Harapan

28/05/2015 at 11:23 (novel)

Kereta api Argo Lawu itu seperti ular yang lelah, melaju di antara sawah-sawah yang tampak baru saja ditanami, tampak baru saja diolah tanahnya. Tahun ini musim tanam memang agak melambat. Kereta api itu sebenarnya tetap melaju dengan cepat. Tetapi di tengah sawah itu, dari jarak sekitar lima kilometer, kereta api itu tampak seperti siput yang merayap dengan sangat lamban. Meilan tetap merekam dan mencatat. Sarmin tetap bercerita. Jadi pada perjalanan Jumat Pon yang lalu, Pak Sarmin ke Ponorogo dulu ya? Mengapa harus ke Ponorogo dulu? O, Bu Yuyun yang menyuruhnya. Lalu bertemu dengan Bu Yuyun di mana? Di pasar? Kapan Pak Sarmin berangkatnya? Selasa Kliwon, tanggal 30 Oktober?

Lalu sampai di Ponorogo Rabunya ya? Pak Sarmin lewat mana? O, lewat Sragen, Ngawi dan Madiun ya? Pagi itu juga terus ke Kemukus? Tidak? Lalu ke mana dulu? O, memang mau terus ke Kemukus, tetapi menginap dulu di Wonogiri. Di mana menginapnya? Di hotel? Ya, masuk hotel siang hari, keluarnya besuk siangnya ya? Mengapa tidak langsung ke Kemukus? Bu Yuyun yang minta ya? Lalu sampai ke Kemukus jam berapa? Sore? Tapi belum malam kan? Apa masih bisa menyeberang? O, masih ya? Malah agak dangkal? Tapi naik ojek ya? Lalu katanya, istri Pak Sarmin mau ikut? Benar? Tetapi Pak Sarmin melarangnya? Lalu katanya ada juga pedagang apa es atau apa yang juga ikut Pak Sarmin? Sardi ya? Bagaimana dia?

Ke Banyumas, dan sampai sekarang tidak pulang? Wah, lalu bagaimana istri dan anak-anaknya? Pulang kampung? Memangnya ke Banyumas ke tempat siapa? Ke tempat pasangannya ya? Mengapa dia tidak terus ke Kemukus, malah terus tidak pulang? Pasangannya masih muda, berapa? Duapuluh satu tahun, dan cantik? Kaya lagi ya? Bapaknya jadi apa? Petani? Dia sendiri? Pedagang getuk. O, getuk Sokaraja, ya itu  sangat terkenal itu. Jadi Jumat Pon tujuh Desember kemarin ini Pak Sarmin berangkat sendirian ya? Novembernya juga sendirian? Jadi berangkat bareng-bareng Sardi itu kapan? Rabu Legi 24 Oktober, o, November, apa? Oktober ya. Ya, benar, Oktober itu tidak ada Jumat Ponnya.

Jadi pada perjalanan Jumat Pon awal November itu, Pak Sarmin sempat sampai ke Ponorogo ya. Tadi pak Sarmin cerita, kalau Bu Yuyun minta Pak Sarmin buka tabungan di Bank, dan punya ATM segala. Uangnya dari mana itu? Dari Bu Yuyun? Mengapa ia memberi uang pada Pak Sarmin? O, tidak banyak ya? Ya, ya, memang hanya ingin memberi ya? O, katanya untuk membeli baju buat anak-anak pas lebaran. Tetapi dagangan Pak Sarmin sendiri setelah beberapa kali ke Kemukus itu memang tambah laris? Memang tambah laris ya? Pak Sarmin percaya bahwa larisnya dagangan itu karena ke Kemukus? Tidak percaya? Mengapa Pak Sarmin? Ya, kalau memang tidak percaya, mengapa masih terus datang? O, supaya bertemu dengan Bu Yuyun ya?

Ya, ya, tidak usah malu-malu Pak Sarmin. Jadi Pak Sarmin lalu menaruh hati pada Bu Yuyun ya? Bu Yuyun juga? Lo katanya tadi Bu Yuyun juga punya selingkuhan masih sangat muda? O, tetapi Bu Yuyun merasa lebih sreg dengan Pak Sarmin. Jadi pada Jumat Pon dua November itu, ritual tetap dijalankan ya? Tidak? Mengapa Pak Sarmin? Lo Bu Yuyun sebenarnya ingin malam Jumat Ponnya tetap menginap di Wonogiri? Malah mengajak ke Tawangmangu? Lalu Pak Sarmin tetap minta ke Kemukus ya? Lo katanya Pak Sarmin tidak terlalu percaya pada Kemukus? Lalu? O, orang itu harus tetap pada kesepakatan sebelumnya meskipun tidak terlalu percaya ya? Tetapi apa Pak Sarmin tidak ingin ke Tawangmangu?

Ritual harus tetap dijalankan ya? Tetapi ketika itu Bu Yuyun tidak mau ikut lagi? O, hanya mandi di sendang, tetapi tidak nyekar ya? O, katanya sedang bulanan hingga dia bilang tidak boleh masuk ke cungkup? Lo, kok Pak Sarmin tidak percaya? O, malah yang pas bulanan itu yang Jumat Pon sebelumnya? Tetapi ketika itu malah masuk ke cungkup seperti biasa. Ya, lalu menurut Pak Sarmin mengapa ia tidak mau masuk ke cungkup? Tidak tahu ya? O, katanya Bu Yuyun mendapatkan penampakan? Penampakan apa? Nyai Ontrowulan marah-marah? Itu mimpi atau bagaimana? Penampakan? Di mana? Di sendang? O, jadi Nyai Ontrowulan marah-marah, karena Jumat Pon sebelumnya Bu Yuyun pas dapat bulanan tapi masuk ke cungkup, begitu ya?

* * *

“Penampakan apa to Bu Yuyun itu kok ada-ada saja? Saya tidak melihat apa-apa kok. Ya saya mandi biasa, menaruh bunga, membakar kemenyan, ya biasa. Mandinya ya telanjang. Jangan-jangan Bu Yuyun sedang sakit atau ngelamun? Tidak? Lalu bagaimana? Ya, katanya sekarang ini Bu Yuyun tidak boleh ke sana? Atau jangan-jangan BuYuyun yang memang malas. Ya memang Bu Yuyun, hujan-hujan seperti ini, enaknya kita ya kelonan di kamar ini. Tetapi kita datang ke sini kan untuk ngalap berkah. Jadi semuanya ya harus dijalani. Tadi di Wonogiri tadi, Bu Yuyun kok malah mau mengajakku ke Tawangmangu segala? Ya saya sih mau-mau saja. Setelah dari sini pun saya juga mau. Tetapi saya kan harus jualan to Bu Yuyun? Nanti kalau saya terlalu lama, ya kasihan yang akan membeli bakso itu.

Saya itu Bu Yuyun, selama tujuh kali ke sini, termasuk yang pertama dan tertipu dapat PSK itu, sama sekali tidak pernah mendapatkan pengalaman goib. Tidak pernah bermimpi, tidak pernah mendapat firasat, apalagi penampakan. Memang orang-orang, termasuk Wati istri saya, mengatakan bahwa saya banyak berubah. Tetapi Ibu, perubahan yang sekarang ini, sebenarnya bukan sekadar karena saya ke Kemukus. Ya dulu ketika menikah dan kemudian punya anak, kata orang-orang, saya juga banyak sekali berubah. Saya jadi stres menghadapi Wati, bakso saya menjadi tidak enak, penampilan saya menjadi kuyu, hingga orang-orang mengatakan, kok Sarmin itu sekarang tampak tua sekali ya? Sekarang ini Bu Yuyun, saya juga kembali berubah, kembali seperti ke masa-masa ketika masih bujangan dulu.

Bu Yuyun, ada hal penting yang bisa saya peroleh dari kedatangan saya kemari, yakni harapan. Saya kembali bisa punya harapan untuk hidup dengan lebih baik lagi. Caranya dengan menyerahkan hidup saya kepada Allah. Karena Allah itu sekarang jauh sekali entah ada di mana, dan juga agak sibuk hingga sulit dihubungi, maka hidup ini lalu saya serahkan untuk melayani ciptaanNya, yakni sesama manusia. Jadi saya ini bukan sedang jualan bakso yang takut rugi, atau takut tidak laku, melainkan sedang melayani ciptaan Allah sebaik mungkin. Itu yang nyuruh Pak Lik saya dulu lo. Kalau ini dianggap sebagai hasil dari tirakat saya di sini, ya bisa saja. Anehnya Bu Yuyun, ketika sikap hidup ini, saya ubah seperti ajaran Pak Lik itu, rejeki datang begitu saja secara otomatis, tanpa perlu saya pikirkan.

Bu Yuyun Pusing? Pusing karena penampakan, karena seharian belum makan, atau karena apa Bu Yuyun? Bukankah dagangan Bu Yuyun sekarang juga sudah sangat laris? O, iya ya, dari dulu dagangan Bu Yuyun kan tidak pernah tidak laku. Orang kan akan selalu perlu beras. Dan kulakan padi di sawah, memanennya, menjemurnnya, memggiling lalu menjualnya, tidak pernah rugi. Bu Yuyun kemari kan karena, maaf, suami Bu Yuyun kan? Tetapi kata Bu Yuyun, sekarang dia sudah menjadi sangat baik? Mengapa Bu Yuyun menangis? Selama ini yang salah Bu Yuyun? Mengapa? Bukankah yang berjudi, yang menjual barang-barang, yang usahanya bangkrut itu semua suami Bu Yuyun? Mengapa Bu Yuyun merasa sangat bersalah?

Ya begini lo Dik Sarmin. Sebenarnya saya ini tidak terlalu mencintai suami. Saya menikah dengan Kuswanto itu kan karena dijodohkan oleh keluarga. Lalu kami ini melakukan hubungan suami isteri seperti robot itu lo. Yang penting bisa punya anak, itu pun setelah lima tahun. Jadi kami ini jarang sekali begitu. Lalu Dik Sarmin, saya sebenarnya telah berdosa. Setiap kali suami minta, selalu saya tolak. Hingga dalam setahun, kami hanya melakukannya satu dua kali. Malah pernah dalam setahun itu kami sama sekali tidak melakukan. Saya memang banyak sekali simpenan. Tapi Kuswanto? Dia lalu menyalurkan hasratnya ke meja judi. Jadi yang salah itu saya ini Dik Sarmin. Kalau saya ditanya, apa hasil dari Gunung Kemukus ini, maka sekarang saya berhasil mencintai Kuswanto.

Yuyun, Sri Wahyuni, lalu menangis di pelukan Sarmin. Baru kali ini Sarmin mendapat pengalaman seperti ini. Ada perempuan yang cantik, berkulit putih, dan halus, jauh lebih tua dari dirinya, jauh lebih kaya dari dirinya, tetapi menangis dalam pelukannya. Wati tidak mungkin melakukan hal itu. Wati hanya bisa membentak-bentaknya, sambil melotot, sambil berteriak-teriak. Kalau saja Wati menangis maka tangisnya itu hanya sebagai senjata untuk meneror dirinya. Sekarang ini, Yuyun menangis sebagai perempuan, yang merindukan pelukan laki-laki. “Ya, Bambang itu ya Dik Sarmin, kasihan juga ya. Dia telah saya rusak masa depannya. Dan sebenarnya Dik Sarmin, saya hanya sekadar ingin menunjukkan ke diri saya sendiri, bahwa Yuyun itu hebat, Yuyun itu perkasa, bisa mengajak tidur perjaka umur 18 tahun, yang ibunya bahkan lebih muda dari saya. Saya telah berdosa Dik sarmin.”

* * *

Jadi sekarang ini Dik Sarmin, saya bisa mencintai Kuswanto apa adanya. Dia adalah bapak dari anak-anak saya. Ternyata dia sebenarnya orang baik. Dik Sarmin, ketika itu Kuswanto, ya suami saya itu, kan menjadi impoten Dik Sarmin. Ya, padahal ketika itu kami ini kan baru umur tigapuluhan. Saya itu tahunya ya begini, ketika itu dia mengajak tidur. Karena sudah lama sekali, ya terpaksa saya mau. Apa yang terjadi Dik Sarmin? Ternyata dia tidak bisa berdiri sama sekali. Saya waktu itu agak kaget juga, bahkan takut. Waktu itu Dik Sarmin, saya juga lalu beriktiar. Dia juga saya minta untuk iktiar. Tetapi hasilnya sia-sia. Kemudian setelah berbulan-bulan, ternyata dia bisa lagi. Padahal tidak ada apa-apa. Tetapi kekuatannya ya sudah tidak seperti dulu lagi.

Yang mengherankan Dik Sarmin, sekarang ini dia kembali normal. Tetapi mungkin karena sekarang ini saya melihat Kuswanto sebagai laki-laki yang utuh. Kalau dulu Dik Sarmin, saya hanya melihatnya sebagai suami sah, tanpa harus mencintai. Sekarang ini, ya mungkin karena perjalanan hidup yang panjang ini ya, saya jadi bisa memeluknya dengan hangat. Hal seperti ini dulu sama sekali tidak pernah saya lakukan. Saya sering mengeluh ke dia, curhat lah Dik Sarmin. Ternyata dia tampak senang sekali. Terlebih ketika saya menangis kepadanya, ya seperti sekarang ini lo Dik Sarmin. Mengapa saya menangis? Ya karena saya menyesal telah menyakitinya selama ini. Saya lalu minta maaf, meskipun saya juga tidak cerita soal Bambang dan lain-lain, sebab itu justru akan menusuk perasaannya.

Sekarang ini Dik Sarmin, untuk pertama kalinya dalam hidup suami isteri, kami bisa melakukannya sehari sampai dua tiga kali. Padahal ketika pengantin baru pun, ketika itu Dik Sarmin, setelah perawan saya hilang pada malam pertama, selama sebulan aku menolaknya. Kemudian ya bisa dihitung dengan jari berapa kali selama setahun itu. Makanya setelah menikah lima tahun saya baru bisa hamil. Ya, saya telah salah. Sebenarnya kalau memang saya tidak suka, ya tidak usah mau kawin sama dia. Jadi, yang merusak Kuswanto itu ya saya sendiri. Dan herannya, Dik Sarmin, ketika saya berhasil mencintainya, ketika saya menjadikan diri saya sebagai isteri, sebagai perempuan yang memerlukan laki-laki sebagai suami, maka usahanya jadi lancar. Judinya berhenti, malah sekarang itu, dia sering menasehati gengnya untuk bertobat, dan menjalankan agama.

Penampilan Kuswanto sekarang juga lain. Dia tampak lebih muda, lebih sehat. Dan ngomongnya tidak pernah muluk-muluk. Dulu itu Dik Sarmin, dia kan penginnya itu menjadi konglomerat. Saya selalu membentaknya dengan bengis, konglomerat, kongkonané kawulo melarat? Ya, dosa saya itu Dik Sarmin, karena telah menghina dan melecehkan suami. Kita ini menghina dan melecehkan sesama saja dilarang oleh agama. Kok ini suami saya lecehkan. Jadi kalau kemudian suami saya itu menjadi seperti itu, sebenarnya ya hasil ulah saya sendiri. Lalu saya ini bersyukur lo Dik, anak-anak itu baik-baik semua. Dan di sini saya salut sama Kuswanto. Sejak anak-anak itu masih orok, dialah yang sangat memperhatikan dan mendidiknya dengan benar.

Malam Jumat Pon, dua November. Hujan kadang lebat, kadang gerimis. Angin juga bertiup kencang. Tetapi komplek Gunung Kemukus tetap ramai, tetap terang-benderang, tetap dipadati peziarah, dipadati pelancong. “Hujan seperti ini kan awet sekali. Ibu ini sudah ziarah?” Iksan, pemilik rumah itu tumben berada di sini. “Ini Pak siapa ini? Pak Iksan ya, kok tumben ada. Kami ini sudah berapa kali ke mari ya? Enam kali, tetapi tidak pernah ketemu Pak Iksan. Ya hanya dengar ceritanya saja dari Mbaknya ini. O, memang biasanya tidak di rumah ya? O, membawa truk? Ya pasti jarang di rumah. Kalau di rumah ya hanya istirahat ya? Hujan seperti ini memang awet. Tetapi herannya ya itu, kok ya ramai terus ya yang namanya Gunung Kemukus ini?”

Malam Jumat Pon, 2 November, sebenarnya Sarmin, dan Yuyun sudah mendapatkan, yang selama ini mereka cari-cari. Yuyun mengaku mendapatkan penampakan, mendapatkan sinyal-sinyal goib, terutama dari Nyai Ontrowulan. Sarmin tidak mendapatkan apa-apa. Tetapi ziarah seks ini, baginya juga merupakan ziarah spiritual. Kalau Yuyun bisa berubah mencintai dan menghargai suami, Sarmin bisa tegas menghadapi Wati. Sikap Pak Liknya ketika mengajaknya mendorong gerobak bakso, kembali diingatnya dan diterapkannya. “Min, kita ini sebenarnya sedang menjalankan misi Kanjeng Sultan. Kalau dulu Kanjeng Sultan Agung telah gagal menyerbu Batavia, sekarang Kanjeng Sultan Yogya dan Sunan Surakarta, telah berhasil menundukkan Jakarta, dengan bakso, dengan jamu, dengan singkong dan tahu goreng. Ayo Min!” * * *

 

Fragmen Novel Ritual Gunung Kemukus

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: