Proses itu

20/04/2015 at 14:41 (novel)

Pemilik rumah itu bernama Tatik. Suaminya bernama Iksan. Mereka tinggal jauh di belakang bukit sana. Rumah yang di sisi tenggara bukit, di pinggir jalan dekat Sendang Ontrowulan ini, khusus untuk disewakan, dan bagian depannya untuk warung. “Nafkah kami yang utama memang dari rumah ini. Kami memang masih ada sawah, masih ada ladang, tapi hasilnya tidak seberapa. Terlebih lagi, sawah dan ladang yang dulu pernah jadi andalan keluarga itu, sekarang sudah tenggelam ditelan oleh waduk Kedungombo. Sawah itu hanya bisa ditanami pada musim kemarau, sebab pada musim penghujan berubah menjadi genangan air. Hingga nafkah keluarga kami hanya mengandalkan rumah yang digunakan untuk warung, dan kamarnya  disewakan kepada para peziarah.”

Rumah itu terletak di sisi kanan jalan, yang menghubungkan gerbang dengan Sendang Ontrowulan. Letaknya agak di bawah, berdinding tembok, berlantai keramik, beratap genteng, tetapi sebagian masih belum berplafon. Ada delapan kamar, yang sebenarnya lebih pantas disebut bilik. Ukurannya ada yang 3 X 3 m, ada pula yang lebih sempit, 3 X 2,5 m. Kamar itu disewakan Rp 30.000 per malam. Tetapi dalam praktek, banyak peziarah yang hanya menggunakannya selama satu sampai dua jam. Termasuk para PSK yang datang membawa tamunya. Peziarah yang menggunakan kamar hanya satu sampai dua jam, tetap dikenai biaya Rp 30.000. PSK yang menerima tamu di kamarnya, dikenai biaya tambahan Rp 10.000 per tamu. Si PSK sendiri menyewa kamar tadi untuk satu sampai dua malam.

Dulu, ketika datang pertama kali, Sarmin ingin sekali menyewa kamar itu. Ia pernah melihat-lihat ke dalam, tetapi kemudian pamitan. “Ini terlalu mahal untuk kantongku. Aku hanya mampu menginap di kamar yang tarifnya Rp20.000. Tetapi bilik bertarif Rp20.000 letaknya terpencil, jauh dari jalan, dan kamarnya hanya dibatasi dinding tripleks. Kalau penghuni kamar sebelah batuk, Sarmin akan mendengar. Kalau penghuni kamar sebelah mendengkur, Sarmin akan terganggu. “Tetapi apa boleh buat. Aku hanya mampu menyewa bilik seperti ini. Itulah yang dilakukan Sarmin ketika Rabu Legi tanggal 4 April, lima lapan yang silam, datang ke Kemukus. Tak lama kemudian ada perempuan yang mengajaknya tidur di kamar yang telah disewanya. “Jebul dia itu Lonte.”

“Untung pada Rabu Legi, 9 Mei, empat lapan silam, saya ketemu juragan Badrun, yang memperkenalkan saya dengan Bu Yuyun. Jadilah saya bisa menginap di rumah Tatik dan Iksan ini, di dekat Sendang Ontrowulan. Sewa kamar ini masih tetap Rp 30.000, dan yang membayar Bu Yuyun. Bukan saya. Tetapi seandainya saya harus membayarnya pun tidak rugi. Sebab untuk bisa tidur dengan perempuan yang berkulit putih, halus, sedikit gemuk tetapi empuk, berwajah cantik, dan harum, memang harus mengeluarkan biaya besar. Untungnya, saya justru tidak perlu mengeluarkan biaya. Bu Yuyun, sekarang ini, mengapa sampeyan belum juga datang? Apakah sampeyan jadi membawa teman yang dagang kain untuk Mas Sardi? Tidak? O, rombongannya Bu Miah yang dari Banyumas itu ada anggota baru perempuan? Tapi Bu Yuyun pasti datang kan?”

“Saya pasti akan datang lo Dik Sarmin. Ini Dik Sarmin ini teleponnya dari mana? Dari wartel dekat penginapan kita? Ya, ya, kemarin itu memang ada tetangga yang meninggal, jadi saya harus ngelayat dulu. Lalu tadi pagi sampai siang banyak sekali urusan yang harus diselesaikan, hingga baru bisa berangkat tidak tahu tadi jam berapa. Tapi sebentar lagi saya akan sampai, saya sudah lewat Sukoharjo sekarang ini. Sampeyan sudah di penginapan kan Dik Sarmin? Sama temannya ya? Ya tapi kalau digoda sama perempuan lain jangan mau. Ingat, ini bulan puasa lo. Ya kali ini Dik Sarmin puasa dululah. Saya justru tidak puasa, wong sekarang ini saya sedang bulanan kok. Ya, malam Jumat Pon begini, dari Tirtonadi pasti masih banyak kendaraan ke Kemukus, kan?”

Sarmin dan Sardi menunggu dengan sabar di depan penginapan. “Mas-mas ini puasa atau tidak ya? Saya akan menawari minum, takutnya puasa. Tidak ya? Lalu mau minum apa? Apa teh anget saja? O, ya, teh anget manis ya? Apa Mas-mas ini sudah makan? O, nanti kalau Ibunya sudah datang ya?” Tatik, pemilik penginapan itu dengan ramah melayani Sarmin dan Sardi. “Mas siapa ini namanya yang ini? Sardi? Kalau Mas Sarmin ini kan saya sudah kenal. Mas Sardi juga dari Jakarta ya? Ini Mimi ini mau minta apa? Tidak puasa to? Lo apa di sebelah tidak jualan? Ya ini Mimi ini kan tinggalnya di rumah sebelah. Di sini ini dulu juga ada yang tinggal malah empat orang. Tidak tahu sekarang kok tidak pernah datang-datang lagi. Mimi, jangan kamu goda lo mas-mas ini. Mereka sudah punya pasangan, dan pasangan mereka galak serta cemburuan.” Rombongan Banyumas tidak lama kemudian datang. Sardi dan Sarmin pun berpisah.

* * *

Kamis Pahing, malam Jumat Pon, 28 September, proses ziarah Sarmin dan Yuyun tidak begitu sempurna. “Dik Sarmin tidak puasa? Aku ini ya capek sekali padahal juga tidak puasa. Wong sekarang ini aku lagi dapet. Jadi kita ya tidak bisa main. Sudahlah kalau Dik Sarmin sudah ngebet, aku carikan gantinya ya? Ya nanti aku yang bayar. Kalau Dik Sarmin tidak mau, ya sudahlah. Yang penting kita sudah sampai di sini. Atau jangan-jangan tadi Dik Sarmin sudah dapat gantinya? Lo ya saya tidak menuduh tetapi siapa tahu? Ya besuk ya tidak bisa. Ya kalau lagi dapet itu lalu bagaimana? Kalau mau ya kita di sini saja sampai Jumat Kliwon depan ini. Bagaimana? Tidak bisa dagang? Ya lalu bagaimana? Mau nekat diblusukkan begitu saja? Ya ayo, aku sih mau saja, tidak apa-apa.

Dulu Pangeran Samodro dan Nyai Ontrowulan itu kan juga sudah kepepet batul. Sudah sedemikian inginnya hingga lengah. Mereka tidak sadar bahwa yang mengejar-ngejar mereka sudah sangat dekat, lalu mereka main tembak begitu saja, lalu yang mengejar-ngejar itu datang, lalu mereka terbunuh. Sayang juga ya, ganteng dan cantik, keluarga kerajaan, kok matinya di hutan seperti ini. Dulunya Kemukus ini kan pasti hutan ya Dik Sarmin. Di sini pasti banyak sekali celengnya, banyak monyetnya, banyak ularnya. Kok mereka tidak takut sama binatang-binatang itu ya Dik Sarmin? Ya memang, mereka kan ada yang mengawalnya. Lalu pengawal-pengawal itu juga ikut menjadi korban.

Ya sudahlah, kasihan juga to Dik Sarmin itu sudah jauh-jauh dari Jakarta, sudah membayangkan bisa memeluk Yuyun, sudah membayangkan bisa mencium Yuyun, sudah membayangkan, ya Dik Sarmin kan bisa melakukan itu semua kan? Saya siap Dik Sarmin. Kalau nanti mau dilanjutkan demi Pangeran dan Nyai, ya monggo saja. Halangan itu harus dianggap bukan halangan. Ayo, aku juga sudah dari kemarin-kemarin membayangkan yang seperti ini kok. Dik Sarmin, kalau orang lagi dapet itu kan inginnya itu dipeluk-peluk terus, inginnya itu lebih kuat daripada kalau sedang tidak dapet. Jadi ya monggo sajalah. Ini tadi toh saya baru saja mandi. Apakah tadi Dik Sarmin sudah mandi?”

Kamis Pahing malam Jumat Pon, udara September lumayan dingin. Rumput mengering. Air Waduk mulai surut sangat jauh. Jembatan itu kembali kelihatan. Jalan raya Barong Kemukus juga kembali bisa dilewati ojek, dilewati pejalan kaki, dilewati mobil. “Ya, biar saja mobil itu lewat sebab tidak semua orang punya mobil to!  mereka yang naik bis kan tetap memerlukan ojek.” Di mana-mana orang lalu bisa menanam jagung, menanam kacang tanah, menanam sayuran, kuburan yang di ujung desa itu juga kembali kelihatan, tetapi yang ziarah sudah tidak ada. Ya ahli waris mereka kebanyakan sudah pergi dari kampung-kampung yang tenggelam itu. Tetapi orang yang sudah mati kan tidak tahu lagi apakah kuburan mereka ada yang menziarahi atau tidak.

Kamis Pahing, malam Jumat Pon, 28 September, bulan puasa, Komplek Gunung Kemukus tak seberapa ramai. PSK yang tiap Jumat Pon mangkal di sini, banyak yang absen. Orang yang ingin plesiran juga berkurang sangat banyak. Pedagang obat juga prei. Warung banyak yang tutup. Tetapi peziarah seperti Sarmin dan Yuyun tetap harus menjalankan ritual mereka. Hingga bulan puasa seperti ini, Komplek Gunung Kemukus seperti sedang disaring. “Ibuké, kalau puasa-puasa seperti ini, yang datang ke Kemukus ya hanya yang seperti Masé dan Ibuké ini. Kalau bulan-bulan biasa kan nyampur, dan sebenarnya lebih banyak yang hanya akan nyari hiburan. Tetapi ya lumayan. Coba kalau tidak ada mereka seperti sekarang ini, nyari duit kan juga susah. Tukang ojek susah, warungnya susah, penginapan kosong, PSKnya juga paceklik.”

“Kalau pas lebarannya, memang sepi. Tetapi setelah itu, terutama lebaran keduanya, ramai sekali. Ya ramai orang plesiran, ada juga yang ziarah. Kalau pas lebaran, yang ziarah itu ya hanya ziarah saja. Tidak pakai macam-macam. Dulu, ya dua tiga tahun yang lalu, hari-hari biasa, siang hari, setiap hari, Kemukus ini ramai sekali. Yang dagang enak, yang ngojek enak, retribusi ke kabupaten ya lumayan, tetapi terus ada razia. Yang dirazia itu anak-anak sekolah. Kalau anak sekolah mau coba-coba cari pengalaman, mbok ya biar saja kenapa? Pemerintah itu memang aneh. Katanya ingin rakyatnya makmur. Kalau yang plesir dirazia, yang dagang yang kena getahnya. Setelah ada razia itu, Kemukus ya jadi sepi. Tetapi anak-anak itu juga pinter. Sekarang kalau mau ke sini, mereka tidak pernah pakai seragam sekolah lagi.”

* * *

“Bu Yuyun, saya beritahu ya, sekarang bakso saya makin laris. Kalau dulu saya hanya beli daging satu kilo dan sering tidak habis, sekarang sudah satu setengah kilo dan selalu kurang. Tiap malam minggu, saya beli dua kilo daging, dan juga habis. Kalau dulu jam sepuluh malam bakso saya masih banyak, sekarang jam tujuh malam sudah bisa pulang. Berangkatnya pun sekarang bisa agak siangan. Malah selama puasa ini, saya dagang mulai jam dua atau jam tiga siang. Dan sekitar jam sepuluh malam sudah habis. Bu Yuyun, sekarang saya menggunakan rumusan sebelum menikah dulu, daging sekilo, tepung paling banyak satu setengah ons. Saya terpaksa berani pada Wati. Dulu sebenarnya satu kilo daging juga saya campur dengan satu ons tepung. Paling banyak satu setengah. Wati minta resep itu diubah menjadi satu kilo dicampur seperempat kilo tepung, ya bantat baksonya.

Minya juga saya ganti bu. Juga bumbunya, saya kembalikan ke resep yang diajarkan Paklik saya dulu. Aku sekarang justru kasihan pada Wati. Saya minta dia berhenti saja mencuci baju, tetapi dia tidak mau. Barangkali Wati itu sudah gila ya Bu Yuyun. Ya, Wati itu memang istri saya Bu. Justru karena dia itu istri saya, maka saya menganggapnya sudah gila, sebab dia tidak mau berhenti mencuci, bukan karena supaya ekonomi kami membaik, tetapi karena katanya dia sedang mencuci bajunya Mas Bagus. Ya, Mas Bagus itu dulu diincar Wati untuk bisa menjadi suaminya. Dia itu guru. Sekarang dia malahan sudah kepala sekolah. Setiap kali dia mencuci bajunya orang-orang itu, dia selalu mengatakan kepada anak-anak, bahwa yang dicucinya itu baju Mas Bagus.

Bu Yuyun, saya ingin juga bertanya pada Bu Yuyun, apakah sekarang ini jualan berasnya laris? O, iya, masalah yang dihadapi Bu Yuyun lain ya? Masalahnya karena suami Ibu ya? Apakah sekarang Pak Kuswanto suami Ibu itu sudah menjadi lebih baik? Sudah mau salat? Hari Jumat datang ke mesjid? Wah itu perkembangan bagus Ibu. Ya, tetapi Ibu Yuyun juga harus ikut menjadi orang baik. Selingkuh dengan Mas Bambang yang masih kecil itu juga harus dihentikan lo Bu Yuyun? Mengapa tidak bisa? Masuk neraka tidak apa-apa asal suami dan anak-anak menjadi orang baik? Apa maksudnya Bu Yuyun? Kalau saya ya tidak mau masuk neraka. Sebab di neraka itu banyak setan dan orang-orang jahat.

Lebaran sekarang ini, saya juga masih belum bisa mengajak Wati dan anak-anak untuk mudik. Jadi termasuk lebaran besuk ini, saya sudah tidak mudik selama tiga kali Bu! Bagi warga Pucanganom, ini memalukan lo Bu Yuyun. Ya memang kami tidak punya uang untuk mudik. Tetapi saya hitung-hitung, kalau tahun depan pasti bisa. Sebab sekarang ini saya sudah mulai menabung. Sebagian memang akan saya ambil untuk modal satu gerobag lagi. Kalau bisa terus nabung tiap hari, lebaran tahun depan pasti bisa mudik. Kalau hanya sekadar untuk ongkos bis, memang tidak seberapa. Tetapi pulang kampung kan tidak hanya sekedar naik bis. Harus punya baju baru, celana baru, sepatu baru, lalu juga harus bisa makan enak di kampung sana.

O, ya, Bu Yuyun, kalau kita sudah berhasil menyelesaikan tujuh kali ziarah, lalu usaha kita sukses, apakah Bu Yuyun masih mau bertemu saya lagi? O, begitu ya? Kata Mas Sardi teman saya tadi, pada malam satu Suro kita harus datang kemari? Apa Bu Yuyun? Malam satu Suro besuk ini kita harus ke Gunung Lawu? Hari Kamis Pahing malam Jumat Pon, tanggal 10 Januari kita harus ke Gunung Lawu? Berangkatnya Rabu Legi seperti biasa ya Bu Yuyun? Kata Mas Sardi memang begitu? O, nanti pada Jumat Pon tahun depannya lagi, baru kita akan ke sini ya Bu Yuyun? Apakah ketika itu kita juga masih harus kelonan lagi Bu Yuyun? Kalau di Gunung Lawu kita kan tidak kelonan ya Bu? O, setelah dari sana ya? Apakah tidak capek Bu Yuyun?”

Kereta api Argo Lawu Surakarta Jakarta melaju dengan anggun. Beda dengan kereta api Senja Ekonomi, atau kereta api rakyat lainnya, yang tiap stasiun harus berhenti. Tetapi bagi Meilan, kereta api ini juga beda sekali dengan Shinkansen. Meilan dengan tekun mendengarkan cerita Sarmin. Dia merekam, dia juga mencatat, dia juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan. Kalau maskapai penerbangan itu akan kontrak selama setahun, berarti ia harus membuat 12 seri tulisan tentang Kemukus. “Aku kira cukuplah. Barangkali malah berlebih. Aku akan konsentrasi penuh untuk membuat outline dan menuliskannya. Mudah-mudahan klient tidak rewel, hingga tidak terlalu bolak-balik konsultasi, dan bongkar pasang tulisan serta foto.” * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: