PERANGKAP TIKUS DAN SIKLUS KEHIDUPAN DALAM PUISI GOENAWAN MOHAMAD

05/05/2015 at 13:05 (artikel)

Makalah Diskusi Bincang Tokoh # 5 – 2011

Oleh F. Rahardi

Menandai HUT ke 70 Penyair Goenawan Mohamad, 29 Juli 2011; telah terbit dua judul kumpulan puisi: Tujuh Puluh Puisi, dan Don Quixote (Tempo/PT Grafiti Pers 2011). Dewan Kesenian Jakarta, minta saya mengulas puisi Goenawan Mohamad dalam dua buku kumpulan tersebut, untuk acara diskusi Bincang Tokoh # 5 di Taman Ismail Marzuki, 23 September 2011.

Sebagai penyair, Goenawan Mohamad baru akan terdorong untuk menulis puisi, apabila ia bersentuhan dengan hal-hal yang sangat beragam, yang tidak bisa cepat ditangkap oleh masyarakat awam, bahkan juga bagi para penyair pada umumnya. Pariksit, Asmaradana, Gatoloco, Obo, Frida Kahlo, Minotaur, Don Lopez de Cardenas, Orfeus, Gerontion, dan Don Quixote, adalah beberapa dari banyak tema, yang asing bagi masyarakat awam. Namun demikian, justru materi seperti inilah, yang telah menimbulkan kreativitas bagi Goenawan Mohamad. Tema-tema ini kemudian akan  memrovokasi  konsumen sastra, bahkan juga para pengulas sebagai “perangkap tikus” (mousetrap). Selain bermakna secara harafiah sebagai alat penangkap/pembasmi hama tikus, istilah “perangkap tikus”, juga  digunakan untuk banyak pengertian. Misalnya untuk menamai  senjata anti kapal selam, teknologi internet untuk menjebak pengunjung sebuah situs, teori pemasaran, nama game, album musik rock grup band  Thirsty Merc are, dan lain-lain.

Dalam konteks ini, istilah “perangkap tikus” saya gunakan, untuk mewadahi kecenderungan konsumen sastra, dan para pengulas puisi Goenawan Mohamad, yang masuk ke dalam judul (tema) puisi, lalu kerasan di sana, dan tidak bisa keluar lagi. Dalam memahami puisi Gatoloco misalnya, mereka yang pernah membaca teks Gatoloco karya Prawirotaruno (diduga nama samaran), langsung dari bahasa Jawa, akan terperangkap untuk membanding-bandingkan puisi Goenawan Mohamad berjudul Gatoloco, dengan isi buku Balsafah Gatoloco. Misalnya yang dilakukan oleh Herry Nur Hidayat, Puisi Gatoloco Karya Goenawan Mohamad: Analisis Semiotika Riffaterre dan Intertekstual (Makalah Seminar Jurusan Sastra Daerah Fakultas Sastra Universitas Andalas, 1 Mei 2009). Juga Turita Indah Setyani, Transformasi Budaya Jawa: “Gatoloco” dalam Sajak-sajak Lengkap 1961-2001 Karya Goenawan Mohamad (Staf Pengajar pada Program Studi Jawa, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI, tanpa tahun). Mereka berdua telah masuk ke dalam “perangkap tikus” puisi Gatoloco, keasyikan di sana, dan tidak bisa keluar lagi.

Sebaliknya, para pembaca yang sama sekali tidak mengenal Gatoloco, terutama yang bukan etnis Jawa, juga akan masuk ke dalam “perangkap tikus” berupa kebingungan: “Tak tahu aku, apakah yang dimaksud dengan Gatoloco ini?” Kata seorang pembaca asal Sumatera Utara, lalu ia berhenti di keheranan itu sambil terus menebak-nebak. Selain Gatoloco, puisi Pariksit, Asmaradana, Obo, Frida Kahlo, Minotaur, Don Lopez de Cardenas, Orfeus, Gerontion, dan Kumpulan Don Quixote, juga akan langsung memrovokasi para pembaca dengan pertanyaan serupa.  Inilah “jebakan tikus” bagi pembaca awam, yang tidak mengenal latar belakang puisi Goenawan Mohamad. Dua kelompok ini, yang tahu dan yang tidak tahu, bernasib sama masuk ke dalam “perangkap tikus”, yang secara tak sengaja telah dibangun (atau dipasang), oleh Sang Penyair. Mereka gagal masuk ke dalam puisi itu sendiri . Ibarat tamu, mereka hanya berada di halaman rumah atau beranda, hingga tidak bisa menikmati hidangan “ruh puisi” yang disajikan di ruang tamu.

Nyanyi Sunyi Kedua

Di Majalah Horison No 2 Tahun IV,  Februari 1969, Goenawan Mohamad mengulas kumpulan puisi Dukamu Abadi karya Sapardi Djoko Damono, dengan judul “Nyanyi Sunyi Kedua”. Dalam ulasan ini, Goenawan Mohamad tidak hanya sekadar membahas puisi Sapardi, melainkan juga “mendeklarasikan” kembalinya era lirik dalam perpuisian Indonesia:

Sapardi Djoko Damono telah menyatukan diri dengan lirik pada waktunya yang tepat. Kumpulan Dukamu Abadi adalah suatu perkembangan baru, pembebasan dan penemuan kembali.

Peristiwa-peristiwa tersebut penting untuk kita catat bukan saja sebagai bab baru dari Sapardi Djoko Damono, tetapi juga merupakan salah satu tanda pertumbuhan puisi Indonesia yang sedang melepaskan diri dari masa lalunya.

Masa lalu itu adalah seperti yang kita ingat, periode tahun-tahun terakhir dari pertengahan pertama dekade 60-an: suatu periode yang membayangkan desakan kuat pengaruh kesusastraan realisme-sosialis, baik dalam diri para pengikutnya maupun para penentangnya.

Dalam esai ini, Goenawan Mohamad bukan hanya telah memosisikan karya Sapardi Djoko Damono, melainkan terutama, memosisikan kepenyairannya sendiri sebagai penulis lirik yang taat dan ketat. Nyanyi Sunyi adalah kumpulan puisi Amir Hamzah, tokoh Pujangga Baru, yang kita ketahui sebagai penulis lirik yang sangat kuat. Dengan mengulas Dukamu Abadi karya Sapardi Djoko Damono, secara tidak langsung Goenawan Mohamad telah semacam “mendeklarasikan” lahirnya atau kembalinya genre penyair lirik di Indonesia. Goenawan Mohamad menyebut penemuan kembali, karena pada era akhir tahun 1950an dan awal 1960an, dunia sartra Indonesia, khususnya dunia puisi, didominasi oleh karya-karya realisme-sosialis yang gegap gempita melanjutkan revolusi yang belum selesai. Maka untuk bisa masuk ke dalam puisi Goenawan Mohamad, kita harus berkonsentrasi pada lirik itu sendiri. Bukan terperangkap pada judul, dan tema puisi.

Ketaatan Goenawan Mohamad pada “kredo” Nyanyi Sunyi Kedua, yang ditulisnya pada tahun 1968, sungguh luar biasa. Dalam kumpulan Tujuh Puluh Puisi, tampak jelas ketaatannya  pada “Nyanyi Sunyi” ini. Sejak dari Di Muka Jendela (1961, hal 1), sampai ke Gerontion (2011, hal 152), pola kepenyairan Goenawan Mohamad tetap sepenuhnya bertumpu pada lirik. Bahkan beberapa puisi masih berpola sanjak konvensional, persis seperti yang ditulis oleh Amir Hamzah. Misalnya Perjalanan Malam (hal 35), Sydney (hal 36), Lagu Obo (hal 42), Sajak Buat Arti (hal 44). Meskipun ada beberapa judul yang menyimpang dari jalur. Misalnya Pemburu Babi Hutan (hal 135), dan Di Korinthus (hal 139), yang cenderung memrosa.  Dalam lirik ini kadang kita dihadapkan pada diksi yang tak terlalu kita pahami maknanya. Misalnya:  Ombak-ombak hancur terbantun (Di Muka Jendela, hal 1), seseorang mencicipi alir (Pastoral, hal 110). Atau dalam Kebun Jepun (hal 25), kita disuguhi diksi yang diubah dari kosa kata bakunya: sintuh (sentuh), dan gangsa (angsa). Kemudian frasa-frasa yang “menyakitkan”: Halte dingin batu. (Pangrango); Hari menyembilu (Cambridge); di alismu langit berkabung/ dengan jerit hitam (Untuk Frida Kahlo).

Pilihan diksi yang tak lazim, sebenarnya juga dilakukan oleh Chairil Anwar. Menemu bujuk pangkal akanan (Senja di Pelabuhan Kecil), Dan kita nanti tiada sawan lagi diburu (Cetetan Th. 1946). Mencari-cari makna terbantun, alir, akanan, sawan, sebenarnya merupakan sesuatu yang sia-sia. Sebab ketika tahu maknanya pun, seseorang bisa tetap “tidak nyambung” dengan puisi tersebut, karena berbagai sebab. Terutama, tentu karena semenjak dari awal seseorang telah salah dalam mendekati sebuah puisi. Maka dalam berhadapan dengan Tujuh Puluh Puisi, dan Don Quixote, pertama-tama kita harus sadar sedang berhadapan dengan sosok Goenawan Mohamad sebagai penyair, yang tetap setia pada lirik. Hingga Pariksit, Asmaradana, Gatoloco, Obo, Frida Kahlo, Minotaur, Don Lopez de Cardenas, Orfeus, Gerontion, dan Don Quixote, tidak terlalu penting karena hanya berupa “kapstok”. Dengan sikap ini, kita tidak akan terjebak dalam “perangkap tikus”, dan bisa masuk ke dalam “ruh puisi”.

Kerumitan sekaligus keindahan puisi Goenawan (ruh puisi), justru terdapat di dalam bait-bait puisi itu sendiri. Saya sebut rumit, sebab tetap diperlukan “referensi ala kadarnya” agar puisi-puisi Goenawan Mohamad bunyi. Contohnya: “Ya. Tapi malam tinggal separoh/ dan bulan pelan/ seperti pemain Noh” (Hiroshima, Cintaku). Mungkin awalnya penyair hanya akan mengejar persaman bunyi antara Sepa-roh dan noh. Namun tak ayal, keindahan baris dan bulan pelan/ seperti pemain Noh, akan menjadi lebih kuat maknanya, apabila seseorang tahu, bagaimana Noh, Drama Tradisional Jepang ini dimainkan. Kemudian: Kulitnya putih bimasakti (New York). Dalam Bahasa Inggris Galaksi Bintang kita ini disebut Milky Way (jalan susu), yang berasal dari Bahasa Latin Via Lactea (dengan arti sama), dan Bahasa Yunani Kyklos Galaktikos, yang berarti lingkaran susu. Goenawan Mohamad sebenarnya bisa saja menulis Kulitnya putih susu, tetapi itu jelas tidak cukup baginya. Masih ada lagi: dengan tuak putih tua, (30 Tahun Kemudian). Maksud penyair sebenarnya ingin mencapai efek persamaan bunyi  dari tu-ak pu-tih tu-a. Ini pun cukup bagi kita. Namun apabila kita pernah melihat warna tuak, tuak putih tua itu, akan lebih punya makna lagi.

Selain itu juga masih ada frasa: warna jintan (Di Jazirah Burung Hantu); warna amber (Di Mala Strana); warna kirmizi (dua kali disebut di Misalkan Kita Di Sarajevo); cahaya warna kusta (Mezbah). Jintan ada banyak macam, jintan hitam, jintan putih, jintan daun; hingga warna jintan yang dibayangkan Goenawan Mohamad, dengan warna jintan yang dibayangkan pembaca bisa saja beda. Warna amber (batu amber, fosil getah pinus dengan serangga di dalamnya); cokelat cerah. Warna kirmizi jelas merah, sebab lengkapnya merah kirmizi. Warna kusta? Cahaya warna kusta adalah imaji yang menjijikkan, dan menakutkan bagi mereka yang belum pernah melihat penderita kusta sekali pun. Selain idiom-idiom itu, dalam kumpulan puisi Tujuh Puluh Puisi, kita juga disuguhi banyak sekali warna yang disebut langsung: putih, biru, merah, hijau, termasuk putih  bimasakti dan tuak putih tua tadi.

Yang menarik, dalam kumpulan Tujuh Puluh Puisi, warna putih paling banyak digunakan oleh Goenawan Mohamad, yakni disebut sebanyak 25 kali. Hitam disebut 13 kali; hijau 10 kali; merah sembilan kali; biru tujuh kali; dan ungu, kelabu (abu-abu), serta kuning masing-masing disebut dua kali. Dominan putih bisa diartikan Goenawan Mohamad orang suci, tetapi saya cenderung ingat akan  Arief Budiman dengan Golongan Putihnya (Golput) pada Pemilu tahun 1971. Goenawan Mohamad jelas mendukung Arief Budiman untuk melawan Golkar. Ketika Arief Budiman ditahan, Catatan Kebudayaan Goenawan Mohamad di Majalah Horison (waktu itu), dalam satu halaman penuh hanya terdiri dari dua kata: Arief Budiman Ditahan! Entah mengapa, cokelat dan oranye tak saya temukan dalam kumpulan puisi ini. Tapi kuning yang konotasinya ke Golkar sempat disebut sebanyak dua kali. Itu pun yang satu bukan kuning Golkar, melainkan kuning gading: Di lorong itu dinding-dinding/ kuning gading,/ kebun basah hijau,/ dan kau taburkan biru (Hologram, 2009).

Kemuraman dan Harapan

Pariksit, Asmaradana, Gatoloco, Obo, Frida Kahlo, Minotaur, Don Lopez de Cardenas, Orfeus, Gerontion, Don Quixote, dan lain-lain, hanyalah pendorong akhir, hingga penyair bisa menuangkan puisinya. Pasti ada sebab lain yang lebih utama, yang menjadi pendorong hingga seorang penyair menulis puisi. Sebab itu bisa bermacam-macam, bisa tunggal, bisa jamak, bisa hal-hal sepele yang sangat individual, bisa menyangkut masalah besar yang bersifat universal dan global. Pariksit, Asmaradana, Gatoloco, Obo, Frida Kahlo, Minotaur, Don Lopez de Cardenas, Orfeus, Gerontion, Don Quixote, dan lain-lain, adalah penyebab yang sifatnya sangat individual, dan hanya terjadi pada Goenawan Mohamad. Seandainya Goenawan Mohamad hanya berhenti pada hal-hal individual tadi, kemudian menulis lirik, maka puisinya akan jatuh pada sesuatu yang sangat individual pula, dan tidak bermanfaat bagi publik yang luas. Paling banyak hanya akan bermanfaat bagi pembaca, yang juga berminat atau pernah tahu tentang Pariksit, Asmaradana, Gatoloco, Obo, Frida Kahlo, Minotaur, Don Lopez de Cardenas, Orfeus, Gerontion, Don Quixote, dan lain-lain tersebut.

Hal yang sama juga pernah terjadi pada Chairil Anwar ketika menulis Senja di Pelabuhan Kecil, buat Sri Ajati. Pelabuhan (Pasar Ikan), hanyalah sarana agar puisinya punya wadah, punya baju.  Dorongan lain  adalah ia “patah hati” atau semacam itu, dengan Sri Ajati. Kalau Chairil Anwar berhenti sampai di sini, maka ia hanya akan menghasilkan puisi remaja yang penuh kecengengan, dengan seting pelabuhan Pasar Ikan. Akan tetapi, Chairil Anwar tidak berhenti di sini. Maka Senja Di Pelabuhan Kecil (buat Sri Ajati) ini, sampai sekarang masih menghadirkan kemurungan, kesia-siaan hidup, namun juga harapan: Aku sendiri. Berjalan / menyisir semenanjung, masih pengab harap / sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan / dari pantai ke empat, sedu penghabisan bisa / terdekap. Kemurungan, kesia-siaan hidup, dan juga harapan, adalah sesuatu yang universal, dan abadi.

Itu pulalah sebenarnya yang mewarnai sebagian besar puisi Goenawan Mohamad yang terkumpul dalam Tujuh Puluh Puisi. Hingga ada sesuatu yang paralel antara Amir Hamzah, Chairil Anwar, dan Goenawan Mohamad.

Datanglah engkau wahai maut/Lepaskan aku dari nestapa/ Engkau lagi tempatku berpaut/ Di waktu ini gelap gulita (Amir Hamzah, Buah Rindu II). Maka segeralah senja itu penuh dan/ titik matahari terakhir jatuh. Dan kutuk itu datang,/ membinasakan dan melebur daku jadi abu (Goenawan Mohamad, Pariksit). Bahkan Rendra dan Sutardji Calzoum Bachri yang urakan, dan kurang ajar itu pun, juga menampilkan hal yang sama: kemurungan dan kesia-siaan hidup. Georgia./ Lumpur yang lekat di sepatu./ Gubug-gubug yang kurang jendela./ Duka dan dunia/ sama-sama telah tua./ Sorga dan neraka/ keduanya usang pula./ Dan Georgia?/ Ya Tuhan./ Setelah begitu jauh melarikan diri,/ masih juga Georgia menguntitnya. (Rendra, Blues untuk Bonnie).

Di balik gembur subur tanahmu/ kami simpan perih kami/ di balik etalase megah gedung-gedungmu/ kami coba sembunyikan derita kami/ kami coba simpan nestapa/ kami coba kuburkan duka lara/ tapi perih tak bisa sembunyi/ ia merebak kemana-mana (Sutardji Calzoum Bachri, Tanah Air Mata). Di dunia ini, kapanpun dan di mana pun memang pasti ada hal yang tak beres di sekitar kita, dan itulah yang menjadi pendorong utama, mengapa penyair menulis puisi. Bahkan pada tahun 1800an pun kondisi buruk yang menimbulkan kesia-siaan hidup ini sudah terjadi di negeri ini. Mangkya darajating praja/ Kawuryan wus sunyaturi/ Rurah pangrehing ukara Karana tanpa/ palupi/ Atilar silastuti Sujana sarjana kelu Kalulun kala tida/ Tidhem tandhaning dumadi/ Ardayengrat dene karoban rubeda; Beginilah status negeri kita/ Ketahuan sudah sangat parah/ Perintah tak diperhatikan, karena tak ada teladan/ Ajaran kebaikan ditinggalkan, kaum cendekiawan terbawa arus zaman/ Denyut kehidupan seperti terhenti / Sebab dunia terendam godaan (Serat Kalatida, Raden Mas Ngabehi Ronggowarsito, 1802 – 1873).

Meskipun dorongan  untuk menulis puisi baru akan datang dari ketika Goenawan Mohamad bersentuhan dengan hal-hal yang sangat personal: Pariksit, Asmaradana, Gatoloco, Obo, Frida Kahlo, Minotaur, Don Lopez de Cardenas, Orfeus, Gerontion, Don Quixote, dan lain-lain, namun dorongan utama yang membuatnya menulis puisi jelas bukan sekedar urusan pribadi. Suasana muram, dan murung di hampir semua puisinya, juga bukan disebabkan oleh nasib pribadinya yang “hidup berkesusahan” seperti yang dialami Chairil Anwar. Bahkan bagi Chairil Anwar yang hidup berkesusahan pada zaman Jepang dan Revolusi fisik, kemuraman puisinya bukan disebabkan oleh hal-hal yang sangat personal itu. Penyebab lahirnya puisi para penyair ini adalah sesuatu yang juga menjadi keprihatinan banyak orang. Karena mereka penyair, maka keprihatinan itu mengerucut menjadi “warna tunggal” dalam puisi-puisi mereka, termasuk ketika mereka menulis hal-hal yang terkait dengan percintaan, dan kebahagiaan.

Di air yang tenang, di angin mendayu/ di perasaan penghabisan segala melaju/ Ajal bertahta, sambil berkata:/ “Tujukan perahu ke pangkuanku saja” (Chairil Anwar, Cintaku Jauh di Pulau). Hanya ingin, hanya senyap, hanya rusuk/ dari mana engkau ada./ Hanya dingin. Lindap. Lalu kantuk/ dari mana engkau tiada (Goenawan Mohamad, Ranjang Pengantin Kopenhagen). Meskipun sebagian besar lirik Goenawan Mohamad dibalur dengan warna tanggal: kelabu, murung, dan sia-sia; namun tetap ada banyak hal yang tampil di hampir semua puisinya. Karena dalam kehidupan sehari-hari Goenawan Mohamad juga mengerjakan banyak hal, terutama terkait dengan dunia yang digelutinya, yakni dunia kewartawanan. Maka tak aneh apabila dalam Tujuh Puluh Puisi ini, kita akan menjumpai pula banyak hal, yang bukan sekadar: Pariksit, Asmaradana, Gatoloco, Obo, Frida Kahlo, Minotaur, Don Lopez de Cardenas, Orfeus, Gerontion, Don Quixote, dan lain-lain itu, melainkan juga sesuatu yang berada di dalamnya.

Kematian dan Seks

Memang banyak hal yang bisa kita rasakan dari 70 puisi dalam buku Tujuh Puluh Puisi ini, namun sebanyak 21 puisi berbicara, (atau mengindikasikan) kematian. Bahkan pada usia masih sangat dini, 22 tahun, Goenawan Mohamad sudah mempertanyakan kematian, yang kemudian dijawabnya sendiri: Dan siksa yang telah diwakilkan padaku,/ kudekapkan pada Maut: dan segalanya pun terurai,/ seperti musim bunga./ Dan di sana kulihat, juga kau lihat:/ jentera-jentera yang berbisik ke laut,/ berbisik, seperti burung-burung yang mencecah/ dan degup demi degup darah./ Lalu terasa: di ruang abadi ini/ kita akan selalu pergi/ dalam nafas panas/ yang santai. (Pariksit, 1963). Kematian bagi “Goenawan Muda” bukan sesuatu yang menakutkan. Yang menakutkan dan harus dikalahkan, justru rasa takut itu sendiri. Namun tak urung, sebagian besar dari 70 puisi ini, bernadakan kemurungan. Ibarat lukisan, hampir seluruh kanvas berlabur warna kelabu (gabungan antara warna putih dan hitam). Hal ini bisa kita maklumi, sebab Goenawan Mohamad bukan seniman tradisional yang berhenti di komunitasnya.

Bagi masyarakat Asia, khususnya Jawa, kematian adalah bagian dari kehidupan. Bahkan ada sanepo (perumpamaan): Hidup setelah mati, dan mati ketika masih hidup. Hingga kematian memang dianggap bukan sesuatu yang menakutkan. Beda dengan tradisi Barat (Eropa dan AS), yang sangat dipengaruhi oleh ajaran Nasrani, terutama Kitab Perjanjian Lama, yang melukiskan kematian, bahkan Allah sebagai sesuatu yang sangat menakutkan. Hal yang sangat dikritisi oleh Goenawan Mohamad: Dan di sisa kota itu ia lihat mayat, terapung, menggelembung,/ hampir hitam, beribu-ribu, seperti menantikan sesuatu./ Ia lihat gagak dan burung-burung marabu, bertengger di  atas perempuan-perempuan tua yang terserak busuk. Di/ permukaan air itu bahkan hutan-hutan takluk dan senja/ seakan terbalik, seperti pagi. Nuh pun berbisik, “Kaum yang musyrik, yang tak dikehendaki…”/ Ia menghela napas, lalu kembali ke anjungan, Bau bacin/ menyusup dari cuaca, bahkan sampai ke ruang doa, dan ia/ merasa kota itu akan segera jadi payau. Maka tatkala langit/ teduh, Nuh segera meminta agar bahtera diarahkan ke sebuah/ dataran tinggi yang masih utuh, di utara. Ia berkata, “Keadilan,/ perkara besar itu, telah dibereskan Tuhan.” Dan ia mendarat. (Nuh, 1998).

Meskipun orang Jawa, Goenawan Mohamad tidak sekadar menyerap tradisi dan falsafah Jawa. Ia, terutama justru menyerap khasanah budaya Barat. Dari 70 puisi dalam kumpulan ini, sebanyak 18 puisi ditulis di Eropa/AS, atau berdasarkan khasanah budaya Barat, 1 dari Meksiko, dan 1 dari Australia. Yang ditulis di atau berdasarkan kultur Indonesia 22 puisi. Memang ada puisi yang menyangkut Jepang (2), RRC (1), dan Myanmar (1), akan tetapi empat puisi ini bukan sedang berbicara tentang kultur timur. Hingga tidak aneh apabila kemurungan, dan kemuraman  menyangkut kematian, menjadi warna yang sangat dominan dalam kumpulan puisi ini, akibat pengaruh kultur Barat. Memang Goenawan juga menulis tentang perang, kekerasan, dan ketidakadilan sebanyak 12 puisi, kehampaan dan kesia-siaan (meskipun tidak eksplisit menyangkut kematian) sebanyak 10 puisi. Yang juga menonjol adalah mencuatnya permasalahan seks, dan percintaan (perselingkuhan), sebanyak 9 puisi.

Perang, kekerasan, dan ketidakadilan, pada akhirnya juga akan menjurus ke kematian, bahkan pembunuhan massal seperti yang terjadi di Zagreb, dan Sarajevo. Hingga imaji kematian, dan kemudian seks yang dominan ini, mengingatkan pada death drive dalam teori psikoanalitik Freud. Filsuf Austria ini pada tahun 1920 menulis Beyond the Pleasure Principle. Dalam telaahnya, Freud menimba khasanah mitologi Yunani, yakni keberadaanThanatos sebagai “insting kematian” dan Eros (seks, percintaan), sebagai  “insting kehidupan”. Hingga kehadiran seks, dalam beberapa puisi Goenawan Mohamad yang tampak vulgar, sebenarnya merupakan bagian dari “insting kehidupan”, sebagai penyeimbang hadirnya “insting kematian” yang sangat dominan. Yang menarik, beberapa puisi Goenawan yang mencitrakan seks, tampaknya ditulis, berdasarkan pengalaman konkrit, sebuah perselingkuhan, atau yang semacam itu. Ini agak unik, sebab umumnya penyair Indonesia, akan menulis “puisi rayuan” untuk memburu cinta (seks). Bahkan ada yang hanya berhenti sebatas menulis puisi “cinta platonis”.

Untuk menjabarkan teori pertentangan abadi antara insting kehidupan, dan insting kematian, Freud yang hidup di Eropa pada abad 19/20, terpaksa  menimba khasanah mitologi Yunani, sebab ia tidak mengenal filsafat timur. Padahal teologi Hindu secara jelas mempercayai adanya dewa pencipta (Brahma), pemelihara (Wisnu), dan Perusak (Syiwa). Termasuk kategori merusak adalah membunuh. Hingga dalam dunia pewayangan ada dewa pencabut nyawa. Namun perusakan dan pembunuhan dalam teologi Hindu, ditujukan agar kehidupan bisa terus berlangsung. Apabila mereka yang tua tidak mati, maka dunia akan penuh, dan kehidupan justru akan punah. Maka kehadiran seks, dan kematian yang dominan dalam kumpulan Tujuh Puluh Puisi ini; secara tersirat telah menampilkan adanya hasrat untuk menyeimbangkan siklus kehidupan. Kalau bagi Freud insting kematian dan insting kehidupan akan terus bertarung dalam diri seseorang, dalam tradisi timur seks sebagai dewa/dewi kesuburan, akan berjalan beriringan secara harmonis dengan dewa/dewi kematian. Itulah siklus kehidupan.

Kesederhanaan dan Kerumitan Don Quixote

Pariksit, Asmaradana, Gatoloco, Obo, Frida Kahlo, Minotaur, Don Lopez de Cardenas, Orfeus, Gerontion, dan Don Quixote, memang hanya sekadar kapstok, agar proses kreatif penyair bisa mendapatkan pijakan yang jelas. Namun demikian, sebenarnya juga sulit bagi pembaca untuk bisa benar-benar menikmati puisi Goenawan Mohamad, tanpa “tahu ala kadarnya”  apa itu Pariksit, Asmaradana, Gatoloco, Obo, Frida Kahlo, Minotaur, Don Lopez de Cardenas, Orfeus, Gerontion, Don Quixote, dan lain-lain. Bahkan tahu ala kadarnya pun, sebenarnya juga belum cukup. Dalam kumpulan puisi Tujuh Puluh Puisi, pembaca dituntut untuk tahu banyak hal yang sangat beragam, agar bisa masuk lebih jauh ke dalam ruh puisi. Hal itu tidak mudah, karena rentang bidang, waktu, dan geografis tema-tema itu sangat beragam sekaligus berjauhan. Pariksit, Asmaradana, dan Gatoloco, sepintas masih bisa dilihat sebagai “hanya sekadar Jawa”.

Kisah Pariksit (Parikesit) sebagai parwa ke enam dari sepuluh parwa kitab Adiparwa, diterjemahkan dari bahasa Sansekerta ke Jawa Kuna pada zaman pemerintahan Raja Darmawangsa, tahun 991-1016. Puisi Asmaradana dilatarbelakangi oleh Serat Damarwulan, yang ditulis pada akhir Kerajaan Majapahit, abad 15. Dan Gatoloco baru ditulis pada abad 19. Hingga meskipun sama-sama sastra Jawa, ada rentang waktu yang sangat panjang antara Adiparwa, Serat Damarwulan, dan Gatoloco. Terlebih lagi  Obo (alat musik tiup), Frida Kahlo (pelukis surealis perempuan Meksiko), Minotaur (mitologi Yunani), Don Lopez de Cardenas (Penjelajah Spanyol abad pertengahan yang masuk ke padalaman Amerika) , Orfeus (mitologi Yunani), Gerontion (puisi T.S. Eliot); yang tetap perlu diketahui “ala kadarnya” agar kita bisa benar-benar masuk ke dalam ruh puisi. Namun mengetahui terlalu banyak, justru bisa menjerumuskan kita ke “perangkap tikus”.

Kasus “perangkap tikus” ini juga pernah terjadi pada Opera Tan Malaka, karya Goenawan Mohamad sebagai libretis, berkolaborasi dengan Tony Prabowo sebagai komponis. Karya  ini dipentaskan di Teater Salihara, 18-20 Oktober 2010; kemudian dipentaskan ulang di di Graha Bhakti Budaya, TIM, 23-24 April 2011. Martin Suryajaya, Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Drijarkara, Jakarta, membuat tanggapan di Buletin Problem Filsafat No. 9, yang diterbitkan Komunitas Marx, kemudian diposting di indoprogress.com. Tanggapan Martin Suryajaya itu berjudul “Wafat dan Kebangkitan Tan Malaka: Sebuah Kesaksian”. Mahasiswa “kiri” ini protes sebab tidak menemukan Tan Malaka dalam pentas tersebut. Goenawan Mohamad memberi tanggapan, dengan judul “Ketika Ideolog Mengritik Teater. Tanggapan atas kritik tentang Opera “Tan Malaka“. Mahasiswa ini telah masuk ke dalam “jebakan tikus”, karena berangkat dari rumah sudah dengan kepala berisi Tan Malaka, sesuai dengan versi yang ia ketahui, dan sangat berharap pembenarannya dari teater tersebut.

Membaca kumpulan puisi Don Quixote pun seseorang bisa terjebak ke dalam “perangkap tikus” serupa, apabila ia sudah pernah membaca maha karya Cervantes ini. Meskipun dibanding membaca Tujuh Puluh Puisi, kali ini terasa ada sedikit kemudahan yang diberikan oleh Goenawan Mohamad. Kita cukup tahu satu materi, yakni Don Quixote. Tahun 1923, karya Miguel de Cervantes ini pernah diterjemahkan Abdul Muis (penulis Salah Asuhan), dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, dengan judul Don Kisot. Maka 19 puisi dalam Kumpulan Don Quixote ini, menjadi lebih mudah diikuti, oleh mereka yang pernah membaca Don Kisot, atau membaca edisi Inggrisnya, yang sekarang bisa diunduh gratis. Dan sebaliknya kumpulan puisi Don Quixote akan menjadi  rumit (atau malah tidak bunyi), apabila seseorang sama sekali belum pernah membaca Don Kisot maupun Don Quixote. Namun demikian, agak sedikit menyimpang, sebelum masuk ke puisi-puisi Don Quixote, terlebih dahulu saya akan menyampaikan sedikit kritik menyangkut hal  teknis penerbitan.

Disain sampul Don Quixote sangat bagus. Beda dengan  Tujuh Puluh Puisi yang “jeblok”. Tujuh Puluh Puisi adalah representasi perjalanan Goenawan Mohamad selama lebih dari setengah abad berkarya. Idealnya sampul Tujuh Puluh Puisi seperti sampul Don Quixote: formal, sedikit klasik. Jadi antara warna puisi, dan konsep disain sampul bisa nyambung. Alhamdulillah, disain dalam Tujuh Puluh Puisi  sangat bagus. Disain dalam inilah yang justru jeblok pada Don Quixote. Pertama, Goenawan Mohamad sebagai penyair, tidak usahlah bersusah payah menampilkan sketsanya dalam buku ini. Bagaimana pun ia bukan Danarto, atau Nasjah Djamin, yang kemampuan sastra, dan senirupanya sama-sama oke. Masih ditambah lagi, niat dari pendisain grafisnya untuk bergenitria, agar puisi-puisi Don Quixote ini tampil menarik secara visual. Konsep ini tidak salah, akan tetapi menjadi tidak tepat ketika diterapkan untuk puisi Goenawan Mohamad. Terlebih lagi, kaidah baku sebuah buku telah ditabrak. Beberapa halaman susah dibaca, sulit dibedakan mana judul, mana isi.

Konsep disain visual seperti ini, apabila dilanjutkan akan mengerucut ke puisi konkrit, yang menjadi buntu. Visual memang punya kekuatan, tetapi sekaligus juga kelemahan. Sama dengan teks (kata-kata), yang punya kelemahan, tetapi juga menyimpan kekuatan. Memang belakangan ada anggapan bahwa maraknya siaran televisi, dan memasyarakatnya teknologi multi media seluler, akan membunuh teks, dan barang cetakan. Ini sama dengan kekhawatiran bahwa radio akan mati ketika televisi lahir. Ternyata orang nyopir atau nyangkul tidak bisa sambil nonton tivi, tapi tetap bisa mendengar radio. Multi media memang hebat karena kecepatan dan daya jangkau, serta kemampuannya berinteraksi. Tetapi media cetak (termasuk buku) tidak akan mati, justru karena lamban, daya jangkau terbatas, dan tidak bisa interaktif. Tetapi melalui media cetak orang bisa lebih serius bahkan kontemplatif.

Wajah yang Lebih Cerah

Kumpulan Puisi Don Quixote memuat 19 puisi Goenawan Mohamad, dari periode 1997 sampai 2010, yang semuanya “diinspirasi” oleh Mahakarya Miguel de Cervantes.  Ada perkembangan baru pada Goenawan Mohamad dalam Don Quixote, dibanding karya-karya sebelumnya. Dalam Don Quixote, Goenawan Mohamad seakan bisa tersenyum, dan menatap ke depan penuh semangat. Ini paralel dengan puisi-puisi dari periode sama, yang dimuat dalam Tujuh Puluh Puisi. Ada delapan puisi yang ditulis antara 2008 – 2011, Di Korinthus (2006 – 2009), Pada Sebuah Panggung (2008), 15 Tahun Lagi (2008 – 2009),Hologram (2009), Sekhak (2010), Ronggeng Monyet (2011), Tentang Kembang (2011), dan Gerontion (2011). Dari delapan puisi itu, hanya satu puisi yang menyinggung soal kematian, yakni Ronggeng Monyet (2011), itupun bukan dalam suasana muram, melainkan lebih mendefinisikannya. Selebihnya mendefinisikan cinta dan prosa, mendefinisikan sajak, keragu-raguan terhadap Tuhan, “pertemuan” dengan seseorang yang pernah sangat dekat, absurditas perang, sikap pasrah, serta ketegasan dan sikap pasrah.

Dari 19 puisi dalam Don Quixote, hanya ada lima puisi yang menyebut tentang kematian (26,3%). Sementera selebihnya tentang semangat, kepasrahan, dan daya hidup sebanyak 13 puisi (68,4%). Perkembangan ini cukup menarik, sebab periode 2007 – 2010 (atau 2011), adalah saat Goenawan Mohamad berusia 66 sampai dengan 69 (dan 70). Ini mirip dengan ketika pelukis Affandi pada usia yang sama juga menjadi lebih cerah. Kalau periode mudanya Affandi  lebih banyak menampilkan kesemrawutan, dan warna-warna kusam, maka pada hari tuanya lebih banyak bidang kanvas yang kosong, dan banyak warna cerah yang dimunculkan. Hal yang menarik pada perkembangan kepenyairan Goenawan Mohamad adalah, dalam Don Quixote maupun delapan puisi dari Tujuh Puluh Puisi, ia bukan hanya lebih cerah, melainkan juga lebih mantap menatap ke depan. Selama ini, kepenyairan Goenawan Mohamad memang ia baratkan sendiri sebagai  “Si Malin Kundang” esai yang menjadi judul buku kumpulan esainya (Potret Seorang Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang, terbit 1972).

Kepasrahan Goenawan Mohamad, pada akhir dekade 2000an, dugaan saya juga terkait dengan berakhirnya tarik menarik antara “kampung halaman”, dalam hal ini kultur Jawa, dengan “dunia rantau” Si Malin Kundang, dalam hal ini kultur Barat. Pada akhirnya dikotomi barat dan timur, tradisi dan modern, bahkan kuno versus postmo, memang bisa tidak diperlukan. Tetap tidak pernah ada yang sempurna di bumi ini. Barat, yang diidentikkan dengan kultur Eropa dan AS, belakangan tampak kedodoran di bidang ekonomi maupun politik. Sejak skandal finansial Lehman Brothers, dan Bernard Madoff, yang berakibat ke krisis finansial dan perekonomian global; juga sejak “invasi” AS ke Afganistan dan Irak, belakangan invasi NATO ke Libya; maka Eropa dan AS, ternyata juga bukan tanpa cela. Ternyata mereka selama ini hidup sangat boros dari hasil mengutang. Justru RRC, yang sangat tidak demokratis, yang Atheis, dan Komunis, saat ini bukan hanya tidak punya hutang, melainkan punya cadangan devisa terbesar di dunia. Dugaan saya perubahan peta dunia ini sedikit banyak juga mempengaruhi dunia kreativitas Goenawan Mohamad.

Secara konkrit, cerahnya puisi dalam kumpulan Don Quixote, dan delapan puisi terbaru dalam Tujuh Puluh Puisi, ditandai dengan adanya perubahan makna warna hijau, dari mengerikan ke menyejukkan. Misalnya: gumpal darah di gelas itu menghijau (Di Kota Itu, Kata Orang, Gerimis Telah Jadi Logam, 1971). Di pantai, tepi memang tinggal terumbu hijau (mungkin kelabu) (Pada Sebuah Pantai: Interlude, 1973). dan malam jadi hijau/ sesenyap lukisan (Lagu Obo, 1985 – 1986). Matahari jadi hijau/ Dan untuk lima detik, di tasik itu juga hijau jadi hening (Karena Tamblingan, Ia Berkata, 2001). misalkan terkait air pada hijau (Pastoral, 2002). Hijau tak diacuhkan hujan, agaknya, juga burung yang bertebar di ladang garam. (Sebelum Bom, 2005). Sumur: sebuah liang hijau (Piknik); hijau kimia (Cerita Manuel untuk Nadia). Hijau di sini adalah hijau yang mengerikan. Bahkan warna putih pun bukan tanda kesucian serta kebersihan, melainkan lambang kematian: kupu-kupu putih/ melenyap putih/ ke loteng lengang  (Buat H.J. dan P.G. 1990). Belakangan, warna hijau itu menjadi menyejukkan: Di lorong itu dinding-dinding/ kuning gading,/ kebun basah hijau,/ dan kau taburkan biru (Hologram, 2009).

Dalam Don Quixote, warna-warna tetap tampil, tetapi sama dengan puisi periode 2007 – 2011, warna-warna di sini menjadi lebih memancarkan daya hidup, bukan daya mati: di mana fantasi adalah hijau hujan (Ia Menangis). Bahkan ketika warna itu diterapkan pada sesuatu yang menyakitkan pun, keindahan yang terasa, bukan ketakutan: Kemarin kucambuk sendiri tubuhku, sakit, agar bangun, tapi apa yang terjadi? Mimpi itu hanya berubah sedikit: balur di kulit itu jadi garis biru, seakan huruf pertama Sayid Hamid, sang pencerita yang membuat kita ada.(Justru). Di sinilah seorang penyair ditantang, bagaimana ia dengan materi yang sama, yakni kata-kata, bisa menampilkan imaji yang berbeda kepada pembacanya. Warna hijau dalam makna umum, sangat dirindukan oleh masyarakat yang tinggal di gurun, juga di kawasan Artik. Sebab itu berarti oasis, berarti kehidupan. Maka simaklah warna bendera negeri Timur Tengah, selalu ada warna hijau. Tapi ketika gumpal darah di gelas itu menghijau, warna kehidupan itu berubah menjadi warna kematian.

Wajah cerah Goenawan pada puisi mutakhirnya, harus kita sambut dengan gembira. Selama ini ia berhasil menampilkan kemurungan, dan kemuraman bersamaan dengan seks sebagai bagian dari siklus kehidupan.  Banyak penyair besar juga menampilkan hal yang sama, Amir Hamzah, Chairil Anwar, Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, akan tetapi kemuraman, dan kemurungan tetap bukan segala-galanya. Tidak semua penyair besar menuliskan puisinya dalam warna buram. Kita juga punya Penyair Besar yang berpenampilan sangat sederhana: Ramadhan K.H. Ia berhasil justru karena menampilkan keindahan, dan keceriaan “Tanah Priangan”. Saya kutipkan bait berikut:

Membelit tangga di tanah merah
dikenal gadis-gadis dari bukit.
Nyanyikan kentang sudah digali,
kenakan kebaya merah ke pewayangan.

Jamrut di pucuk-pucuk,
jamrut di hati gadis menurun.

Harum madu
di mawar merah,
mentari di tengah-tengah.

Berbelit jalan
ke gunung kapur,
antara Bandung dan Cianjur.

(Ramadhan K.H. Priangan Si Jelita)

Dan Goenawan Mohamad pun juga bisa menutup kumpulan Don Quixote dengan keyakinan yang indah pula:

DOA PADRI DUSUN

Tuhan
pada rimbun zaitun
titahkan
bukit jadi dingin
titahkan
para pahlawan
mati
di sepanjang lereng
beri aku
dongeng
di mana aku
tak bersembunyi.
Tidak lagi.

2010

Kita memang tidak perlu, dan juga tidak mungkin bersembunyi lagi, sebab dunia sudah telanjang bulat. Bahkan ballpen, dan pemantik api yang ditaruh di halaman rumah pun, bisa diintip lewat satelit. Tapi menyeimbangkan siklus kehidupan tetap perlu. Dan dua kumpulan puisi terbaru Goenawan Mohamad ini, telah mencoba ikut menyeimbangkan siklus kehidupan, dalam bentuk lirik yang Enak Dibaca dan Perlu! Selamat Ulang Tahun ke 70!

Cimanggis, Awal September 2011

F. Rahardi:
Lahir di Ambarawa, Jawa Tengah, 10 Juni 1950. Pendidikan drop out kelas II SMA tahun 1967. Pernah menjadi guru SD/Kepala Sekolah, dan Wartawan. Beberapa kumpulan puisi sudah dibukukan, antara lain Soempah WTS, Silsilah Garong, dan Tuyul. Juga menulis prosa lirik, cerpen, novel, artikel, esai. Prosa Lirik Negeri Badak memperoleh S.E.A. Write  Award, dan Novel Lembata mendapatkan Khatulistiwa Literary Award. Dua kali dilarang membaca puisi di TIM (1984 dan 1986). Ia tinggal di Cimanggis, Depok, Jawa Barat.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: