MIGRASI TANPA AKHIR

04/01/2016 at 10:50 (puisi)

Serangga makin tipis
tampaknya tak ada lagi pohon-pohon
tinggal jejak buldoser
ribuan kilo meter
semua capek
mata berkunang-kunang
kepala pening
otak mampet
tulang linu-linu

Semua tampak berwarna merah
langit merah darah
cakrawala merah darah
di bawah yang tampak hanya
canggal-canggal kering
yang mencuat, berwarna merah
di sela-sela jejak buldoser

Meskipun capek, ngantuk dan loyo
para kampret itu terus mengepakkan sayapnya
ke arah utara
kepakan sayap itu makin lemah
tiba-tiba seekor kampret
tak lagi mampu mengepakkan
sayapnya lalu meluncur jatuh

“Ada teman kita yang jatuh”.
“Ya, dia pasti mati”.
“Kita istirahat dulu”.
“Ya Oom, aku capek sekali lo”.
“Kenapa semua jadi tampak merah”.
“Itu kok ada pohon-pohon natal,
tapi warnanya kok merah begitu?”
“Iya ya, semua kok tampak merah begini sih?”
“Lo, bukan hanya langit dan tanah
dan pohon yang merah,
kamu juga merah kok!”
“Kita semua merah”.
“Ya, kita jadi merah”.
“Tidak, kita tetap hitam”.
“Ya, langit ya tetap biru”.
“Tanah ya cokelat, pohon-pohon hijau”.

“Kita sebaiknya tidak terbang
pada siang hari
terlalu riskan
lebih baik istirahat di bawah sana
sebentar lagi hari akan siang”.

Kampret-kampret itu lalu menukik turun
hari berangsur pagi
suhu udara dingin
sangat dingin
tapi sinar matahari
dari celah tajuk pinus itu hangat
belantara hutan-hutan tropis
di daratan Sumatera itu
sudah selesai dibabat habis
diratakan
dibajak
dan kemudian tumbuh eukaliptus
pinus merkusi dan akasia
ini hutan tanaman industri Bung!
manusia makin perlu kertas
untuk menulis
untuk bungkus kado
untuk dibuat majalah dan buku
untuk lap keringat
untuk cebok
kertas itu penting untuk manusia
juga tusuk gigi
sumpit untuk makan mi
peti-peti sabun
juga peti mati
semua itu penting
sangat penting.

Untuk keperluan sumpit
peti mati, kertas,
tusuk gigi dan lain-lain itu
hutan hujan tropis ditebas habis
lalu diganti akasia
eukaliptus dan pinus
gajah tergusur
tupai tersingkir
trenggiling mati
kodok terpojok
dan semut-semut bangkrut

Di tengah hutan eukaliptus itu
ada sebuah base camp kokoh
karena terbuat dari kayu-kayu yang bagus
para kampret itu masuk lalu
bergelantungan dan tidur

“Kita capek sekali ya Oom?”
“Ya, rombongan ini tinggal berapa ekor sih?”
“Enam puluh pak”.

Kemarin masih enam puluh satu
tapi tadi pagi kembali ada yang
nyungsep lalu matek
di tanah yang dibuldoser tadi”.

“Lama-lama habis ya kita ini”
“Oom, kenapa kita nggak sampai-sampai
sih? Aku bosan lo?”
“Sampai ke mana?”
“Ya, kita ini mau pergi ke mane?”
“Kita tidak pergi ke mane-mane!”
“Aku bosen
aku bosen dengan
perjalanan panjang
yang brengsek ini
aku mau berhenti di sini
aku capek”.
“You akan mati di sini
akan mati kelaparan
di sini tak ada belalang
tak ada nyamuk
tak ada kepik
tak ada kutu loncat
you pasti mati”.
“Biarin
semua nantinya kan pasti
mati
ngapain jauh-jauh amat
sampai Sumatera begini?
enakan di Jawa sana
kita dapat mati
dengan sangat tenang”.
“Ya, aku mau berhenti juga
capek!”
“Aku juga”.
“Aku juga ogah ah kalau
terus-terusan jalan tanpa tujuan!”
“Siapa bilang kita jalan tanpa tujuan?
jangan ngaco ngomongnya!”
“Betul Boss!
tujuan kita sangat jelas
kongkrit!”
“Kedamaian abadi
kita menuju ke kedamaian abadi!”
“Kedamaian abadi itu kentut
aku jadi muak dengan slogan
gombal begitu!”
“Diam semua!
dengarkan!
yang masih mau jalan
ayo ikut di belakangku
yang ingin pulang ke Jawa
ya sana pulang
yang ingin tetap di sini
ya silakan
dari dulu kita merdeka
tak ada tuntutan
tak ada paksaan
jadi jangan ribut”.

Kampret-kampret itu lalu diam
sepi
hanya ada bunyi daun eukaliptus kena angin
“Setelah menempuh jarak
demikian jauh
kita lalu jadi dapat menikmati
perjalanan ini
tujuan lalu menjadi tidak begitu penting”.
“Jadi gua kapur yang sepi dan
nyaman
tidak lagi penting Oom?”
“tidak”.
“Hutan yang perawan juga tidak perlu lagi Oom?”
tidak
“Mau perawan kek, ibu-ibu kek
janda, nenek-nenek
semua tidak lagi problem
no problem!”
“Ya, no problem”.
“Pokoknya cuek”.
“Kita jalan terus”.
“Anjing menggonggong kafilah berlalu”.
“Rawe-rawe rantas malang-malang putung”.
“Jalan adalah jalan”.
“Sumatera kita jelajahi
Aceh kita tonton dari udara”.
“Ke Malaysia mau nggak?”
“Ke mana sajalah, Singapur,
Vietnam, Jepang, Kalimantan juga boleh”.
“Bagaimana kalau ke Eskimo?”
“Kutup Utara saja sekalian
kita lihat Aurora”.
“Sekalian saja ke Mars
planet biru ini lama-lama juga membosankan”.
“Tidak
kita harus kembali ke Eden
Firdaus
itu lo yang dulu pernah dihuni manusia
Adam dan Hawa lalu ditutup Tuhan”.
“Ya kita harus bermigrasi ke sana
mari teman-teman.
Sumatera, gua kapur
hutan perawan
kutu loncat
semua jadi tidak penting
kita sudah menemukan kembali tujuan kita”
“Kompas kita ketemu
arah itu tampak jelas sekarang”.
“Firdaus”.
“Keabadian”.
“Ya kita akan ke sana
apa pun yang kita lakukan”.
“Sekarang tidur”.
“Nanti malam kita nyaplok nyamuk
lalu terbang menjelajahi planet ini”.
“Sip”.
“Pacaran, kawin, beranak
masih boleh ya Oom?’
“Tentu
semua harus tetap normal”.
“Oom sendiri?”
“Ya, nanti juga harus kawin
sama siapa kek,
pokoknya betina
kita harus jadi banyak
dan bertahan hidup”.

Sore itu matahari
dengan anggun
dan pelan sekali
angslup di antara pohon-pohon akasia
udara jadi makin dingin
para kampret menggeliat-geliat
mencicit-cicit
menggerak-gerakkan sayap
lalu terbang meninggalkan base camp itu
dengan gembira mereka mencaplok nyamuk,
belalang, kepik dan kutu loncat
mereka terus bertambah banyak
dan terus bermigrasi
entah sampai kapan
entah sampai ke mana
menghindari keserakahan
manusia.

***

Fragmen : Migrasi Para Kampret

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: