Perjalanan jauh

02/03/2015 at 12:23 (novel)

“Ini kita sampai di Purwokerto, Pak Sarmin. Tadi saya lupa. Apakah Pak Sarmin merokok? Rokoknya apa, selagi kereta berhenti, turun saja sebentar sana beli rokok. Tetapi kalau merokok harus di luar sana. Cara membuka pintunya, tombol itu dipencet, lalu pintu akan terbuka otomatis. Sana agak cepat Pak Sarmin, sebab kereta api ini hanya berhenti sebentar. Tidak merokok tidak apa-apa? Ya sudah. Nanti saja di Jakarta membelinya. Saya ini ada permen banyak dan macam-macam. Ini ya saya taruh di sini, kalau mau ambil saja.  O, ya, jadi kenalannya dengan Bu Yuyun itu tidak sengaja ya? O, jadi dia juga baru pertama kali itu datang, tetapi diantar oleh temannya. Pak Sarmin sendiri dulu waktu pertama kali datang sendiri atau diantar temannya teman istri?

Bersama temannya teman istri, maksudnya bagaimana? O, istri punya teman, temannya ini punya teman yang sudah sukses ke Kemukus, lalu Pak Sarmin bersama teman yang sudah sukses ini tadi? O, begitu. Tetapi berangkatnya sendiri-sendiri, dan di sana juga tidak bertemu? Ya, kalau begitu sama saja dengan Pak sarmin berangkat sendiri. Lalu bagaimana yang kedua? O, ya, yang kedua dengan Bu Yuyun. Berarti ini yang ketiga kalinya ya? Jadi sudah tahu jalannya, dan sudah ada pasangannya. Jadi lebih lancar ya? Janjiannya dengan Ibu Yuyun bagaimana? Pak Sarmin telepon lewat wartel. Mengapa Pak Sarmin tidak membeli HP saja? Belum ada uang? Tidak boleh sama Wati. Wati istri Pak Sarmin? Mengapa tidak boleh membeli HP? Takut untuk berselingkuh?”

Pagi menjelang siang, Jumat Kliwon, 6 Desember, Kereta api Argo Lawu dari Surakarta, pelan-pelan meninggalkan stasiun Purwokerto. Cuaca cerah, meski sebentar lagi langit akan tertutup mendung. Baru kali ini Sarmin merasakan naik kereta api masuk ke dalam terowongan. Dia heran dan kagum, bagaimana cara menggali lubang untuk jalan kereta api itu ya? Sambil menjawab pertanyaan Meilan, perhatian Sarmin tertuju ke luar jendela kereta. Sawah-sawah, hutan jati, kebun karet, ladang, bukit berlereng-lereng, sungai dengan batu-batunya, kota, rumah-rumah penduduk desa, silih berganti berkelebatan di kaca jendela yang sangat lebar. Baru kali ini Sarmin merasakan seperti orang kaya.

Kalau dari Surakarta ke Purwokerto, kereta api itu berjalan dengan laju sangat cepat lewat jalan yang lurus, selepas Purwokerto kereta api itu seperti ular yang kehabisan napas. Jalannya berlenggak-lenggok mengitari bukit, meniti tebing terjal, kadang melalui petakan sawah. Jalan kereta api itu terus menanjak sambil berbelak-belok. Setelah sampai di Bumiayu, baru jalan kereta api itu menurun, tetapi tetap masih berliku-liku sampai di Margasari. Dari sini, rel kembali lurus dan datar. Kereta api Argo Lawu itu melaju dengan kecepatan penuh di antara sawah dengan tanaman padi, tebu, kadang juga cabai dan bawang merah. “Sebentar lagi kita akan sampai di Cirebon pak Sarmin. Sebaiknya kita makan siang di restorasi.”

Meski tetap dengan malu-malu, Sarmin ikut ke kereta restorasi. Di sini ada beberapa orang kru kereta dan Polsuska, Polisi Khusus Kereta Api, yang sedang duduk ngobrol. Begitu melihat Meilan dan Sarmin, mereka buru-buru menyingkir, sambil mempersilakan duduk. “Silakan Ibu, silakan Pak.” Lalu tidak lama kemudian kru itu datang lagi sambil membawa daftar menu. “Meilan memesan steak, telur mata sapi, dan Greensand, dengan es batu. Sarmin agak lama kebingungan, lalu memesan nasi goreng dengan teh manis. “Lo itu ada rokok lo Pak Sarmin, pesan saja sekalian. Nanti sambil ngobrol Pak Sarmin kan bisa merokok kalau duduk di sini. Pak, Pak, coba ambilkan rokok, tanya sama Pak Sarmin ini maunya rokok apa?”

“Saya ini sebenarnya tidak merokok ya tidak apa-apa Bu. Tetapi kalau ada ya terima kasih. Ibu, saya itu ya baru sekali ini lo berada di alam perantauan dan sama sekali tidak punya uang. Dan rasanya sangat tidak enak. Panik, takut, keringat dingin, wah, macam-macam. Maka ketika Ibu tadi pagi itu datang, saya ini seperti melihat malaikat yang mau menolong saya. Benar lo Ibu. Pikiran saya ini sudah buntu. Jadi kalau Ibu meminta syarat saya hari ini tidak usah merokok, saya siap Ibu. Tetapi kalau Ibu sudah berbaik hati membelikan rokok, saya juga harus menghormati Ibu. Tetapi saya ini masih bingung, Ibu. Jadi ya sudah rokok apa saja yang ada, tidak apa-apa, asal jangan rokok yang mahal.”

* * *

Di Restorasi itu, sarmin merasa lebih nyaman. Sebab suasana di sini, seperti di sebuah warung. Santai, juga diwarnai kesibukan para kru kereta, dan tidak ada AC yang sangat dingin. Meilan dan Sarmin duduk berhadap-hadapan. Meilan merekam dan mencatat. Sarmin, kali ini bisa bercerita lebih lancar. “Ketika itu Rabu Legi, 13 Juni, saya kembali berangkat ke Kemukus, Ibu. Saya naik bus jurusan Solo, dari terminal Kampung Rambutan. Sama dengan selapan sebelumnya, saya sampai di Solo masih sangat pagi, langsung sambung dengan bus Solo Purwodadi. Beda dengan dua kali perjalanan sebelumnya, kali ini saya merasakan capek sekali Ibu. Entah mengapa. Mungkin karena saya agak kurang sehat. Atau bisa juga karena perjalanan ini masih sangat panjang.

Saya masih harus ke Kemukus lima kali lagi. Sebab kepergian saya Jumat Pon bulan Juni ini baru yang kedua kalinya. Itu pun kalau Bu Yuyun menepati janji datang lagi. Kalau tidak, berarti saya harus mengulang lagi dari awal. Bekal saya agak banyak, sebab selama sebulan saya menabung. Meskipun kamar dan makan yang membayar Ibu Yuyun, tetapi saya tetap harus mengeluarkan uang juga. Kadang saya yang membeli bunga, atau membayar ongkos penyeberangan. Jadi sebagian saya tetap harus mengeluarkan uang juga. Sebelum berangkat saya kembali bertanya kepada Wati, apa kamu benar-benar iklas saya tidur dengan perempuan lain. Dia malah menangis. Katanya, saya itu benar-benar berniat untuk cari srono, atau hanya mau main-main? Ya sudahlah, saya tidak melanjutkan lagi, lalu berangkat.

Dari Jakarta, saya mengira genangan waduk itu sudah surut, sebab waktu itu sudah bulan Juni. Ternyata belum Bu. Genangan itu justru baru akan mulai surut sekitar bulan Agustus, lalu terus sampai Desember. Ya sekarang ini memang air sudah mulai naik, tetapi kata orang-orang belum sampai penuh. Meskipun ketika itu genangan masih tinggi, saya tetap menyeberang dengan jalan kaki. Maksudnya supaya menghemat. Meskipun kalau naik perahu, satu orangnya hanya Rp 2.000. Tetapi harus menunggu sampai penumpang penuh seperti angkot. Sesampai di Kemukus, saya menelepon HP Bu Yuyun, lewat wartel. Dia baru saja berangkat dari Ponorogo. Dia minta saya ke penginapan yang selapan silam kami pakai. Saya lalu ke penginapan itu.

Yang punya penginapan pasangan muda dengan dua anak kecil, masih ingat pada saya Bu. Alhamdulilah, hingga mereka menerima saya dengan ramah. Saya lalu mandi, sarapan dan kemudian tidur. Sebab tidur di dalam bus malam tidak bisa nyenyak betul. Saya terbangun sudah hampir jam sebelas siang. Saya lalu melihat-lihat ke sekitar cungkup. Masih sangat sepi. Yang ramai justru para pedagang yang mulai mendirikan tenda dan menyiapkan dagangan mereka. Sekitar setengah satu siang, saya kembali ke penginapan untuk makan. Ternyata Bu Yuyun sudah ada. Dia tidak bareng Pak Badrun. Ternyata Pak Badrun sudah berangkat Rabu Legi kemarin. Bu Yuyun minta saya membuka kamar, untuk memasukkan tas.

Saya membawakan tas Bu Yuyun itu. Sesampai di kamar. Bu Yuyun langsung mengajak saya main. Untung saya sudah sarapan dan tidur cukup lama. Kami main sampai dua kali. Dalam hati saya lalu bertanya-tanya. Kami ini ke Gunung Kemukus untuk apa? Katanya hubungan suami isteri ini hanya untuk syarat. Tetapi Bu Yuyun datang-datang langsung mengajak saya main. Ya sudahlah. Mungkin ini pula yang membuat kedatangan saya untuk ke tujuh kalinya ini gagal. Ketika itu sebenarnya saya sudah berfirasat Bu. Tetapi saya tentu tidak berani memperingatkan Bu Yuyun. Kalau dia maunya begitu, saya ya nurut saja. Setelah makan siang, kami lalu tidur sampai sekitar pukul empat sore.

Saya masih sangat capek, hingga Bu Yuyun bangun terlebih dahulu. Masih dalam keadaan tidur, tiba-tiba saya ini ditindih Bu Yuyun sambil cekikikan. Saya kan kaget sekali Bu. Dia itu badannya kan besar dan ternyata juga kuat. Jadi berat sekali ketika menindih badan saya. Tahu kalau saya sudah bangun, dia lalu berguling ke kiri, sambil mengangkat saya, hingga sekarang saya yang gantian di atas. Tetapi bergulingnya salah, hingga Bu Yuyun sudah ada di pinggir dipan, lalu benar-benar terguling di lantai. Dasar orang sudah kalap. Saya dipaksanya untuk main di lantai. Katanya supaya landasannya lebih kokoh, dan tidak bunyi kriyut-kriyut seperti kalau di dipan. Padahal tadi bunyi kriyut-kriyut dia ya nekat saja.

* * *

Bu Yuyun memang benar-benar berpenampilan sebagai Bu Boss. Sore itu pemilik penginapan sudah menyiapkan bunga, kemenyan madu, telur ayam kampung, semua dibungkus menjadi dua. Dia lalu menyelipkan uang Rp 10.000 di masing-masing bungkusan. Sekitar pukul enam sore, kami mandi di sendang Ontrowulan, lalu berangkat ke cungkup. Sebenarnya saya ingin salat Mahgrib dulu, tetapi Bu Yuyun menyuruh saya merangkapnya dengan Isak. Ya sudah. Saya lalu mengikuti Bu Yuyun naik ke cungkup. Meskipun badan Bu Yuyun agak gemuk, tetapi dia kuat sekali naik di jalan  ke arah cungkup yang cukup terjal. Kami lalu mendaftar di pendopo makam, tapi tidak perlu menunggu lama, sebab orang-orang belum banyak yang datang.

Setelah ritual di cungkup, kami mencari-cari warung yang enak untuk duduk-duduk, yang pemandangannya ke arah jalan cukup longgar. Kata Bu Yuyun, Juragan Badrun sebenarnya sudah ada di sini, tetapi tidak tahu dia menginap dimana. Sebab Bu Miah katanya membawa beberapa teman, baik laki-laki maupun perempuan. Warung itu hanya berupa tenda darurat. Yang diberi lincak kecil untuk tempat makanan, dan di sekelilingnya diberi tikar yang cukup luas. Sekitar 10 orang bisa duduk dan makan di warung itu. Letak warung agak menjorok ke dalam, di pertengahan jalan utama menuju cungkup, di sisi sebelah timur. Dari sini kami bisa mengamati mereka yang berjalan ke arah cungkup, atau yang sudah mau pulang.

Kami makan nasi rames. Saya sendiri lauk tempe dan saren, Bu Yuyun dengan telur dan ikan goreng. Saya dan Bu Yuyun sama-sama minum jahe panas. Beberapa anak muda juga ikut duduk di warung itu. Kemudian ada laki-laki, yang tampaknya seorang polisi duduk di sana dan makan. Saya dan Bu Yuyun duduk di warung itu sampai sekitar pukul 10 malam. Ketika itulah Pak Badrun dan Bu Miah, dengan rombongan besarnya tampak turun dari atas. Kami lalu bersalam-salaman. Pak Badrun mengajak ke penginapannya. Saya dan Bu Yuyun ikut ke sana tetapi hanya sebentar. Bu Yuyun bilang ke Juragan Badrun kalau sudah mengantuk, lalu kami pulang ke penginapan.

Baru saja kami masuk ke kamar, Bu Yuyun sudah minta lagi. Malam itu kami tidak bisa benar-benar tidur dalam arti yang sebenarnya. Sebab begitu terbangun, kami langsung main. Sekitar pukul tiga dinihari, Bu Yuyun mengajak keluar lagi. katanya dia lapar. Warung memang masih banyak yang buka. Tetapi makanan sudah banyak yang habis.  Peziarah juga masih cukup padat. Kami lalu makan sate kambing, minum teh panas manis, lalu kembali lagi ke penginapan. Sebenarnya saya menyarankan, apa tidak lebih baik kami berada di cungkup, Salat Tahajut, dan membaca Dzikir. Entah mengapa Bu Yuyun tidak mau. Dia mengatakan pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan sudah tahu kalau niat kami baik.

Sebenarnya saya sudah menduga Ibu, sampai di kamar Bu Yuyun langsung mengajak lagi. Ketika kami terbangun hari sudah sekitar jam sepuluh siang. Kami mandi, lalu sarapan sambil duduk-duduk di depan. Penginapan itu hanya punya delapan kamar, dan kebetulan malam itu banyak yang kosong. Tadi malam katanya memang ada yang memakai, tetapi mereka terus pulang. Setelah sarapan, kami lalu berkemas. Baru saja selesai berkemas, BuYuyun menarik saya lalu mengajak main lagi. Saya tidak berdaya Ibu. Sekitar pukul 12 siang, kami menyeberang ke Barong, lalu naik bus ke Solo. Di Tirtonadi, saya mencari bus malam ke Jakarta, dan Bu Yuyun mencari Bus Solo Wonogiri Ponorogo. Sepanjang jalan Solo Jakarta, saya tertidur pulas.

Sepanjang tidur itu Bu, saya bermimpi ketemu almarhum Pak Lik. Ya dia itulah yang dulu membawa saya ke Jakarta, lalu mendidik saya jualan bakso. Ceritanya, dalam mimpi itu, saya pagi-pagi sekali sedang antre menggilingkan daging dan tepung di pasar. Lalu Pak Lik itu sudah ada di sana. Wajah Pak Lik itu tampak marah, kecewa, sedih, campur aduk jadi satu. Dalam mimpi itu saya mendatangi Pak Lik, saya guncang-guncang dia, saya teriak-teriak memanggil namanya. Tetapi Pak Lik itu malah menerawang memandang sangat jauh, lalu tampak air mata berlelehan di matanya. Saya berusaha mengguncang-guncang tangan Pak Lik untuk menyadarkannya, tetapi ternyata saya yang terguncang-guncang dibangukan kernet bus karena Jakarta sudah dekat. * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: