APRESIASI PUISI F.RAHARDI

08/04/2015 at 13:16 (artikel)

Cerita dan Karya
Friday, October 10, 2014
APRESIASI PUISI F.RAHARDI

APRESIASI PUISI
Agis Amalia Wibawaty

PUISI SEBAGAI SALAH SATU KARYA SASTRA

1.  PENGERTIAN PUISI

Herman J. Waluyo mendefinisikan bahwa puisi adalah bentuk karya sastra yang mengungkapkan pikiran dan perasaan penyair secara imajinatif dan disusun dengan mengonsentrasikan semua kekuatan bahasa dengan pengonsentrasian struktur fisik dan struktur batinnya.
Aristoteles, Puisi adalah fragmen yang ada pada penyair yang menggambarkan tiga genre puisi adalah epik, komik, yang tragis dan mengembangkan aturan untuk membedakan puisi kualitas tertinggi setiap genre, berdasarkan tujuan yang mendasari genre.

2.  APRESIASI PUISI
Menurut Gove (dalam Adyana, 2009: 34)

Apresiasi sastra berasal dari bahasa latin apreciation yang berarti mengindahkan atau menghargai. Dalam konteks yang lebih luas istilah apresiasi sastra mengandung makna:
a. Pengenalan melalui perasaan atau kepekaan batin.
b. Pemahaman dan pengakuan terhadap nilai-nilai keindahan yang diungkapkan pengarang.

Pada sisi lain Squire dan Taba berkesimpulan bahwa sebagai suatu proses, apresiasi melibatkan tiga unsur inti yaitu:
a. Aspek kognitif berkaitan dengan keterkaitan intelek pembaca dalam upaya memahami unsur-unsur kesastraan yang bersifat objektif.
b. Aspek emotif berkaitan dengan keterlibatan unsur emosi pembaca dengan upaca menghayati unsur-unsur keindahan dalam teks sastra yang dibaca.
c. Aspek edukatif berhubungan dengan kegiatan memberikan penilaian baik buruk, indah tidaknya, sesuai tidak sesuainya, serta jumlah ragam penilaian.

3.   JENIS-JENIS PUISI
Ditinjau dari jenisnya, puisi atau sajak dapat dibedakan menjadi tiga yaitu :
•  Puisi lama,
•  Puisi baru,
•  Puisi modern dan
•  Puisi kontemporer.

a.  Puisi Lama
Puisi lama adalah puisi yang banyak terikat oleh aturan-aturan. Aturan-aturan itu antara lain jumlah baris dalam 1 bait, jumlah kata dalam 1 baris, persajakan, banyaknya suku kata tiap baris  maupun irama.

b. Puisi Baru
Puisi baru sering juga disebut sebagai sajak. Puisi baru lebih menekankan pada isi yang terkandung di dalamnya. Puisi baru merupakan pancaran masyarakat baru dan banyak dihasilkan oleh para sastrawan angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru.

c. Puisi Modern
Menurut Jalil (1990) puisi modern ini muncul, sejak kehadiran Jepang di Indonesia. Walaupun kehadiran Jepang di Indonesia memberikan kesengsaraan bagi masyarakat, namun bagi penyair memberikan kandungan keuntungan yang sangat besar, yaitu adanya kebebasan menggunakan bahasa indonesia.

Kebebasan menggunakan bahasa indonesia oleh penyair, digunakan sebagai alat untuk menghembuskan napas kebencian pada Jepang. Penyair angkatan ini dikategorikan sebagai penyair angkatan 1945, dan karya-karya puisinya termasuk dalam kelompok puisi modern. Diantara puisi  modern; (1) berjudul “Aku” karya Chairil Anwar, (2) berjudul “Padamu Jua” Karya Amir Hamzah.

d.  Puisi Kontemporer
Sesungguhnya bagi angkatan pujangga baru yang masih hidup antara tahun 1966-1970, kehadiran puisi kontemporer pada mulanya tidak diakuinya, karena  mereka menganggap  bahwa puisi dari jaman revolusi ini bukan lahir dari penyair yang benar-benar penyair, karena tokoh dari puisi ini dianggap brengsek, namun sebenarnya tidaklah demikian. Kehadiran puisi kontemporer merupakan perkembangan puisi Indonesia. Tahapan dari karya puisi kontemporer tidak hanya mementingkan diri si penyair, tetapi tuntutan keharusan, kemestian dan kebenaran menjadi tahap yang utama dalam menciptakan sebuah puisi.
Tokoh puisi kontemporer adalah Taufik Ismail, Darmanto Jatman, Rendra, Sutarji Calzoum Bachri. Di antara puisi kontemporer yaitu; berjudul: Malam Sebelum Badai karya Taufik Ismail.

4.  ALIRAN DALAM KARYA SASTRA
Berbicara tentang aliran sastra, dalam karya sastra, dikenal beberapa aliran berikut:

1. Realisme.
Aliran sastra ini merupakan sastra yang melukiskan keadaan/peristiwa sesuai dengan kenyataan EKE apa adanya. Pengarang tidak menambah ataupun mengurangi suatu kejadian yang dilihatnya secara positif, yang diuraikan yang baik-baik saja.
2. Naturalisme.
Aliran sastra ini melukiskan sesuatu secara apa adanya yang dijiwai adalah hal-hal yang kurang baik. Contoh: Pada sebuah kapal karya Nh. Dini dan cerpen-cerpen Motinggo Busye.
3. Neonaturalisme.
Merupakan aliran baru dari aliran neturalisme. Aliran ini tidak saja mengungkapkan sisi jelek, namun juga memandang sesuatu dari sudut yang baik pula.
Contoh: Raumanen karya Marianne Kattopo, Katak hendak jadi lembu karya Nur Sultan Iskandar, dan Keluarga Purnama karya Ramadhan K.H.
4. Ekspresionisme
Yaitu aliran dalam sastra yang menekankan pada perasaan jiwa pengarangnya.
Contoh: Puisi-puisi karya Chairil Anwar, Sutardji CB, Subagio Sastrowardojo, Toto Sudarto Bachtiar.
5. Impresionisme.
Yaitu aliran dalam sastra yang menekankan pada kesan sepintas tentang suatu peristiwa, kejadian atau benda yang ditemui atau dilihat pengarang. Dalam hal tersebut, pengarang mengambil hal-hal yang penting-penting saja.
6. Determinisme.
Yaitu aliran dalam sastra yang melukiskan suatu peristiwa atau kejadian dari sisi jeleknya saja. Biasanya menyoroti pada ketidakadilan, penyelewengan dan lain-lain yang dianggap kurang baik pengarang. Contoh: Sebagian besar puisi angkatan 66.
7.  Surelaisme.
Yaitu aliran dalam sastra yang melukiskan sesuatu secara berlebihan sehingga sulit dipahami oleh penikmat atau pembaca.
Contoh: Bib-Bob (drama) Karya Rendra, Lebih hitam dari hitam (cerpen) karya Iwan Simetupang, Pot (Puisi) karya Sutardji Calzoum Bachri.
8. Idealisme.
Yaitu aliran dalam sastra yang selalu melukiskan cita-cita, gagasan, atau pendirian pengarangnya. Contoh: Puisi-puisi karya Chairil Anwar.
9. Simbolisme
Yaitu aliran sastra yang menampilkan simbol-simbol (isyarat) dalam karyanya. Hal ini dilakukan pengarang untuk mengelabui maksud yang sesungguhnya.
10. Romantisme.
Yaitu aliran dalam sastra yang selalu melukiskan sesuatunya secara sentimentil penuh perasaan.
Contoh: Dian Yang Tak Kunjung Padam, karya Sutan Takdir Ali Syahbana, Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisyahbana. Cintaku jauh di Pulau karya Chairil Anwar.
11. Psikologisme.
Yaitu aliran dalam sastra yang selalu menekankan pada aspek-aspek kejiwaan.
Contoh: Ziarah (roman) karya  Iwan Simatupang, Belenggu (roman) karya Abdul Muis.
12. Didaktisme.
Yaitu aliran dalam sastra yang menekankan pada aspek-aspek pendidikan. Dalam sastra lama banyak karya yang bersifat mendidik.
Contoh: Salah Asuhan, roman, karya Abdul Muis, Karena Kerendahan Budi, karya HSD Muntu, Syair Perahu, syair karya Hamzah Fansuri.
13 Mistikisme.
Yaitu aliran dalam sastra yang melukiskan pengalaman dalam mencari dan merasakan nafas ketuhanan dan keabadian.
Contoh : Syair Perahu, karya Hamzah Fansuri, Nyanyi Sunyi, karya Amir Hamzah, Kekasih Abadi, karya Bahrum Rangkuti, Rindu Dendam, karya J.E. Tetengkeng.

5.     PENDEKATAN DALAM KARYA SASTRA

1.  PENDEKATAN MIMETIK
Pendekatan yang berupaya memahami hubungan karya sastra dengan realitas/kenyataan (berasal dari kata mimesis (bahasa Yunani) yang berarti tiruan)
Realitas: sosial, budaya, politik.
Karya Sastra

2.  PENDEKATAN EKSPRESIF
Pendekatan yang memfokuskan perhatiannya pada  sastrawan sebagai pencipta atau pengarang karya sastra.
Pengarang Karya Sastra, ide, gagasan, emosi, pengalaman lahir batin

3.  PENDEKATAN PRAGMATIK
Pendekatan yang memandang karya sastra sebagai sarana untuk menyampaikan tujuan tertentu kepada pembaca.
Karya sastra pembaca
Kelemahan: cenderung menilai karya sastra menurut keberhasilannya dalam mencapai tujuan tertentu kepada pembaca.
Perkembangan selanjutnya: RESEPSI SASTRA

4.  INTERTEKSTUALITAS
Kajian intertekstualitas dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks, yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya untuk menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsik seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, gaya bahasa, dan lain-lain. Karya sastra yang dijadikan dasar penulisan bagi karya yang kemudian disebut sebagai hipogram.

5.  DEKONSTRUKSI
Pendekatan dekonstruksi bermaksud untuk melacak unsur aporia, yaitu berupa makna paradoksal, makna kontradiktif, makna ironi, dalam karya sastra yang dibaca. Unsur dan atau bentuk-bentuk dalam karya itu dicari dan dipahami justru dalam arti kebalikannya. Unsur-unsur yang “tidak penting” dilacak dan kemudian “dipentingkan”, diberi makna, peran, sehingga akan terlihat perannya dalam karya yang bersangkutan.

6.  PENDEKATAN SEMIOTIK
Semiotik adalah tanda sebagai tindak komunikasi dan kemudian disempurnakan menjadi model sastra yang mempertanggungjawabkan semua faktor dan aspek hakiki untuk pemahaman gejala susastra sebagai alat komunikasi yang khas di dalam masyarakat mana pun.

7.  PENDEKATAN HISTORIS
Puisi adalah curahan pikiran dan perasaan penyair yang mengandung rima dan irama serta di ungkapkan  dalam bentuk bahasa yang tepat, cermat dan padat. Puisi juga merupakan bentuk kesusastraan yang paling tua. Puisi sebagai salah satu jenis sastra yang dapat di kaji dari macam-macam aspek, seperti di kaji dari struktur penyusunnya, jenis-jenisnya dan dapat juga di kaji dari sudut kesejarahannya. Hal ini mengingat bahwa dari masa kemasa,dan bahkan sampai saat ini puisi selalu ditulis.

LANGKAH-LANGKAH PENDEKATAN HISTORIS
* Memahami puisi
* Mengetahui tahun diciptakannya puisi
* Mengidentifikasi peristiwa sejarah puisi
* Memahami fakta yang terjadi pada puisi itu dibuat
* Memahami peran penyair
* Menghubungkan identifikasi tahun dan peristiwa sejarah yang dimuat dalam puisi dengan         peran dan fakta sejarah yang terjadi pada saat penciptaan puisi.

“ SEPULUH  PUISI F. RAHARDI”

PUISI-PUISI KARYA F. RAHARDI

1. DOA-DOA DESEMBER
kita lihat diri kita : gelap
kita kecap diri kita : pahit
kita adalah bayangan-bayangan gelap dan pahit
kita menulis, kita menangis
kita tertawa, kita berdoa
: ya tuhan
mengapa kau tak mau turun untuk minum-minum
bersama kami di kantin ini
agar kita bisa bicara
agar kami punya kepastian-kepastian
di sini.
1969

2.  HUJAN DI PENGHABISAN MUSIM
laksana kepingan mawar yang putih
langitpun mekar dan rontok
di atas kota itu
matahari mengibas-ngibaskan jambulnya
yang basah dan lembab
tak ada yang dapat ditertawakan
tak ada yang patut kita tangisi
jenguklah
dari jendela kamarmu yang longgar
seekor camar melintas di udara
di antara tetes-tetes yang malas
anginpun habis
dan dahan-dahan mahoni
mengacungkan canggalnya
lurus ke atas

3.  NATAL DI BAWAH POHON MANGGIS
Di bawah pohon manggis ada
lampu teplok
kandang kambing
gerimis
tanah becek
dan kentongan dipukul sebelas kali
hari sudah demikian malam
dan dingin
hari sudah sangat sepi
katanya
pada malam seperti inilah
yesus dilahirkan
tak ada lilin
tak ada lonceng
tak ada baju bagus
hanya mantel butut
bau kencing kambing
mata ngantuk
badan capek
dan udara malam
yang betul-betul dingin
katanya,
yesus dilahirkan di tempat seperti ini
di timur tengah sana
dulu, 2000 tahun yang lalu.
Jakarta, 1989
***

4. KEPADA MARIA I
seekor labah-labah kecil yang nakal
melilitkan benangnya di leherku
lalu dengan diam-diam ia pun merayap sejauh
empat ratus mil
dan membangun perangkap di sudut kamarmu
di rongga yang gelap dan dingin itu
ia pun memasang jaring-jaringnya
dan dengan sabar ditungguinya
dari waktu ke waktu
siap menjerat seluruh tubuhmu.
1974.

5. KEPADA MARIA II
alangkah mudahnya kunang-kunang itu
menembus mataku
dan berkelip-kelip kecil
dan jauh sekali
dalam mimpiku
berapa kalikah jam dinding tadi
berbunyi
tanyaku dalam igauan
dalam kelam malam
yang panjang dan lengang
kecil sekali
dan jauh
(sekecil dan sejauh itukah
: kau).
1974.

6. GAMBAR-GAMBAR DI DINDING KAPEL
gambar-gambar kecil di tembok kapel
sangat banyak berkata-kata padaku
tentang jamannya
tentang tangan-tangan yang menggarapnya
ada lampu-lampu
ada jendela-jendela yang mengantar sinar dari luar
dua-duanya membantu
berjam-jam mataku terpaku
badanku pun makin gemetar jadinya
menatap tokoh-tokoh di gambar itu
betapa besar mereka
betapa banyak yang dikatakannya
dan kami menjadi domba-domba yang bodoh
terperangkap
di kapel yang kecil ini.
1974.

7.  SEBAB BUKAN WAJAHKU SEBAB BUKAN WAJAHMU
di dinding kamarku
tergantung sebuah cermin
besar dan bundar

ada bayang-bayang ganjil
terpantul di cermin itu
pudar dan samar
(wajah siapakah gerangan
sebab bukan wajahku
sebab bukan wajahmu
yang nampak di cermin itu)
wajah siapakah gerangan
tanyaku sambil melongok
ke belakang cermin itu
dingin dan sepi.
1974.

8.  PENJELASAN MENTERI PENERANGAN TENTANG TUYUL
udara AC sentral
block note
ball pen
tape recorder
kamera TIVI
tangan wartawan
mulut-mulut yang melongo
semua menunggu
menteri itu datang
ajudan mengepit map
mata ditebarkan
mulut disenyumkan
dan penjelasan itu mengalir lancar seperti
cucuran air terjun tawangmangu
saudara-saudara
selain hal-hal seperti yang telah saya sebutkan
tadi
dalam sidang kabinet harian
juga disinggung pula masalah tuyul
sejenak menteri diam
ruang AC kegelian
wartawan tertawa
kamera dibidikkan
kentut ditahan
menteri melanjutkan penjelasan
dalam beberapa bulan terakhir ini
masyarakat telah dibikin resah oleh sebuah isyu
mengenai tuyul
tanpa jelas asal-usulnya, tahu-tahu isyu tentang
tuyul ini
telah beredar luas mulai dari Padang sampai
Ambon
akibat isyu tuyul itu
ayam kampung dan itik telah berhenti bertelur
listrik mendadak turun voltasenya
dan hama tikus serta wereng cokelat
telah merajalela dan menghancurkan
beberapa buah lapangan golf
pendek kata
akibat isyu tuyul itu stabilitas nasional
telah guncang
pembangunan yang dulu lancar sekali itu
sekarang macet total
untuk itu bapak presiden telah memberi
petunjuk agar isyu tuyul itu
segera ditangkal secara tuntas sampai ke
akar-akarnya
dalam sidang kabinet barusan
telah diputuskan
istilah tuyul akan segera dihapus dari kamus
dan diganti dengan istilah baru yang lebih
canggih
ingat saudara-saudara
istilah lonte yang kasar dan berkonotasi porno
itu
telah berhasil dengan sukses diganti istilah baru
yang jauh lebih sopan
wanita tuna susila atau lazim disingkat WTS
istilah mobil yang kesannya kebarat-baratan itu
sekarang sudah berhasil dicarikan padanannya
yang lebih mencerminkan
suasana timur : kendaraan bermotor roda empat
ini jelas lebih pas
untuk itu, tadi bapak presiden telah memberi
petunjuk
pada menteri pendidikan agar segera
membentuk sebuah tim
guna merumuskan istilah baru yang lebih sesuai
sebagai pengganti
kata tuyul
tadi penjelasan saya tentang adanya isyu
tuyul
selanjutnya dalam sidang kabinet barusan
juga dibahas pula indeks harga kebutuhan
bahan pokok
termasuk sayur-mayur terutama dalam rangka
menghadapi hari raya lebaran
menurut catatan pihak yang berwajib
harga cabe keriting di pasar induk Kramat Jati
tercatat Rp 1.750,00 per kg
harga ikan asin ………………………
Jakarta, 1989

9.  SEHABIS NONTON JAM DUA BELAS
seperti dilepas dari kurungan
kamipun bubar dan bergegas
mengenali wajah-wajah kami sendiri
di aspalan yang keras
lampu-lampu sudah surut sinarnya
pintu-pintu sudah terkancing seluruhnya
haruskah aku menuju ke rumah itu lalu
memanggili namamu
o, malam
tangan-tangan dingin di atas pundakku
langkah yang letih
lorong-lorong mengejang
dan patah di tikungan

10. Definisi Tuyul
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
yang disusun oleh
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan
diterbitkan oleh
Balai Pustaka Jakarta 1988 – Entri terakhir
huruf T-halaman 978
Tuyul (Konon berdasarkan cerita masyarakat
yang ada)
makhluk halus berupa bocah berkepala gundul
yang oleh
orang yang memeliharanya dapat diperintah
untuk mencuri
uang dsb.
1989

Analisis dua puisi F.Rahardi secara Struktural

“DOA-DOA DESEMBER & HUJAN DI PENGHABISAN MUSIM”

ANALISIS SECARA STRUKTURAL

DOA-DOA DESEMBER
F. Rahardi

kita lihat diri kita : gelap
kita kecap diri kita : pahit
kita adalah bayangan-bayangan gelap dan pahit
kita menulis, kita menangis
kita tertawa, kita berdoa
: ya tuhan
mengapa kau tak mau turun untuk
minum-minum
bersama kami di kantin ini
agar kita bisa bicara
agar kami punya kepastian-kepastian
di sini.
1969

Analisis secara fisik
A.  DIKSI
Dalam puisi doa-doa desember ini F. Rahardi memilih kata-kata kiasan yang bisa ditafsirkan dengan berbagai kemungkinan makna. Pada puisi diatas penulis menggunakan lambang warna pada baris pertama “ kita lihat diri kita gelap” yang bukan dalam arti sebenarnya. Namun yang dimaksud disini adalah seseorang yang mempunyai banyak salah. Lalu pada baris kedua” kita kecap diri kita pahit” yang menunjukan bahwa kita ini mempunyai banyak sekali dosa, dan diperjelas pada baris ketiga yaitu “ kita adalah bayang-bayang gelap dan pahit” bahwa manusia itu tempatnya salah dan dosa.

B.  KATA KONGKRIT
F. Rahardi adalah penyair yang brutal dalam memilih kata. Namun F. Rahardi memberi kata penjelas pada baris ke lima sampai ketujuh “ –kita berdoa : ya Tuhan mengapa kau tak mau turun-”  dan dilanjutkan pada baris ke sebelas “ agar kami punya kepastian-kepastian” yang menjelaskan tentang keputus asaan seseorang.

C.  PENGIJMAJIAN/PENCITRAAN
Dalam puisi Doa-Doa Desember F. Rahardi banyak sekali menggunakan pencitraan :
kita lihat diri kita : gelap = citraan penglihatan
kita kecap diri kita : pahit = citraan pencecapan
kita adalah bayangan-bayangan gelap dan pahit = citraan penglihatan
kita menulis, kita menangis = citraan perasaan
kita tertawa, kita berdoa = citraan perasaan
: ya tuhan

mengapa kau tak mau turun untuk
minum-minum
bersama kami di kantin ini citraan perasaan
agar kita bisa bicara
agar kami punya kepastian-kepastian
di sini.

D.  BAHASA FIGURATIF
Pada puisi Doa-Doa Desember di atas F. Rahardi menggunakan personifikasi.
Dengan diperjelas pada bait kedua  :

mengapa kau tak mau turun untuk
minum-minum
bersama kami di kantin ini
agar kita bisa bicara
agar kami punya kepastian-kepastian
di sini.

E. VERIFIKASI
Rahardi  bukanlah penyair yang selalu terikat pada peraturan sehingga kadang-kadang dia tak pernah memperhatikan bunyi yang ada dalam puisinya. Baginya menulis puisi itu adalah suatu kebebasan. Meskipun demikian dalam puisi ini Rahardi tetap memperhatikan bunyi walau tidak terlihat secara mencolok.
Dalam puisi ini pada bait pertama memang banyak efek kakafoninya sehingga tidak bisa dikatakan puisi merdu. Banyak bunyi yang mengandung k, p, t, s. Namun pada bait kedua
Banyak bunyi efoni yang indah. Dibait pertama juga diawal baris ada irama yang tetap.

F.  TIPOGRAFI
Tipografi yang dipakai dalam puisi Doa-Doa Desember diatas adalah non konvensional.

Analisis secara Batin
TEMA : puisi berjudul Doa-Doa Desember karya F. Rahardi ini bertema Ketuhanan. Karena bisa dilihat dari  kelima dan keenam “ kita tertawa, kita berdoa” “ya Tuhan”.

NADA & SUASANA : Nada yang ada dalam puisi ini adalah Nada protes, protes terhadap Tuhan. Dimana digambarkan pada bait pertama bahwa sesungguhnya manusia itu tempatnya salah dan dosa. Dimana manusia itu tidak bisa berbahagia dalam hidupnya karena banyaknya dosa yang dilakukannya. Keputus asaan seseorang dan menyalahkan Tuhan.
“kita lihat diri kita : gelap
kita kecap diri kita : pahit
kita adalah bayangan-bayangan gelap dan pahit
kita menulis, kita menangis
kita tertawa, kita berdoa
: ya tuhan”
Seorang yang sudah putus asa dalam hidupnya sehingga menyalahkan Tuhan. Itu  pada bait kedua.
“mengapa kau tak mau turun untuk
minum-minum
bersama kami di kantin ini
agar kita bisa bicara
agar kami punya kepastian-kepastian
di sini.”
Seseorang yang sudah putus asa dalam menjalani hidup yang tak bisa mendapatkan kepastian hidup yang baik.

PERASAAN : perasaan yang terdapat dalam puisi Doa-Doa Desember adalah perasaan Kecewa. Yaitu kekecewaan seseorang kepada Tuhannya. Seseorang yang sudah putus asa menjalani hidup.

AMANAT : setiap orang mempunyai masalah masing-masing. Manusia adalah tempatnya salah dan dosa oleh karena itu kita hendaknya lebih mendekatkan diri pada Tuhan. Memohon ampun dan bertobat dengan tobatan nasuha dan Tidak menyalahkan Tuhan. Karena Tuhan punya rencana yang indah untuk semua kejadian yang kita alami.

Hujan di Penghabisan Musim
F. Rahardi

laksana kepingan mawar yang putih
langitpun mekar dan rontok
di atas kota itu
matahari mengibas-ngibaskan jambulnya
yang basah dan lembab
tak ada yang dapat ditertawakan
tak ada yang patut kita tangisi
jenguklah
dari jendela kamarmu yang longgar
seekor camar melintas di udara
di antara tetes-tetes yang malas
anginpun habis
dan dahan-dahan mahoni
mengacungkan canggalnya
lurus ke atas

Analisis secara fisik
A.    DIKSI
Pada puisi Hujan di Penghabisan Musim penulis banyak menggunakan bahasa kiasan ;
laksana kepingan mawar yang putih = lambang benda dan lambang warna (putih)
langitpun mekar dan rontok = lambang benda
di atas kota itu
matahari mengibas-ngibaskan jambulnya = lambang benda
yang basah dan lembab = lambang suasana
tak ada yang dapat ditertawakan= lambang suasana
tak ada yang patut kita tangisi=lambang suasana
jenguklah
dari jendela kamarmu yang longgar
seekor camar melintas di udara
di antara tetes-tetes yang malas = lambang benda
anginpun habis = lambang benda
dan dahan-dahan mahoni
mengacungkan canggalnya
lurus ke atas

B.  KATA KONGKRIT
Kata kongkrit yang terdapat pada puisi di atas ;
laksana kepingan mawar yang putih
langitpun mekar dan rontok
di atas kota itu
matahari mengibas-ngibaskan jambulnya
yang basah dan lembab
tak ada yang dapat ditertawakan
tak ada yang patut kita tangisi
jenguklah
dari jendela kamarmu yang longgar
seekor camar melintas di udara
di antara tetes-tetes yang malas
anginpun habis
dan dahan-dahan mahoni
mengacungkan canggalnya
lurus ke atas

C.  PENGIMAJIAN/PENCITRAAN
laksana kepingan mawar yang putih
langitpun mekar dan rontok =  citraan penglihatan
di atas kota itu
matahari mengibas-ngibaskan jambulnya = citraan gerak
yang basah dan lembab
tak ada yang dapat ditertawakan
tak ada yang patut kita tangisi = citraan perasaan
jenguklah = citraan penglihatan
dari jendela kamarmu yang longgar
seekor camar melintas di udara = citraan gerak
di antara tetes-tetes yang malas
anginpun habis
dan dahan-dahan mahoni
mengacungkan canggalnya = citraan gerak
lurus ke atas

D.  BAHASA FIGURATIF
Pada puisi di atas banyak digunakan personifikasi yang mengumpamakan benda mati seolah hidup.
laksana kepingan mawar yang putih
langitpun mekar dan rontok
di atas kota itu
matahari mengibas-ngibaskan jambulnya
yang basah dan lembab
tak ada yang dapat ditertawakan
tak ada yang patut kita tangisi
jenguklah
dari jendela kamarmu yang longgar
seekor camar melintas di udara
di antara tetes-tetes yang malas
anginpun habis
dan dahan-dahan mahoni
mengacungkan canggalnya
lurus ke atas

E.  VERIFIKASI
Puisi berjudul Hujan di Penghabisan Musim ini banyak menggunakan bunyi efoni sehingga termasuk puisi merdu.

F.  TIPOGRAFI
Tipografi yang digunakan dalam puisi Hujan di Penghabisan Musim adalah non konvesional.

Analisis secara batin
TEMA : Tema dari puisi Hujan di Penghabisan Musim adalah cinta kasih. Kesedihan seseorang yang melepas kepergian orang yang dicintainya “hujan di penghabisan musim” bisa diartikan pertemuan terakhir atau kesempatan terakhir . Bahwa dimana ada pertemuan pasti akan diiringi perpisahan.

NADA & SUASANA : nada yang terdapat pada puisi diatas adalah nada pasrah. Membiarkan kesedihan itu mengalir bersama turunnya hujan yang bisa menggambarkan suasana hati seseorang yang benar-benar sedih.

PERASAAN : perasaan yang tergambar dalam puisi ini adalah perasaan sedih. Bisa dilihat dari banyaknya pemilihan kata kiasan yang berarti ratapan kesedihan.

AMANAT : adanya pertemuan maka akan diiringi dengan perpisahan. Maka dalam suatu pertemuan itu kita harus bisa memanfaatkan pertemuan itu dengan baik.

“JENIS SEPULUH PUISI  F. RAHARDI”

JENIS KESEULUH PUISI F.RAHARDI
Jenis pada sepuluh puisi f. rahardi termasuk jenis puisi kontemporer karena bisa dilihat dari tahun pembuatan dan tipografinya yang bebas. Puisi kontemporer rahardi termasuk kedalam jenis Puisi Mbeling yaitu Puisi yang bersifat kelakar, berisi kritik sosial, dan ejekan terhadap sikap penyair yang serius dalam menghadapi puisi. Puisi mbeling pada umumnya mengandung unsur humor. Puisi mbeling tidak meng’haram’kan penggunaan suatu kata. Semua kata mempunyai hak yang sama dalam penulisan puisi ini.

“ALIRAN SEPULUH PUISI F. RAHARDI”

PUISI-PUISI KARYA F. RAHARDI
Aliran-Aliran Pada Puisi :

1. DOA-DOA DESEMBER
Puisi Doa-Doa Desember merupakan puisi yang beraliran Surealisme karena terlalu melebih-lebihkan yang seharusnya bersifat nyata namun karena imaji yang terlalu tinggi menjadikan tidak masuk akal bisa dilihat dari  baris : ya tuhan
mengapa kau tak mau turun untuk minum-minum
bersama kami di kantin ini. Dimana penulis terlalu berlebihan dalam berimajinasi.

2.  HUJAN DI PENGHABISAN MUSIM
Puisi Hujan di Penghabisan Musim tergolong puisi yang beraliran romantisme, karena menggambarkan situasi yang begitu indah walaupun berupa ratap kesedihan.

3.  NATAL DI BAWAH POHON MANGGIS
Puisi Natal di Bawah Pohon Manggis beraliran Realisme karena menggambarkan kenyataan dalam kehidupan namun dengan adanya batas kesopanan dan menggunakan bahasa yang sederhana.

4.  KEPADA MARIA I
Puisi Kepada Maria I merupakan puisi yang beraliran simbolisme karena lebih menekankan pada simbol dan sugesti. Terbukti dari sulitnya memahami karya simbolik ini.

5. KEPADA MARIA II
Puisi Kepada Maria II merupakan puisi yang beraliran simbolisme karena lanjutan dari Puisi Kepada Maria I. Puisi ini juga masih menekankan pada simbol dan sugesti. Terbukti dari sulitnya memahami karya simbolik ini.

6. GAMBAR-GAMBAR DI DINDING KAPEL
Puisi Gambar-Gambar di Dinding kapel beraliran simbolisme  karena lebih menekankan pada symbol, ide-ide dan sugesti. Terbukti dari sulitnya memahami karya simbolik ini.

7. SEBAB BUKAN WAJAHKU SEBAB BUKAN WAJAHMU
Puisi Sebab Bukan Wajahku Sebab Bukan wajahmu ini beraliran simbolisme  karena lebih menekankan pada symbol, ide-ide dan sugesti. Terbukti dari sulitnya memahami karya simbolik ini.

8. PENJELASAN MENTERI PENERANGAN TENTANG TUYUL
Puisi Penjelasan Menteri Penerangan tentang Tuyul beraliran naturalisme karena bisa dilihat dari pemilihan diksi yang lebih bebas dan apa adanya tanpa mementingkan baik, buruk dan akibat negatif.

9. SEHABIS NONTON JAM DUA BELAS
Puisi berjudul Sehabis Nonton Jam Dua Belas beraliran simbolisme karena lebih menekankan pada symbol, ide-ide dan sugesti. Terbukti dari sulitnya memahami karya simbolik ini.

10.  Definisi Tuyul
Puisi berjudul Definisi Tuyul beraliran naturalisme karena bisa dilihat dari pemilihan diksi yang lebih bebas dan apa adanya tanpa mementingkan baik, buruk dan akibat negatif.

“ANALISIS PUISI F. RAHARDI SECARA HISTORIS”

“ DEFINISI TUYUL”
DAN
“ PENJELASAN MENTERI PENERANGAN TENTANG TUYUL”

BIOGRAFI F. RAHARDI

Floribertus Rahardi, lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, 10 Juni 1950. Penyair, wartawan, penulis artikel, kolom, kritik sastra, cerita pendek, dan novel. Pendidikan drop out kelas II SMA 1967, dan lulus ujian persamaan SPG 1969. Pernah menjadi guru SD, dan kepala sekolah di Kabupaten Kendal, Jawa Tengah. Tahun 1974 ke Jakarta, dan alih profesi menjadi wartawan, editor serta penulis artikel/kolom di berbagai media. Pertama kali menulis puisi akhir tahun 1960an, dimuat di Majalah Semangat, dan Basis (Yogya), serta Horison (Jakarta). Baru kemudian menulis artikel, kritik sastra, cerpen, dan novel. Karya-karyanya antara lain: Kumpulan puisi Soempah WTS (1983), Catatan Harian Sang Koruptor (1985), Silsilah Garong (1990), Tuyul (1990) dan Pidato Akhir Tahun Seorang Germo (1997). Kumpulan cerpen Kentrung Itelile (1993). Kumpulan artikel Petani Berdasi (1994). Kumpulan renungan Menggugat Tuhan (2000). Prosa lirik Migrasi Para Kampret (1993), dan Negeri Badak (2007). Buku teknis pertanian Cerdas Beragrobisnis (2003), Agar Tanaman Cepat Berbuah (2007), dan Bercocok Tanam dalam Pot (2009). Buku lainnya Panduan Lengkap Menulis Artikel, Feature dan Esai (2006), dan Menguak Rahasia Bisnis Gereja (2007). Novel Lembata (2008), Ritual Gunung Kemukus (2008), dan Para Calon Presiden (2009). Tahun 1984, pernah dilarang oleh Dewan Kesenian Jakarta, ketika berniat membawa para Pekerja Seks Komersial (PSK), dalam acara pembacaan sajaknya Soempah WTS (1984) di TIM, Jakarta. Tahun 1986 kembali dilarang oleh Polda Metro Jaya, ketika akan membacakan Catatan Harian Sang Koruptor, juga di TIM, Jakarta. Tanggal 30 Desember 1997. meluncurkan kumpulan puisinya, Pidato Akhir Tahun Seorang Germo, di rumah Soeharto, salah seorang mucikari di komplek lokalisasi PSK di Silir, Surakarta, Jawa Tengah. Tahun 1995, kumpulan puisi Tuyul, mendapat penghargaan Hadiah Sastra Pusat Bahasa. Pengurus beberapa organisasi kemasyarakatan, antara lain Perhimpunan Anggrek Indonesia (PAI), Forum Kerjasama Agribisnis (FKA), Ikatan Sarjana Katolik Indonesia (ISKA), dan Asosiasi Experiential Learning Indonesia (AELI). Pernah menjadi Wakil Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi/Penangungjawab Majalah Trubus. Sekarang menjadi Redaktur Tamu di Majalah Flona, Majalah Hidup, Penerbit Obor, dan kolumnis tetap di Kontan, serta Business News.

Definisi Tuyul
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia
yang disusun oleh
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan
Pengembangan Bahasa
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan
diterbitkan oleh
Balai Pustaka Jakarta 1988 – Entri terakhir
huruf T-halaman 978
Tuyul (Konon berdasarkan cerita masyarakat
yang ada)
makhluk halus berupa bocah berkepala gundul
yang oleh
orang yang memeliharanya dapat diperintah
untuk mencuri
uang dsb.
1989

Mengidentifikasi Peristiwa Sejarah yang Terdapat Dalam Puisi
Puisi berjudul Definisi Tuyul ini dibuat pada tahun 1989 yaitu masa keruntuhan orde baru dan dimulainya orde reformasi. Tuyul adalah model dari matriks kehidupan masyarakat dan pemerintah yang kacau. Matrik dan model itu ditransformasikan ke dalam varian-varian ”masalah” dalam  sajak.

Memahami Fakta Sejarah yang Terjadi Pada Masa Terciptanya Puisi
Orde baru adalah suatu tatanan seluruh perikehidupan rakyat, bangsa, dan negara yang diletakkan kembali kepada pelaksanaan pancasila secara murni dan konsekuen. Lahirnya Orde Baru diawali dengan dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret1966 yang menjadi tonggak lahirnya Orde Baru.

Jatuhnya Pemerintahan Orde Baru
Dalam melaksanakan pembangunan, pemerintahan Orde Baru mendapat kepercayaan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Rakyat Indonesia yang dalam enam dasa warsa sangat menderita, sedikit demi sedikit dapat dientaskan. Namun sangat disayangkan kemajuan Indonesia hanya semu belaka. Hasil pembangunan telah mencitakan kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin. Hal ini terjadi karena adanya praktik-praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang berkembang dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Menghubungkan hasil identifikasi tahun dan peristiwa sejarah yang dimuat dalam puisi dengan peran penyair dan fakta yang terjadi pada saat penciptaan puisi
Puisi berjudul Definisi Tuyul ini dibuat pada tahun 1989 yaitu masa keruntuhan orde baru dan dimulainya orde reformasi. Dimana dimasa orde banyak masalah yang timbul baik dari masalah politik, sosial maupun ekonomi. Pemerintahan masa orde baru  dipandang tidak demokratis dan tidak memihak kepada rakyat, padahal pemerintahan dibentuk tidak lain dan tidak bukan adalah untuk mensejahterakan kehidupan warga negaranya.

Memahami Peran Penyair Pada Peristiwa yang Terjadi Pada Masa Itu
Peran penyair pada puisi tuyul adalah sebagai kritukus yang mengkritisi   masa keruntuhan orde baru dan dimulainya orde reformasi. Penulis ingin menyoroti masalah yang ada pada masa orde baru. Tuyul adalah model dari matriks kehidupan masyarakat dan pemerintah yang kacau. Matrik dan model itu ditransformasikan ke dalam varian-varian ”masalah” dalam  sajak. Sajak-sajak F. Rahardi berkaitan intertekstual dengan situasi sosial era rezim Orde Baru dan merupakan respon kritis terhadapnya. Penulis disini ingin mengkritisi  pemerintahan Indonesia yang sedang kacau.
Oleh karena itu, masalah yang menjadi fokus tulisan ini adalah bagaimana objek tuyul dihadirkan dan apa makna kehadirannya. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengungkap dan mendeskripsikan bahwa sebuah objek, dalam hal ini adalah tuyul, dapat dihadirkan atau dimain-mainkan untuk merujuk pada berbagai fenomena dan masalah serta dapat dimaknai dengan berbagai makna oleh pembaca.

PENJELASAN MENTERI PENERANGAN TENTANG TUYUL
udara AC sentral
block note
ball pen
tape recorder
kamera TIVI
tangan wartawan
mulut-mulut yang melongo
semua menunggu
menteri itu datang
ajudan mengepit map
mata ditebarkan
mulut disenyumkan
dan penjelasan itu mengalir lancar seperti
cucuran air terjun tawangmangu
saudara-saudara
selain hal-hal seperti yang telah saya sebutkan
tadi
dalam sidang kabinet harian
juga disinggung pula masalah tuyul
sejenak menteri diam
ruang AC kegelian
wartawan tertawa
kamera dibidikkan
kentut ditahan
menteri melanjutkan penjelasan
dalam beberapa bulan terakhir ini
masyarakat telah dibikin resah oleh sebuah isyu
mengenai tuyul
tanpa jelas asal-usulnya, tahu-tahu isyu tentang
tuyul ini
telah beredar luas mulai dari Padang sampai
Ambon
akibat isyu tuyul itu
ayam kampung dan itik telah berhenti bertelur
listrik mendadak turun voltasenya
dan hama tikus serta wereng cokelat
telah merajalela dan menghancurkan
beberapa buah lapangan golf
pendek kata
akibat isyu tuyul itu stabilitas nasional
telah guncang
pembangunan yang dulu lancar sekali itu
sekarang macet total
untuk itu bapak presiden telah memberi
petunjuk agar isyu tuyul itu
segera ditangkal secara tuntas sampai ke
akar-akarnya
dalam sidang kabinet barusan
telah diputuskan
istilah tuyul akan segera dihapus dari kamus
dan diganti dengan istilah baru yang lebih
canggih
ingat saudara-saudara
istilah lonte yang kasar dan berkonotasi porno
itu
telah berhasil dengan sukses diganti istilah baru
yang jauh lebih sopan
wanita tuna susila atau lazim disingkat WTS
istilah mobil yang kesannya kebarat-baratan itu
sekarang sudah berhasil dicarikan padanannya
yang lebih mencerminkan
suasana timur : kendaraan bermotor roda empat
ini jelas lebih pas
untuk itu, tadi bapak presiden telah memberi
petunjuk
pada menteri pendidikan agar segera
membentuk sebuah tim
guna merumuskan istilah baru yang lebih sesuai
sebagai pengganti
kata tuyul
tadi penjelasan saya tentang adanya isyu
tuyul
selanjutnya dalam sidang kabinet barusan
juga dibahas pula indeks harga kebutuhan
bahan pokok
termasuk sayur-mayur terutama dalam rangka
menghadapi hari raya lebaran
menurut catatan pihak yang berwajib
harga cabe keriting di pasar induk Kramat Jati
tercatat Rp 1.750,00 per kg
harga ikan asin ………………………
Jakarta, 1989

Mengidentifikasi Peristiwa Sejarah yang Terdapat Dalam Puisi
puisi berjudul penjelasan mentri penerangan tentang tuyul  ini dibuat pada tahun 1989 yaitu masa keruntuhan orde baru dan dimulainya orde reformasi. Tuyul dalam puisi-puisi Rahardi telah menjelma semesta simbol yang beragam, seperti pencuri, penipu, pembohong, penggelap uang negara, dan sebagainya, yang semuanya itu dikemas Rahardi jadi puisi yang unik, lucu, sekaligus kritis.
Dalam bait kelima jelas sekali  imaji tuyul itu begitu jamak. Ada tuyul berupa maling arus listrik, maling uang kantor, maling pulsa telepon, dan sebagainya. Sehingga, meskipun secara estetis puisi-puisi Rahardi tidak terlalu ketat, tapi secara tematis puisi-puisinya jadi relevan dan aktual.

Memahami Fakta Sejarah yang Terjadi Pada Masa Terciptanya Puisi
Pemerintahan Orde Baru
Orde baru adalah suatu tatanan seluruh perikehidupan rakyat, bangsa, dan negara yang diletakkan kembali kepada pelaksanaan pancasila secara murni dan konsekuen. Lahirnya Orde Baru diawali dengan dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret1966 yang menjadi tonggak lahirnya Orde Baru. Bentuk-bentuk penyimpangan UUD 1945 pada masa Orde Baru meliputi, antara lain :

1. Terjadi pemusatan kekuasaan di tangan Presiden, sehingga pemerintahan dijalankan secara otoriter.
2. Berbagai lembaga kenegaraan tidak berfungsi sebagaimana mestinya, hanya melayani keinginan pemerintah (Presiden).
3. Pemilu dilaksanakan secara tidak demokratis; pemilu hanya menjadi sarana untuk mengukuhkan kekuasaan Presiden, sehingga presiden terus menenrus dipilih kembali.
4. Pembatasan hak-hak politik rakyat, seperti hak berserikat, berkumpul dan berpendapat.
5. Terjadi Korupsi Kolusi Nepotisme (KKN) yang luar biasa parahnya sehingga merusak segala aspek kehidupan, dan berakibat pada terjadinya krisis multidimensi.

Jatuhnya Pemerintahan Orde Baru
Dalam melaksanakan pembangunan, pemerintahan Orde Baru mendapat kepercayaan baik dari dalam maupun dari luar negeri. Rakyat Indonesia yang dalam enam dasa warsa sangat menderita, sedikit demi sedikit dapat dientaskan. Namun sangat disayangkan kemajuan Indonesia hanya semu belaka. Hasil pembangunan telah mencitakan kesenjangan antara yang kaya dengan yang miskin. Hal ini terjadi karena adanya praktik-praktik korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang berkembang dalam kehidupan bangsa Indonesia.

Menghubungkan hasil identifikasi tahun dan peristiwa sejarah yang dimuat dalam puisi dengan peran penyair dan fakta yang terjadi pada saat penciptaan puisi
Puisi berjudul penjelasan mentri penerangan tentang tuyul ini dibuat pada tahun 1989 yaitu masa keruntuhan orde baru dan dimulainya orde reformasi. Dimana dimasa orde banyak masalah yang timbul baik dari masalah politik, sosial maupun ekonomi. Di era Orde Baru, yang dalam pencitraannya ingin meninggalkan hal yang serba lama, masih tetap maslah korupsi belum mampu dituntaskan bagaimana cara penanggulangannya? Kalau pada masa Orde lama  dikenal konsep Pembangunan Semesta Berencana, maka di masa Orde baru istilah yang “pembangunan” menjadi semacam mitos. Segala hal selalu dan wajib dikaitkan dengan kata pembangunan.
Orde baru yang semula dikenal dan disanjung sebagai berperan besar dalam proses membangun bangsa dan negara, dan pucuk pemimpinnya diberi gelar “bapak pembangunan”, mengalami pasang surut ketika menghadapi kasus-kasus korupsi. Istilah korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) menjadi sangat populer di masa itu. Ironi nya, Orde baru runtuh banyak orang menilai akibat tindakan KKN tersebut.

Memahami Peran Penyair Pada Peristiwa yang Terjadi Pada Masa Itu
Peran penyair pada puisi penjelasan mentri penerangan tentang tuyul adalah sebagai kritukus yang mengkritisi   masa keruntuhan orde baru dan dimulainya orde reformasi. Penulis ingin menyoroti banyaknya masalah yang terjadi pada masa orde baru dimana praktek KKN sangat tumbuh subur,naikknya harga bahan pokok, nilai tukar rupiah yang turun, timbulnya kerusakan dibeberapa daerah dan lain-lain yang ada pada masa orde baru.

DAFTAR PUSTAKA

http://clupst3r.wordpress.com/2012/10/23/100-pengertian-puisi-menurut-para-ahli/
http://arifayip.blogspot.com/2011/02/definisi-apresiasi-sastra.html
https://frahardi.wordpress.com/puisi/
https://frahardi.wordpress.com/puisi/penjelasan-menteri-penerangan-tentang-tuyul/
https://frahardi.wordpress.com/berita/tuyul-pamflet-simbolik-f-rahardi/

Posted by Agis Amalia at 5:36 AM
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest
APRESIASI PUISI F. RAHARDI
APRESIASI PUISI Agis Amalia Wibawaty PUISI SEBAGAI SALAH SATU KARYA SASTRA 1. PENGERTIAN PUISI .
APRESIASI PUISI INDONESIA ( Tangisan Hati Air Mata Cinta )
Agis Amalia Wibawaty Agisamalia44@blogspot.com CERITA & KARYA Tangisan Hati Air Mata Cinta Malaikat K…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: