Keyakinan

23/03/2015 at 14:19 (novel)

Rabu Legi, 18 Juli, saya harus berangkat lagi ke Kemukus, Bu. Agak heran, sejak Minggu Pon, Wati sangat baik kepada saya, juga kepada anak-anak. Rabu pagi itu dia ke pasar, dan belanja daging, daun pisang dan entah apa lagi. Dia membuat arem-arem. Saya tanya apa hari ini tidak nyuci? Dia bilang ya nyuci, tapi ia juga akan membuat arem-arem isi daging. Padahal biasanya dia membuat arem-arem isi tempe. Saya mengatakan, mengapa tidak nitip daging ke Mas Narto, sebab hari ini memang saya tidak jualan karena siangnya harus berangkat. Saya kira dia mendapatkan pesanan arem-arem dari Om Lontoh, ternyata tidak. Lalu siapa yang pesan? Ternyata ia membuat arem-arem untuk bekal perjalanan saya ke Kemukus.

“Ya daripada makan di warung padang, kan lebih baik kalau punya arem-arem. Kalau tidak habis, besuk pagi kan juga bisa untuk sarapan. Kalau bikinnya benar, tidak akan basi.” Mengapa tiba-tiba Wati menjadi sangat baik ya? Jangan-jangan ketika saya pergi, dia selingkuh entah dengan siapa. Tetapi Ibu, pikiran itu kemudian saya buang jauh-jauh. Tidak baik mencurigai istri sendiri. Maka saya berangkat dengan perasaan senang. Bus malam itu juga lancar sekali. Jalan yang musim hujan lalu hancur memang sudah diperbaiki semua. Di Sukamandi, bus berhenti untuk makan. Saya tetap saja di bus, karena sudah makan arem-arem. Di sebelah saya duduk anak muda, kelihatannya mahasiswa, dan katanya mau naik gunung Lawu.

Ketika saya ajak ngobrol, ternyata dia bukan anak Jawa, tetapi anak Batak. Kok sendirian to Mas? Tidak dengan teman-temannya? Katanya teman-temannya sudah naik kereta dan berangkat tadi pagi. Mereka akan menginap dulu di Tawangmangu. Lalu sampeyan ini nanti bagaimana? Katanya dia akan terus ke Tawangmangu, karena naik gunungnya baru besuk siang. La kok ranselnya itu besar sekali to Mas, isinya apa saja? Katanya isinya kompor gas, alat masak, tenda, dan lain-lain. O, jadi mereka ini mau berkemah di gunung to? Seperti Pramuka itu ternyata. Apa sampeyan mau arem-arem? Ternyata dia tidak mau sebab sudah membawa bekal roti. Ya sudah, kami lalu sama-sama makan bekal masing-masing.

Saya lalu tertidur Bu. Ya sebentar-sebentar mak lap, seperti mimpi, setengah tidur, melayang-layang. Di Gringsing bus berhenti lagi, tapi yang turun makan hanya sedikit. Kebanyakan mereka turun untuk kencing. Saya dan anak muda di sebelah saya juga turun untuk kencing. Dia bertanya, saya mau ke mana. Saya jawab saya mau ke Gunung Kemukus. Dia kaget. Katanya, la, ternyata bapak ini juga mau naik gunung seperti kita! Saya katakan bahwa saya bukan mau naik gunung. Sebab Gunung Kemukus itu hanya bukit kecil. Dia bertanya lagi di mana itu Gunung Kemukus, dan mau apa ke itu gunung? Saya jawab kalau Gunung Kemukus itu juga dekat Solo, tetapi ke arah utara. Saya katakan bahwa saya ke sana untuk ziarah.

Anak muda itu terus mengejar, ziarah siapa? Kekek nenek atau siapa? Saya jawab saya akan ziarah ke makam Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan. Supaya dia tidak bertanya-tanya lagi, saya jelaskan siapa mereka, dan mengapa orang-orang ziarah ke sana. Dia tampak sangat tertarik, dan mengatakan kapan-kapan akan mengajak teman-temannya ke sana. Sekarang ganti saya yang bertanya, sampeyan itu masih sekolah atau sudah bekerja. Katanya dia masih kuliah di Universitas Profesor Doktor Moestopo Beragama. Wah, berarti kalau lulus, anak muda ini akan menjadi Profesor dan Doktor, dan juga akan menjadi pemeluk agama yang soleh. Maka saya merasa aman duduk satu deret dengan anak muda itu.

Betul juga dugaanku, bahwa dia memang anak baik. Menjelang masuk Kartosuro, dia membangunkan saya, dengan sangat pelan dan sopan. “Maaf  Pak ya, sudah akan masuk Kartosuro, dan sebentar lagi akan sampai Tirtonadi. Bapak akan turun Tirtonadi atau di jalan ke arah Purwodadi?” Wah, ya terimakasih sekali. Sebab sangat tidak enak kalau bis sudah berhenti, orang-orang sudah turun, lalu kernet membangunkannya, dan lampu sudah dinyalakan hingga terang-benderang. Jadi ini sudah sampai to. Memang kalau perjalanan dinikmati tanpa beban, tahu-tahu ya sudah sampai begitu saja, seperti sekarang ini. Kalau ditunggu-tunggu, diharap-harap, malah sering tidak sampai-sampai, atau ada saja halangan yang menghadang.

* * *

Jembatan yang menghubungkan jalan Barong Kemukus, sekarang kelihatan sosoknya. Sebagian jalan di jembatan itu memang masih basah tergenang air, tetapi tingginya hanya sebatas mata kaki, dan jaraknya juga hanya beberapa meter. Kata orang-orang, nanti pada bulan-bulan Agustus sampai dengan November, air itu akan benar-benar surut, hingga jalan Barong Kemukus akan kembali normal seperti ketika belum digenangi air waduk. Bulan-bulan musim kemarau itu, masyarakat di sekitar waduk, katanya justru bisa menanam jagung, dan sayuran. Sebab pada musim hujan, lahan itu akan kembali menjadi danau. Ibu, pagi itu saya juga jalan kaki dari Barong ke Kemukus. Saya langsung menuju penginapan. Ternyata Bu Yuyun sudah ada.

“Dik Sarmin, aku sudah datang dari kemarin, karena sekalian ke Wonogiri, ada famili yang mantu. Jadi sekalian jalan. Kemarin jam berapa dari Jakarta? O, ya, ya, sekarang memang sudah tidak ada hujan ya. Saya dipesan oleh orang-orang tua, agar nanti malam kita lèk-lèkan di cungkup sana, membaca dzikir dan salat tahajut. Ya memang, itu Jumat Pon yang lalu juga sampeyan usulkan, dan saya tidak mau. Sekarang mau. Lo, kok pakai bekal arem-arem segala. Ya, saya mau. Wong istrimu yang membuat kok. Pasti enak. Ya, pasti masih enak. Saya sudah pesan kopi kok. Kalau sampeyan maunya teh ya nanti biar dibuatkan lagi. Sana mandi dulu, lalu nanti kita bisa jalan-jalan, bisa juga istirahat, supaya nanti malam tidak ngantuk.”

“Mas Badrun itu embuh. Katanya juga sudah datang kemarin, tetapi saya kok juga belum ketemu. Ibu Miahnya juga sudah datang kemarin. Malah kemarin siang. Mereka juga sudah kemari, tetapi saya belum datang. Ngantènnya itu jam tigaan baru bubar. Jadi saya sampai di sini juga sudah agak malam, lalu langsung tidur. Ini kok agak siang, biasanya bis malam dari Jakarta itu kan pagi sekali sampainya di Tirtonadi. O, yang lama bis Solo ke sini to. Ya memang sebaiknya naik yang bis besar, kalau ada yang langsung ke Blora. Kalau bis-bis kecil yang hanya sampai di Sumberlawang, ya memang lama sekali. Tetapi kalau maunya sambil melihat-lihat pemandangan di kiri kanan jalan yang memang lain.”

Kamis Pahing, malam Jumat Pon, 19, 20 Juli, Sarmin dan Yuyun memulai ritual dengan mandi di Sendang Ontrowulan. Sesuai saran Sarmin, mereka berdua lalu salat Mahgrib. Setelah itu mereka naik, tidak langsung ziarah, melainkan duduk-duduk di warung di sekitar jalan utama menuju cungkup. Mereka minum teh panas manis, dan makan makanan kecil. “Makan malamnya nanti saja ya, setelah kita salat Isak?” Tanya Yuyun. Sarmin mengiyakan. Mereka kemudian kembali ke Sendang Ontrowulan, mengambil air wudhu, lalu salat Isak. Setelah itu mereka kembali naik lalu antre untuk masuk ke dalam cungkup. “Ingat ya Ibu Yuyun, kita tidak minta kepada Pangeran Samodro atau Nyai Ontrowulan, tetapi kepada Allah.”

“Ya, memang aku juga sudah salah sejak awal. Sebenarnya kita hanya boleh minta-minta kepada Allah, bukan kepada siapa-siapa.” Sarmin kembali meluruskan. Kata orang-orang itu, kita malahan tidak perlu minta-minta tetapi harus bersyukur atas karunia Allah.” Sekarang Yuyun yang bingung. “Lo, katanya kita ini sedang susah, dan akan minta kepada Allah agar kesusahan ini disingkirkan. Kok sampeyan ini malah mau bersyukur. Bersyukur karena apa?” Sarmin menjawab dengan mantap. Ya, kata orang-orang itu, apa pun yang datang dari Allah, apakah itu kesusahan, atau kegembiraan, musibah atau berkah, semuanya harus kita syukuri. Jadi, kata orang-orang itu, kita datang kemari ini untuk bersyukur Bu.”

“Wah yo embuh Dik Sarmin. Aku ini kan orang bodo to. Lo Dik Sarmin itu kan juga orang bodo kan? Kok sampeyan ini ngomongnya seperti orang pinter. Mbok ya jangan begitu to Dik Sarmin. Kita ini sekarang sudah di sini, ya harus nyenyuwun, memang juga harus bersyukur karena dikaruniai sehat. Tapi mosok sampeyan itu bilang kena musibah malah bersyukur. Ya hanya wong gemblung saja yang begitu itu to Dik Sarmin. Ya itu lo, orang yang tidak waras dan di jalan-jalan itu, ditempeleng ya hanya cengengesan. Kalau dia punya barang diambil, ya tertawa-tawa. Kalau Dik Sarmin anaknya sakit, atau mati begitu, mosok akan bersyukur kepada Allah? Itu namanya ya gemblung to Dik Sarmin.”

* * *

Malam itu, cungkup Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan benar-benar padat. Ketika ada di beranda, semua harus melepas sandal serta sepatu, lalu menitipkannya ke petugas. Mereka lalu mendaftar untuk masuk cungkup. Karena ruang dalam cungkup itu sempit, maka yang berada di dalam harus dibatasi. Caranya sederhana. Begitu keluar satu orang, akan masuk satu orang. Kalau yang keluar lima orang, ya lima orang disuruh masuk. Dengan begitu, jumlah orang yang ada di cungkup akan selalu terbatasi, hingga ruangan tidak penuh sesak. Sarmin kembali mengingatkan Yuyun. “Ingat lo Bu Yuyun, bersyukur bukan karena dapat musibah, tetapi karena kita sehat dan selamat bisa kembali sampai ke tempat ini.”

“Ya terserah Dik Sarmin situlah. Kita masuk, berdoa, bersyukur ya kalau menurut sampeyan, lalu keluar dan makan malam. Begitu?” Kalau dulu Sarmin gemetaran, ketika pertamakali masuk ke dalam cungkup ini, aroma kemenyan, aroma bunga, lantunan doa, orang yang lalu lalang tapi hening. Semua itu membuat hati Sarmin kacau, membuatnya miris. Terlebih disampingnya ketika itu ada seorang perempuan cantik bernama Kartinah, yang maunya dipanggil Kartien. Tetapi itu dulu. Sekarang ia masuk ke dalam cungkup itu dengan tenang. “Ya ini kan juga bisnis.” Sarmin lalu iseng menghitung. Kalau tiap orang memasukkan uang Rp10.000 ke dalam bungkusan bunga itu, lalu ada 5.000 peziarah, berarti ada Rp50 juta.”

“Kalau yang datang kemari sekitar 7.000 orang, dan yang 2.000 hanya mau pelesiran, dan mereka membayar retribusi Rp4.000 per orang, maka berarti ada Rp28 juta. Belum lagi parkir, belum lagi penginapan, makan, minum, ojek, transaksi seks.” Sarmin digandeng Yuyun masuk ke dalam cungkup. Mereka berdoa, kali ini dengan keyakinan penuh, bahwa Allah akan memberikan yang terbaik bagi mereka. Setelah berdoa, mereka keluar lalu mencari warung yang pas untuk makan malam. Ndilalah, mereka ketemu Juragan Badrun dengan Bu Miah, dan rombongan pedagang soto dari Banyumas. “Kok Mas Badrun sudah di sini, sudah makan atau belum. Mbakyu Miah, sehat-sehat saja kan?” Sapa Yuyun dengan ramah.

Juragan Badrun, Miah dan rombongan dari Banyumas segera menghilang setelah makan malam. Sarmin dan Yuyun kembali ke cungkup. Mereka masuk ke ruang di sebelah timur cungkup. Mereka salat Tahajut, lalu membaca dzikir, sampai sekitar pukul 02.00 dinihari. Mereka kemudian turun, dan duduk-duduk di warung, sambil memesan jahe panas. Rombongan peziarah masih terus berdatangan. Umumnya mereka berangkat sudah agak siang, kemudian melakukan ritual perziarahan, melakukan hubungan seks, dan segera pulang. Sarmin dan Yuyun mencoba mengamati, mana di antara mereka yang baru pertama datang, sudah beberapa kali, dan yang sudah sukses.

Pukul tiga dinihari, Yuyun mengajak Sarmin mandi di Sendang Ontrowulan. “Badan saya gerah semua Dik Sarmin. Kalau kita mandi lagi di sendang itu, badan akan terasa segar.” Mereka lalu mandi, dan kembali ke penginapan. Mereka ngobrol sampai terdengar Adzan Subuh. Sarmin mengajak Yuyun salat Subuh. Setelah itu mereka mengadakan ritual seks, lalu tidur. Anehnya, mereka bangun justru masih agak pagi, yakni sekitar pukul 08.00. Karena badan masih relatif segar, Sarmin dan Yuyun duduk-duduk di beranda depan penginapan, yang sekaligus menjadi warung. Beberapa perempuan muda PSK juga duduk-duduk di sana. Mereka membicarakan pendapatan, dan juga pengalaman masing-masing tadi malam.

“Dik Sarmin, aku mau tanya ya. Apakah sudah tampak ada perkembangan dari usaha kita ini?” Sarmin lama tidak menjawab. “Begini ya Bu Yuyun. Ini semua kan namanya srono. Istri saya Watilah yang berulangkali mendorong saya untuk mencari srono. Namanya srono itu ya hanya sarana. Ternyata kalau hati kita mantap, srono apa pun akan membuat langkah kita menjadi semakin mantap.” Yuyun juga lama berpikir. “Maksud Dik Sarmin ini bagaimana to? Kok malah muter-muter kayak komidi puter begitu? Tapi ya sudahlah, berarti sampeyan juga semakin maju. Saya sendiri dagang beras masih biasa saja. Yang berkembang jadi baik malah suami saya. Ya, dia menjadi semakin waras, dan tidak judi lagi.” * * *

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: