lain-lain. Itu semua, saya yakin hanya karangan saja Ibu, agar pesta seks ini mendapatkan legitimasi secara kultural. Ya, sebenarnya rakyat Jawa pada jaman kerajaan Mataram Islam, memang sangat kritis. Ibu tahu buku Gatoloco dan Dharmo Gandul? Pernah mendengar tetapi belum pernah membaca? Sangat saya sarankan, Ibu membaca dua buku wajib itu. Kalau mau tahu jalan pikiran orang Jawa, ya harus baca dua buku itu. Jangan hanya baca Centhini, jangan hanya baca Kalatida!”

“Ritual seks, sebenarnya bukan hal yang istimewa pada jaman neolitikum, Ibu. Ya di Afrika, di Eropa, di Amerika Tengah dan Latin, juga di Jawa ini, ritual seks sangat terkait dengan dewa atau dewi kesuburan. Itu semua milik rakyat. Kemudian ada budaya metropolis. Ketika itulah strata dibuat, aturan main dibakukan, dan penguasa serta orang kaya, menjadi punya hak-hak khusus, yang dibedakan dengan hak rakyat jelata. Di Timur Tengah lalu ada perbudakan, yang kemudian dilanjutkan di Amerika. Di India sana ada kasta. Untung di sini tidak ada. Tetapi hak-hak rakyat tetap dirampas. Hingga muncullan protes gaya Jawa. Mahabharata dan Ramayana versi Jawa, ada punakawan, yang pada versi aslinya di India sana tidak ada.”

“Jadi itulah pendapat saya Ibu, silakan dimuat, silakan nama saya disebut. Saya tidak takut, saya bukan ahli ini itu. Ya saya ini memang dikenal sebagai penyair yang masih setia menulis dengan bahasa dan huruf  Jawa. Ya hanya itu saja. Kemukus itu, sekarang ini saya anggap sebagai oasis bagi orang-orang yang ingin seks bebas, dan aman dari razia macam-macam. Sekarang ini Kompleks Lokalisasi Silir sudah ditutup. Ya untung masih ada Kemukus. Hotel-hotel melati juga dirazia. Orang masuk surga kok pakai dipaksa-paksa. Kalau ada yang maunya ke neraka ya diingatkan kalau mau. Kalau inginnya begitu ya silakan saja, itu urusan masing-masing. Saya benar-benar bersyukur, bahwa Kemukus itu masih ada Ibu.”

“Saya ini Islam lo Bu. Tetapi saya kenal Romo. Ya saya juga Romo, tapi kan Romo Jowo. Ini Romo Imam Katolik. Dia mengatakan bahwa ada surat rahasia yang disebutnya Surat ke 3 Fatima. Romo itu tidak tahu detilnya, tetapi katanya, menurut  surat itu, iblis itu juga ada di Vatikan, bahkan juga ada pada diri Paus. Menurut Romo itu, Surat ke 3  Fatima memang kurangajar, tetapi sekaligus benar. Surat itu tidak pernah disiarkan meski pausnya sudah ganti-ganti. Ya itu, kata Romo yang radikal itu lo, bukan kata saya. Menurut dia, gereja itu juga sangat munafik. Seperti  pemda itu, seperti saudara saya sesama pemeluk Islam, yang suka merazia tempat-tempat mesum. Dari dulu, PSK yang baik pasti ada, maling yang soleh juga ada, tetapi kaum agamawan yang brengsek pun banyak.”

* * *

“Ya, memang kalau dikaitkan dengan kepercayaan, ritual seks dengan permintaan agar usahanya sukses, itu sebenarnya juga warisan budaya neolitikum. Ibu pernah ke pedalaman Papua? Dulu, kalau sekarang mungkin juga sudah tidak ada, masyarakat Papua  itu kalau berhubungan seks selalu di ladang atau di hutan. Caranya ya seperti binatang, pakai kejar-kejaran segala. Di masyarakat yang sudah agak lebih maju, mereka melakukannya di tempat tinggal. Bisa berupa gua, tenda, gubuk, atau rumah. Tetapi suatu ketika, mereka akan melakukannya di ladang, atau di kebun, dengan tujuan untuk meminta kepada dewa atau dewi kesuburan, agar tanaman atau ternak mereka tumbuh baik, dan bisa panen banyak.”

“Jadi hubungan seks dengan disertai aneka macam permintaan, itu warisan budaya neolitikum. Lalu di candi-candi, kan ada lambang lingga dan yoni. Pada jaman neolitikum, hubungan seks dilakukan antar pasangan resmi, dan permintaannya hanya disekitar hasil ternak dan pertanian. Di Gunung Kemukus, dulunya permintaan itu ya hanya di sekitar pertanian, peternakan, dan perdagangan hasil bumi. Sekarang permintaannya bisa macam-macam. Kalau yang dagang baju yang minta bajunya laris, kalau yang dagang sepeda motor ya minta sepeda motornya laris. Dan macam-macam, sebab sekarang yang dijual juga macam-macam. Orang Jawa itu memang agak aneh. Minta jadi kaya kok caranya aneh-aneh.”

“Ritual seks di Kemukus untuk minta kaya, masih tidak terlalu aneh. Ibu pernah mendengar kerajaan Tuyul di Trucuk, Klaten? Itu lo, dulu tahun berapa itu kan pernah ada seminar tuyul yang pesertanya akan datang ke Trucuk, tetapi lalu dilarang oleh pihak yang berwajib. Itu serius ada lo Bu Meilan. Pernah teman saya sendiri, istrinya minta suaminya agar dicarikan tuyul. Tapi si istri minta syarat, tuyulnya yang cakep, jangan yang serem. Sebab salah satu syarat pemelihara tuyul adalah, istrinya harus menyusui tuyul itu tiap mahgrib. Kalau tuyulnya serem, si istri takut. Maka kepada juru kunci, si suami, teman saya itu, minta tuyul yang imut. Lalu juru kunci mempersilakan teman saya untuk memilih sendiri.”

“Istri teman saya senang, sebab tuyulnya imut dan lucu. Tapi Ibu, ternyata tuyul imut dan lucu itu hanya mau mencuri garam, bawang merah, cabai, ranting kering untuk kayu bakar, dan barang-barang lain yang nilainya sama sekali tidak ada. Ternyata, dalam dunia pertuyulan Ibu, semakin serem tuyulnya, yang diambil semakin tinggi nilainya. Semakin imut dan lucu, semakin rendah nilai barang yang akan diambilnya. Maka istri teman tadi lalu minta suaminya untuk mengembalikan tuyul imut itu. Saya lalu menyadarkan mereka, bahwa perbuatan mereka itu tidak benar. Kalau ingin hidup berkecukupan, ya harus jujur dan mau kerja keras. Bukan dengan piara tuyul. Mereka lalu menurut.”

“Jadi dari sekian banyak tempat aneh-aneh untuk syarat mencari kekayaan, memang Gunung Kemukus ini yang paling meriah, karena terkait dengan ritual seks. Sebenarnya, dulu pun perempuan yang jual diri, dan lelaki iseng juga sudah ada. Dulu itu Ibu, maksud saya sebelum tahun 1970an, ritual itu dilakukan di mana-mana di tempat terbuka. Ya di bawah pohon, di rumputan, di ladang singkong dan lain-lain. Penduduk setempat hanya menyewakan tikar, sambil menonton adegan itu dari kejauhan. Kalau malam Jumat Pon itu jatuh pada bulan mati, maka adegan itu aman karena malam gelap. Tapi kalau Jumat Ponnya pas purnama, maka ritual seks massal itu menjadi tontonan yang sangat menarik.”

“Ketika itu saya kan masih anak-anak ya Ibu. Tapi saya ini memang bandelnya ya sejak anak-anak dulu. Kalau kata eyang, saya ini bandelnya ya sejak masih dalam kandungan. Ya itulah, anak umur delapan tahun kok sudah ke Kemukus untuk mengintip orang begituan? Ya banyak Bu, bukan hanya sendirian. Tetapi yang paling kecil ketika itu memang saya. Mereka itu ya tidak malu diintip orang. Bukan diintip malahan kok. Ya ditonton. Ya kami ini ada yang berdiri, ada yang duduk, ada yang berjongkok, dan jaraknya sangat dekat. Ya kalau mereka berbunyi ih-ih-ih seperti lagunya Mulan Jameela itu, ya jelas kedengaran. Sekarang ini pun, sebenarnya masih ada yang sangat fanatik, hingga harus melakukannya di tempat terbuka. Tapi jumlahnya tidak banyak.” * * *
Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: