WAWANCARA DENGAN KAMPRET

16/09/2015 at 12:21 (puisi)

Seorang wartawan senior
yang memimpin sebuah majalah berita
berhasil menangkap seekor tokoh kampret
dengan jaring nilon.
Kampret yang tertangkap itu
bukannya dibunuh mati
tapi malah dijamu
diajak kongko-kongko
lalu diwawancarai.
Sebuah karya jurnalistik eksklusif
Hasil wawancara di bawah pohon
kelapa sawit yang rimbun
di suatu siang
di Bumi Perkemahan Cibubur
Jakarta Timur.

WS. Wartawan Senior
K.     Kampret

WS.    Anda tidak silau
disorot matahari begini ini?
K    Tidak.
Di sini agak teduh soalnya.
Kalau di gua tempat tinggal saya sana
kan justru Anda yang repot
lantaran gelap.
WS    Berapa banyak sebenarnya
gerombolan Anda yang masih di hutan?
K    Di gunung!
masih ada kira-kira 200 ekor.
WS    Banyak juga ya?
Kata petugas keamanan paling tinggal 6 ekor.
K    Mereka bohong.
WS    Anda benar-benar pegang kendali
terhadpa 200 ekor
anak buah Anda itu.
K    Saya lebih suka menyebut mereka
dengan rekan. Saya pegang kendali.
Saya bilang terus ya terus.
Kecuali ada kira-kira 60-ekor
penganut garis keras.
Mereka sudah tidak patuh lagi
pada saya. Saya mereka anggap
terlalu lembek.
Tapi yang 140 saya bisa kendalikan.
WS    Boleh saya terjemahkan itu semua
ke dalam bahasa manusia?
K    Silahkan.
WS    Anda menyesal, telah terjadi
huru-hara kampret tahun yang lalu?
K    Begini ya.
Kami bangsa kampret ini
sudah ratusan tahun
bahkan ribuan tahun
menghuni gua itu.
Kami ingin merdeka.
Ingin dapat bebas mencaplok nyamuk
menangkap wereng.
Tapi kami juga sadar.
Manusia kan
bukan tandingan kami.
Ya, sudahlah,
saya mau realistis saja.
WS    Maksud Anda?
K    Saya kan sudah Anda tangkap.
Anda kan wartawan.
Wartawan itu kan
bisnisnya berita.
Sekarang Anda maunya apa
saya nurut.
WS    Lo kok terus loyo?
K    Bukan loyo.
Ini soal perjuangan jangka panjang.
Kampret harus realistis.
Manusia jauh lebih canggih.
Kami ini apa sih?
Cuma kampret.
WS    Sebagai pedagang berita,
saya sebenarnya
lebih senang
melihat Anda tidak loyo.
Majalah saya akan lebih laris
kalau Anda tampak galak,
lalu ditembak.
Ini demi bisnis lo.
K    Anda egois.
WS    Namanya juga usaha.
Tapi terus terang,
sebenarnya saya pribadi
simpati lo sama Anda.
K    Ya jelas.
Kalau tidak
kan saya sudah kamu pencet
saat nyangkut di jaring kemarin.
Meskipun saya juga tahu
saya ini mau kamu peralat.
WS    Untuk?
K    Ya, supaya opini dunia berubah
jadi baik terhadap kami.
Wah, ternyata
mas Wartawan itu baik ya
sama kampret.
WS    Nyindir ni ye!
K    Saya serius.
Lihat muka saya :
memelas kan?
WS    Rencana Anda?
K    Tergantung
Kalau habis wawancara ini
saya tetap kamu kantongi
lalu dibawa pulang
untuk mainan anak-anak
ya memang nasib saya jelek.
Kalau you baik hati,
saya you lepas,
saya akan kumpulin anak buah
lalu bisnis kecil-kecilan.
Pokoknya perut kenyanglah.
Kampret kan tuntutannya tidak banyak.
WS    Bisnis apa kira-kira?
K    Ya biasa.
Bisnisnya kampret kan
paling sekitar serangga.
Nyamuk,
kutu,
laron.
Apalagi?
WS    Anda tidak tertarik
untuk bikin huru-hara lagi?
K    Huru-hara kan eksiden
bukan tujuan.
Tujuan saya lebih mulia dari itu.
Yang mesti belajar dulu
falsafah kampret.
WS    Kampret punya falsafah?
K    Punya
Jangan dikira hanya manusia
yang punya falsafah,
visi,
misi dan tetek bengek lain.
Yang belum pernah dengar
manajemen kampret kan?
WS    Apa itu?
K    Ya manajemen kampret.
Bagaimana membuat perencanaan,
melakukannya,
mengontrol dan menilai hasilnya.
Warga kampret juga punya struktur.
Punya sistem
Punya sarana-sarana
dan modal.
WS    Apa coba modal Anda?
K    Modal warga kampret.
Kami hidup kolektif.
Modal kami ya kesetiakawanan.
WS    Tapi kok Anda
ditinggalkan oleh
sebagian anak buah
dan tidak didukung oleh
seluruh warga kampret?
Mereka malah bubar ke mana-mana?
K    Itu kan salah satu resiko perjuangan.
WS    Terakhir
Ada pesan-pesan khusus?
K    Aku sudah rindu sama betina kampret.
WS    Terimakasih.

Wawancara eksklusif ini
jadi Berita Utama di majalah
milik wartawan senior itu
Judulnya : Pengakuan Seekor
Tokoh GPK (Gerombolan Para Kampret).

Foto-foto yang dimuat : Gua bekas
tempat tinggal gerombolan kampret yang
sudah porak-poranda.
Wajah tokoh kampret yang loyo dan
memelas.
Jaring nilon yang digunakan
untuk menangkap.

Denah/Bagan/Tabel :
Denah lokasi penangkapan kampret.
Bagan struktur organisasi kampret
Tabel populasi sisa-sisa kampret
saat ini dibandingkan dengan
populasi sebelum ada huru-hara.

Majalah itu terbit hari Selasa pagi.
Dicetak 200 ribu eksemplar.
Dijual Rp 3.000,00 dan laris sekali.
Sorenya ada pengumuman dari
Menteri Penerangan, majalah itu
dibredel.

***

Fragmen Migrasi Para Kampret

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: