MELINTASI SELAT SUNDA

30/11/2015 at 14:04 (puisi)

Awan comulus hitam
gugusan para kampret
bergerak dalam derap
lagu-lagu mars
semangat
nyali
harapan-harapan
bahkan impian
semua menggumpal dalam suasana
tegangan tinggi
jutaan volt

Menurut mimpi para kampret itu
pulau Sumatera adalah kampung-kampung kecil
seperti suasana desa Citeureup
pada zaman Hindia Belanda
hutan-hutan masih perawan kencur
dengan burung enggang
macan
ular
dan lapisan serangga
yang tebal di udara
dengan arus yang deras
para kampret tinggal santai
mengangakan mulut
lalu macam-macam serangga gurih
dan empuk itu
mengalir lancar masuk mulut
lalu tinggal menelan begitu saja
tak perlu ada usaha
tak perlu ada kerja
semua sudah tersedia
lengkap dan alami
Sumatera adalah Eden
yang nyaman dan abadi
dan pernah ditinggali
nenek moyang manusia
Adam dan Hawa.

Gugusan comulus kampret itu
melintas di atas Cilegon
di Barat sana tampak comulus beneran

“Itu Selat Sunda
kalau selat itu kita seberangi
sampailah sudah kita di Sumatera
mari kita nyanyi teman-teman”.
“Hidup Sumatera, hidup Sumatera”
“Gua yang besar dan adem
di atas bukit-bukit kapur
dengan Tobing-Tobing
yang Manurung
penuh Pohan-Pohan
yang Singarimbun
Parangin-angin bertiup Sitorus
ke arah Hutabarat
ada Rajagugguk
ada Sinaga
Itulah Sumatera
Hidup Sumatera”.

Syahdan
gunung Anak Krakatau
yang mungil dan nongol
di selat Sunda itu
tampak lagi rewel
dia batuk-batuk
menyemburkan pasir-pasir pijar
pemandangannya bagus sekali
dari kejauhan para kampret
terkagum-kagum

“Apa itu kawan?
Kok seperti kembang api di saat lebaran
Apa itu tungku pandai besi tukang bikin golok?”
“Bukan kawan
itu gunung api lagi meletus
itu berbahaya
kita mesti menjauhinya”.
“Ya kita agak ke arah utara saja”.
Gugusan kampret itu pun memutar haluan
agak ke arah utara
di atas pelabuhan Merak
awan Comulus beneran makin tebal
kapal-kapal merapat di dermaga
perahu-perahu nelayan ngumpet
di balik teluk.

“Kok cuaca begini jelek
teman-teman?”
“Ya kita agak turun saja
sekalian sarapan serangga laut”.
“Mana ada serangga laut?”
“Tapi ini memang musim barat”.
“Ya, tapi kita harus terus”.
Gugusan kampret itu pun
nekad nyemplung menyeberangi
selat Sunda
yang sedang kumat sangarnya
Pada saat itu
kebetulan Nyai Roro Kidul
yang menguasai Laut Selatan
sedang mengirim anak cucunya
para jin dan peri parahyangan
untuk mengaduk-aduk Selat Sunda
anak Krakatau juga makin ngambek
berton-ton pasir dan kerikil
dan uap panas disemprotkannya ke langit
para kampret oleng
angin
petir
badai
ledakan Krakatau
menghajar gugusan kampret itu
jadi cerai berai
ada yang langsung nyungsep lalu
dicaplok hiu
ada yang diangkat sampai
ketinggian 10 ribu meter
lalu dijatuhkan di Lebak
banyak juga yang dibanting-banting
sampai remuk
lalu sekalian digiling dan
ditaburkan di ladang-ladang singkong
di Lampung sebagai pupuk organik
hanya sebagian kecil saja dari rombongan itu
yang dapat selamat
dan berhasil menepi di daratan Sumatera.

***

Fragmen Migrasi Para Kampret

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: