SANG DEWI MALAM

17/11/2015 at 13:18 (puisi)

Dewi malam
yang katanya bertampang molek itu
sebenarnya sudah sejak lama
memendam dendam pada kota Jakarta
ibu kota Republik Indonesia
apa pasal?
Sudah lama dewi malam
tidak dapat 100% menunjukkan jatidirinya
di kota metropolitan ini.

Para perawat di rumah sakit
polisi dan satpam
sopir taksi
para pramuria di night club
lonte-lonte
pedagang sayuran
semua justru telah memperkosa
sang dewi malam

Siang mereka tidur
dan malam hari mereka kejar-kejar rejeki.
Dengan nyali tinggi
dan dewi malam pun dendam
“Tapi
bukankah warga kampret
juga demikian halnya sang dewi?”
“Tidak
kampret itu baik
kampret adalah warga dewi malam
mereka justru baru mau aktif
manakala aku telah menunjukkan
jatidiriku secara penuh.
Jadi lain dengan lonte-lonte itu.
Betul kan pret?”
“Betul sang dewi.”
“Nah, betul kan.
Tapi semua itu sebenarnya
hanya lantaran PLN
dan pabrik genset
kalau tidak ada listrik
metropolitan Jakarta ini
pasti tunduk pada mauku”

Hari sudah sore,
bobok ya Jakarta,
dan Jakarta akan kuselimuti
lalu mendengkur dan lelap
tapi kini
Jalan Thamrin, Sudirman
Ancol, Mangga Besar
Blok M
mereka sudah terang-terangan
menantangku
mereka sudah nyata-nyata
berbuat makar terhadap
pribadi Dewi malam

Kepemimpinan Dewi malam
benar-benar telah dirong-rong oleh
lampu-lampu taman, lampu-lampu jalanan
saya keqi sama si Faraday
orang Inggris yang telah mengajari
manusia untuk bikin dynamo itu
“Pret, bagaimana kalau sekali waktu
dynamo-dynamo itu you bikin mogok pret”.
“Bisa, itu mudah
Kapan maunya?”
“Secepatnya pret”.

Syahdan
pada suatu malam
jutaan kampret berdatangan
ke kota metropolitan Jakarta
mereka menyerbu gardu-gardu induk
arus listrik untuk
menghidupi kota Jakarta putus

Dewi malam kembali berkuasa
Ibu kota Republik ini gelap gulita
genset di hotel-hotel,
di pusat perbelanjaan, di rumah sakit
di Markas Besar Angkatan Bersenjata
otomatis hidup
Namun ribuan kampret segera menyerbu
Jakarta gelap total
dokter-dokter yang lagi
membedah pasien jadi linglung
Oom-oom yang lagi memeluk
pramuria panti pijat
jadi kesenangan
Warung-warung kelontong
diserbu pembeli lilin
namun begitu lilin itu menyala
kepakan sayap kampret segera
mematikannya.
Mobil-mobil di jalan raya
menyorotkan lampunya
namun ratusan kampret
menutupi kaca depannya dengan
sayap-sayapnya yang hitam
mobil itu menabrak pembatas jalan
Jakarta jadi benar-benar gulita
dan dewi malam terharu

“Sudahlah pret
sudah
kasihan itu manusia
ternyata mereka juga
bisa tak berdaya
manusia harus diberitahu
bahwa mereka bukan segala-galanya
sudahlah pret
cukup
kalau ini diteruskan
kitalah yang balik jadi tiran
sekarang kalian mau ke mana pret?”
“Kami mau bermigrasi”.
“Migrasi?
“Ya”.
“Ke mana pret?”
“Ke Sumatera
pulau Jawa sudah sangat brengsek”.
“Apa iya pret?”:
“Betul
kami mau berangkat
malam ini”.

Jutaan kampret itu
lalu membubung
tampak seperti kumpulan awan Comulus
yang bergerak pelan ke arah barat.

Jakarta kembali menyala
dokter-dokter melanjutkan
membedah pasien
Oom-oom melepaskan pelukannya
pramuria panti pijat tersipu-sipu
dan dewi malam tersenyum
manis sekali
migrasi para kampret dimulai.

***

Fragmen Migrasi Para Kampret

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: