SEEKOR KAMPRET DI ATAS JALAN BEBAS HAMBATAN JAKARTA TANGERANG

23/11/2015 at 11:40 (puisi)

Di langit yang gelap
di atas jalan bebas hambatan yang licin
seekor kampret terbang dengan kecepatan penuh

“Nyamuk,
aku minta nyamuk,
aku minta kutu loncat
aku lapar,”
kampret itu berteriak-teriak
dan terus meluncur
125 km per jam

Malam seperti kain pedagang ikan
yang kusam dan bolong-bolong
lampu-lampu mobil yang melaju
kencang itu bagai pisau silet
yang mencabik-cabiknya jadi serpihan
kecil-kecil
kampret itu hanyut dan
terapung-apung di atasnya

Di bawahnya
sebuah minibus tua
meraung kelaparan
tangki bensinnya terguncang-guncang
isinya tinggal setengah cangkir
minibus itu sakit
lampu depannya berdarah
langkahnya terpincang-pincang
kampret itu mengepakkan sayapnya
minibus itu oleng

Malam sudah jadi kain rombeng
yang cabik-cabik
Jakarta sudah tak kedengaran
di belakang sana
tapi Tangerang belum juga kelihatan
kampret itu kebingungan

“Sudah 45 tahun Republik ini
berganti-ganti menteri
sejarah dicatat dan dihafal anak sekolah
tapi yang kudapat hanya debu
asap knalpot dan angin”
kampret itu pusing

“Padahal aku hanya ingin nyamuk
kutu loncat atau wereng
yang teler disabet lampu mobil”

Sebuah sedan BMW
mendongakkan lampu depannya
dan dengan lompatan penari balet
dia sikat minibus tua itu

Angin seperti napas kuda balap
kampret itu jumpalitan
sebutir pasir nyungsep ke tenggorokannya

“Sudah 45 tahun pahlawan-pahlawan
dikubur dan diziarahi
lagu kebangsaan dinyanyikan
bendera setengah tiang dipasang
tapi nyamuk makin susah kudapat
aku lapar
aku lapar,”
kampret itu kumat encoknya
kepak sayapnya tak setegar sore tadi
malam makin menggelinding
sebuah trailer peti kemas
mencakar-cakar aspal
Jakarta sudah terlalu jauh
Tangerang belum juga kelihatan

“Sudah 45 tahun kukepakkan sayapku
sudah ribuan mil kutempuh
tapi belum juga perutku penuh
kemanakah nyamuk-nyamuk itu pergi
kemanakah kutu loncat mengungsi
kampret itu batuk-batuk
dan encoknya makin terasa

Malam sudah sangat capek
sebuah bis sarat penumpang
mual dan meronta-ronta
ingin memuntahkan isi perutnya
mungkin ia dari Lampung
mungkin dari Bengkulu
asap knalpotnya ungu
kampret itu loyo
terbangnya tinggal 100 km per jam
minibus di bawahnya tersengal
dan pontang-panting
bensin di tangkinya tinggal seteguk

“Sudah 45 tahun kita setia
mengheningkan cipta
di perayaan tujuhbelasan
sudah 45 tahun keringat
menetes dari wajah anak-anak sekolah
yang kepanasan
tapi yang kudapat hanya pohon-pohon tumbang
tanah yang pecah-pecah
dan udara yang tak bersahabat
kampret itu makin pusing
kepakan sayapnya kendor
larinya tinggal 60 km per jam

Syahdan
di sebuah tikungan
menjelang kota Tangerang
minibus tua itu menyerah
tangki bensinnya kering sudah
malam yang rombeng
langit yang bopeng
kampret itu kalah
dia nyungsep di aspalan

“Sudah 45 tahun republik ini merdeka
tapi kampret yang susah tetap saja susah”
malam berangsur pagi
sebuah truk penuh pisang
meraung kecapekan
kampret itu meringis
napasnya kembang-kempis

Ketika truk pisang itu menjauh
ke arah Jakarta
lampu belakangnya yang merah
meninggalkan bekas darah
di aspalan
jalan bebas hambatan itu
selepas pukul 00
sangat dingin
licin dan sepi.

***

Fragmen Migrasi Para Kampret

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: