SIDANG PARA KAMPRET

31/08/2015 at 11:12 (cerpen)

Lokasi        : Sebuah gua di gunung kapur di kawasan Citeureup, West Java, Indonesia
Waktu        : Awal tahun 1993, tengah hari bolong
Peserta      : Seluruh warga kampret jantan, betina, remaja, bayi, beberapa ekor tikus, beberapa ekor walet + 100 ekor kecoak sebagai peninjau.
Keperluan    : Membahas tindaklanjut dampak pengambilan batu-batu kapur oleh pabrik semen terhadap eksistensi gua-gua tempat tinggal para kampret.
Acara : 1. Pembukaan
2. Laporan Intelijen
3. Pemandangan umum fraksi-fraksi
4. Pembahasan pemandangan umum fraksi-fraksi
5. Keputusan sidang
6. Penutupan
Sifat sidang    : Tertutup

Laporan pandangan mata jalannya sidang

Suasana gua tempat sidang sangat pengap
Lembap namun dingin
Cicitan kampret-kampret itu bergema
dipantulkan oleh batu-batu stalaktit
dan stalakmit yang sudah mati
Para kampret itu tampak resah
Ingar-bingar
Sidang para kampret kali ini tampak
benar-benar darurat
Seekor kampret setengah baya yang
tampaknya jadi pemimpin sidang tampil
dengan tegap namun tersirat rasa gundah
di wajahnya nan sangar.

Saudara-saudari para kampret
para peninjau yang saya hormati
tikus, kecoak dan kutu busuk
seluruh penghuni gua ini
yang saya cintai
termasuk kutu busuk yang nangkring
di tubuh kita masing-masing
Sidang kali ini terasa sangat penting
karena kita harus memutuskan
hal yang sangat gawat
gua kita akan tergusur
gua tempat kita lahir
gua tempat kita dibesarkan
kawin, beol, kencing, dan
tidur ini
sebentar lagi akan dibongkar
manusia.

Kita sudah gagal
mengadu ke LBH
kita dicuekin para pembela hati
nurani bangsa itu
kita juga gagal lapor ke DPR
malahan kita disemprot gas air mata
dan disiram oleh mobil branwir
Jadi kita harus segera memutuskan
tindakan kita selanjutnya
Untuk itulah sidang ini diadakan.
Inget Saudara-saudara
dalam situasi darurat seperti ini
kita harus bersatu
jangan saling gontok-gontokan
asas musyawarah untuk
mufakat harus senantiasa
kita junjung dengan sangat tinggi
martabat dan kehormatan kampret
harus tetap kita jaga dengan teguh.

“Untuk itu dengan mengucapkan
puji syukur ke hadirat Tuhan
dengan ini sidang para kampret
saya nyatakan dengan resmi
dibuka”

Pret, pret, pret!

Para kampret itu lalu bertepuk sayap
dan mencicit-cicit gegap gempita
gemanya terdengar lama pantul
memantul

“Begitulah Saudara, Saudari
pembukaan yang telah dilakukan
oleh Bapak Pimpinan Sidang
Acara selanjutnya adalah
mengheningkan cipta untuk mengenang
arwah para kampret yang mati konyol
lantaran mencaplok wereng cokelat
yang barusan disemprot pestisida
Acara ini akan dipimpin oleh
Bapak Komandan kampret
Untuk Bapak Komandan Kampret
waktu dan tempat dipersilahkan.”
Komandan kampret lalu maju
dengan kepakan sayap tegap.

“Untuk mengenang arwah para kampret,
para penemu gua ini
para sesepuh yang telah mendahulukan kita,
marilah kita mengheningkan cipta
dan berdoa
sesuai dengan
keyakinan kita masing-masing
Mengheningkan cipta, mulai!”

Greng-greng-greng
korps musik kampret mencakar-cakar
sebuah batu stalaktit
dan muncullah musik syahdu
lagu kebangsaan para kampret.

Seluruh kampret peserta sidang
menangkupkan sayap
dan menekuk leher serta kepala
greng-greng-greng
greng-greng-greng
suasananya sangat khidmat
beberapa ekor tikus mengucurkan
air mata lantaran terharu
Empat ekor kecoak pingsan
seluruh bulu
di sekujur tubuh para kampret
itu tegak berdiri
kutu-kutu yang tinggal di sana
agak kedinginan.

“Mengheningkan cipta selesai!”

greng-greng-greng
seluruh penghuni gua serentak
melek matanya dan normal
pikirannya.

“Acara selanjutnya adalah
laporan dari Dinas Intelijen
para kampret
waktu dan tempat dipersilahkan.”

Petugas intel itu maju
mukanya serem
bodynya angker
suaranya dalam dan berat.

“Hasil pengamatan kami yang
mutakhir pembongkaran batu-batu
kapur itu sudah sampai di dekat
pohon pule
kira-kira berjarak 200 meter
dari mulut gua kita ini.
Gerak pembongkaran itu menuju
ke arah gua ini dengan laju
lima meter per hari
Jadi kalau semua berjalan dengan
normal tak sampai dua bulan lagi
gua ini akan hilang.”

Suara petugas intel itu dingin
seperti pisau tajam yang runcing
dan ditusukkan langsung ke
uluhati para kampret.
Tak ada tepuk tangan mengiringi
selesainya pembacaan
laporan itu
tak ada sorak-sorai gemuruh
penghuni gua itu senyap
bisu, sepi.

“Acara berikutnya adalah pemandangan
umum fraksi-fraksi. Untuk itu
acara akan dipimpin langsung oleh
Bapak pimpinan sidang.”

“Saudara-saudara peserta sidang
serta para penghuni gua sekalian.
Acara pemandangan umum ini akan
segera dimulai.
Karena waktunya sangat terbatas,
satu fraksi sebaiknya hanya
diwakili oleh satu pembicara.
Dan waktunya dibatasi paling lama
hanya tiga menit.
Jadi bicaranya langsung saja tidak
usah basa-basi.
Tidak usah diawali dengan ucapan
terimakasih segala macam.
Silahkan fraksi pertama.”

Juru bicara fraksi pertama
itu segera menyerobot maju
lalu langsung nyerocos.

“Gua kita sebentar l;agi hancur
manusia memang serakah
sadis.
Tidak berperikekrampetan
dan lupa pada amdal.
Kita para kampret lantas jadi korban
betul kan Saudara-saudara?”

“Tul . . . .”
Kedengaran tepuk sayap gemuruh
Pimpinan sidang menyela
“To the point sajalah, maunya apa!”

“Siap pak. Jadi Saudara-saudara,
kita musti cari gua baru
kita musti segera hengkang dari gua ini
kalau perlu kita ke tanah  Sumantrah sana.
Di sana guanya besar-besar
dan lebih bagus
kutu loncat juga banyak dan
gemuk-gemuk.
Siapa ikut fraksi saya?”

“Saya!”
terdengar lagi tepuk sayap gemuruh.
“Terimakasih. Tak sampai 3 menit kan?”
Silakan fraksi berikutnya.”

Dengan sigap juru bicara fraksi berikutnya
maju lalu dengan suara mantap
memberikan pandangannya.

“Jadi kampret itu memang susah
lain dengan burung betet, beo
atau bebek.”
Tapi de fakto kita ini kampret.
Dus artinya,kita harus sadar
Manusia ini memang makhluk
Tuhan yang paling mulia.
Lengkap dengan akal budinya
Apalah artinya kita-kita ini.
Manusia memang perlu membangun
Untuk dapat membangun
mereka juga harus membongkar
Termasuk membongkar gua kita ini.

Ini semua sebenarnya hal yang wajar
Gua kita ini toh sudah reyot
Jadi kalau digusur ya wajar.
Tapi kita tak perlu emosional dan
sok romantis.
Yang realistis sajalah
dan praktis.
Usul saya kita pindah
ke kolong jalan layang
Cawang Priok
Kalau bisa di dekat-dekat
Lapangan Golf Rawamangun
di sana kutu loncatnya
gemuk-gemuk dan gurih
celah-celah kolong jalan layang
itu aman dan nyaman
konstruksinya kukuh
lebih kokoh dari gua kita ini
Lagi pula semennya ya diambil
dari batu-batu kapur di sekitar sini
Dan saya jamin Saudara-saudara
tak akan ada seorang pun yang
berani membongkar atau menggusur
jalan layang ini.
Jadi mari kita ramai-ramai
menghuni celah-celah
kolong jalan layang itu.
“Terimakasih”
“Hore, hidup jalan tol
kita pindah ke sana.”

“Tenang
semua tenang dan jangan emosional
ribut amat sih!”
“Silakan fraksi selanjutnya.”

Juru bicara fraksi ketiga ini sudah
agak gaek
Namun sorot mata dan gerak-geriknya
tampak sangat galak
Sambil menggebrak meja dia mulai
pemandangan umumnya.
“Brengsek semua!
Bangsat semua!
Manusia-manusia itu bajingan
kita semua ini juga kampret lembek,
Loyo,
Mudah menyerah pada keadaan
Pindah ke gua lain
Pindah ke kolong jalan layang
Apa itu?
Gombal!
Gua ini adalah milik kita
satu-satunya
Ingat Saudara-saudara
satu-satunya.
La kok mau dikorbankan
mau ditinggal begitu saja
Itu kan mental gombal
Ingat Saudara-saudara
Gombal.”

(Tepuk sayap gemuruh
suit-suit sambung menyambung)

“Saya dan seluruh fraksi saya
sepakat untuk mempertahankan
gua ini sampai tetes darah
yang penghabisan.
Kalau buldoser itu datang
kami akan songsong.
Kami siap digiling
sampai lumat
jadi campuran semen
demi arwah nenek moyang kita
penemu gua ini.
Ikutlah bersama fraksi saya!
Terimakasih!”

“Hidup pahlawan kita!
Hidup nenek moyang kampret
Kita pertaruhkan nyawa kita
untuk gua ini!”

Tok, tok, tok.
Sebuah batu stalaktit dipukul
keras-keras oleh pimpinan sidang.

“Harap Anda semua ingat sama
tata-tertib sidang
Jadi harap tenang
Fraksi berikutnya silakan.”

Juru bicara fraksi ke empat
maju dengan santai.
Dia tengok kiri kanan lalu
ambil napas.

“sepertinya kok sudah sulit amat sih
hidup kita ini
Padahal masalahnya
sebenarnya sangat sederhana
Saya sangat setuju dengan pendapat
Saudara juru bicara fraksi pertama.
Kalau gua ini digusur ya pindah.
Tapi ya tidak perlu sampai
Sumatera segala.
Ke Ciseeng,
Leuwiliang atau
ke Sukabumi sana juga bisa.
Yang dekat-dekat sajalah.
Lalu tidak usah panik.
Terimakasih.”

Plok, plok, plok, plok
suit, suit
“Silakan fraksi terakhir.”
Juru bicara fraksi terakhir itu maju
Juga dengan kalem.
Bicaranya juga kalem
Pembawaannya tenang.

“Kami memang fraksi yang paling
kecil jumlah anggotanya.
Tapi kami punya hak ngomong
dan berpendapat.
Begini.
Kami belum akan
menentukan sikap saat ini
Wong penggusuran itu nyatanya
belum terjadi.
Siapa tahu setelah sampai di
pohon pule itu lalu belok sana.
Siapa tahu pengambilan batu itu
lalu pindah ke bukit sebelah
Siapa tahu pabrik semen itu
tiba-tiba bangkrut
Jadi nantilah, kalau penggusuran
itu sudah terjadi, fraksi kami
akan menentukan sikap.
“Titik!
Terimakasih.”

Hu. . . . Hu . . . . Hu . . . .
Tak ada tepuk tangan.

“Acara selanjutnya adalah pembahasan
terhadap pemandangan umum
fraksi-fraksi.”

Acara pembahasan terhadap pemandangan
umum fraksi-fraksi baru berjalan
beberapa menit
Kampret-kampret dan tikus yang bertugas
di pintu ruang sidang tiba-tiba
sangat gaduh.
Tampak beberapa orang manusia masuk
Mereka adalah aktivis lingkungan hidup
yang meninjau on the spot kondisi
gua yang bakal tergusur.

Anak-anak muda itu gesit.
Sangat idealis
Sangat mencintai kelestarian kampret.
Mereka pernah berdemonstrasi
ke pabrik semen.
Mereka pernah diundang dalam acara
dengar pendapat umum oleh
Dewan Perwakilan Rakyat manusia.
Tapi kampret-kampret itu,
mana mau tahu!

“Itu dia manusia-manusia brengsek
yang mau menggusur gua ini!”
“Ya itu dia manusia serakah itu!”
“Mari kita serbu.”
“Serbu.”
Kampret-kampret itu lalu menyambar,
mencakar, menggigit, menampar
dengan kepakan sayap-sayap mereka.
Aktivis lingkungan hidup itu
babak-belur.
Mereka berlarian ke luar gua.
Suasana kacau
Sidang para kampret terhenti
tanpa ada keputusan
kapan dilanjutkan.

***

Fragmen Buku Migrasi Para Kampret

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: