Cemburu

11/05/2015 at 15:33 (novel)

Wati yang dulu galak, dulu sangat kuat, dulu senang sekali meneror Sarmin, meneror anak-anaknya, tetapi juga rajin mencuci baju, dan menganggap baju yang dicucinya itu milik Mas Bagus, sekarang berubah banyak. Badannya tak segemuk dulu lagi. Galaknya berkurang. Mencuci baju dia tetap rajin. Tetapi sekarang sudah jarang menganggap bahwa baju-baju yang dicucinya itu milik Mas Bagus. Kalau anak-anaknya bertanya, Mak, bajunya Mas Bagus yang mana Mak, maka dia akan marah. “Tak tapuk mulutmu lo kamu itu. Cah cilik kok ngomongnya kurangajar begitu. Kalau bapakmu tahu nanti bisa diomeli aku.” Wati memang mulai menyadari, bahwa yang menjadi kepala rumah tangga adalah Sarmin. Bukan dirinya.

Dia juga mulai sangat memperhatikan Sarmin. “Apakah bapakmu itu sudah makan Nduk? O, tadi sudah makan di jalan to. Apa tidak mau makan di rumah? Itu lo, aku bikin tempe bacem, enak lo. Kalau masih kenyang, ya digado saja. Ada cabe rawitnya kok. Cabe rawit sekarang ini mahal sekali. Apalagi cabe rawit merah. Wah mahalnya minta ampun. Sono bapakmu itu disuruh mandi dulu. Nanti kalau sudah keburu malam kan dingin. Sekarang ini sudah musim hujan lo. Jadi kalau malam sedikit saja dinginnya minta ampun. Bapakmu itu memang sukanya mandi malam-malam kok. Ya kalau dulu, ketika baksonya tidak laku, pulangnya memang malam-malam terus. Jadi mandi ya harus malam hari terus.

Kata Bang Togar, mandi malam-malam itu bisa bikin rematik lo. Tulang jadi linu-linu dan sakit. Tapi bapakmu itu kalau dikasih tahu memang susah. Sudah direbuskan air, juga mandi pakai air dingin. Ya sekarang ini memang lebih enak. Sebab jam tujuh juga sudah sampai di rumah. Kadang-kadang jam lima sore malah sudah pulang. La itu bakso dibuang di jalan apa kok cepet sekali habisnya? Kata orang-orang itu. Ya tidak tahu ya, apakah ini karena srono yang dicari Sarmin sudah pas, atau karena memang Gusti Allah sekarang sudah menurunkan berkahnya. Hanya aku ini juga mbrebes mili, kalau dihitung, ya sudah tiga kali lebaran sekarang ini tidak mudik. Ya tidak apa-apa yo Nduk yo? Nanti kita bikin ketupat, bikin opor, bikin kacang bawang, lalu lebaran kedua ke Ragunan. Ya ke Taman Mini juga boleh.

Ya, nanti tanya sama Bapakmu ya, jangan tanya-tanya sama saya. Kepala rumah tangganya itu kan Bapakmu. Ya dulu itu memang Bapakmu sangat takut sama Makmu ini. Untung, sekarang ini dia sudah punya prinsip. Pokoknya aku tidak mau lagi kamu prentah-prentah ya Maké. Begitu sekarang katanya. Ya sudahlah, terserah situ, wong situ yang cari duit kok. Salahnya sendiri dulu takut sama istri. Kalau orang tidak salah apa-apa itu ya tidak perlu takut pada istri. Wong dia itu tidak punya salah apa-apa kok takutnya minta ampun sama aku. Apa istrinya itu dianggap Betari Durga apa? Apa dianggap kuntilanak atau sundel bolong? Tapi lama-lama aku ini juga curiga.

Ya memang dia itu pernah jujur cerita, kalau pasangannya di Kemukus itu juragan beras, namanya Bu Yuyun, dari Ponorogo. Dia itu katanya cantik tapi umurnya sudah empat puluh lima. Ya kalau aku bayang-bayangkan, aku ini ya jelas cemburu to. Maka mulai dari Rebo Legi, Kamis Pahing, sampai Jumat Pon, aku ini selalu tidak enak makan. Ya sekalian puasa saja. Biar ihtiarnya Sarmin lebih lancar. Lalu malam Jumat Ponnya, aku selalu tidak bisa tidur. Ya sebenarnya sejak Rabu Legi, begitu Sarmin berangkat, aku sudah tidak bisa tidur semalaman. Baru pada Jumat malam Sabtunya, mata ini jadi ngantuk sekali. Ya pernah ketika mencuci, tiba-tiba mak ler, tertidur aku ini. Untung hanya sebentar dan tidak sampai jatuh. E, anak-anak itu malah tertawa cekikikan.

Tidak makan dan tidak tidur itu ya baik saja kalau diniati. “Yo Pakné, pokoknya begitu sampeyan pergi, malamnya saya lèklèkan, bergadang, dan baru jam dua atau jam tiga bisa tidur. Lalu seharian aku juga hanya makan sedikit. Ya tetap makan, tetapi kan tidak seperti biasanya. Kalau dulunya sepiring penuh dan nambah, sekarang ini sepiring tidak penuh, dan nambahnya hanya sedikit. Itu sudah berat lo. Maka lihat saja sekarang kata orang-orang aku lebih ramping. Memang bajuku juga longgar-longgar semua sekarang ini. Kata orang-orang itu, sekarang ini aku kelihatan cantik. Padahal yang namanya Wati itu dari dulu ya memang cantik to. Hanya karena kekurangan saja maka menjadi jelek. Coba kalau Sarmin itu baksonya makin laris terus, aku akan ke salon tiap minggu.

* * *

Tapi pada malam Jumat Pon kemarin itu, kok rasanya hati ini tidak enak. Aku panggil anak-anakku, lalu aku peluk satu-satu, dan aku lalu nangis sesenggukan. Bocah-bocah itu heran, ada apa mak kok nangis? Apa bapak kita itu mati Mak? O, kurangajar kalian ini. Ya tidak to. Hanya aku ini sekarang mbrebes mili, campur seneng, tapi juga mengkhawatirkan Sarmin. Bapakmu itu kan nanti mau punya gerobak lagi satu. Itu lo, gerobaknya Mas Wongso yang dijalankan Kelik itu, modalnya habis. Mas Wongso sekalian mau menjualnya. Ya katanya Bapakmu itu ada duit kok kalau hanya untuk modal saja. Ya biar saja, aku ini nangis begini lo, kalian ini kan anaknya tukang bakso. Jadi sekolahnya harus pinter. Nanti kalau besar jangan jadi tukang bakso, jangan jadi tukang cuci, tetapi jadi priyayi.

Priyayi itu apa? Priyayi itu ya orang berpangkat. Itu Lo, seperti Bang Togar, seperti  Oom Lontoh, mereka itu priyayi. Kerjanya apa? Priyayi itu kerjanya ya duduk-duduk, perintah-perintah, memarahi orang yang tidak bener kerjanya. Priyayi itu kerjanya ya menyuruh-nyuruh orang. Ya Makmu ini sudah terlanjur. Juga Bapakmu itu. Sekarang ke mana? Ya sedang pulang kampung, kok ke mana. Apa? Siapa yang bilang kalau Bapakmu ke Gunung Kemukus mencari pesugihan? Ya Allah, kok tega-teganya ya anak kecil diajak ngomong begitu. Nduk, Tole, Gunung Kemukus itu makamnya Pangeran Samodro, dan Nyai Ontrowulan. Bapakmu memang juga ke sana, tetapi bukan untuk mencari kekayaan, melainkan untuk nyenyuwun.

Ya sudah sana pada tidur sana. Aku masih mau nonton film. Ya aku sudah makan. Memang sekarang Emakmu ini makannya sedikit. Ya tidak apa-apa. Memang orang tua itu makin lama makannya yang cukup sedikit saja. Tidak seperti kamu-kamu itu. Pokoknya kalau ada yang bilang macam-macam jangan percaya. O, kok sekarang Makmu ini juga ngantuk to? Tetapi nanti kalau badan digeletakkan matanya terus melotot sampai jam tiga pagi. Ya memang suka begitu ya. Sarmin itu di sana bagaimana ya sama Bu Yuyun ya? Kok kalau dia datang dari Kemukus, lalu aku ini seperti jadi pelampiasan begitu. Pernah ia aku tegur, apa dengan Bu Yuyun masih kurang? Kok datang-datang terus istrinya diamuk begini?

Ya dasar Sarmin, dia ya tidak berkomentar apa-apa. Pernah suatu ketika ia saya tanya, Bu Yuyun itu mainnya bagaimana? Ia malah melengos lalu pergi. Ya mungkin Sarmin itu malu mengatakannya. Padahal aku ini kan istrinya. Mestinya ya tidak usah malu-malu. Wong katanya Bu Yuyun itu orangnya juga baik kok. Hanya suaminya yang katanya suka main judi. La kalau aku ini, kan bukan judi. Membeli Togel itu kan usaha. Kalau sampai nembus ya lumayan. Tapi ya itulah. Dari dulu-dulu, kalau nembus ya hanya puluhan ribu. Mbok ya kalau ada nomor bagus itu saya diberi wisik. Sarmin itu mestinya juga sekalian menanyakan nomer ke Pangeran Samodro. Ya, namanya kok lucu ya? Seperti Imam Samodro.

Sarmin itu juga lucu kok. Dulu ketika dia aku suruh cerita, bagaimana pengalamannya dengan Ibu Yuyun, dia malu-malu, lalu tidak mau bercerita. Tetapi ketika malam-malam habis mengamuk diriku habis-habisan, tanpa aku tanya, dia bercerita bahwa Bu Yuyun itu sebenarnya sedang datang bulan. Tetapi katanya malah mesranya tidak karuan. Yang minta ya Bu Yuyunnya. Dia lalu cerita sampai detil. Ya aku dengarkan saja. Tetapi hati ini kan ya tidak kuat to. Aku cemburu Min, aku cemburu. Mbok ya kamu itu cerita secukupnya saja, atau malah seperti yang dulu itu lo, tidak usah cerita apa-apa. Sekarang ini kamu juga sering kulihat mesem-mesem sendiri. Apa tidak panas hati ini. Kamu itu mesem-mesem sama siapa to Min?

Ya aku ini pasti kalah to kalau dibanding-bandingkan dengan Bu Yuyun yang juragan beras. Meskipun dia katanya sudah tua, tetapi orang itu kalau sudah kaya, pikirannya akan tenang. Lalu badannya juga terawat. Ya pasti jadi kelihatan cantik terus, dan muda terus. Aku ini bagaimana bisa cantik. Pagi-pagi sudah harus ngurus anak. Nanti setelah anak-anak pergi, harus ngurus cucian. Kapan mau dandan, kapan mau merawat badan? Sarmin itu sekarang juga ganjen kok. Dulu itu dia tidak pernah pakai baju bagus, celana bagus. Sekarang ini bajunya bagus-bagus, celananya bagus-bagus. Yang aku kaget, sekarang ini dia pakai minyak rambut, pakai minyak wangi. O Allah to Min, Min. Apa kamu itu sekarang sedang jatuh cinta sama Bu Yuyun?

* * *

Awas. Kalau perlu Jumat Pon depan ini aku akan ikut ke sana. Kemarin itu katanya  dia juga mengajak Sardi. Sardi itu kan cuma ngomongnya saja yang muluk-muluk. Padahal kerjanya kan juga sekelas dengan Sarmin. Coba nanti aku tanya ke dia. Apa saja yang dilakukannya dengan Bu Yuyun. Memang dia pasti kelonan. Aku tahu itu. Sebab memang srononya ya begitu itu. Tetapi kelonan untuk ngalap berkah dari Allah lewat Pangeran Samodro, kan beda dengan kelonannya orang sedang jatuh cinta to? Coba nanti aku akan ngomong baik-baik, apa Jumat Pon nanti aku boleh ikut ke Kemukus atau tidak. Kalau dia melarangku, ya memang jelas dia itu sekarang sedang gandrung. Apa aku ini harus cari srono juga agar kelihatan cantik di mata Sarmin?

Min, Min, apa aku ini boleh ikut ke Kemukus Jumat Pon depan ini? Ya kalau kamu mau bareng Sardi lagi, ya berarti kita bertiga to? Apa Min? Kamu mau ke Ponorogo dulu? Ke tempatnya Bu Yuyun? Mau apa kamu ke sana? Dia itu kan ada suaminya to Min? Apa? Bu Yuyun itu juga punya brondong? Jangan-jangan brondongnya itu ya kamu itu sendiri? Brondongnya anak masih SMA? Anaknya pedagang pasar yang seumur dengannya? Lalu mengapa kamu mau ke Ponorogo segala? Mau ke Gunung Lawu. Lo, lo kok malah sampai Gunung Lawu segala itu apa? Aku kok jadi curiga sama kamu itu Min. Ya memang dulunya yang nyuruh ke Kemukus itu ya aku. Tapi bukan begitu caranya Min!

Ya sudah, kalau kamu memang mau nekat ke Ponorogo ya terserah. Kalau perlu Min, aku mau bareng Sardi saja. Apa? Sardi mau ke Banyumas dulu menjemput gendakannya? Ya pasangan ziarah itu kan gendakan kan? Di sana itu kalian itu kan juga kelonan kan? Coba, kamu itu sama Bu Yuyun itu kan pasti bukan cuma kelonan, tetapi juga pacaran kan? Kamu pakai mesra-mesraan kan? Apa kalau berjalan malam-malam kalian itu bergandengan tangan? Apa kamu juga berciuman Min sama Bu Yuyun itu? Ya, memang dasar nasibku. Ya sudahlah Min. Terserah kamu. Semua terserah kamu. Aku ini memang hanya istri kok. Sudahlah, aku mau tidur. Aku mau minum obat pusing, obat pilek. Biar ngantuk lalu tidur pules. Males aku melihat kamu ngringkel di sebelahku, lalu senyum-senyum sendiri. Aku mau menelan obat pusing empat sekalian. Kalau mau mati ya biar saja mati sekalian.

Sardi, kamu itu tahu kan, kalau Sarmin itu ke Kemukus yang nyuruh saya? Ya, lalu kamu ikut ke sana sekarang? Lo ya tidak apa-apa. Aku ini hanya mau tanya, apa kamu ketemu sama pasangannya Sarmin yang namanya Bu Yuyun itu? O, yang mencarikan pasangan untuk kamu ya memang Bu Yuyun juga? Bagaimana Di, Bu Yuyun itu apa memang cantik? Apa Di? Seperti Cina? Jangan-jangan dia itu memang Cina? Ya bisa saja to Cina Ponorogo? Ya biar sajalah. Aku ini memang item ya Di. Lalu kalau pasanganmu sendiri? O, jualan Getuk Sokaraja? Cantik dia ya? Apa Di? Umurnya baru dua satu? Ya masih sangat muda to Di? Kamu sendiri sekarang umur berapa? Istrimu umur berapa? Wah, namanya kamu itu ya dapat daun muda. Ya pantas kalau kamu lalu mau menjemput ke Banyumas.

Ya kalau dari Jakarta mau ke Solo menjemput di Banyumas, itu masih waras to Di. La kalau Sarmin itu kan lucu. Dia dari Jakarta, mau ke Solo, menjemput ke Ponorogo dulu. Itu ketemu nalar dari mana? Sekarang itu dia juga punya ATM. Katanya sering dapat kiriman uang dari Bu Yuyun. Tetapi aku ini kok tidak percaya. La wong sekarang itu baksonya memang laris kok. Tetapi ya bisa saja. Siapa tahu Bu Yuyun itu suaminya sudah impoten, lalu Sarmin bisa melayaninya dengan baik. Ya yang bejo itu kamu itu Di, Sardi. Ketemu pasangan 21 tahun. Apa dia punya suami Di? Janda? Wah, ya sudah. Tetapi awas lo kalau kamu sampai meninggalkan istrimu, anak-anakmu. Aku akan lapor ke bapakmu, ke mertuamu.

Aku ini sekarang ya pasrah saja sama Gusti Allah. Apa-apa itu kalau terlalu dipikirkan ya malahan jadi penyakit. Kalau sampai kena kangker, atau jantung, ya sudah. Tamat semuanya. Kalau pikiran dibuat enteng, penyakit itu akan pergi jauh-jauh. Kalau kangker atau jantung datang, ya biar saja. Itu semua kan juga dari Gusti Allah. Apa-apa itu kan asalnya dari Gusti Allah. Sarmin dulu seret rejekinya ya dari Gusti Allah. Salahnya aku saja yang dulu selalu ngomel-ngomel, sampai Sarmin jadi seperti anak ayam pileren. Ya sebenarnya, kalau Sarmin itu disenengi sama Bu Yuyun, saya itu juga ikut bangga kok. Ya Sarmin, suaminya Wati yang tukang cuci itu, ternyata didemeni sama juragan beras. * * *

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: