Aroma Sentralistik dalam Novel Ine Pare

21/09/2015 at 10:27 (berita)

by Steve Elu 

Judul: Ine Pare (Novel Ibu Padi)
Penulis: F. Rahardi
Penerbit: Nusa Indah, 2015
Tebal: 264 halaman

KUPASBUKU.com – Bagi para sastrawan yang karir sastranya menanjak di sekitar 1980-an hingga akhir 1990-an, pasti mengenal F. Rahardi sebagai seorang penulis puisi atau penyair. Dua bukunya yang terbit di masa Orde Baru yakni “Soempah WTS” (berisi 40 puisi; 1983), “Catatan Harian Sang Koruptor” (1985), dan “Pidato Akhir Tahun Seorang Germo (1997), adalah beberapa kumpulan puisi yang pernah hangat dipergunjingkan oleh para pegiat, penikmat, dan pencinta sastra pada masa itu. Mengapa tidak?

Di masa Orde Baru yang sangat kental dengan sistem pemerintahan otoriter, Rahardi muncul dengan puisi-puisi satir yang menyayat-pedas pemerintah pada masa itu. Yang paling jelas diingat oleh para pencinta sastra adalah ketika Rahardi ingin mendatangkan Wanita Tuna Susila (WTS) untuk bersamanya membaca puisi dalam sebuah pementasan di Taman Ismail Marzuki Jakarta. Acara itu kemudian tidak jadi dilaksanakan karena dilarang keras.

Tapi, ya namanya sastrawan, tidak pernah berhenti berulah. Ia pernah membuat ‘marah’ pemimpin agama Katolik Jakarta waktu itu, Kardinal Julius Darmaatmadja SJ karena mengidentikan gembala dengan anjing dalam sebuah acara di Universitas Atma Jaya Jakarta, dimana Kardinal Julius sendiri hadir di situ. Meski kejadian itu tidak pernah terekam publik, namun beberapa orang yang dekat dengan Rahardi mengetahui persis kisah itu. Saya sendiri mengetahui kisah ini dari Rahardi.

Namun, selepas pertengahan 2000-an, Rahardi seolah bermigrasi ke novel dari pada puisi. Memang, ia masih menulis puisi, tapi sejauh saya ketahui ia belum pernah menerbitkan buku kumpulan puisi lagi sampai sekarang. Persis 2008, Rahardi muncul dengan novelnya, “Lemata” (2008).

Saya kecantol pada karya-karya Rahardi setelah membaca novelnya “Lembata”. Dalam novel ini, Rahardi bercerita tentang seorang pastor/imam/romo asal Flores yang ditugaskan ‘Kuliah Lanjut’ di Universtias Atma Jaya Jakarta. Kemudian, seorang perempuan bernama Luciola sangat terpincut dengan pastor itu dan berkali-kali memintanya untuk berhubungan badan. (resensi tentang ‘Lembata’ akan dilanjutkan pada bagiannya tersendiri).

Baru-baru ini, Rahardi kembali meluncurkan novel terbaru berjudul “Ine Pare”. Novel ini berkisah tentang asal-muasal padi di tanah Lio, Ende, Flores. Novel ini diluncurkan untuk menandai ulang tahunnya yang ke-65. Menarik kan? Ulang tahun ditandai dengan peluncuran buku karya sendiri. Semoga suatu saat kita juga bisa melakukan hal yang sama.

Di acara peluncuran itu, Eka Budianta menilai bahwa novel “Ine Pare” adalah salah satu novel terberat dan terserius yang ditulis Rahardi. Dan ketika saya membacanya, saya juga sepakat dengan Eka. Rahardi, dengan daya risetnya yang amat kuat, berhasil menghidupkan kembali dongeng yang berkembang di tanah Lio. Dongeng yang biasa diceritakan sebagai kisah ‘ringan’ pengantar tidur, berhasil dipugar jadi ulasan panjang yang melibatkan berbagai seting dan tokoh sehingga terasa benar-benar hidup. Mungkin juga lebih terasa bernyawa, daripada hanya sekedar dongeng.

Misalkan, ketika Rahardi menjembatani kedatangan suku Jawa Dwipa ke tanah Lio dan memperkenalkan budaya menanam padi pada bagian ‘Panen Perdana’ (hal. 79-88). Sebaliknya, paga bagian yang sama, masyarakat Lio memperkenalkan cara memasak ubi dan singkong dengan membenamkannya di dalam abu (dapur) panas. Dalam lanjutan kisah dongeng ini, Rahardi menggambarkan bagaimana percobaan pertama penanaman padi di lahan yang disiapkan oleh orang-orang Lio; tentu saja dalam bimbingan dan arahan dari orang-orang Jawa Dwipa.

Aroma Sentralistik

Saya yakin bahwa orang Lio tau persis bagaimana awal dongeng tentang padi ini ada dan berkembang di tengah masyarakat Lio. Bahwa itu kemudian dinarasikan turun temurun dan akhirnya melegenda adalah sebuah perjalanan panjang. Kesahihan dongeng ini sesuai awal lahirnya tentu masih bisa dipertanyakan. Mengingat, di Indonesia Timur, budaya lisan berkembang jauh lebih pesat ketimbang budaya tulis. Cerita atau kisah mengenai dongeng seperti “Ine Pare” ini tentu berkembang dari tradisi lisan, yang kemudian dialihkan ke tradisi tulis.

Dalam konteks ini, kita perlu memngapresiasi kerja keras Rahardi yang menggali, menangkap, dan menyusun ulang dongeng “Ine Pare” yang akhirnya bisa kita pegang sebagai sebuah dongeng tulis. Novel “Ine Pare” yang sedang kita bicarakan sekarang adalah salah satunya.

Dengan tetap mengacu-pegang pada asumsi tadi bahwa yang lebih berkembang di Indonesia Timur adalah tradisi lisan, saya kemudian sedikit bertanya mengenai masuknya Jawa Dwipa sebagai tokoh yang mengenalkan padi kepada masyarakat Lio dan ikut mewarnai dongeng ini. Sambil terus mengingat pula bahwa makanan pokok sebagian masyakarat Indonesia Timur bukanlah nasi yang merupakan olah lanjut dari padi, proses masuknya tradisi padi (-beras) ke Lio oleh Jawa Dwipa bisa diyakini kebenarannya.

Namun, setidaknya bagi saya, ada celah yang bakal melahirkan pertanyaan besar di sana. Dengan mengatakan bahwa padi dibawa oleh Jawa Dwipa, secara tidak langsung membuka kemungkinan untuk menjadikan masyakarat Lio sebagai objek Jawa Dwipa. Bahwa masyarakat Lio akhirnya mengenal beras karena jasa orang-orang Jawa Dwipa. Dengan demikian indentitas orang Lio sebagai pemilik dongeng terkesan sedikit luntur.

Selama ini kita tahu bahwa dengung protes dari masyarakat Indonesia Timur salah satunya adalah menyorot sentralisasi pembangunan yang lebih berpusat di Jawa. Menghadirkan dongeng “Ine Pare” dengan gaya demikian rasanya semakin mempertegas asumsi keberpusatan “Jawa” atau “Jakarta” dalam pembangunan dan pengembangan serta cara memandang Timur. Tidak heran, suara-suara miring sering mengiang, “begitulah orang-orang pusat memandang dan memperlakukan orang-orang pinggir”; Indonesia Timur sebagai salah satunya. Inilah yang ingin saya sebut sebagai aroma sentralistik.

Dasar asumsi saya ini pun kemudian coba saya duduk-sampingkan dengan teknik Rahardi ketika menulis novel Lembata. Luciola yang orang kaya dari Jakarta (Manado) itu, dan Romo Pedro yang usai menyelesaikan studi di Jakarta, kembali ke Lembata untuk membantu meningkatkan taraf hidup masyarakat Lembata. Memang, kekuatan akhir cerita bukan terletak pada seberapa besar dan bagaimana Luciola membantu masyarakat Lembata, melainkan pada keteguhan Romo Pendro mempertahankan Imamatnya. Tetapi, seperti dongeng “Ine Pare”, ia tetap meninggalkan celah ‘orang pusat datang bagai dewa penyelamat bagi masyakarat Lembata dalam novel “Lembata” dan Lio dalam novel “Ine Pare”.

Karena itu, mengingat Rahardi yang lebih banyak berkutat dan menjalani hidupnya di Jawa sebagai tanah asal dan Jakarta sebagai tempat berkarier, kecenderungan sebagai ‘orang pusat memandang orang pinggir-Timur’ sangat terasa dalam kedua novel ini. Tentu untuk sebagian pembaca, celah ini tidak akan dipermasalahkan. Tetapi sebagai orang Timur, justru saya melihat celah ini sebagai ruang yang perlu diberi catatan serius.

Bahwa apresiasi saya terhadap novel “Ine Pare” sebagai sebuah karya sastra tetap saya junjung tinggi. Dengan pengetahuan yang memadai di bidang pertanian, misalkan, Rahardi mengambarkan segara jelas, detail, dan rinci mengenai proses penanaman cendana, yang saya sendiri sebagai generasi 90-an tidak pernah melihat lagi rupa pohon cendana itu. Sewaktu kecil, saya hanya mendengar desas-desus bahwa kayu cendana dilarang diperjual-belikan. Tetapi proses tanam, tumbuh, dan akhirnya dipotong untuk dijual tidak pernah saya saksikan secara kasat mata.

Lautan Mistisisme

Sepertinya Rahardi tau betul sitausi masyarakat Indonesia Timur. Sejak awal, ia sudah memasukan aroma mistisisme yang mewujud dalam bentuk santet. Dan saya setuju bahwa meski ini hanya merupakan kisah dongeng, pergunjingan soal santet masih sangat santer dibicarakan di kalangan masyarakat Indonesia Timur sampai hari ini. Meski begitu, saya tetap memberi catatan bahwa Rahardi lebih memilih cenderung memakai kata “santet” atau “guna-guna” ketimbang memakai istilah suanggi. Di daratan Pulau Flores dan Pulau Timor, kata “santet” sangat jarang dipakai. Kata yang sering dipakai adalah suanggi. Menurut hemat saya, ini juga salah satu karakter lokal yang mestinya tidak dikesampingkan dalam dongeng “Ine Pare”.

Bahkan sampai hari ini, dimana pemerintah menggalakkan pembangungn rumah sakit untuk mengayomi orang sakit di kampung-kampung, masyarakat Indonesia Timur lebih nyaman pergi berobat ke dukun atau tim doa ketimbang menggunakan fasilitas yang sudah disediakan pemerintah. Orang-orang kampung selalu percaya bahwa orang sakit disebabkan karena kiriman “le’u-le’u” dari si tukang suanggi daripada sakit oleh karena ketidakpiawaian merawat tubuh.

Sekilas ini tampak ironi. Tetapi justru itulah yang terjadi sampai hari ini di sebagian masyarakat NTT. Kisah dongeng dalam “Ine Pare” dalam kaca mata saya, berhasil menggarap narasi besar ini. Bahwa ia adalah sebuah kisah yang ada dan berkembang dalam masyakarat Timur pasti selalu berjabat langsung atau tak langsung dengan setiap dongeng yang benar-benar lahir di dan dari kalangan masyarakat Timur.

Secara pribadi saya juga mengapresiasi Rahardi yang berhasil mengangkat dongeng lokal ini ke panggung nasional lewat kehadiran novel ini. Bahwa dia adalah seorang Jawa yang mau mempelajari dan menulis ulang dongeng orang Lio, tentu itu sebuah keputusan yang perlu diapresiasi.

Novel “Ine Pare” tentu saja masih menghadirkan banyak sudut pandang untuk dikaji. Pada kesempatan ini, saya hanya ingin memfokuskan daya jangkau saya pada bagian ini. Para pembaca dan penulis lain bisa memandang “Ine Pare” dari sudut yang lain; tentunya dengan satu misi ingin semakin memperkaya kegiatan mengkaji literasi Indonesia. Apapun hasilnya, dengan pisau manapun kita membedah, novel “Ine Pare” adalah kekayaan baru masyarakat Indonesia yang perlu dipegang dan diketahui oleh masyakarat Indonesia.

Steve Elu

– See more at: http://www.kupasbuku.com/buku/aroma-sentralistik-dalam-novel-ine-pare#sthash.l0Okcbd5.dpuf

Redaksi membuka kesempatan kepada pembaca untuk mengajukan pertanyaan atau buku yang dikehendaki untuk diresensi oleh Tim Kupas Buku. Kirimkan Buku Anda melalui pos ke Redaksi Kupas Buku Club Jl. Masjid Baiturohim no.71, Bintaro, Tanggerang Selatan. Telp: 021-95549599. Anda juga dapat mengirimkan pertanyaan atau tanggapan melalui email ke: redaksi@kupasbuku.com atau SMS ke nomor 085235263417.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: