LAPORAN PERJALANAN KAMPRET DARI PROPINSI LAMPUNG

21/12/2015 at 14:39 (puisi)

Setelah dipaksa
oleh si Oom yang ngarang buku ini
kami para kampret ini
segera terbang meninggalkan
Gunung Rajabasa
jumlah kami kira-kira tinggal 200 an ekor
padahal waktu start
dari Jakarta
jumlah kami sampai jutaan
sebagian besar mati dan hilang
waktu kami menyeberangi selat Sunda
lalu ada ribuan lagi yang ngabur
dari Gunung Rajabasa
lantaran pada protes tidak lagi
mau jadi tokoh buku ini

Hari memang belum terlalu gelap
tapi justru saat-saat seperti inilah
serangga makanan kami sangat banyak
karena perut kami sangat lapar
kami pun segera mencaplok
serangga-serangga itu
dengan sangat lahap
sambil terus menyusuri
kaki Gunung Rajabasa

Kami sengaja tidak melewati
kota Bandarlampung
jadi dari Gunung Rajabasa
kami terus ke arah utara
menuju kota Palembang
meskipun kami baru pertama kali ini
menerbangi angkasa pulau Sumatera
namun berkat adanya indera ke VI
kami para kampret dengan sangat mudah
menentukan arah
tidak perlu kompas
tidak perlu altimeter
kami semua sudah bisa segera
menguasai medan

Ternyata bumi Sumatera
khususnya Lampung
tidak seperti yang semula
kami bayangkan
vegetasi alam yang asli
sudah banyak yang rusak
beberapa malahan jauh lebih rusak
dari hutan-hutan lindung
di pulau Jawa

Kira-kira pukul sepuluh malam
(22.00 WIB)
kami para kampret mencium bau aneh
busuk luar biasa
segera kami memperendah terbang kami
kami sengaja agak mengumpul
agar lebih mudah berkomunikasi satu sama lain
nun di bawah sana tampak sebuah sungai
dari indera ke enam kami
ketahuanlah bahwa banyak ikan yang mati
beberapa rekan yang segera menjelajah
kawasan ini
segera melaporkan bahwa sungai itu
sudah tercemar oleh ampas singkong
ternyata di kawasan ini banyak sekali
pabrik tepug tapioka
dan ampasnya begitu saja dibuang ke sungai
kami tidak sempat menghitung
jumlah pabrik tapioka yang ada
tapi sepanjang perjalanan tercatat
sampai puluhan pabrik
kami terus terbang ke arah barat laut
bau busuk itu sudah jauh tertinggal
di belakang sana

Beberapa kampung dan kota kecamatan
kami lewati
kami banyak melihat surau
mesjid
pura
gereja
ada rumah-rumah model Jawa
ada yang model Sunda
model Bali
dan banyak juga rumah penduduk asli
meskipun penduduk-penduduk pendatang itu
dulunya transmigran
namun kesan dari indera ke enam kami
bau transmigran itu sudah tak ada lagi
tampaknya mereka sudah sangat kerasan

Menjelang tengah malam
ada beberapa rekan yang mengeluh
bahwa perut mereka mual-mual
semua kami mengira mereka ngidam
tapi ternyata cowok-cowoknya
juga mengeluh pusing dan muntah-muntah
dugaan kami kemudian
rekan-rekan itu
mabuk perjalanan
untung di antara rombongan ini
ada beberapa rekan yang tahu ilmu medis
rekan-rekan yang sakit itu segera diperiksa
terpaksalah rombongan berhenti
di areal kebun kelapa sawit
suasananya tampak gelap dan nyaman
ternyata rekan-rekan yang sakit itu
pada keracunan pestisida
tampaknya serangga-serangga
yang kami caplok sore tadi
banyak yang sudah mengisap cairan tanaman
yang barusan disemprot pestisida

Menurut rekan yang ahli medis tadi
teman-teman yang keracunan itu
pasti tidak akan tertolong lagi
memang kami tahu beberapa jenis daun
yang dapat kami makan
agar pengaruh jahat pestisida itu
bisa hilang
namun mereka yang kadar racunnya tinggi
pasti akan mati

Kami sedih
beberapa saat kemudian
rekan-rekan yang keracunan itu
memang segera mati
menurut perhitungan kami ada
43 ekor yang mati
terdiri dari 20 ekor jantan dewasa
16 betina dewasa
5 remaja dan 2 bayi kampret
mereka kami tinggal begitu saja
di kebun kelapa sawit

Untuk mengejar waktu
kami pun segera terbang lagi
ternyata sepanjang perjalanan ini
masih juga ada rekan-rekan yang mati
dan berjatuhan
kami putuskan untuk memperlambat
terbang
dan kami pun sepakat untuk
lebih berhati-hati lagi dalam
menyantap serangga
kami tidak berani lagi makan serangga
di sawah-sawah
di kebun karet
di areal kelapa sawit
dan di kebun-kebun cokelat
kami baru berani makan serangga
di hutan-hutan yang sudah rusak
di padang alang-alang
atau malahan di ladang singkong
menurut informasi dari indera ke VI kami
di kawasan-kawasan tadi
serangganya belum banyak tercemar pestisida

Kira-kira lewat tengah malam
kami beristirahat di sebuah hutan
yang sudah tidak perawan lagi
di situ memang masih ada gajah
tapi jumlahnya kami kira tidak begitu banyak
kami bergelayutan di dahan
dan ranting-ranting pohon
agar kami mengetahui jumlah rombongan ini
kami pun melakukan penghitungan
ternyata rombongan ini tinggal 110 ekor
tapi di luar dugaan kami
dari jumlah itu ada sekitar 20 an ekor
kampret setempat
para kampret Lampung ini tertarik
dengan iring-iringan kami lalu mengikuti
kami sudah menyarankan agar mereka
tidak usah ikut
tapi mereka ngotot
hingga kamipun membiarkannya
toh mereka tidak mengganggu

Setelah beristirahat sejenak
kamipun melanjutkan perjalanan
tampaknya kami sudah melewati
perbatasan propinsi Lampung
agar kami dapat mencapai kota Palembang
sebelum fajar
kecepatan terbang kami pun kami tambah
namun akibatnya beberapa ekor kampret tua
banyak yang tidak kuat lalu jatuh
perjalanan ini memang berat
tapi inilah risikonya jadi tokoh cerita
kami terpaksa harus tabah
harus tetap optimis
para kampret yang loyo
yang mudah putus asa
yang pesimis
memang tidak ikut bermigrasi
mereka ada yang tetap di kolong
jalan layang tol
ada yang tetap di Bumi Perkemahan Cibubur
ada yang menghuni Depo Lokomotif
ada yang di menara gereja
dan lain-lain
mudah-mudahan laporan perjalanan ini
tidak mengecewakan para pembaca semua
soalnya kami-kami ini
memang bukan wartawan
bukan pengarang
jadi laporannya ya cuma begini ini
terimakasih
dan maaf kalau tidak begitu bagus.

***

Fragmen Migrasi Para Kampret

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: