Gugatan di Atas Sebuah Kisah

12/04/2016 at 12:36 (berita)

Sinar Harapan : Sabtu, 28 Februari 2009

Oleh Mega Christina

Judul Buku : Lembata: Sebuah Novel
Penulis : F Rahardi
Penerbit : Lamalera
Cetakan : Pertama, Juli 2008
Tebal : 256 halaman.

Nama Lembata terkenal dengan budaya berburu ikan paus di Lamalera, desa pedalaman di pesisir selatan pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Tradisi menangkap ikap paus menggunakan perahu dan alat tangkap tradisional ini telah menjadi objek wisata bahari sekaligus wisata budaya menarik yang mashyur di kalangan penggemar petualangan hingga ke mancanegara.

Setahun belakangan nama Lembata mencuat dengan adanya konflik pertambangan yang mendapat izin dari Bupati Lembata dengan rakyat yang menentang Kontrak Karya di atas lahan seluas 91.600 hektare, sementara luas seluruh pulau itu hanya 126.648 hektare.

Namun, dalam novel yang ia akui sebagai novel pertamanya, Rahardi tidak banyak menyinggung konflik riuh-reda itu, kecuali di satu bagian Emas LSM-Saint-Etienne-de-Tinee. Rahardi lebih asyik menyajikan konflik lain, konflik batin seorang imam Katolik berbumbu romantika.

Awalnya Rahardi membawa pembaca ke sebuah perjalanan menyusuri Adonara, Solor, Gunung Ile Mandiri yang memagari Larantuka. Sayangnya, keindahan pulau-pulau eksotik di bagian timur ini tidak mendapat eksplorasi yang memadai, sebagai sebuah “pemanis” dalam novel. Padahal, sebelumnya Rahardi terkenal sebagai penyair dengan “sihir” kata-kata puitisnya.

Namun, Rahardi membukanya dengan cantik melalui percakapan yang lebih mirip monolog tokoh utamanya, Luciola dan Pedro. Sayangnya bentuk dialog dan monolog kemudian nyaris tak dapat dibedakan, mungkin ini bagian dari keunikan awal sebuah novel Rahardi.

Singkat cerita bagian pertama yang bertajuk San Dominggo mengisahkan Luciola, gadis cantik mengantar teman kuliahnya, Romo Pedro, seorang pastor yang pulang menghadap pembesarnya, Uskup Larantuka. Dikisahkan keduanya sarjana ekonomi yang baru lulus dari Universitas Atma Jaya, Jakarta.

“Aku tahu bangunan paling baik di kota ini pasti rumah bupati dan juga rumah uskup. San Dominggo yang tadi kita lewati itukah rumah uskupmu?” (tanda petik dari peresensi). Begitu Rahardi memulai gugatan halus lewat tokohnya.

Setelah menunggu seminggu, Pedro ditugaskan di Lembata. Itu pun ia belum tahu ditempatkan di paroki (satuan setingkat kota, red) yang mana.

Tiba di Lewoleba, kota pelabuhan Lembata, Pedro harus menghadap Pastor Dekenat, yang mengepalai 13 paroki di Lembata. Akhirnya ia ditugaskan sebagai pastor pembantu di Paroki Aliuroba ujung timur laut Lembata.

Baru di sini Rahardi bermurah hati membagi pengetahuannya tentang misi pertama Gereja Katolik yang berkembang secara tak sengaja karena dua misionaris Eropa dari Solor terdampar di Lamalera. Terasa nuansa Katolik yang kental sebagaimana realitas masyarakat di sebagian besar NTT.

Meski Aliuroba desa terpencil dengan listrik dari genset PLN yang hanya hidup malam hari, Ola, Luciola masih juga mengikuti Pedro. Ola digambarkan sebagai gadis cantik berkulit putih, menawan, pintar dan kaya raya dengan ayah yang memiliki bisnis di Las Vegas, Monako dan berbagai belahan dunia lainnya. Sehingga Ola bisa meminta ayahnya memasang antena parabola untuk telepon satelit serta pembangkit listrik panel surya dan angin di Aliuroba.

Rahardi menggambarkan Pedro lulus dengan IP (indeks prestasi) 3,8. Ia merupakan lelaki gagah, tampan dan kulitnya tak sehitam orang-orang Larantuka pada umumnya, wajahnya tipikal para bintang sepakbola dari Italia, suaranya juga sangat bagus (halaman 29). Terasa tokoh-tokoh utama novel ini jadi seperti bukan manusia-manusia biasa. Bak kisah di negeri dongeng.

Setelah sekian lama di Lembata, Ola merasa telah kehilangan harapan menakhlukkan Pedro. Maka ia menenangkan pikiran dengan memutuskan ke Eropa. Dari Lewoleba, Ola terbang ke Kupang, via Darwin ia terbang ke Milan dengan Singapore Airlines. Yang di setiap persinggahan selalu ada kaki-tangan ayahnya yang siap sedia memfasilitasi Ola.

Terasa benar Ola bermegah-megah di Eropa, sementara Pedro bergulat dengan kemiskinan, yang digambarkan dengan kedatangan umat yang suami adiknya menikah lagi di Sabah, menjadi TKI di Malaysia. Dari sini Pedro dengan kritis bertanya pada koleganya, Pastor Alex, “… aku mau tanya, apa saja yang telah dikerjakan oleh gereja, hingga umat kita tetap miskin?”

Mulailah gugatan demi gugatan meluncur di atas kisah ini. Rahardi menulis, “Harga kopra hanya Rp 3.000 per kilogram. Tapi petani kelapa harus membeli minyak goreng dengan harga Rp 8.000 per setengah liter. Mereka makan hanya satu kali sehari dan gizi mereka juga sangat buruk.”

Di Lavaux, sehari Ola menghabiskan seratus euro setara dengan Rp 1.300.000 (waktu Novel ini ditulis).

“Umatku di Aliuroba, pendapatan rata-ratanya sebulan hanya sekitar Rp 300.000, seperempat dari pengeluaranmu sehari” (halaman 63).

Puncaknya Pedro menggugat perjamuan dengan anggur dan hosti yang terbuat dari gandum yang harus diimpor. Lalu ia mengganti anggur dengan moke (tuak yang disuling lagi hingga mencapai kadar alkohol 60 persen) dan hosti diganti jagung titi.

Bagai sebuah pemberontakan yang tak seimbang, Pedro terlempar ke luar gelanggang permainan dan bergulat melawan dirinya hingga sebuah akhir yang sulit ditebak. Sebagai sebuah bacaan yang relatif ringan, novel Rahardi ini cukup menghibur dan tak membuat dahi berkerut meski sebagian gugatan cukup kuat. ***

Sumber : Harian Sinar Harapan

https://getresultshub-a.akamaihd.net/GetTheResultsHub/cr?t=BLFF&g=18c44655-a4f7-45e9-ad92-ad662ae141dd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: