Bus atau kereta?

30/03/2015 at 11:01 (novel)

Bus Blora Solo lewat Purwodadi itu selalu melaju dengan kencang. Tetapi di Barong, bus yang dari arah utara, selalu memperlambat lajunya. Sopir itu hafal, bahwa sekarang ini Jumat Pon, dan dari pagi sampai sore hari, akan selalu banyak penumpang yang naik dari Barong menuju Solo. Setelah menyeberang dari Komplek Kemukus dan sampai di Barong, Sarmin dan Yuyun segera ke arah kampung Partoyasan di seberang jalan. Di situ juga sudah banyak peziarah yang menunggu bus ke Solo. Orang-orang selalu bilang. Kalau mau ke Solo, jangan naik bus kecil itu, sebab akan banyak berhenti-berhenti. Kalau bus dari Purwodadi atau Blora, nah itu akan  jalan cepat langsung ke Solo.

“Bu Yuyun, apakah Bu Yuyun pernah naik pesawat terbang? Bagaimanakah rasanya naik pesawat terbang? Apakah di atas sana tidak takut jatuh? Ya, kalau saya pilihannya hanya bus atau kereta api. Itu pun bus ekonomi. Bukan yang ada tivinya, yang ada toiletnya. Kereta api juga kereta api ekonomi. Bukan yang dingin, yang ada tivinya, yang dapat makan, yang selalu menyalip kereta api lain. Bagaimana ya rasanya naik kereta api yang dingin dan cepat itu? Mengapa Bu Yuyun hanya diam saja? Apakah Bu Yuyun marah kepada saya? O, hanya mengantuk. Ya, tadi malam kita memang tidak tidur. Kita tirakat ya Bu Yuyun. Kita hampir sampai di Solo lo Bu Yuyun, sampeyan kan harus naik bus ke Ponorogo, dan saya mau naik apa ya?

Apa naik bus seperti biasanya, apa naik kereta api? Tetapi kalau naik kereta api harus ke stasiun Solo Balapan. Bu Yuyun, sebenarnya saya sangat ingin naik kereta api. Bukan Bu Yuyun, bukan ingin merasakan naik kereta api. Saya kan sering juga naik kereta api dari Yogya, atau dari Jakarta. Tetapi dari Solo belum pernah. Memang ya sama saja kereta apinya. Tetapi saya kan bisa tahu stasiun Balapan Solo. Itu lo Bu Yuyun, saya ingin tahu seperti apakah Stasiun Balapan itu, apakah seperti yang dinyanyikan oleh Didi Kempot itu? Ya lagu campur sarinya Didi Kempot yang paling top kan Stasiun Balapan. Biasanya kalau berpisah itu yang pergi laki-lakinya, ini kok yang pergi perempuannya.

Tapi Bu Yuyun memang benar. Nanti sajalah kalau kita sudah sukses, datang lagi ke Gunung Kemukus, baru naik kereta api bagus dari Solo Balapan. Ya, kalau kita sukses Bu Yuyun, saya akan mencoba naik pesawat terbang. Tetapi turunnya di mana ya Bu Yuyun. Apakah harus turun di Yogya atau bisa turun di Solo. O, turun di Solo juga bisa ya? Bu Yuyun pernah? Bagaimanakah rasanya Bu Yuyun? Tidak berasa apa-apa? Biasa saja? Bukankah rasanya seperti kalau naik komidi puter itu? Ya saya belum berani bercita-cita naik pesawat terbang. Saya baru berani bercita-cita naik kereta api dari Stasiun Balapan, sambil mendengarkan lagu campur sarinya Didi Kempot. Apakah benar Didi Kempot itu anaknya Mamik pelawak itu? Adiknya ya?

Bu Yuyun, mengapa yang ngomong dari tadi saya terus? Apakah Bu Yuyun mendengar omongan saya atau tidak? Kalau Bu Yuyun tidur, berarti saya ngomong sendiri, berarti saya ini sudah seperti orang gila. Tapi Bu Yuyun mendengar kan? Ya, suatu ketika nanti saya juga akan ke Ponorogo. Tetapi suami Bu Yuyun tidak akan cemburu kan? Tidak boleh? Ya tidak ke rumah tetapi ke pasar, ke tempat Bu Yuyun jualan beras. Juga jangan? Ya sudah, kalau begitu kita hanya akan bertemu di Gunung Kemukus ini saja, dan waktunya juga harus dibatasi, sebanyak tujuh kali setiap hari Jumat Pon. Apakah ke Ponorogo itu hanya bisa dengan naik bus? Tidak bisa dengan naik kereta api? Apakah di Ponorogo tidak ada jalan kereta api?

Baiklah Bu Yuyun, saya tidak akan ribut lagi. Di Tirtonadi, saya akan mengantar Bu Yuyun ke Bus jurusan Surakarta Wonogiri, Ponorogo. Lalu kalau bus Bu Yuyun sudah jalan, saya akan naik bus jurusan Jakarta. Untuk sementara saya akan melupakan, angan-angan bisa melihat Stasiun Balapan. Dulu, ketika lagu campur sari itu sedang top-topnya, saya masih di kampung Bu. Maka ketika saya diajak Pak Lik ke Jakarta, saya ngotot minta naik kereta api. Bukan naik bus. Di Stasiun Tugu, saya membayangkan ada pasangan yang berpisah seperti dalam lagu campursari itu. Mengapa disebut Solo Balapan ya? Apa karena kereta apinya kereta api balap?

* * *

“Pak Sarmin, jadi Pak Sarmin dulu itu ingin sekali naik kereta api dari Solo Balapan ya? Hanya kereta api ekonomi? Mengapa? O, karena hanya ingin melihat stasiunnya? Ya, tadi kita kan sudah melihatnya kan? O, ya memang benar. Kita datang sudah menjelang jam delapan, hingga di Balapan memang tidak lama. O, makanya tadi saya lihat Pak Sarmin melihat keluar terus ya ketika di Balapan. Ya, saya tahu Pak Sarmin. Lagunya Didi Kempot itu memang terkenal sekali. Ya, sekarang Pak Sarmin kan bisa cerita ke teman-teman atau ke isteri, atau ke anak-anak, bahwa Pak Sarmin sudah pernah naik kereta api dari Stasiun Balapan, Solo. Ya, saya juga tidak terlalu ingat Pak Sarmin, apa ketika itu saya masih SMA, atau sudah kuliah ketika lagu itu ngetop.

Tetapi itu tidak pentinglah. Sekarang Pak Sarmin kan bukan hanya pernah melihat Stasiun Balapan, tetapi juga naik kereta api yang bagus. Kereta api ini bagus kan Pak sarmin?” Meilan sebenarnya ingin menitikkan air mata, tetapi ia tahan. Dan ia pura-pura tersenyum. Kereta api Argo Lawu. Di Jawa, ini sudah termasuk kereta api bagus. Kelasnya memang masih sedikit  dibawah Argo Bromo Anggrek. Tetapi untuk orang-orang seperti Sarmin, ini sudah sebuah kemewahan. Padahal dibandingkan dengan Shinkansen, Argo Lawu ini kan tidak ada apa-apanya. Kapankah orang-orang seperti Sarmin yang sudah bekerja sangat keras ini, bisa merasakan naik Tōkaidō Shinkansen, yang berkecepatan 443 km per jam?

Ah, barangkali Shinkansen itu masih teramat sangat jauhnya. Aku pernah melihat bagaimana kereta api Jabotabek itu penuh sesak, sepertinya yang berada di dalamnya itu bukan manusia. Juga metromini di Jakarta, sebenarnya aku ini termasuk orang yang beruntung atau justru rugi karena tidak pernah susah? Pemred Haryo pernah bercerita, bagaimana tahun 1950an, ia dan teman-temannya hanya bisa memandangi mobil truk dengan penuh takjub. Ia, katanya ingin sekali tahu bagaimana rasanya naik mobil. Pemred Haryo juga cerita, bagaimana mereka berjalan sampai sekitar 20 km jauhnya, hanya untuk melihat rel kereta api. Tahun 1960an, jadwal perjalanan kereta api di Jawa belum sepadat sekarang ini.

Pemred Haryo dan teman-temannya menunggu sampai tiga jam lamanya baru bisa melihat kereta api lewat. Sensasi yang mereka peroleh, katanya, benar-benar luarbiasa. Ketika pertama kali berkesempatan naik mobil oplet yang mengangkut barang dan juga orang, maka Pemred haryo berpegangan dengan erat sekali selama dalam perjalanan. Setelah kuliah di Yogyakarta, katanya Pemred Haryo suka terbengong-bengong mendengar cerita bagaimana teman-teman mereka anak orang kaya dari luar Jawa, bercerita bagaimana rasanya naik pesawat terbang. Maka seringkali Pemred Haryo dan teman-temannya datang ke Meguwo, hanya untuk melihat, bagaimana pesawat terbang naik dan turun.

“Meilan, aku benar-benar sangat menikmati ketika naik oplet atau truk berdesak-desakan di kampung sana pada tahun 1960an. Jarak 15 km ketika itu bisa ditempuh dalam jangka waktu hampir dua jam, tetapi kami sangat senang. Sekarang, saya naik mobil bagus, ber AC, ada musik, ada sopir pribadi. Tetapi menempuh jarak 15 km dalam jangka waktu 1 jam sudah ngomel habis-habisan. Berada dalam mobil bagus itu Meilan, bukan membuatku heppy, tetapi stres berat. Ketika masih mahasiswa dan mendapat kesempatan untuk naik  pesawat terbang, maka seminggu sebelum keberangkatan, aku tidak dapat tidur nyenyak. Meilan, dunia memang telah banyak sekali berubah. Ada yang menjadi lebih baik, tapi banyak yang justru lebih buruk.”

“Sekarang ini, di negeri kita ini, kecelakaan pesawat terbang kan seringkali terjadi. Itu kan karena orang-orang kita itu susah untuk disiplin. Ya penyelenggara layanan publiknya, ya penggunanya, sama-sama tidak disiplin. Ya kayak gitu kok katanya mau membangun Pusat Listrik Tenaga Nuklir. Ya bisa njeblug bener. Kalau sudah njeblug, yang jadi korban ya rakyat. Kalau di Jepang sana Meilan, kalau ada pejabat berbuat salah, bukan hanya sekadar mundur. Banyak lo yang hara kiri sampai mati. Kalau bicara Jepang memang kita ini apa? Kita ini bisanya ya cuma mengeluh, lalu menyalahkan orang lain. Padahal Jepang itu tahun 1950an ya kembali gembel karena kalah perang.”

* * *

Aku, Meilan, memang lahir di keluarga kaya. Aku tidak pernah berdesak-desakan naik angkutan umum. Aku tidak pernah susah memikirkan makan, memikirkan pakaian, memikirkan akan bersekolah di mana. Aku lahir sudah ada radio, sudah ada tivi, buku-buku banyak, majalah banyak, papi langganan koran entah dua entah tiga, termasuk yang berbahasa Inggris. Apakah ini berkah atau kutukan? Dalam hati, aku ngiri dengan Pemred Haryo, dan generasinya yang pernah mengalami jaman susah. “Meilan, dulu pertama kali ke Jakarta, dari Yogyakarta, aku berangkat naik bus malam semalam suntuk. Kalau naik kereta berangkat sore hari dan baru akan sampai ke Jakarta sore besuknya lagi.”

Tak ada kesan mengeluhkan hal tersebut, ketika Pemred Haryo bercerita. Dia bisa menjadi Boss seperti sekarang ini, karena kerja keras dan perjuangan. Bahkan dia bisa lulus S1 pun, juga karena jungkir balik dan harus nyambi kerja macam-macam. Sementara aku? Pernah aku mencuri kesempatan, ketika SMP naik kendaraan umum dengan teman-teman. Mamiku seperti orang kesetanan. Dia sewot berhari-hari karena mencemaskan keadaanku. Untung ketika aku minta ijin untuk kuliah di luar, Papi dan Mami langsung setuju. Kalau tidak, aku akan seumur hidup menjadi anak mami. Aku justru menjadi benar-benar merasakan sebagai manusia ketika berada di luar. Aku bisa naik bus, subway, trem, memasak dan mencuci baju sendiri.

Tapi di Amrik, di Jepang, atau yang deket sini saja di Singapura, busnya kan lain, kereta apinya lain. Shinkansen kan beda sekali dengan kereta Jabotabek. Bahkan ketika aku mencoba naik kereta api dari Singapura ke Penang di Malaysia, jauh lebih enak dari kereta api di Jawa. Padahal kereta api di Malaysia itu ya biasa-biasa saja. “Maaf, apakah Pak Sarmin pernah naik kereta api seperti ini sebalumnya?” Sarmin agak bingung menjawabnya. “Apa ibu? Naik kereta api seperti ini? Ya baru sekarang ini. Apakah saya boleh tahu Ibu, berapakah harga karcisnya? Sampai seratus delapan puluh ribu rupiah? Itu bisa untuk naik bus ke Jawa PP Ibu! Jadi saya ini ya baru pertama kali ini bisa naik kereta api yang seperti ini.”

“Maaf Ibu, saya juga masih belum tahu caranya, bagaimana saya bisa mengganti uang karcis yang Ibu belikan ini. Sebab itu sama saja dengan modal jualan bakso satu hari. Ini hanya untuk sekali jalan. Apa Ibu? Saya tidak perlu menggantinya? Mengapa Ibu mau menolong saya? Saya yang menolong Ibu? Saya makin tidak tahu, mengapa justru saya yang dianggap telah menolong Ibu. Cerita saya ini akan dicetak di majalah? Ya, saya jadi malu Ibu. Apa foto saya juga akan dicetak? Itu membuat saya jadi lebih malu lagi. Ya tetapi memang tidak ada yang perlu diumpet-umpetin. Biar sajalah orang-orang juga tahu bahwa dagang bakso itu tidak mudah. Mencari srono ke Kemukus itu juga perlu kesabaran, perlu ketabahan.”

“Ibu, saya jadi membayang-bayangkan, kalau tadi pagi saya ini tidak bertemu dengan Ibu, saya mau pulang dengan cara apa ya? Ya, paling yang akan saya lakukan saya akan lapor ke polisi, agar dicarikan tumpangan truk. Ya pasti ganti-ganti. Saya memang masih menyimpan uang Rp 10.000 Ibu. Maksudnya, kalau saya menumpang truk, saya akan membeli permen, dan Aqua. Kalau airnya habis, botolnya akan tetap saya isi dengan air apa saja, yang penting saya tidak kehausan. Supaya tidak lemes, saya akan terus makan permen. Kang Wagino, dulu pernah pulang dari Jakarta dengan cara seperti ini, dan tiga hari baru sampai di Gunung Kidul. Badannya jadi kurus, tetapi dia bisa pulang.”

“Atau, bisa pula dengan naik gerbong barang. Tetapi pasti lama sekali. Sebab di setiap stasiun akan berhenti, jalannya lambat, ya memang susah sekali. Saya memang salah Ibu. Seharusnya ketika ketahuan bahwa Kamis Pahing malam Jumat Pon Bu Yuyun tidak datang, saya ya harus pulang. Saya ini kok seperti ada yang menahan di Kemukus begitu. Ya memang benar ibu, yang menahan saya ya hati saya sendiri. Ya uang saya ya habis. Ya itu juga Bu, pagi Kamis Pahing itu, saya baru saja datang Ibu, lalu sedang leyeh-leyeh, e ada PSK masuk. Ya salah saya juga karena tidak menutup dan mengunci pintu. Dia langsung menubruk saya, merayu saya, dan kena Rp 50.000. * * *
Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: