Gunung

13/04/2015 at 13:17 (novel)

Pojokan perumahan kelas menengah di Jakarta. Jalanan agak lengang. Hari sekitar pukul 14.00. Udara September panas dan berdebu. Pohon-pohon angsana tegak berderet di trotoar. Daun-daunnya tetap hijau dan rimbun. Kemarau tak membuat angsana itu meranggas. Matahari yang garang justru tertahan di antara dahan dan ranting-ranting angsana itu. Di bawahnya berderet gerobak bakso, gerobak ketoprak, gerobak siaomay, gerobak es buah, dan angkring gorengan. Sarmin, pemilik gerobak bakso itu duduk di atas dingklik kayu, dan menjadi pusat perhatian pertemuan siang itu. “Jadi ceritanya Kang Sarmin ini sedang menjalankan laku dalam rangka mencari srono?” Tanya tukang ketoprak. Sardi, tukang siaomay menyela.

“Srono kok Kemukus. Kemukus itu kan tempat saru. Itu sebenarnya sama saja dengan ke tempat lonte. Kamu itu apa belum tahu to Min, kalau gunung yang paling keramat di Jawa ini adalah Gunung Lawu? Yang dikuburkan di Kemukus itu kan cuma salah satu putera, dan selir Brawijaya VI. Meninggalnya pun karena berselingkuh, ketahuan dan kemudian dibunuh massa. Gunung Kemukus juga hanya gumuk pendek. Gunung Lawu itu tinggi sekali lo Min. Di sana ada Argo Dalem, tempat muksanya Brawijaya VI. Prabu Majapahit terakhir ini bukan meninggal, apalagi terbunuh, melainkan muksa. Tahu kamu arti muksa Min? Muksa itu jasadnya menghilang dan langsung masuk alam kaswargan.”

“Aku ini dulu ketika masih bujangan, pernah diajak Mbah Kasan, ke Argo Dalem. Kami hanya berdua saja Min. Tetapi ketika sampai dimana itu, di tempat pendaftaran, orang yang mau ke Argo Dalem banyak sekali. Pokoknya ribuan lo Min. Mereka itu ada yang mau ke Argo Dalem, ada pula yang ke Argo Dumilah. Di pucuknya Gunung Lawu itu Min, ada sumurnya yang selalu berair jernih, namanya Sendang Drajat. Aku juga ke sana untuk mengambil airnya. Tetapi aku tidak berani mandi. Wong dinginnya seperti itu kok Min. Dinginnya itu seperti di kulkas itu lo. Kami nyekar di Argo Dalem, juga naik ke Argo Dumilah. Kata Mbah Kasan kami juga harus ke Pasar Dieng atau apa itu, lalu kami turun.”

“Ya dulu itu aku kan masih di Kampung. Mbah Kasan itu ya tetua di kampung to Min. Kami ini ke Lawu bukan supaya kaya, bukan supaya apa. Ke Lawu itu kata Mbah Kasan, ya hanya ziarah ke petilasan Brawijaya VI, titik. Untuk apa? Katanya, supaya saya tahu bahwa di sana ada petilasannya Brawijaya. Wah ketika itu Min, capeknya bukan main. Berangkat dari kampung pagi. Sampai di Tawangmangu siang, lalu ke atas lagi sudah agak sore. Di pos pendaftaran sudah lebih sore lagi, lalu terus jalan naik. Wah napasku mau putus Min. Tapi enak jalan sama Mbah Kasan. Kalau aku capek lalu istirahat. Istirahatnya itu di warung Min. Ya, sepanjang jalan naik ke Gunung Lawu itu banyak sekali warung.”

“Memang begitu Min, kalau Satu Suro memang begitu. Sampai di Argo Dalem pun ada yang jualan. Ya capek, ya serem, tapi ya senang sekali, karena rame, karena sedikit-sedikit jajan, sedikit-sedikit istirahat. Sampai di Argo Dalem sudah pagi. Lalu kami antre, lalu nyekar, berdoa, lalu jajan lagi. Kami naik ke Argo Dumilah, dan ternyata ya hanya puntukan kecil dengan pohon-pohon yang seperti bonsai itu. Lalu kami mengambil air di Sendang Drajat, lalu jajan lagi. Aku lalu minta agar kami segera turun. Dan benar Min, sepanjang jalan turun itu hujan lebat, jalanan becek, aku dan Mbah Kasan jatuh-jatuh terus, tapi kami malah makin nekad. Kami jalan sambil setengah lari, lalu tiba-tiba Mbah Kasan berbelok dan jatuh di tikar. Ya di tikar warung, ya kami jajan lagi, sambil mengeringkan sarung dan baju.”

“Tetapi begini lo Min, bagaimana kalau Jumat Pon nanti ini saya ikut ke Kemukus. Ya bukan supaya apa-apa, aku ini hanya ingin melihat-lihat saja dulu. Kalau ternyata sreg ya dilanjutkan, kalau tidak ya tidak apa-apa, anggap saja piknik. Kamu itu naik bis atau sepur? O, bis ya. Ya nanti aku bilang sama istri dulu, supaya ia tidak mengira yang bukan-bukan. Bagaimana Min? Ya memang, dari tadi aku ini kan sebenarnya tidak terlalu sreg dengan Gunung Kemukus. Ya tetapi kalau hanya mau ikut ke sana saja kan boleh. Daripada saya jalan sendiri, kalau kita berdua kan lebih enak. Sudahlah begini Min. Kalau kamu itu tidak percaya pada saya, nanti yang bayar bisnya aku. Berapa to? Paling seratus ribu kan? Tidak sampai malahan ya? Ya sudah, ayo nanti saya ikut.”

* * *

“Dulu, saya ini sebenarnya juga pernah diajak ke Kemukus oleh Yu Kasni. Ya waktu itu masih di Kampung, tapi Yu Kasni sudah di sini. Saya cerita sama Mbah Kasan, dan tahu-tahu Yu Kasni didamprat habis-habisan. Kata Mbah Kasan, Ni, Ni, kalau sampai kamu ajari Sardi dengan yang saru-saru, kamu saya sunat habis. Lo Mbah, aku ini kan perempuan, kok mau disunat itu disunat apanya Mbah? Diam kamu Ni, kalau tidak aku sumbat mulutmu pakai sandal. Pokoknya kamu jangan macam-macam. Aku tahu Ni, kamu ini di Jakarta kan nglonte kan? Jadi jangan kamu ajari Sardi dengan yang bukan-bukan. Ayo Di, kamu pulang. Nanti kamu aku ajak ke gunung kembar. Lo gunung kembar itu ya Sindoro Sumbing, Merbabu dan Merapi, kamu ini kok ngeyel to Ni.”

Siang itu, di bawah tajuk angsana, pusat perhatian pindah dari Sarmin ke Sardi. “La Mas Sardi itu sudah sampai ke Gunung Lawu kok siaomaynya tidak laris to Mas? Sekarang malah mau ikut ke Kemukus?” Tanya Usman pedagang es buah. “Saya tadi kan sudah mengatakan, bahwa ke Gunung Lawu itu bukan untuk melariskan dagangan, bukan untuk menjadi kaya. Kata Mbah Kasan, kalau dagangan mau laris, jualannya harus yang bener. Kamu jualan siaomay Di? Bikin siaomaynya, harus yang enak, jangan jorok, lalu menjualnya di tempat yang ramai. Siaomay enak kalau jualannya di kuburan ya tidak laku, kata Mbah Kasan. Aku ini diajak Mbah Kasan, katanya supaya menjadi orang baik. Tetapi sepulang dari sana, saya ya tetap saja tidak menjadi orang baik. Maka kalau saya mau mencoba melihat-lihat Gunung Kemukus kan boleh-boleh saja.”

“Ya memang boleh-boleh saja. Tetapi ya jangan tadi dijelek-jelekkan, dikatakan sama dengan tempat lonte, hanya anaknya Brawijaya, lalu sekarang malah mau ikut ke sana. Mas Sardi ini bagaimana to? Kok cepat sekali berubahnya? Ya memang, satpam pasar itu juga cepat sekali berubahnya. Dulu jaketnya loreng-loreng apa itu namanya, Pemuda Pancasila. Lalu ketika Gus Dur jadi presiden seragamnya ganti hitam-hitam Banser. Lalu Megawati jadi presiden dan jaketnya ganti jaket Banteng Muda. Ini Mas Sardi ini baru berapa menit sudah berubah. Atau nanti mau sekalian ganti dagangan Mas? O, tidak. Ya kalau memang mau ke Kemukus, saya ini sebenarnya juga ada niat ke sana. Tapi mungkin nantilah bangsa dua atau tiga bulan lagi. Yo Mas Sarmin?”

“Makanya dengarkan dulu cerita saya. Dari tadi saya kan belum cerita kan? Gunung Lawu dan Gunung Kemukus itu ya jelas beda. Gunung Lawu itu tempatnya Prabu Brawijaya, bapaknya Pangeran Samodro. Gunung Kemukus, tempatnya Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan. Kalau kita mau minta usaha kita lancar dan hidup kita enak, ya tidak perlu ke Prabu Brawijaya. Dia itu kan urusannya banyak. Urusan dagangan laris dan jadi kaya, sudah diserahkan oleh Prabu Brawijaya, ke Pangeran Samodro, anaknya. Itu kata orang-orang yang sudah ke Gunung Lawu dan juga sudah ke Gunung Kemukus, dan kemudian usahanya Sukses. Jadi di dunia seperti ini, aturan mainnya sebenarnya sama saja dengan kalau kita mau mengurus KTP, atau nikah.”

“Kok urusannya jadi sampai ke KTP dan nikah segala to Min? O, maksudnya ngurus KTP ya harus ke Gunung Kemukus begitu? Lalu bagaimana?” Sarmin berdiri lalu mau pergi, tapi temen-temannya menahannya. “Maka dengarkan dulu saya. Lihat, sekarang baru jam berapa? Jam dua kan? Tadi aku keluar jam berapa? Jam sepuluh. Lihat, bakso itu, mie itu, caisim itu, lihat itu Ndul, tinggal berapa? Sudah mau habis kan? Ini saya mau jalan pulang, dan sebelum jam lima nanti pasti habis. Padahal dulu Ndul, saya keluar jam sepuluh, jam segini ini masih utuh. Jam lima sore baru berkurang sedikit, jam sepuluh malam juga belum habis. Pusing saya ketika itu. Sekarang kamu lihat saja buktinya, padahal saya baru ke Kemukus lima kali, itu pun yang pertama gagal.”

“Kalau Mas Sardi ini mau ikut melihat-lihat ke sana, ya ayo saja. Wong cuma naik bis, lalu ganti bis lagi, lalu jalan kaki dan sampai. O, kalau sedang banjir memang harus naik perahu. Tetapi begini lo Mas Sardi, kalau Mas Sardi ke sana hanya mau plesiran, ya terlalu mahal to Mas. Kalau Mas Sardi serius, saya akan telepon Bu Yuyun, siapa tahu ia bisa mengajak temannya sesama pedagang pasar. Kan Mas Sardi enak, tidak usah susah-susah mencari pasangan. Dulu ketika pertama saya ke sana sendirian, wah, sampai di sana ketemunya lonte. Ya harus membayar. Tetapi bukan soal membayarnya. Jumat Pon berikutnya saya harus kembali mencari pasangan. Untung waktu itu ketemu Juragan Badrun dan Bu Yuyun ini.”

* * *

“Jadi ke Kemukus itu bukan untuk plesiran atau selingkuh lo. Makanya dengarkan dulu cerita saya ini. Pangeran Samodro itu gagah dan ngganteng. Nyai Ontrowulan itu meskipun sudah agak tua, tetapi cantiknya luarbiasa. Namanya juga selir raja kan? Mereka itu kemudian saling mencintai. Jadi bukan berselingkuh. Ketika itu Brawijaya, ya bapaknya Pangeran Samodro dan Suaminya Nyai Ontrowulan itu kan sudah muksa, dan Majapahit sudah bubar. Maka mereka berdua ini, anak dan ibu tirinya ini sebenarnya ke Demak Bintoro untuk menikah. Tetapi sesampai di sana, banyak duda kaya, dan prajurit Demak yang jatuh cinta pada Nyai Ontrowulan. Mereka mengejar-ngejar Nyai Ontrowulan, dan berusaha menggagalkan pernikahan itu. Jadi Pangeran dan Nyai ini bukan sedang berselingkuh.”

“Mereka lalu lari ke selatan, ya tentu saja dengan para pengikutnya. Nah, di Gunung Kemukus ini, hasrat Pengeran Samodro dan Nyai Ontrowulan untuk melakukan hubungan suami isteri sudah sangat kuatnya, lalu mereka melakukannya di alam terbuka di bawah pohon nagasari. Ketika itulah pasukan Demak Bintoro datang, hingga hubungan suami isteri itu terhenti. Pangeran dan Nyai Ontrowulan, berikut para pengikutnya terbunuh. Pangeran dan Nyai ini lalu dikuburkan di satu makam. Dan seketika itu juga di tempat terbunuhnya mereka muncul air yang sangat jernih, yang menjadi sendang Ontrowulan itu. Lalu di atas makam mereka ada kukus. Ya, kukus itu asep, lalu ada suara yang menggelegar.”

“Wahai manusia, barang siapa mau datang ke tempat ini, dan bisa menyelesaikan hubungan suami isteri kami yang belum selesai ini, sebanyak tujuh kali, maka segala permintaan kalian, akan dikabulkan oleh Dewa Bathara yang Maha Agung. Itulah kata-kata terakhir Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan. Karena mereka terbunuh pada hari Kamis Pahing malam Jumat Pon, maka kemudian orang-orang pun berdatangan ke Gunung Kemukus pada tiap malam Jumat Pon. Karena status Pangeran Samodro, dan Nyai Ontrowulan ketika melakukan hubungan seks di Gunung Kemukus ini belum resmi suami isteri, maka orang-orang yang ingin terkabul niatnya itu, haruslah merupakan pasangan yang bukan suami isteri.”

“Kata-kata terakhir Pangeran Samodro danNyai Ontrowulan itu, hanya  menyebut bahwa segala keinginan akan dikabulkan oleh Dewa Bhatara yang Maha Agung, artinya ya Gusti Allah. Jadi ke Gunung Kemukus itu bukan hanya untuk dagangan jadi laris atau kita jadi kaya, tetapi juga macam-macam. Tetapi keinginan itu baru akan terkabul kalau kita sudah datang ke sana sebanyak tujuh kali tiap Jumat Pon, dengan pasangan yang sama, tanpa pernah terputus. Ya, sebab hubungan suami isteri antara Pengeran dengan Nyai itu sudah terputus, kalau yang datang ke sana juga putus-putus, maka keinginannya juga akan putus-putus, dan harus diulang dari awal lagi. Tetapi itu kata orang-orang yang pernah ke sana lo. Ya, saya juga sudah ke sana tetapi kan masih belum genap tujuh kali.”

“Tapi sebenarnya, saya sendiri tidak terlalu percaya, bahwa ada orang sudah mati kok bisa malariskan dagangan orang yang masih hidup. Jadi sebenarnya saya itu ke Kemukus hanya karena istri saya Wati ngomel-ngomel terus. Ya sudah, saya ikut saja mencoba ke sana. Saya masih harus tiga kali lagi ke sana, tetapi bakso saya sudah laris. Kalau genap tujuh kali, pasti akan jadi lebih laris lagi. Hanya larisnya bakso saya, bukan karena saya ke Kemukus, tetapi karena sekarang dagingnya sekilo, tepungnya satu  ons. Sebelumnya daging sekilo tepung 2,5 ons. Minya juga saya ganti yang lebih mahal. Untungnya memang lebih kecil, tapi pendapatan kan langsung naik.”

Maka saya sendiri ya tidak tahu. Apa Kemukus itu memang manjur, atau karena saya mengubah resep baksonya, atau karena saya kembali menjalankan perintah Pak Lik saya, yang dulu mendidik saya jualan bakso. Ya tidak tahulah mana yang benar. Pokoknya sekarang semuanya sedang mengarah ke hal-hal yang lebih baik. Tetapi cungkup Pangeran Samodro itu, juga sendang Nyai Ontrowulan itu, pasti juga ada kekuatannya kan? Ya kalau tidak, mana mau orang-orang dari mana-mana datang? Kalau ada yang gagal ya lumrah. Wong berobat ke dokter saja ya banyak yang mati kok. Pinjam uang di bank ya ada yang macet dan ngemplang. Datang ke Kemukus ya pasti ada yang wurung. * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: