Waduk

09/03/2015 at 12:53 (novel)

Di Kamarnya yang nyaman di Novotel Surakarta, Meilan membuka-buka filenya. “Waduk ini dibangun tahun 1980an. Luasnya 6.576 hektar, dan terletak di tiga kabupaten di Jawa Tengah. Ketika itu aku masih SD. Korbannya lumayan juga ya? Mereka dituduh PKI, ya, ini ada juga Romo Mangun yang meninggal ketika saya masih kuliah. Tampaknya dia juga terlibat dengan pembangunan waduk ini.  Ganti rugi untuk lahan rakyat memang kacau. Aku memang tidak akan menulis tentang Waduk Kedungombo, tetapi obyek yang akan kutulis sekarang banyak berubah setelah ada waduk ini. Sayang penyair Wiji Thukul dari Solo, sudah tidak ada lagi. Dia hilang ketika ada penculikan aktivis tahun 1996 – 1997 dulu.

Nasib Wiji Thukul tidak pernah jelas sampai sekarang. Kemungkinan besar telah meninggal. Tetapi ada baiknya juga kalau aku ketemu dengan keluarganya, dengan teman-temannya di Taman Budaya. Mereka pasti masih menyisakan cerita, bagaimana penyair ini memperjuangkan rakyat kecil yang tertindas, sama halnya dengan Romo Mangun. Memang, ini bukan untuk aku tulis, tetapi sangat berguna sebagai pembuka wawasan. Ya, memang jarak satu dekade, terlebih dua apalagi tiga dekade memang sangat jauh. Aku tak bisa membayangkan, bagaimana keadaan perziarahan di Kemukus ini sebelum ada Waduk Kedungombo. Tetapi aku kira tidak banyak bedanya. Yang jelas, dulu tidak perlu menyeberang.

Sekarang, dengan tenggelamnya jalan di musim penghujan, aku kira Gunung Kemukus justru lebih kaya romantikanya. Perubahan yang sangat drastis, kata Pemred Haryo lewat SMSnya barusan, justru pada intensitas keramaiannya. Kalau dulu, kata Pemred Haryo, yang datang ke Kemukus ya hanya peziarah. Hingga jumlahnya terbatas. Sekarang, yang datang juga pelacur dan laki-laki yang mencari hiburan. Jadilah tiap Jumat Pon Gunung Kemukus sebagai semacam “oasis” bagi mereka yang ingin jajan seks. Katanya, Pemred Haryo pernah meliput ke Kemukus tahun 1980an, ketika waduk belum ada. Ketika itu Pemred Haryo masih sempat ditawari tikar oleh penduduk setempat, sebab dia dikira salah satu peziarah.

Menurut Pemred Haryo, ketika itu suasana spiritual dan kontemplatifnya masih sangat tinggi. Pemred Haryo memang tidak mengatakan yang satu lebih baik dari yang lain. Masing-masing kan memang sesuai dengan jamannya. Terakhir Pemred Haryo datang ke Kemukus, ketika mengantar tamu dari Jepang, dua tahun yang lalu. Katanya dia kaget sekali, sebab sekarang Gunung Kemukus sangat ramai. Meilan, itu karena tempat-tempat maksiat di Jakarta, di Semarang, di Surakarta, banyak yang ditutup, dan juga diobrak-abrik massa yang entah disuruh oleh siapa, entah dengan motif apa yang sebenarnya, katanya agak emosional. Maka orang-orang yang akan cari hiburan, sekarang lebih aman ke Kemukus, juga PSKnya.

Pemred Haryo menyarankan agar aku juga jalan-jalan ke Waduk Kedungombo. Dari Sumberlawang, kalau memandang ke arah barat pada pagi hari, indah sekali lo Meilan. Kamu rugi kalau tidak melihatnya, katanya lewat SMS. Dari sana kata Pemred Haryo, akan tampak Gunung Merbabu dan Merapi seperti “saudara kembar”. Memang ada baiknya pesan taksi sekarang, untuk mengantar ke Sumberlawang sore ini juga. Aku ingin menginap di sana, supaya pagi-pagi sekali bisa melihat panorama seperti yang diceritakan oleh Pemred Haryo itu. Katanya, aku juga harus menikmati ikan nila, yang penduduk setempat, terutama di Tlatar, Boyolali menyebutnya sebagai “Kakap Merapi”.

Banyak sekali homestay di Sumberlawang. Resornya juga ada. Tetapi Meilan lebih senang tinggal di homestay. Sebab dia bisa ngobrol dengan pemilik rumah, dengan keluarganya. Homestay itu rata-rata bersih. Kamarnya juga rapi, Toiletnya juga standar. Ini memang salah satu upaya yang sudah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten, bekerjasama dengan LSM, dan ada juga bantuan dana, katanya dari GTZ, sebuah lembaga Jerman. Ya memang tidak semua yang dilakukan pemerintah itu jelek. Tetapi seharusnya bisa lebih baik dari yang sekarang ini. Kelemahan utama industri wisata di negeri ini adalah promosi. Tidak pernah ada promosi yang mamadai, hingga orang mau datang dan membuang uangnya di kawasan ini.

* * *

Minggu Kliwon, enam Desember, pukul 05.30 pagi, Meilan SMS ke Pemred Haryo dan Redpel Bimo, mengatakan bahwa pemandangan dari Sumberlawang ke arah barat memang sangat indah. Langit dan air waduk yang biru, pulau-pulau yang menyembul di tengahnya. Restoran apung. Merbabu di kanan, dan Merapi yang mengepulkan asap di kiri, melatarbelakangi semua panorama ini. Perahu yang dipesan Meilan kemarin sudah siap untuk membawanya jalan-jalan ke tengah waduk. Perahu itu hanya diawaki oleh tiga orang. Kapasitasnya 10 orang, tetapi pagi itu Meilan hanya ditemani oleh Mas Bowo, pemilik homestay. Setelah keliling-keliling, Meilan minta diantar ke restoran apung, untuk makan ikan goreng.

“Yang enak itu nila bakarnya Ibu. Bukan yang goreng!” Kata Bowo. Meilan terpaksa menjelaskan. “Mas Bowo, kalau ikan laut, ya kakap, kue, kerapu, lemadang, yellowfin tuna, enaknya memang dibakar. Tapi kalau ikan tawar, terutama gurami dan nila, enaknya digoreng. Sini sebentar Mas!” Meilan memanggil petugas restoran. “Nilanya dibuang insangnya ya, saya sering melihat di sini insangnya tidak dibuang. Setelah dibersihkan direndam dalam air jeruk nipis atau cuka, dengan diberi sedikit garam. Sekitar tiga menit, lalu diangkat, dibilas dan langsung digoreng. Ikannya harus tenggelam dalam minyak panas, apinya yang besar. Anggap saja ini pesanan khusus, jadi harganya khusus juga tidak apa-apa.”

“Nanti Mas Bowo coba rasakan ya, ikan air tawar selalu lebih enak digoreng daripada dibakar, tapi kalau ikan mas, enaknya dipepes. Lele dan patin, dimasak kuah, atau disteam. Kalau ikan laut, yang enaknya disteam adalah ekor tenggiri. Perut lemadang enaknya dimasak kuah. Sama dengan kepala yellowfin tuna. Percayalah Mas Bowo, saya tahu banyak hal ini, karena sering dimintai bantuan meliput wisata kuliner. Kalau yang pokok, bidang saya memang fashion. Sekarang ini sebenarnya saya kan terpaksa Mas Bowo. Tapi untuk selingan tidak apa-apalah.” Pagi yang cerah itu, Meilan sarapan ikan goreng di restoran apung di Waduk Kedungombo, sambil menikmati panorama Merbabu Merapi nun di barat sana.

Tiba-tiba HP Meilan berdering. “Kurangajar kamu Meilan! Pakai SMS pamer sedang sarapan ikan goreng di Kedungombo. Gua ini dari pagi kelaparan nunggu istri tidak ada entah ke mana, HPnya dimatiin, pembantu dan anak-anak juga tidak kelihatan. Sudah kelaparan, sendirian, tidak ada makanan, belum ada nasi. Kampret lu, pakai pamer-pamer segala. Awas kalau kau pulang tidak bawa oleh-oleh!” Tanpa menunggu jawaban, sambungan dari Redpel Bimo itu langsung diputus. “Mas Bowo, aku ditinggal saja di sini ya? Aku mau menulis di sini. Nanti sekitar pukul sebelas dijemput. Sama tolong diingatkan ke Pak Camat, kalau besuk jangan lupa sudah janji untuk saya wawancarai. Itu ikannya dibawa saja kan masih banyak.”

Meilan lalu membuka laptop dan mengetik. Ruang di restoran itu memang tenang dan nyaman untuk bekerja. “Ini memang Minggu Ibu, tetapi biasanya baru ramai sekitar pukul sebelas nanti. Jadi kalau Ibu minta dijemput pukul sebelas, ya pas. Biasanya sampai sore akan terus ramai. Yang datang kebanyakan orang-orang Semarang dan Solo. Mereka sudah banyak yang tahu, kalau di sini ada ikan yang enak. Sebenarnya sudah ada yang mulai memelihara udang air tawar. Itu lo Ibu, yang sapitnya besar-besar itu. Ya, benar Ibu, orang-orang menyebutnya udang galah. Yang minta sebenarnya banyak, tetapi yang memelihara masih sedikit. Ibu silakan ya, kalau mau pesan minuman atau tambah apa lagi silakan memanggil kami.”

Udang galah? Meilan ingat waktu di New Zealand dulu. Di sana ia pernah menikmati Giant River Prawn hasil budi daya. Di Kalimantan atau Sumatera udang galah memang banyak, tapi masih tangkapan dari sungai. Di New Zealand, udang galah kita ini dipelihara di kolam air hangat, yang berasal dari pembangkit listrik tenaga geothermal. Fransiska kemarin juga pamer kalau di Bali ia makan udang galah fresh dari kolam. Ah, aku juga makan ikan nila fresh dari waduk. Tapi benar juga ya? Mengapa karamba-karamba itu tidak digunakan untuk memelihara udang galah? Sebab udang galah itu memang harus dipasarkan dalam keadaan hidup seperti halnya lobster. Kalau kata Pemred Haryo, lobster air tawar itu hanya tèpu- tèpu saja.

* * *

Biar saja aku akan kirim foto-foto ini ke Redpel Bimo. Ikan goreng, lalapan, nasi hangat, sambal, langit yang biru cerah, air waduk, Gunung Merbabu dan Merapi, arsitektur restoran apung, perahu-perahu. Kalau sudah terkirim aku akan SMS agar Redpel Bimo membuka e-mailnya. Biar makin panas dan marah dia. Ya, perkembangan teknologi komunikasi dan informasi selama tiga dasa warsa ini memang luarbiasa. Kata Pemred Haryo berulangkali, dulu layout majalah dan koran dilakukan dengan menata huruf-huruh timah secara manual. Memang ada mesin penata huruf, tetapi itu hanya dimiliki oleh percetakan besar. Kemudian tahun 1970an ada mesin cetak offset, yang mengubah banyak hal.

Sebelumnya, foto-foto yang akan dimuat di koran atau majalah harus dibuat plat timahnya. Setelah ada mesin offset, foto cukup dibuat film dan plat aluminium yang sangat tipis. Dan di era digital ini, film tidak diperlukan lagi. Dulu, kata Pemred Haryo berulangkali dalam tiap kesempatan, foto harus diproses di lab. “Tahun  1970an, foto juga lebih banyak yang hitam putih. Foto warna masih sangat mahal. Kalau kita meliput ke luar Jawa, atau ke luar negeri, bekal filmnya banyak sekali. Pulangnya, film-film itu harus diproses. Untuk event yang penting, film dikirim lewat pesawat terbang, agar bisa segera sampai ke kantor. Sekarang foto yang kamu buat dua menit yang lalu, sudah bisa beredar sampai ke mana-mana.”

“Anak-anak yang lahir sekarang, memang beruntung.” Kata Pemred Haryo suatu ketika. “Begitu matanya melek, di depannya sudah ada tivi, ada HP, ada internet. Tetapi di dunia ini kan tidak ada yang sempurna baik atau sempurna buruk. Sekarang, info rapat penting bisa bocor ke luar detik itu juga lewat SMS. Keinginan untuk serba cepat dan serba instan, telah menciptakan pendangkalan berpikir di semua kalangan, termasuk di kalangan wartawan. Budaya instan dan pendangkalan berpikir, muaranya ke perilaku korup. Kalau penguasa korupsi duit, maka wartawan korupsi informasi. Dosanya sama, sebab sama-sama merugikan orang banyak. Kalau kamu selingkuh, yang dirugikan hanya lingkungan terdekatmu. Kalau kamu korupsi, masyarakat luas yang kamu rugikan!”

“Nggih Pak Dé, matur nuwun!” Begitulah biasanya teman-teman berkomentar kalau sudah mendengar “khotbah” Pemred Haryo. Begitu sadar kalau dirinya terlalu bersemangat dalam berkhotbah, biasanya Pemred Haryo lalu menukas. “Ya, saya kan bukan sekadar berkhotbah, tapi yang dilakukan bertolakbelakang dari yang dikhotbahkan. Saya kan tetap konsisten melaksanakan yang selama ini selalu saya khotbahkan.” Ya, kami memang beruntung punya Boss Pemred Haryo yang sederhana, dan lebih banyak bekerja dengan serius, dan bukan sekadar ngomong doang. Dia selalu berpesan, agar kami mengerjakan hal-hal sederhana dengan sangat serius. “Mengapa Pak Dé?”

“Ya karena sekarang ini para pemimpin kita, lebih senang mengerjakan hal-hal serius, tetapi dengan cara serampangan dan sembrono. Oya, Meilan, kalau nanti kamu ketemu Camat Sumberlawang, bilang ya kalau kau itu anak buah Haryo Edan. Bapaknya camat itu dulu teman sekelasku. Ya, teman-teman itu, termasuk bapaknya camat itu, kalau memanggil aku selalu dengan sebutan Haryo Edan. Dulu dia juga sering ketemu aku ketika masih di APDN di Bandung.” Ah, orang tua itu ada saja yang diinformasikannya. Kalau camat itu memang anaknya teman Pemred Haryo, ya memang lebih enak ngobrolnya. Dan dia pasti masih muda juga, ya kira-kira se kakak akulah. Mana Mas Bowo kok belum menjemputku ya?”

Siang itu Meilan masih keliling-keliling di sekitar Waduk. Tapi tak lama kemudian hujan lebat. Untung taksi sudah menjemput. Meilan kembali ke Solo. Tetapi Camat Sumberlawang yang sekarang justru mengontaknya lewat SMS. Besuk katanya, ia bisa ditemui langsung di Kemukus. Wah, pasti Pemred Haryo sudah ikut campur tangan. Ia pasti sudah kontak dengan bokapnya ini camat. Kalau tidak mana tahu camat itu dengan dirinya? Masak sudah langsung memanggil dirinya dengan Ibu Meilan. Ya enak juga, tapi sebenarnya campur tangan demikian tidak sehat. Akan lebih baik kalau aku ikuti prosedur resmi. Ya mulai dari datang ke kantor kecamatan, mendaftar untuk ketemu, bahwa setelah ketemu kemudian dia tahu dirinya anak buah teman bokapnya, itu soal lain lagi. * * *
Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: