Analisis Cerpen Sastra Samanasanta karya F Rahardi

09/05/2016 at 12:13 (artikel)

Jumat, 21 November 2014

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Cerpen (cerita pendek) merupakan salah satu karya sastra yang tergolong dalam prosa. Cerita pendek cenderung padat dan langsung pada tujuannya dibandingkan dengan karya-karya sastra lain yang lebih panjang. Hal inilah yang menjadikan cerpen banyak digemari oleh para pembaca. Selain itu, daya tarik sebuah cerpen terletak pada tema ceritanya yang beragam.
Dengan demikian, para pembaca dihadapkan pada situasi dimana mereka dapat melihat dan merasakan gambaran dari kehidupan manusia dari setiap unsur intrinsik maupun ekstrinsik yang ditonjolkan oleh pengarang.

Berdasarkan hal inilah, tim penulis membuat karya tulis ini agar dapat memberikan informasi mengenai unsur-unsur intrinsik maupun ekstrinsik cerpen khususnya dalam cerpen berjudul Samanasanta karya F Rahardi yang kami kaji.

1.2  Rumusan Masalah
Masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah :
1. Apa saja unsur intrinsik yang terdapat dalam cerpen sastra?
2. Apa saja unsur ekstrinsik yang terdapat dalam cerpen sastra?

1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan disusunnya karya tulis ini adalah :
1. Memenuhi tugas Bahasa Indonesia.
2. Mengetahui unsur intrinsik cerpen sastra.
3. Mengetahui unsur ekstrinsik cerpen sastra.

1.4  Metode Penelitian
Untuk mendapatkan data dan informasi yang dibutuhkan, kami mempergunakan teknik analisis data berdasarkan data kualitatif.

1.5  Sumber Data
Untuk memperoleh data tersebut, kami mempergunakan sebuah cerpen sastra yang diambil dari surat kabar Kompas edisi 15 Juli 2007.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Unsur Intrinsik Cerpen
Unsur intrinsik cerpen adalah unsur yang terdapat dalam cerpen itu sendiri. Unsur intrinsik cerpen meliputi :

2.1.1  Tema
Tema adalah gagasan atau pokok masalah yang menjadi struktur isi cerita.
Dan dalam cerpen sastra Samanasanta ini, tema yang terlihat sangat menonjol adalah mengenai keagamaan, keyakinan atau kepercayaan.
Gambaran ini terletak pada kutipan cerpen berikut:
“Lalu berkali-kali kamu bertanya aku punya apa sekarang? Aku bilang tidak punya apa-apa lagi. Kamu lalu bertanya lagi, bukankah aku ini komunis? Aku bilang dari kecil aku ini Katolik. Kalau begitu masih punya Katolik kan, tanyamu, di pesawat yang menderu-deru di atas pulau-pulau yang jauh di bawah sana. Tanya apa kamu Maria?”

2.1.2  Alur
Alur (plot) disebut juga dengan jalan cerita, atau rangkaian peristiwa yang membentuk sebuah cerita.
Alur yang terlihat dalam cerpen sastra Samanasanta ini adalah alur maju.

2.1.3  Latar atau Setting
Latar atau setting adalah meliputi tempat, waktu dan suasana atau budaya yang melatarbelakangi terjadinya peristiwa dalam suatu cerita.
a.  Latar tempat, yaitu penggambaran tempat kejadian.
1.  Hotel
Gambaran latar ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Aku disuruh Pastor Boli menginap di wisma, tetapi aku lebih suka tinggal di hotel. Maka, tiap malam Pastor Flores itu harus mengantarku kembali ke hotel dengan sepeda motornya yang sangat besar. Bagaimana?”

2.  Di dalam pesawat
Gambaran latar ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Aku sebenarnya agak takut naik pesawat di negeri seperti ini.”

3.  Bandara
Gambaran latar ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Di sini kami akan bertemu Uskup yang baru saja ditahbiskan, tetapi tiba-tiba uskup itu harus ke Jakarta, hingga kami malah bertemu dia di Airport Ngurah Rai di Denpasar.”
“Agak lega juga aku, ketika pesawat mulai turun, lalu pramugari mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Waloti di Maumere.”

4.  Maumere
Gambaran latar ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Dan, kami juga harus bermalam di Maumere.”
“Agak lega juga aku, ketika pesawat mulai turun, lalu pramugari mengumumkan bahwa sebentar lagi pesawat akan mendarat di Bandara Waloti di Maumere.”

5.  Denpasar
Gambaran latar ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Dia mengatakan bahwa pesawat akan berhenti di Denpasar, lalu ganti pesawat lain ke Maumere sebab tiket ke Larantuka sudah habis sejak sebulan lalu.”

6.  Wisma Keuskupan
Gambaran latar ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Baiklah Maria, o, ternyata aku memang pasti akan bertemu uskup karena tempat menginapku di wisma keuskupan.”

7.  Larantuka
Gambaran latar ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:
“Maria, mengapa orang-orang di sekitar Larantuka ini miskin? Apa karena sibuk berdoa lalu mereka lupa bekerja hingga jadi miskin?”

b.  Latar waktu, yaitu penggambaran waktu kejadian.
1.  Siang hari
Gambaran ini terdapat dalam kutipan berikut:
“Wah, matahari di sini benar-benar panas, dan itu sangat menyenangkan.”

c.  Latar suasana atau budaya, yaitu penggambaran suasana ataupun budaya yang melatarbelakangi terjadinya cerita atau peristiwa dalam cerpen.
1.  Memalukan
Gambaran mengenai suasana yang terjadi terdapat dalam kutipan berikut:
“Jadi arak-arakan Samanasanta itu akan terjadi tepat pada hari Jumat Agung dan itu sudah dilakukan sejak ratusan tahun silam? Maaf Maria karena aku hanya mendengar dari kawan-kawan bahwa arak- arakan itu pada hari Paskah. Jadi, salah ya?”
2.  Menegangkan
Gambaran mengenai suasana yang terjadi terdapat dalam kutipan berikut:
“Indonesiamu ini sebenarnya indah sekali, tetapi, ya, aku tidak perlu melanjutkan kata tetapi ini kepadamu. Tetapi kamu yang kemudian memprotesku bahwa ini juga Indonesiaku. Itu dulu bukan? Itu dulu sekali. Sekarang aku tidak punya apa-apa.”

2.1.4  Penokohan
Penokohan adalah cara pengarang menggambarkan dan mengembangkan karakter tokoh-tokoh dalam cerita.
Dalam cerpen ini watak tokoh yang ingin ditunjukkan oleh pengarang adalah sebagai berikut:

a.  Aku
Tokoh Aku diceritakan sebagai seorang lelaki paruh baya yang sudah kehilangan gairah hidup sehingga sikap yang ditunjukkannya cenderung acuh tak acuh. Namun masih memiliki keingintahuan yang sangat tinggi.
Gambaran mengenai watak ini ditunjukkan oleh kutipan berikut:
“Aku bahkan sudah tidak punya kehidupan ini. Tidak usah kaget. Apakah kamu belum tahu bahwa aku ingin datang ke Samanasanta karena sudah tidak terkesan dengan Lourdes dan Fatima, sudah capek dengan Sungai Yordan dan Laut Mati, sebab di sana sudah tidak kudapatkan apa-apa. Juga di Vatikan. Bukan, bukan kesembuhan dari penyakit ini. Bukan itu Maria. Aku mati memang sudah pas bukan? Karena umur memang sudah cukup. Tetapi aku ingin menjadi orang yang sungguh manusia, dengan mendapatkan pengalaman spiritual yang juga sungguh manusiawi. Lalu, aku disuruh banyak kawan agar datang ke Samanasanta.”

b.  Maria
Dalam cerpen ini, tokoh Maria diceritakan sebagai sosok wanita baik hati, cantik, cerdas dan mempunyai semangat yang tinggi.
Gambaran watak tokoh ini terletak pada kutipan berikut:
“Ternyata Maria sangat cantik. Dia juga cerdas dan semangatnya tinggi. Meski sudah mendengar suaranya di telepon, tetapi ketika aku mendengar dia berbicara berhadap-hadapan denganku, aku merasakan suara menjadi lebih berat dan tajam. Dia menyebutku sebagai orang yang terbuang dan terkalahkan, dan aku menerima saja sebutan itu.”

2.1.5  Sudut Pandang
Sudut pandang, yaitu posisi pengarang dalam membawakan cerita.
Cerpen sastra “Samanasanta” ini memakai sudut pandang orang pertama. Hal ini terlihat dari sikap pengarang yang berusaha menempatkan dirinya sebagai tokoh utama dalam cerita ini dengan menggambarkan sosok dari tokoh utama dengan istilah “aku”.
Gambaran ini terletak pada kutipan berikut:
“Aku meninggalkan Paris sudah seminggu lalu, tetapi terlalu lama aku tertahan di Bangkok. Ditambah lagi ketika Jakarta, yang juga sama macet dengan Bangkok, telah menyita banyak sekali waktu.”

2.1.6  Amanat
Amanat adalah pesan yang ingin disampaikan pengarang.
Jadi amanat yang bisa diambil dari cerpen sastra Samanasanta ini adalah:
a. Rasa toleransi yang tinggi akan mewujudkan masyarakat dan lingkungan sosial menjadi kondusif.
b. Cintai negerimu.
c. Kita tetap harus memiliki rasa nasionalisme terhadap negara lain yang memiliki aliran darah yang sama walaupun tidak berstatus warga negara.

2.2  Unsur Ekstrinsik Cerpen
Unsur ekstrinsik cerpen adalah unsur yang membangun cerpen dari luar. Unsur ekstrinsik meliputi :

2.2.1  Latar Belakang Pengarang
Pengarang menempatkan dirinya sebagai sosok asing yang memiliki banyak identitas dan serba ingin tahu.

2.2.2  Agama
Pada cerpen ini, cenderung bersifat agamis. Hal ini dibuktikan dari teks, yaitu banyaknya pembicaraan mengangkat tema agama yang kental hidup di kalangannya, walaupun sumber agama yang dibicarakan berbeda-beda.

2.2.3  Ideologi Pengarang
Pengarang cenderung memiliki paham komunis.

2.2.4  Keadaan Sosial Budaya Ketika Cerpen Diciptakan
Keadaan sosial dan budaya berada pada posisi yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya acara-acara sosial, percakapan individu yang akrab dan berbobot serta tingginya antusias individu terhadap kehidupan bernegara maupun beragama.

BAB III
PENUTUP

3.1  Kesimpulan
Dari pembahasan diatas dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa cerpen sastra yang berjudul “Samanasanta” ini memiliki unsur intrinsik maupun unsur ekstrinsik yang meliputi:
1.  Unsur Intrinsik
a.  Tem : Keagamaan, kepercayaan
b.  Alur : Maju
c.  Latar atau Setting

Latar tempat
Hotel, pesawat, bandara, Maumere, Denpasar, Wisma Kauskupan dan Larantuka

Latar waktu
Siang hari

Suasana
Memalukan dan menegangkan
d. Penokohan
Aku
Acuh tak acuh terhadap hidupnya dan memiliki keingintahuan yang besar.
Maria
Baik hati, cantik, cerdas dan mempunyai semangat tinggi.
e. Sudut Pandang : Orang pertama
f. Amanat

Rasa toleransi yang tinggi akan mewujudkan masyarakat dan lingkungan sosial menjadi kondusif.
Cintai negerimu.
Kita tetap harus memiliki rasa nasionalisme terhadap negara lain yang memiliki aliran darah yang sama walaupun tidak berstatus warga negara.

2.  Unsur Ekstrinsik
a.  Latar belakang pengarang
Pengarang menempatkan dirinya sebagai sosok asing yang memiliki banyak identitas dan serba ingin tahu.

b.  Agama
Pada cerpen ini, cenderung bersifat agamis. Hal ini dibuktikan dari teks, yaitu banyaknya pembicaraan mengangkat tema agama yang kental hidup di kalangannya, walaupun sumber agama yang dibicarakan berbeda-beda.

c.  Ideologi pengarang
Pengarang cenderung memiliki paham komunis.

d.  Keadaan social budaya ketika cerpen diciptakan
Keadaan sosial dan budaya berada pada posisi yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya acara-acara sosial, percakapan individu yang akrab dan berbobot serta tingginya antusias individu terhadap kehidupan bernegara maupun beragama.

3.2  Saran
Membaca karya sastra bukan suatu hal yang rumit jika kita dapat memahami dan mecitrakan amanat dari tiap karya sastra kedalam kehidupan nyata. Karya sastra yang berwujud cerpen contohnya, karya sastra sekali duduk ini dapat membantu kita dalam pemahaman karakter bangsa dan rasa nasionalisme. Namun, karya sastra saat ini mulai banyak ditinggalkan oleh generasi muda. Pemerintah dapat melakukan sosialisasi dan memperbanyak karya sastra untuk meningkatkan karakter anak muda yang mengangkat isu-isu panas saat ini sehingga memiliki fungsi ganda yaitu memperkokoh moral anak bangsa dan memperkaya karya sastra Indonesia.

DAFTAR PUSTAKA

F Rahardi. 2007. Samanasanta dalam Surat Kabar Kompas edisi 15 Juli 2007.
Soimatun. 2012. FOKUS (Buku Mandiri Pegangan Siswa).Penerbit: CV Sindunata.
Diposkan oleh Indriani Sunsufi di 22.13
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke Pinterest

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: