SEHABIS NONTON JAM DUABELAS

07/03/2016 at 10:41 (puisi)

seperti dilepas dari kurungan
kamipun bubar dan bergegas
mengenali wajah-wajah kami sendiri
di aspalan yang keras
lampu-lampu sudah surut sinarnya
pintu-pintu sudah terkancing seluruhnya
haruskah aku menuju ke rumah itu lalu
memanggili namamu
o, malam
tangan-tangan dingin di atas pundakku
langkah yang letih
lorong-lorong mengejang
dan patah di tikungan

Amb. 15 Mei 1979
Pernah dimuat di Harian Kompas, 10 Juni 79

AKU RINDU

itu sudah sejak dulu
tapi karena yang kurindu jauh
: jauh sekali
maka dengan bermacam akal
kuhibur diriku
aku menyanyi
kuhibur kupingku
aku nonton
kuhibur mataku
alangkah baiknya nyanyian dan tontonan
tapi aku rindu lagi
lalu akupun menghibur
tapi rindu lagi
dan sebab akalku habis
aku menyerah
lalu berindu-rindu.

3 Februari 1975

SELAMAT TINGGAL SUSTER ANTON

tapi itu tak kuucapkan; aku hanya diam
dan tanganku pun tak sempat kulambaikan
ketika dia turun dari delman
dan matahari masih di antara pohon-pohonan
aku hanya bisa tersenyum perlahan
begitu kaku
o jarak
sangat jauh kami kau pisah-pisahkan
dia berbaju putih berkerudung putih
erat-erat memegang tasnya
mengapa
mengapa tak ada yang bisa kukatakan padanya
mengapa aku hanya diam saja
mulutku terbungkam – sekat terkutuk
hanya hatiku bisa berbunyi
selamat tinggal suster anton
lirih sekali.

Jakarta, 5/11-‘74

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: