Mimpi

07/04/2015 at 14:12 (novel)

“Bu Yuyun, apakah aku ini Sarmin yang sedang bermimpi? Mengapa aku yang ndeso ini bisa tidur bersanding dengan Bu Yuyun yang orang kota? Lo, sekarang saya memang di Jakarta Bu Yuyun, tetapi asal saya kan Pucanganom, Gunung Kidul.  Sedangkan Bu Yuyun kan asli kota Ponorogo. Ibu Yuyun itu kan cantik sekali. Ibu-ibu pembeli bakso yang tinggal di komplek perumahan, kecantikan, dan juga dandanannya seperti Bu Yuyun ini. Setiap kali bertemu dengan mereka, saya selalu meyakinkan diri saya, bahwa mereka itu kelasnya berbeda dengan diri saya. Mereka itu punya rumah bagus-bagus, punya mobil bagus, punya baju bagus-bagus, dan uang mereka banyak. Sedangkan saya tidak.

Bu Yuyun, mereka itu saya anggap seperti bidadari dalam cerita wayang. Ketika kecil, saya sangat senang nonton wayang Bu Yuyun. Saya membayangkan bahwa diri saya hanyalah punakawan seperti Petruk, Gareng, Bagong. Hingga nasibnya hanya bisa jadi pedagang bakso, yang harus melayani para dewa dan dewi itu, para bidadari itu. E, la kok sekarang saya ini kelonan dengan perempuan yang seperti bidadari itu.” Yuyun bangun dan duduk lalu menguap panjang. “Aku ini kenapa ngantuk sekali ya Dik Sarmin? Apa karena kita kebanyakan? Sudah berapa kali kita ini tadi? Aku kok jadi doyan sih sama sampeyan? Padahal sama suamiku saya ini bisa sebulan lebih baru melakukan.”

“Ya, saya merasa sekarang ini seperti mimpi. Ketika mendorong gerobak bakso, melewati jalan di komplek perumahan yang bagus-bagus itu, kemudian ada pembeli yang seperti Bu Yuyun ini, saya membayangkan, bagaimana ya rasanya menjadi suami dari ibu-ibu seperti itu? Bahkan lebih dari itu Bu Yuyun. Suatu ketika, tangan seorang ibu yang seperti Bu Yuyun ini, menyentuh tangan saya, ketika menerima mangkok bakso, sambil menyerahkan lembaran uang. Dada saya deg-degan kencang sekali lo Bu Yuyun. Saya membayangkan, baru tersenggol sedikit tangannya, sudah membuat deg-degan. Sekarang ini saya kok jadi bisa kelonan dengan orang yang seperti pembeli bakso saya itu. Apa ini bukan mimpi Bu Yuyun?”

“Dik sarmin, aku ini kenapa jadi haus sekali ya. Sebentar aku akan ke depan untuk mencari minum. Dik Sarmin mau apa? Teh botol atau koka-kola? Semprit? Sprite to, kok Semprit bagaimana? Ya sudah, aku ke depan sebentar ya?” Sarmin tetap menelentangkan dirinya di kasur, sambil menatap plafon bilik penginapan itu. Bilik ini, meskipun sempit, masih jauh lebih baik dibanding dengan kamar rumah petak yang dikontraknya. Dan tadi perempuan yang sedang ke depan mencari minuman tadi, juga jauh lebih cantik dari Wati istrinya. Meskipun juga jauh lebih tua dari dirinya. “Apakah saya ini bermimpi ya Allah? Ya Pangeran Samodro? Ya Nyai Ontrowulan? Ya penunggu Gunung Kemukus?”

“Kamu ini tadi ngomong dengan siapa Dik Sarmin? Ngomong sama kasur atau sama bantal? Atau sama tembok itu? Ini lo sempritnya, ini teh botol saya. Tadi di depan aku sudah minum sebotol. Hausnya tidak ketulungan. Apa mau hujan ya? Tentunya ya tidak. Wong ini bulan Agustus kok hujan. Jumat Legi minggu lalu, saya masih ikut upacara Tujuh belasan di depan pasar lo Dik Sarmin. Ya baru kali ini ada orang pasar kok disuruh upacara segala. Aneh-aneh saja pemerintah sekarang ini. Sebelumnya ada pemeriksaan, katanya ada beras yang diberi obat. Diberi apa itu namanya klorin atau apa itu. Ya beras oplosanlah. Raskin, berasnya orang miskin itu katanya bocor ke pasar, lalu dioplos, lalu ada pemeriksaan, lalu disuruh upacara.”

“Ya kalau saya ini dari dulu jualannya ya beras beneran. Beras asli. Dulu sekali, ya saya juga tidak ingat kok, katanya ada beras bulgur. Kalau sekarang itu beras ya beras. Tapi ya tidak tahu itu, sebab orang-orang berasan itu memang banyak juga yang nakal kok. Ya sama saja. Ya blantiknya, ya yang berasan, yang jual daging, jual buah, ya semuanya pasti ada saja yang nakal. Kalau lonte nakal ya memang begitu kan? Kalau orang ngganteng-ngganteng, cantik-cantik, terhormat, tiba-tiba ketahuan menipu, ya orang kan tidak mengira begitu itu kan? Wong jualan dengan jujur pun kadang orang masih maido kok. Apalagi kita tidak jujur. Ya orang akan segera menjauh.”

* * *

“Dik Sarmin, aku tanya serius ini lo ya? Apakah Dik Sarmin pernah selingkuh?  Pernah tidur dengan perempuan selain istrinya, begitu lo Dik? Belum pernah? Ya bohong to kalau belum pernah. Wong suami-suami itu biasanya senang jajan kok. Kuswanto suami saya itu selain judi, juga senang jajan. Tapi saya streng sekali. Dia harus rutin minum antibiotik kalau habis jajan. Aku memang membolehkan dia main perempuan. Kok heran to kamu itu Dik Sarmin? Saya justru lebih senang kalau dia hanya main perempuan, dan tidak judi. Sebab main perempuan ada batasnya. Dia kan tidak mungkin main perempuan sampai menjual sawah, sampai menggadaikan truk, sampai habis-habisan. Orang main perempuan itu paling sekali dua kali habisnya ya hanya seratus duaratus ribu. Kalau judi?”

“Aku sendiri juga tidak mau kalah. Aku juga beberapa kali punya simpenan. Kalau anak-anak sekarang itu bilangnya apa? Brondong? Ya, laki-laki yang masih muda. Yo koyo sampeyan ini. Coba kamu ini umurnya berapa Dik Sarmin? Tigapuluh? Malah belum genap tigapuluh? La aku ini sudah empat lima kok. Jadi ketika aku ini sudah umur limabelas tahun, dan sudah dapat haid, kamu ini baru lahir. Tapi aku kok ya bisa tidur dengan laki-laki, yang umurnya lebih muda dari aku to yo? Dik Sarmin, aku ceritai ya, aku ini pernah mendapatkan perjaka ting-ting. Bukan. Bukan Kuswanto suami saya. Wong baru-baru ini kok. Anak teman saya sendiri, sama-sama pedagang pasar.”

“Ya sudah, jangan tanya detilnya seperti apa. Kok lalu menyelidik-nyelidik. Memangnya situ suami aku? Wong Kuswanto saja tidak tahu kok. Dia itu lucu. Malah nyuruh-nyuruh. Anak itu kan namanya Bambang, dan masih kelas dua SMA. Ya sono to Mbang, Budemu itu diantar ke Siman, wong saya repotnya seperti ini kok. Ya pakai motormu ya boleh, pakai motor baru  itu juga boleh. Tapi jangan pakai mobil wong mau dipakai ngambil gabah nanti siang. Ya aku berangkat to Dik Sarmin. Ke Siman itu ya dekat Ponorogo, tapi keluar kota sedikit. La di situ itu kan ada rumahnya ibunya Bambang yang masih kosong. Aku ini sebenarnya mau menengok padi. Tapi ya dasar Bambangnya sendiri juga seperti itu. Ya sudah.”

“Ya memang seperti ngimpi. Wong ibunya itu seumur saya kok, Bambang itu ya seumur Joni anakku yang nomor dua. Ya aku sendiri tidak tahu ya Dik Sarmin, sampai sekarang, Bambang itu ya masih seperti itu terus. Tetapi lama-lama aku ini kan merasa tidak enak juga ya. Ya sudahlah. Maka sekarang ini, di Cungkup Pangeran Samodro ini, saya sebenarnya juga ingin membersihkan diri. Tetapi ya kok malah ketemu sampeyan ini bagaimana to? Juragan Badrun itu memang ya aneh-aneh saja kok. Mencari srono kok ya seperti ini. Apa tidur-tiduran siang hari begini ini yang namanya tirakat? Coba Dik Sarmin? Apa betul kita ini sedang tirakat? Tirakat itu kan menahan lapar dan haus, menahan capek, menahan ngantuk. Ya kan?”

“La kita sekarang ini, haus sedikit minum, lapar ya makan, ngantuk ya tidur. Capek? Ya kalau kita main sampai tiga empat kali sehari ya capek. Apalagi saya ini kan sudah tua juga ya? Kalau dik Sarmin ini mau tujuh kali ya siap saja kan? Saya ini ngomong apa sih? Dari tadi kok yang diomongkan ya itu-itu melulu. Apa nanti malam kita akan tuguran juga di atas sana seperti Jumat Pon kemarin, atau mau tuguran di sini saja? Aku sih maunya ya tuguran di sini saja. Tapi kalau Dik Sarmin maunya seperti yang lalu, ya ayo. Aku sekarang ini manut saja sama Dik sarmin. Dik Sarmin, kamu ini kalau saya amat-amati ya mirip juga lo sama Bambang. Ya Bambangku itu to, kok Bambang siapa.”

“Ketika pertama kali dengan Bambang, wah ketika itu saya ini seperti menjadi muda lagi lo Dik Sarmin. Benar itu. Ya kata orang-orang itu, saya ini kan katanya minum jamu, Ya Bambang itu yang saya jadikan jamu. Ya kalau laki-laki tua dapat perawan kencur, orang-orang kan bilang katanya makan daun muda. Ya ketika itu saya ini seperti habis minum jamu begitu. Badan jadi sehat, pikiran plong begitu. Tetapi ya bagaimana ya? Wong Bambang itu ngganteng, imut, lalu ya memang benar-benar masih ting-ting. Jadi saya ini ya sempat beberapa kali menikmati keperjakaan. Salah satunya yang paling berkesan ya Bambang ini. Ya kalau Kuswanto ya jelas to wong itu suami kok.”

* * *

“Bu Yuyun, sebaiknya malam ini, Kamis Pahing malam Jumat Pon, kita lakukan seperti Jumat Pon yang lalu. Ya kita harus mandi dulu di sendang Ontrowulan. Lalu semua proses harus kita jalani. Apa Bu Yuyun tidak pernah berharap agar upaya kita ini bisa berjalan lancar, dan membuahkan hasil? Ya, kadang-kadang sebagai manusia kita ini kan tidak bisa lepas sama sekali dari dosa. Ya Bu Yuyun? Tapi dosa ya jangan diulang-ulang terus. Kata orang-orang itu, setan itu ada di hati kita masing-masing, dan akan terus menggoda dengan sekuat tenaga. Kata orang-orang itu, semakin kita berusaha menjadi suci, maka posisi setan itu juga menjadi semakin kuat. Godaan untuk orang suci, untuk orang kaya, untuk orang berpangkat, katanya makin besar.”

“Ya Dik Sarmin itu kalau maunya mengajak saya ke atas lagi seperti kemarin ya ayo. Tapi jangan membawa-bawa dosa segala. Dosa itu kan dosa-dosa saya sendiri. Itu kan tidak merugikan Dik sarmin to? Wong Kuswanto suami saya saja setengahnya merelakan saya ditiduri Nak Bambang kok. Apa Dik Sarmin cemburu setelah saya tadi cerita tentang Bambang? Ya tidak usah cemburu to. Orang Dik Sarmin ya hanya mendengar ceritanya kok. Kecuali sekarang ini Bambang ada di kamar ini, lalu Yuyun ini hanya melayani Bambang yang muda, dan imut serta membiarkan Sarmin, nah itu baru boleh cemburu. Tetapi itu ya tidak mungkin ya. Kata Juragan Badrun, ke Kemukus itu tidak boleh dengan pasangan yang sebelumnya sudah saling mengenal. Itu kata Juragan Badrun lo!”

“Iya ya, apa Juragan Badrun masih kesini ya. Jumat Pon kemarin itu dia kan yang terakhir. Kalau sekarang ia masih ke sini, itu berarti dia keterusan dengan Bu Miah dari Banyumas. Atau dia datang lagi hanya dengan maksud ziarah biasa. Tapi ziarah biasa kan tidak harus Jumat Pon, dan tidak perlu dengan pasangannya. Kalau toh mau dengan pasangannya lagi, biasanya dilakukan setelah setahun. Itu juga kata Juragan Badrun lo. Katanya mereka yang sudah sukses, kalau mau reuni ya menunggu setelah setahun. Biasanya mereka juga mengadakan selamatan. Atau, paling banyak mereka datang ketika larungan kelambu makam, tiap malam Satu Suro. Harusnya sekarang ini Juragan Badrun sudah tidak datang lagi.”

“Ya, baiklah Dik Sarmin, saya ya nurut saja. Dosa saya banyak, ya nanti dilarung di Sendang Ontrowulan saja. Saya akan cuci bersih ini semua. Bekasnya Bambang ini juga akan saya cuci bersih. Ya bekasnya sampeyan ini juga. Tapi aku ini juga heran to Dik Sarmin. Ini yang kita lakukan ini, yang juga dilakukan oleh orang-orang itu, sebenarnya diridhoi Allah atau tidak sih? Ziarah yang begini ini sebenarnya ada di jalan Allah atau jalannya setan ya Dik Sarmin? Kalau menurut sampeyan bagaimana hayo coba? Kita ini sedang berjalan di jalan Allah, atau sedang diseret-seret oleh setan? Aku sendiri Yuyun Sri Wahyuni, tidak takut pada dosa, tidak takut pada setan. Kan kita ini melakukannya rame-rame?”

“Tapi beda ya Dik Sarmin. Bulan Agustus ini udaranya dingin sekali ya? Padahal tidak ada hujan. Tapi tadi pagi itu ya kok dinginnya seperti itu sih? Coba nanti malam di cungkup sana seperti apa? Kalau tadi malam, kita memang anget karena kelonan. Nanti malam kalau kita tuguran dan tirakatan di cungkup sana, apa tidak dingin sekali ya? Tetapi kalau disamping sampeyan sih dingin ya tidak apa-apa. Dingin-dingin empuk. Dik Sarmin membawa jaket kan? Saya juga membawa baju anget kok. Saya juga akan memakai celana panjang dan kaos kaki tebal. Tetapi pakai sandal kan tidak apa-apa kan? Tidak dimarahi Pangeran Samodro kan? Saya itu membayangkan begini lo Dik Sarmin, saya ini Nyai Ontrowulan dan sampeyan itu Pangeran Samodronya.”

Tapi kita ini kan selalu sampai selesai kan? Kalau Pangeran dan Nyai itu, katanya tidak sampai selesai lalu dibunuh ya? Kasihan sekali. Padahal saya ini pernah lo, ya bukan dengan suami, tetapi dengan seseoranglah. Bukan, bukan Bambang. Ketika itu HP bunyi. Lalu ada orang datang. Padahal sedang tanggung ketika itu. Wah, ya mangkelnya bukan main. Untung tidak langsung dibunuh seperti pangeran kita ini ya? Apa Dik Sarmin tidak pernah mengalami yang begitu itu? Ya pasti pernah to. Ya anak nglilir dan nangis, ada tamu, atau apa saja. Makanya, orang-orang tua itu sering menasehati, janganlah mangganggu hewan yang sedang kawin. La itu Pandu itu kan memanah rusa kawin, lalu dikutuk kalau pas begitu akan mati.

Ya benar begitu kan? Ah mosok Dik Sarmin tidak tahu ceritanya? Ya makanya Pandu itu meski menikah dengan Dewi Kunti ya tidak berani begitu, wong sudah dikutuk kok. Tapi Kuntinya malah yang bilang begini. Mas Pandu, aku ini sebenarnya kan pernah selingkuh dengan dewa Surya, lalu punya anak Karna yang lahir lewat kuping dan aku buang. Sekarang aku bisa panggil dewa-dewa lain lo. Maka dia panggil dewa Dharma dan lahir Yudhistira, Dewa Bayu dan lahir Bima, Dewa Indra, lahir Arjuna. Nah Pandu kan juga punya selir Dewi Madrim, Kunti memanggilkan Dewa Aswin dan lahir anak kembar Nakula Sadewa. Pandu jengkel lalu nekad meniduri Dewi Madrim, dan ya lalu mati. * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: