BERMAIN-MAIN DENGAN TUYUL: EKSPERIMENTASI MBELING F. RAHARDI DALAM KUMPULAN SAJAK TUYUL

24/06/2015 at 14:55 (berita)

K A N D A I

Volume 6 No. 2, November 2010 Halaman 172–182

(PLAY WITH TUYUL: NAUGHTY ’MBELING’ EXPERIMENTATION
F. RAHARDI IN POEMS COLLECTION TUYUL)

Yulitin Sungkowati
Balai Bahasa Surabaya
Jalan Siwalanpanji I/2A, Buduran, Sidoarjo 61252,
Pos-el: yulitins@yahoo.com
(Diterima 6 Juli; Disetujui 29 September 2010)

Abstract

This paper is aimed to describe F. Rahardi experimentation in to play tuyul “object” with semiotics perspective. In book Tuyul: Kumpulan Sajak 1985—1989, F. Rahardi representation tuyul ”object” for indicate phenomenon various in society. Tuyul is model from matrix society and government life that in disorder. The matrix and model transformed in varian-varian “problem” in five poetry. F. Rahardi poetries intertexual relation with social situation Orde Baru rezim and constitute critic for its.

Keywords: poetry, mbeling, tuyul, experiment

Abstrak

Tulisan ini bertujuan mendeskripsikan eksperimen F. Rahardi dalam memainkan “objek” tuyul dengan pendekatan semiotik. Dalam buku Tuyul: Kumpulan Sajak 1985—1989, F. Rahardi  menghadirkan “objek” tuyul untuk menunjuk berbagai fenomena di masyarakat. Tuyul adalah
model dari matriks kehidupan masyarakat dan pemerintah yang kacau. Matrik dan model itu ditransformasikan ke dalam varian-varian ”masalah” dalam lima sajak. Sajak-sajak F. Rahardi berkaitan intertekstual dengan situasi sosial era rezim Orde Baru dan merupakan
respon kritis terhadapnya.

Kata-kata kunci: puisi, mbeling, tuyul, eksperimentasi

PENDAHULUAN

Pada tahun 1970-an, dunia sastra Indonesia penuh warna dengan pertumbuhan kreativitas yang luar biasa, baik dalam genre drama, prosa, maupun puisi. Perkembangan itu tidak hanya terbatas pada aspek produktivitas, tetapi juga pada upaya pencarian bentuk-bentuk ucap baru melalui berbagai eksperimentasi. Budianta (2009: 1) melihat hal itu didorong oleh pesatnya industri buku
sebagai akibat kapitalisme dan adanya dukungan pengayoman oleh lembagalembaga kesenian. Dalam konteks internal sastra, Damono (2009: 9) melihat bahwa produktivitas sastra yang luar biasa itu merupakan konsekuensi logis dari perkembangan sastra sebelumnya, yaitu pada era tahun 1960-an yang terbelah menjadi dua kecenderungan umum. Sebelum rezim Orde Lama jatuh, yang menguat adalah puisi-puisi sosial bermuatan kepentingan politik realisme sosialis, sedangkan pasca Orde Lamakecenderungan umum puisi bertendensi sosial politik yang bertentangan dengannya.

Konteks dinamika yang terjadi di wilayah perpuisian pada tahun 1970-an juga diwarnai oleh adanya kecenderungan visualisasi puisi yang dipengaruhi oleh gerakan puisi konkret dan tradisi pelisanan puisi, serta kecenderungan puisi naratif yang dipengaruhi oleh situasi politik (Budianta, 2009: 2). Kecenderungan pertama ditandai oleh munculnya puisi bergaya mantra yang dipelopori oleh Sutarji Calzoum Bahri, sedangkan kecenderungan kedua mencuatkan nama Taufiq Ismail dan W.S. Rendra. Pradopo (2003: 50) menyebut adanya empat ragam corak puisi yang muncul pada periode ini, yaitu puisi bergaya mantra, puisi imajis, puisi naratif, dan puisi mbeling.

Puisi mbeling adalah nama yang diberikan oleh pengasuh rubrik puisi di majalah Aktuil, media yang pertama kali memublikasikannya pada bulan Agustus 1972. Pada tahun 1973, istilah puisi mbeling berganti nama menjadi puisi lugu karena dianggap lebih sesuai dengan gayanya yang apa adanya. Pada tahun 1975, istilah puisi lugu berganti sebutan lagi menjadi puisi awam yang dimaksudkan sebagai puisi kaum awam. Puisi mbeling tidak hanya dipakai untuk menamakan sajak-sajak dalam majalah Aktuil sebelum munculnya puisi lugu dan puisi awam, tetapi juga untuk menyebut puisi pop pada umumnya.

Para penyumbang puisi ini sangat banyak jumlahnya, hampir mencapai 10.000 orang, baik dari dalam maupun luar negeri. Sebelum majalah Aktuil memuat puisi-puisi mbeling, majalah Top sebenarnya sudah membuka ruang puisi yang diberi nama “puisi-puisi setengah mateng” dan kemudian berganti nama menjadi “Remaja Underground”. Munculnya ragam puisi ini didorong oleh tidak berimbangnya antara kreativitas anak-anak muda dalam bersastra dan keterbatasan majalah yang dapat mengakomodasi karyanya. Oleh karena itu, dibukanya ruang puisi di majalah Aktuil, Stop, dan Pop menjadi media anak-anak muda menyalurkan kreativitasnya dalam bersastra (Soedjarwo, et al, 2001: 1-9).

Lahirnya puisi mbeling dilandasi oleh pemikiran bahwa puisi tidak harus ditulis secara “serius”, baik bentuk maupun pilihan katanya. Puisi mbeling lahir sebagai tanggapan para penyair yang “frustasi” terhadap penyair-penyair mapan dan terkenal dengan berusaha menemukan cara-cara pengucapan baru yang dilandasi oleh hakikat kesusasteraan bahwa setiap eksperimen dalam berkesusasteraan berkaitan erat dengan upaya mendekatkan puisi ke bahasansehari-hari (Damono, 2009: 16). Selanjutnya, Damono (2009: 16) mencatat ciri-ciri puisi mbeling, yaitu bersifat kelakar atau main-main, mengandung kritik sosial terhadap masyarakat, dan parodi. Humor menjadi unsur yang sangat penting dalam puisi mbeling. Bahasa yang digunakan bukan bahasa Indonesia baku, melainkan bahasa sehari-hari, bahkan kadang-kadang digunakan bahasa daerah tidak hanya sebatas kosakata, tetapi juga pada kaidah kebahasaannya. Bagi para penyair mbeling, persoalan apa saja dapat dipuisikan. Kebobrokan, kemunafikan, korupsi, dan penyakit masyarakat lainnya dapat diejek atau ditertawakan. Tidak ada hal yang perlu ditutup-tutupi atau dianggap tabu karena terlalu sopan akan berakibat menjadi munafik. Di balik sikap yang terkesan nakal itu, para penyair mbeling ingin bersikap jujur dan apa adanya.

Puisi mbeling berada di luar jalur perpuisian yang resmi, tetapi mendapat tempat dalam sastra Indonesia. Meskipun terkesan ditulis seenaknya, tidak serius, dan bergaya main-main, ragam puisi ini dapat berkembang, bahkan gerakan puisi mbeling yang dipelopori oleh Remy Silado ini cukup memberikan warna dalam perpuisian Indonesia. Hal itu dapat dilihat pada pengikut Remy Silado yang cukup banyak jumlahnya, antara lain Yudhistira Ardi Nugraha, Norca Marendra, Adri Darmadji Woko, B. Priyono Soediono, dan F. Rahardi. Mereka telah menghasilkan kumpulan puisi mbeling, antara lain Sajak-Sajak Sikat Gigi (1983) dan Rudi Jalak Gugat (1982) karya Yudhistira Ardi Nugrahaserta Sumpah WTS (1983), Silsilah Garong (1990), dan Tuyul (1990) karya F. Rahardi.

Tuyul: Kumpulan Sajak 1985—1989 (1990) merupakan kumpulan sajak keempat F. Rahardi, setelah sebelumnya menerbitkan antologi puisi Sumpah WTS (1983), Catatan Harian Seorang Koruptor (1984), dan Sissilah Garong (1990). Dalam kumpulan sajak Tuyul menarik untuk dicermati dan diteliti karena F. Rahardi bereksperimen memainkan tuyul untuk mengemukakan beragam masalah dan menggambarkan berbagai fenomena yang ada dalam masyarakat. Sebagaimana puisi mbeling pada umumnya, lima puisi berobjek tuyul dalam kumpulan sajak ini tampak seperti main-main, tetapi hal itu bukan sekadar main-main. Permainan objek itu merupakan sebuah ekperimen kreatif yang perlu dimaknai oleh pembaca karena hakikat karya sastra sebagai alat komunikasi pengarang kepada pembaca.

Oleh karena itu, masalah yang menjadi fokus tulisan ini adalah bagaimana objek tuyul dihadirkan dan apa makna kehadirannya. Tujuan tulisan ini adalah untuk mengungkap dan mendeskripsikan bahwa sebuah objek, dalam hal ini adalah tuyul, dapat dihadirkan atau dimain-mainkan untuk merujuk pada berbagai fenomena dan masalah serta dapat dimaknai dengan berbagai makna oleh pembaca. Untuk menjawab persoalan tersebut, penulis menggunakan pendekatan semiotika Riffaterre yang menekankan peran pembaca sebagai pemberi makna.

LANDASAN TEORI

Kajian sastra berdasar pendekatan semiotik adalah usaha menganalisis karya sastra dengan menempatkannya sebagai sistem tanda bermakna sehingga pemaknaannya dengan cara membongkar tanda-tanda dan menentukan konvensikonvensi yang memungkinkan karya itu bermakna (Preminger, et.al., 1974: 980). Dalam Semiotics of Poetry (1978: 1), Riffaterre mengemukakan bahwa puisi penyampaian sesuatu secara tidak langsung karena ia menyatakan sesuatu hal, tetapi sebenarnya mempunyai maksud lain. Ketidaklangsungan ekspresi puisi itu disebabkan oleh tiga hal, yaitu displacing of meaning ‘penggantian arti’, distorting of meaning ‘penyimpangan arti’, dan creating of meaning ‘penciptaan arti’. Penggantian arti disebabkan oleh adanya bahasa kiasan, umumnya adalah metafora dan metonimi. Penyimpangan arti disebabkan oleh adanya ambiguitas, kontradiksi, dan nonsense. Penciptaan arti dikarenakan oleh adanya pengorganisasian ruang teks berupa enjabement, persajakan, tipografi, dan homologue. Adanya displacing of meaning ‘penggantian arti’, distorting of meaning ‘penyimpangan arti’, dan creating of meaning ‘penciptaan arti’ menyebabkan puisi bukan sekadar tiruan realitas.

Pemaknaan puisi dilakukan melalui dua tahap pembacaan, yaitu pembacaan heuristik dan pembacaan hermeneutik. Pembacaan heuristik adalah tahap pembacaan yang dimulai dengan memaknai arti kata secara referensial dan bersifat mimetik. Tahap kedua adalah tahap pembacaan retroaktif atau penafsiran yang disebut dengan pembacaan hermeneutik. Pembacaan dalam tahap ini adalah pembacaan yang didasarkan pada konvensi sastra dalam rangka memaknai teks (Riffaterre, 1978: 4-6). Proses pembacaan tahap kedua merupakan upaya decoding ’penguraian kode’ secara struktural untuk mengenali adanya matriks, model, dan varian-varian. Matriks merupakan kata kunci yang mengarah pada tema dan harus diabstraksikan dari teks. Matriks ditransformasikan ke dalam model yang bersifat kiasan. Matriks dan model selanjutnya ditransformasikan dalam varian-varian yaitu merupakan ”masalah” dalam sajak. Untuk mendapatkan makna yang lebih luas, Riffatere (1978: 109-110) mengemukakan prinsip intertekstualitas bahwa sebuah karya sastra akan bermakna penuh dalam hubungannya dengan teks lain yang menjadi hipogramnya. Teks hipogram adalah teks yang menjadi latar penciptaan sebuah karya sastra. Prinsip intertekstualitas dilakukan dengan membandingkan, menjajarkan, dan mengontraskan teks tranformasi, yaitu teks yang menyerap dan mentransformasi hipogram, dengan teks hipogramnya. Prinsip intertekstualitas ini penting dalam kajian sastra karena menurut Kristeva (1980:66) tiap teks adalah mozaik kutipankutipan dan merupakan penyerapan serta transformasi dari teks-teks lainnya. Teks yang dimaksud oleh Julia Kristeva adalah semua yang ada di dunia, tidak hanya yang berupa tulisan, tetapi bisa berupa benda-benda, aturan-aturan, adat istiadat, dan sebagainya.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat kualitatif deskriptif, yaitu peneliti memasuki dunia data yang ditelitinya, memahami, dan secara terus menerus menyistematikkan objek yang
ditelitinya. Sumber data penelitian ini adalah buku kumpulan puisi berjudul Tuyul: Kumpulan Sajak 1985—1989 yang memuat 38 sajak, yaitu “Matahari, Wereng, dan Sol Sepatu”, “Jimat”, “In Memoriam Tuhan”, “Menjelang Pemilu 1977”, “AIDS”, “Kalau Perut Lapar”, “Menikmati Udara Pagi di Desa”, “Angin di Sebuah Desa”, “Menikmati Angin”, “Sajak Perkawinan”, “Timor-Timur”, “Anjing”, “Baju Maling”, “Kain Sarung Seorang Maling”, “Malam Seorang Maling”, “Tuhan Menciptakan Orang Kaya untuk Menjadi Sasaran Para maling”, “Linggis”, “Tata Cara Menggunakan Linggis”, “Seorang Laki-Laki Bernama Sastro”, “Sastro di Rumah Tahanan”, “Kisah Sebutir Debu di Trotoar Jalan Salemba Raya Jakarta”, “Surat dari Neraka”, “Dalang”, “Tivi”, “Lampung”, “Sepuluh Pertanyaan untuk Ibu-Ibu di Waduk Kedungombo”, “Definisi Tuyul”, “Penjelasan Menteri Penerangan Tentang Tuyul”, “Penjelasan Sopir Mikrolet Gandaria Kampung Melayu tentang Tuyul”, “Sepasang Tuyul di Pojok Pantai Ancol”, “Wawancara dengan Tuyul”, “Kontol Kambing”, “Bayi Tabung”, “Seorang Nenek di Hari Proklamasi Kemerdekaan”, “Natal di Bawah Pohon Manggis”, “Batari Durga”, “Cina”, dan “Enam Buah Garis 12 Point Masing-Masing Sepanjang 10 cm”.

Sajak yang dijadikan data adalah “Definisi Tuyul”, “Penjelasan Menteri Penerangan tentang Tuyul”, “Penjelasan Sopir Mikrolet Gandaria Kampung Melayu tentang Tuyul”, “Sepasang Tuyul di Pojok Pantai Ancol”, dan “Wawancara dengan Tuyul”. Data sajak tersebut dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling, yaitu pemilihan sampel berdasarkan alasan dan
tujuan tertentu sesuai dengan kebutuhan penelitian dalam hal ini adalah sajaksajak yang mengandung penggambaran tentang Tuyul.

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik baca, simak, dan catat. Sehubungan dengan hal tersebut dalam penelitian ini dilakukan langkah-langkah berikut. Pertama, membaca dan menyimak secara cermat sajak-sajak yang dijadikan sebagai sasaran penelitian.
Kedua, mencatat bagian-bagian yang digunakan sebagai kutipan. Ketiga, menganalisis dan mendeskripsikan objek tuyul dalam berbagai pemaknaan. Analisis dalam rangka memberikan makna pada objek tuyul dilakukan dengan teknik pembacaan heuristik dan hermeneutik yang dikemukakan Riffaterre (1978: 5).

Iklan

2 Komentar

  1. Ina said,

    ditunggu posting selanjutnya….
    thanks

  2. Jalan Tikus said,

    Sebenarnya ada gak ya tuyul itu?
    Thanks

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: