Pohon-pohon

16/03/2015 at 15:05 (novel)

Cungkup Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan itu menghadap ke arah selatan. Di samping kiri cungkup, di arah barat, ada sebatang pohon trembesi, yang sudah penuh dililit beringin. Beringin, dan juga tumbuhan jenis ficus lainnya memang punya kiat khusus untuk melestarikan spesiesnya. Buah beringin sangat disukai burung dan kelelawar pemakan buah. Burung dan kelelawar itu akan menelan biji beringin itu utuh. Di dalam lambung dan usus burung, biji beringin yang sangat kecil itu terperam. Lapisan yang mengitari kulit biji itu terfermentasi sempurna. Ketika burung itu berak, kotorannya banyak yang menyangkut di bagian tumbuhan yang lapuk. Termasuk trembesi di samping cukup Gunung Kemukus ini.

Begitu berada di lekukan kayu lapuk dengan sedikit humus, biji beringin itu tumbuh. Ukuran kecambah beringin ini sangat kecil, tetapi akarnya segera menjulur ke arah bawah, untuk menjangkau tanah. Sementara pucuknya tumbuh ke atas menjangkau sinar matahari. Lama kelamaan, akar yang menjulur ke tanah itu semakin banyak, sampai mengitari dan melilit seluruh permukaan batang trembesi. Dalam jangka waktu hanya beberapa tahun, tajuk beringin itu sudah mengalahkan tajuk trembesi. Karena trembesi termasuk tumbuhan berkeping dua, maka pertumbuhan batangnya bukan hanya memanjang ke atas, melainkan juga melebar ke samping. Sekarang, trembesi itu tidak bisa tumbuh ke samping, karena tercekik oleh beringin.

Dalam waktu singkat trembesi itu akan mati, lalu posisi batangnya digantikan oleh beringin itu. Beringin yang tumbuh dengan cara seperti ini, batangnya akan terdiri dari kumpulan akar yang paling melilit dan menyatu, dengan bagian tengahnya berongga. Rongga itu bekas batang trembesi yang telah mati. Sebenarnya, beringin itu sama sekali tidak bermaksud untuk membunuh tumbuhan yang ditumpanginya. Kalau yang tercekik itu tumbuhan dikotil yang pertumbuhannya hanya memanjang ke atas, misalnya kelapa, ia tidak akan tercekik dan akan bisa tumbuh normal seperti biasa. Di kompleks Gunung Kemukus ini, banyak sekali tumbuhan beringin, yang bisa tumbuh menjadi besar, dengan cara membunuh tumbuhan yang ditumpanginya.

“Tapi Ibu Meilan, beringin yang saya ceritakan ini, juga yang ada di Gunung Kemukus ini, tidak ada kaitannya dengan beringin lambang Partai Golkar lo!” Kata Camat Sumberlawang itu sambil tertawa. “Jangan diartikan Partai Golkar jadi besar karena mencekik, dan membunuh partai-partai lain. Nah itu Ibu, kita turun sedikit. Ini namanya pohon Nagasari. Pohon inilah yang dinaiki Hanoman, ketika menjadi duta ke Alengka untuk menengok Dewi Sinta. Kayu nagasari sangat keras, dan BDnya lebih dari 1 kg, hingga tenggelam kalau dimasukkan ke dalam air. Kata orang-orang tua, dulu Kompleks Gunung Kemukus ini penuh dengan pohon nagasari. Tapi tahun 1960an habis ditebangi penduduk. Lalu tahun 1970an, pemerintah menghijaukannya dengan trembesi. Akhir tahun 1980an, dan awal 1990an, trembesi itu dicekik oleh beringin.”

“Itu, yang persis di teritisan cungkup dan yang di barat daya di bawah sana itu, pohon asam yang sudah sangat tua. Kata orang-orang tua di sini, ketika mereka masih kecil, pohon asam itu sudah sebesar itu. Demikian pula dengan pohon pule ini. Nah, ini yang melilit-lilit pohon pule ini namanya liana. Tanaman berkayu, tetapi memanjat. Liana yang di depan cungkup itu umurnya juga sudah ratusan tahun.” Meilan lalu menukas. “Ini Pak Camat ini yang bener lulusan IPTDN atau IPB sih? Kok sepertinya bukan camat tapi petugas kehutanan?” Camat Sumberlawang itu tertawa. “Ibu, saya lupa menjelaskan. Sebelum jadi Camat, saya lama tugas di Kabupaten Klaten, lalu nyambi ngambil S1 kehutanan di UGM.”

“Ya, waktu itu memang ada pilihan bisa melompat ke Dinas Kehutanan, Departemen atau, ke Perhutani. Kalau di sana, terutama di Perhutani dan di hutan jati, bisa cepat sekali kaya. Tapi saya ini kan masih takut untuk jadi kaya. Maka saya tetap memilih ada di jalur ini saja. Ya kemudian saya jadi camat dan dinas di Sumberlawang, dan e, ternyata sekarang ada tamu Bu Meilan yang anak buah Oom Haryo Edan. Ya memang, bokap saya manggil beliau ya begitu itu, dan Oom Haryo itu justru sangat bangga kalau ada yang manggil begitu itu. Padahal beliau itu baiknya bukan main. Ini bukan karena saya sedang di depan Ibu Meilan lo. Memang hampir semua teman bokap juga bilang begitu itu.”

* * *

Kereta api Argo Lawu Surakarta Jakarta itu melaju melewati Larangan, Ketanggungan, dan Kersana. “Pak Sarmin, nanti kalau kereta api ini akan masuk Cirebon, saya akan kembali ke dalam. Kalau Pak Sarmin masih mau merokok, silakan saja ya,  tetap di sini. Tapi nanti setelah dari Cirebon kembali lagi ke dalam ya, sebab saya akan melanjutkan merekam cerita Pak Sarmin. Atau nanti saya ke sini juga tidak apa-apa. Meilan sudah biasa menikmati steak yang benar-benar steak, sirloin steak, tanderloin steak. Bahkan bukan hanya beeff steak, melainkan juga deer steak, ostrich steak, marlin steak, bahkan di Peru, ia pernah merasakan lama steak. Tetapi tadi, ia bisa benar-benar menikmati steak ala Argo Lawu, yang sebenarnya jauh dari standar steak yang benar.

Meilan sebenarnya bukan sangat menikmati steak, melainkan suasana restorasi kereta api ini. Dia melihat Sarmin makan dengan sangat lahap. “Ibu, bukannya tadi saya melihat di gerbong sana itu penumpang sedang dibagi nasi? Apakah itu harus membayar atau tidak Ibu?” Meilan berhenti mengunyah steaknya. “Apa Pak Sarmin? Diberi nasi? Ya memang itu jatah kita. Kalau Pak Sarmin masih belum kenyang ya bisa dimakan sekarang. Kalau sudah kenyang dimakan nanti boleh juga. Apakah nasi gorengnya enak Pak Sarmin?” Sambil tetap mengunyah makanannya, Sarmin menjawab. Enak sekali Ibu. Saya hampir tiap hari makan nasi goreng buatan teman-teman, barter bakso. Tetapi rasanya tidak seenak ini.”

Menjelang sampai Cirebon, Meilan merasa ngantuk sekali. Dia kembali ke kursinya dan tidur. Sarmin merokok di sambungan gerbong. Ketika kereta api berhenti di Cirebon, Meilan merasakannya seperti di alam mimpi. Sayup-sayup ia mendengar rem kereta berderit, lalu sepi. Ada teriakan pedagang asongan menawarkan dagangan mereka. Kuli angkut kedengaran berlarian mencari-cari penumpang yang akan turun dan memerlukan bantuan. Semua kedengaran antara sadar dan tidak. Lalu peluit panjang dan lengking kereta terdengar, lalu gerbong itu terasa bergerak-gerak, lalu Meilan terlelap lagi. Belum terlalu lama terlelap, Meilan dikejutkan dengan derit rem dan laju kereta melambat.

Tampaknya kereta harus memperlambat jalannya, karena melewati rel yang sedang diperbaiki. Meilan melihat jam yang ada di HPnya, benar juga, ia baru saja terlelap sekitar 10 menit. Tetapi itu cukup. Sekarang badannya terasa segar lagi. Sebab semalaman ia jelas kurang tidur. Ia kembali ingat pertemuannya dengan Camat Sumberlawang Senin yang lalu. Dia tahu banyak tentang macam-macam pohon. Dia juga punya kekuasaan, dan wewenang untuk menghijaukan daratan di sekitar waduk, yang masuk wilayah Kecamatan Sumberlawang. Meilan merasa ia seorang camat yang baik, sebab Pemred Haryo merekomendasikan untuk ketemu. Pemred itu kenal baik bapaknya, dan juga kenal camat itu ketika masih sekolah dulu.

Tapi yang jelas, Meilan merasakan bahwa ia termasuk orang baik, yang akan mengurus Kecamatan Sumberlawang dengan sebaik mungkin. Meilan juga mendengar, bahwa Bupati Sragen termasuk sekitar sepuluh orang kepala daerah yang baik, dari sekitar 500an bupati, walikota, dan gubernur di negeri ini. Tetapi mengurus kecamatan tentu tidak mudah. Kekuasaan bukan ada di camat, melainkan kepala desa dan bupati. Waduk itu sudah dibangun dengan biaya besar, dengan korban yang terlalu banyak, sayang kalau kamudian tidak bisa berfungsi dengan baik, karena lingkungan sekitarnya gersang. “Mudah-mudahan, saya bisa sedikit berbuat agar  kecamatan ini menjadi lebih hijau Bu Meilan!”

Meilan melihat Camat Sumberlawang itu sebenarnya juga termasuk camat yang agak langka. Entah ada berapa camat yang baik di negeri ini. Secara kuantitatif camat yang baik, pasti lebih banyak dibanding bupati baik. Tetapi secara prosentase, bisa jadi camat baik itu lebih sedikit. Padahal camat lebih langsung berhubungan dengan masyarakat, meskipun otonomi ada di kabupaten. Camatlah yang harus berurusan dengan lurah, terutama menyangkut hal-hal yang sangat teknis. Mulai dari pembuatan KTP, sampai ke pengurusan sertifikat tanah. “Nah soal sertifikat inilah Bu Meilan, yang sering membuat camat-camat jatuh bertekuk lutut, lalu masuk penjara. Doakan ya Bu Meilan, agar saya tidak ikutan ke sana.”

* * *

Desember ini, sebenarnya Meilan juga diminta meliput United Nations for Climate Change Conference di Bali. Dia keberatan, sebab itu bukan dunianya. Maka majalah Fidela mengirim Fransiska ke sana. “Apa yang mau diliput coba? Itu kan hanya orang-orang pemerintahan dari seluruh dunia kumpul dengan pakar-pakar lingkungan, pakar pemanasan global, pakar energi alternatif. Kok gua disuruh ngurus gituan. Tapi Fransiska memang hebat. Dia akan hadir dalam acara pembukaan, dan kemarin dia SMS, katanya akan ke Kebun Raya Bedugul, ke Taman Nasional Bali Barat, lalu berkunjung ke beberapa pura di Bali, termasuk Pura Besakih di lereng Gunung Agung yang terkenal itu.

Siska memang sangat kreatif. Meilan mengakui itu. Dia tetap akan berfokus pada visi-misi majalah, yakni soal fashion. Maka ia akan lebih banyak mengekspose fashion tradisional di Bali. Tapi karena ini event perubahan iklim, maka ia bikin proposal untuk mengekspose, pohon-pohon yang khas di sekitar pura, dan di halaman bale banjar di Bali. Ia juga akan meliput, dengan bahan bakar apa masyarakat tradisional di Bali memasak, dan apa bahan bakar untuk penerangan di kampung-kampung yang belum ada listrik. Meilan baru sadar, bahwa banyak sekali yang bisa diekspose, di sekitar event United Nations for Climate Change Conference di Bali. Yah, Meilan juga sadar, kadang-kadang dirinya terlalu kaku.

Setelah Senin siang diajak jalan-jalan oleh Camat Sumberlawang, dan diceramahi soal pohon, malamnya di kamarnya di Novotel di Surakarta, Meilan membuka Google, dan mencari-cari informasi tentang pohon ficus, nagasari, pule, jati, asam, dan lain-lain, dan ternyata sangat menarik. Dunia yang selama ini tidak pernah diperhatikannya itu, ternyata bisa bercerita sangat banyak. Camat itu juga bercerita, “Bu Meilan, lihat itu pohon asam besar itu. Dahan dan rantingnya penuh dengan anggrek bukan? Itu Vanda tricolor yang kalau sedang berbunga, sekitar pukul lima sore sampai tengah malam, harumnya luar biasa. Meilan menyesal, ketika Yani bercerita bahwa Redpel Bimo akan menugaskannya meliput Gunung Kemukus, ia sempat marah-marah.

“Yah, ternyata banyak sekali yang bisa saya dapat dari bukit kecil itu. Bukan hanya sekadar legenda Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan, bukan hanya soal ziarah seks, bukan soal mencari kekayaan, tapi juga makan ikan goreng di Waduk Kedungombo, tentang Romo Drajad yang nyentrik dengan konsep Revolusi Kulturalnya, dan kemudian juga ada camat yang justru lebih banyak bercerita soal pohon, karena dia seorang Sarjana Kehutanan dari UGM. Sambil membuka-buka web, Meilan merasa malu sekali pada dirinya. “Barangkali selama ini saya memang terlalu fokus ke fashion, dan terlalu banyak jalan-jalan ke luar negeri. Ternyata di pedalaman Surakarta ini pun, cukup banyak hal yang menarik.”

“Saya memang harus banyak belajar dari Fransiska. Padahal dia itu kan culunnya luar biasa. Cantik sih cantik. Modis juga modis, otaknya juga encer. Tapi culunnya itu lo. Tetapi kreatifitasnya juga luarbiasa. Dan dia itu disuruh liputan apa saja selalu mau tanpa pernah mengeluh. Ke Bali sekarang ini sebenarnya kan juga dadakan. Dia baru saja pulang dari Menado. Tapi begitu Redpel Bimo menyuruhnya ke Bali, dia dengan sangat culunnya bilang: Okeh! Nanti laporan Menado aku kirim dari Denpasar, foto sudah aku serahkan ke dokumentasi. Silakan pilih mana yang mau dipake. Apalagi? Betapa entengnya hidup bagi Fransiska. Apa memang sebaiknya harus begitu ya? Aku akan coba juga belajar dari dia.”

Tapi sulit memang. Latar belakangku dan latar belakang Fransiska kan jauh sekali beda. Aku anak orang kaya, terdidik, dan selalu tinggal di kota. Siska anak orang miskin, dari kampung, disekolahkan suster, pernah mau jadi suster, tapi kemudian memilih kerja wartawan. Tapi belajar tidak pernah ada batasnya. Aku harus selalu mau menerima apa pun, termasuk hal-hal yang paling tidak aku sukai. Aku pernah tanya ke Siska. Ngapain loe itu mau saja diperbudak oleh Bimo? Disuruh ke mana saja tidak pernah protes. Dan jawab dia, lo dia kan memang boss gue kan? Ya iya juga ya? Lalu aku pernah tanya, Sis, loe itu kok kayaknya jauh dari masalah sih? Lo, gue memang kagak demen masalah kok? Ya dianya yang menjauh. * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: