NOSTALGIA KE CITEUREUP

26/10/2015 at 10:19 (puisi)

Seekor kakek kampret
seekor nenek kampret
dan seekor cucunya
yang selama ini menghuni
celah lengan Sosrobau
jalan layang Cawang-Priok
pada suatu sore
bernostalgia ke bekas bukit pasir
di kawasan Citeureup.

Sepanjang perjalanan lewat
jalan tol Jagorawi
mereka mencaploki nyamuk
dan anak-anak belalang
kadang juga kutu loncat.

Udara sore sehabis hujan
terasa enak
langit bersih
ada satu dua awan yang
tak banyak bergerak

Tiga ekor kampret itu sudah
lama berencana mudik
sekalian bernostalgia
lalulintas di Jagorawi sudah
agak sepi
ada banyak bintang-bintang
rumput dan gerombolan kembang merak
di tengah jalan tol itu
masih sangat basah.
Juga kerumunan bugenvil
pokok-pokok kaliandra
dan pohon sengon
yang tegak
jauh di pinggiran sana.

“Cu, lu jangan terbang
kelewat rendah lo
nanti disambar sedan
habis deh keturunan gua.”

“Tidak kek
tuh, mobil-mobilnya kan
tampak kecil-kecil di bawah sana.”
“Sudahlah kek, dia pun ude gede
ude bisa ngatur dirinye sendiri.
Ngomel melulu.”

Nenek kampret itu sewot
mereka meluncur terus
di atas kawasan Cibubur
tiga ekor kampret itu agak
memperlambat terbang mereka.

“Kok banyak amat warga kampret
di sini ya Cu.
Dulu sini ini sepi lo.”

“Nggak tau kek
itu pan penghuni baru
kakek lu itu memang ude pikun
di sini pan ada bumi perkemahan
yang banyak rumput dan pohon
ada taman bunga
ada bangunan bikinan manusia
yang kosong
nganggur
mereka pake aja gratis.”

“O, iya ya, lupa aku
kawasan ini memang sip buat kampret
tapi kenapa dulu kita ngungsi
sampai jauh-jauh di sana ya nek?”

“Lo pan situ sendiri yang ngotot
dulu mintanya deket lapangan
golpnya Pak Presiden
katanye nyamuknye gemuk-gemuk
orang siangnye habis ngegigit
jendral-jendral
dan bos-bos yang darahnya gurih
lain ame darah tukang becak
di Citeureup.”

“O, iya ya, lupa aku.”

“Udelah, ayo terbangnya cepetan!”

Malam itu sekitar pukul 23.30 WIB
tiga ekor kampret Jakarta
sudah sampai di bekas kampung
halaman mereka.

“Inilah Cu
di sini bekas bukit itu
bekas gua itu
sekarang lu liat sendiri
kayak gini kan sekarang.”

Kampret tua itu lalu menangis.
Cucu kampret bengong
nenek kampret diam saja.
Di kawasan itu memang hanya
tampak gundukan batu-batu
petak tanaman singkong
gerumbulan lantana liar
dan alang-alang
sepi
tak ada suara-suara
juga gelap.

“Dulu anak-anak dan menantuku
mati di dekat batu-batu itu.”

“Dulu!
Kakekmu itu sukanya memang
ngomong tentang dulu
pan nanti juga penting kek
sekarang juga penting
besok
bulan depan
tahun depan
pan semua juga penting
ya kan cu.”

“Kau jangan suka motong-motong
orang ngomong nek
aku lagi terharu lo.”

“Terharu melulu
kita pulang saja
nanti kesiangan sampai di jalan tol
kita bisa mampus disambar treler.”

Kakek, nenek dan cucu kampret itu
lalu pulang
udara pagi segar
oksigen banyak
debu pabrik semen agak mengendap
dan embun
mulai mengkristal
di daun-daun
di rumput-rumput
juga di ujung bulu-bulu halus
di wajah tiga ekor kampret itu.

***

Fragmen Migrasi Para Kampret

 

1 Komentar

  1. Permanas said,

    Karangannya bagus semua paman😀 saya suka .semoga saya bisa mengikuti jejak anda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: