Sastra: Bersastra Gembira Ria Badak Merdeka

19/05/2016 at 14:11 (berita)

Minggu 24 April 2016 00:44 WIB

Pembuka

Dengan riang gembira saya mengarang tentang buku Negeri Badak karangan F Rahardi (Visimedia, Jakarta, 2007) karena ikut bersukacita dengan kegembiraan bangsa badak dalam Negeri Badak. Mereka bebas merdeka sesuka hati, tenang, terhormat.

Riang gembira ini tidak melucu. Riang gembira adalah modal terpercaya untuk memroses karyacipta yang absolut bersifat pribadi. Kegembiraan adalah titik tolak agar akalbudi (nalar berperasaan dan perasaan bernalar) berdasar tahap superego (psikologi kepribadian) dan teknis-fungsional (evolusi kebudayaan) bisa berfungsi. Inilah dasar kepengarangan. Tanpa itu semua, daya cipta yang absolut privat akan rusak karena dua tetek-bengek.

Tetek-bengek pertama, mengarang lalu menjadi beban, menyangga dominasi sosial dari orang-orang dan label-label mengatasnamakan sastra yang asal-usulnya beraneka-ragam dalam mutu dan kredibilitas. Kedua, nilai kreatif kepengarangan turun derajat. Menjadi kerja teknis demi  nilai-nilai tidak jelas antara lain menyangkut Uang dan Hasrat Narsis yang bisa diperoleh dengan pengakuan dari klik-klik sastra pendaku diri paling hebat, yang heboh kriterianya, sebagai ikutan peradaban zamannya. Zaman sekarang. Zaman edan peradaban slintutan.

Sebab hebat itu berada di zaman edan, maka hebat itu bisa saja tidak hebat.

Jadi, karangan tentang Negeri Badak ini tidak bermaksud cari pengakuan dari klik-klik sastra manapun. Karangan ini hanya melayani proses kreatif individual yang riang gembira, bertumpu pada kalbu hasil internalisasi akalbudi pribadi, tidak terpaku referensi-referensi dan  ikutannya plus daur-daur ulangnya, untuk menentukan buku Negeri Badak itu hebat atau tidak.

Memang. Hebat lalu menjadi kata penting. Mengapa? Sebab Indonesia membutuhkan karya-karya sastra yang hebat untuk mengimbangi dan syukur mampu melawan penjajahan zaman edan peradaban slintutan. Penjajahan itu saat ini makin merajalela sebab akalbudi tidak berfungsi lalu mengelu-elukan peradaban ultra-kanan yang licik dan rakus. Tragedi kita. Akibat langsung dari akalbudi banyak penguasa yang masih berlepotan dengan mental slintutan Orde Baru.

Karya-karya sastra yang hebat itu syukur dikarang pengarang yang hebat. Tetapi tidak hebat juga tidak apa-apa. Nyatanya, ada saja pengarang dengan sepakterjang kacau-balau, toh karangannya hebat. Kehebatan itu bukan sekedar berdasar  “wouw!” tanpa juntrung produksi instan budaya nista hura-hura taklukan kapitalisme pasar global yang lagi menang, tapi berdasar norma obyektif Sastra Indonesia yang benar dan baik.

Begitulah. Berangkat dari badak-badak merdeka yang riang gembira, saya mengarang dengan riang tentang karangan F Rahardi. Menjadi karangan kuadrat! Semoga dua kata ini, riang dan kuadrat,  tidak makin bikin repot sastra Indonesia yang sudah selalu repot sejak orang mulai melek huruf  sampai sekarang. Versi lengkap tentang kerepotan itu berupa buku berjilid-jilid yang sebagian besar rumit. Saya membuat versi singkatnya saja, berupa pantun:

Suara sia-sia lewat mengaduh
Teriak lupa serak serba gaib
Sastra indonesia hebat sungguh
Banyak rupa banyak wajah ajaib

Sastra Indonesia repot, karena keajaiban? Meski dalam Sastra Indonesia ada banyak keajaiban menyangkut genre, jenis, angkatan, kanon, ideologi, dll, termasuk tokoh-tokohnya yang ajaib (tidak semua), selama kita masih riang gembira,  tidak apa-apa. Aman! Apalagi jika kita punya kredo begini: sebagai entitas, Sastra Indonesia itu luas, kompleks, dan kaya masalah. Tidak apa-apalah.  Kita boleh tetap riang gembira menghadapi soal itu juga. Artinya,  kredo kita bertambah: ketidak-jelasan hakikat Sastra Indonesia tidak berubah.

Dalam situasi obyektif semacam itu, sebagai dua entitas yang sama-sama otonom, terjadi korelasi antara F Rahardi – mungkin lantaran iba atau cinta –  dengan Sastra Indonesia. Mereka saling isi, saling begini dan begitu, akhirnya saling jring-jring-jring. Sang pengarang bunting. Maka lahirlah Negeri Badak.

Cinta atau iba tersebut boleh diabaikan. Yang penting: Negeri Badak sudah lahir. Menjadi buku. Menjadi entitas merdeka di depan dan di dalam dua entitas, Sastra Indonesia dan F Rahardi. Tiga entitas ini lalu berkorelasi secara niscaya dan dialektis dalam pergumulan manusia dengan sastra.  Ini membawa akibat berupa perintah yang harus ditaati akalbudi, pendasar peradaban manusia bijak, sumber budaya sastra. Bunyi perintah itu: kritik atas Negeri Badak mensyaratkan pemahaman yang benar dan baik tentang Sastra Indonesia secara total. Totalitas!

Negeri Badak dan Sastra Indonesia

Maksud dalam Pembuka di atas: Negeri Badak bisa diulas berdasar apa saja: sospolekbud, hankam, iptek, hukum, pengetahuan, agama, isme, ideologi, dll. Juga bisa dikritik dalam bentuk apa saja:  segala karya soal sastra di koran, majalah, internet, dan di semua jenis media. Tetapi semua ulasan-kupasan-kritikan itu akan mubazir tanpa dilandasi pemahaman yang benar dan baik tentang Totalitas Sastra Indonesia.

Ditodong dan  ditakut-takuti dengan prasyarat di atas, saya justru makin riang gembira, tenang, merdeka,  terhormat, lalu membuat sebuah dongeng pendek:

Kuburan. Sunyi senyap. Kepada segala Entah di balik kuburan, Humpipah menanyakan cara terjitu agar bisa memperoleh pemahaman yang benar dan baik tentang Totalitas Sastra Indonesia. Segala Entah sedang riang gembira, serta merta menjawab, pemahaman itu bisa diperoleh dengan kerendah-hatian yang riang gembira.

Saat itu juga, Humpipah bertekad menjadi manusia rendah hati yang riang gembira. Ia jumpalitan, menari-nari, menyanyi-nyanyi, lalu baca, baca, dan baca selama lebih setengah abad. Begitu ia selesai membaca, tiba-tiba di depannya muncul Sastra Indonesia dalam wujudnya yang total, benar, dan baik. Sastra Indonesia itu telanjang bulat, terang benderang, besar sekali, luas sekali, panjang sekali, tinggi sekali dan dalam sekali.

Bisa membayangkan wujud tersebut? Jika tidak, ya tidak apa-apa. Rata-rata orang Indonesia dan bahkan mayoritas pengarang sinetron Indonesia  juga belum sampai di sana. Padahal, sastra adalah akar sinetron. Aneh. Mengapa mereka mengabaikan dasar dan filosofi  bidang profesinya sendiri? Tidak mampu riang gembira dengan tenang dan terhormat?

Menyedihkan sekali.

Memang. Tapi sudahlah. Semoga para menteri bidang media, hiburan, dan pendidikan pada suatu saat  mampu riang gembira dan rendah hati dengan tenang dan terhormat, sehingga mampu menghasilkan kerjasama dengan para pejabat negara urusan sastra dengan bersungguh-sungguh. Lalu mampu menanggulangi masalah di atas. Dus, tak usah bersedih. Mari riang gembira lagi!

Kita kembali fokus pada keterang-benderangan Totalitas Sastra Indonesia. Segera kita melihat titik-titik kecil tak terhitung. Salah satu titik adalah buku Negeri Badak. Kita butuh mikroskop untuk bisa meneropong ini itunya. Soal kecil. Sebab kita sudah bertekad menjadi rendah hati dan riang gembira, maka mikroskop itu sudah siap sedia membantu, dengan riang gembira pula. Namun sebelum meneropong Negeri Badak, kita tinjau sejenak sang Totalitas Sastra Indonesia yang benar dan baik.

Totalitas Sastra Indonesia

Mengingat peta situasi obyektif  sang Totalitas Sastra Indonesia seperti dikisahkan di atas, kita langsung bahagia. Betapa kayaraya sisi-sisi dan sudut-sudut Sastra Indonesia. Tak terhitung banyaknya.  Artinya, itu termasuk kekayaan masalahnya juga. Tidak usah bersedih. Selama kita masih riang gembira, kita akan mampu bersyukur jika bisa mengunjungi bagian-bagiannya yang paling representatif. Inipun sejatinya masih amat kurang. Namun, dengan kerendah-hatian riang gembira yang tahu diri dan tahu batas, alias dengan tenang dan terhormat, segala akan oke. Kita sudah lega apabila sudah mampu berkunjung di empat bagian terdasar.

Pertama, ilmu buminya.

Segera kita saksikan, sastra Indonesia adalah lahan-lahan kecil kurang dari satu hektar sebagai bagian-bagian kecil gugusan belasan ribu pulau, dipimpin bos-bos dari segala jenis kelamin. Mereka satu sama lain acapkali kisruh (di zaman Manikebu lawan Lekra terjadi terus menerus) sebab dua kubu tersebut sama-sama merasa diri maharaja agung belasan ribu pulau Nusantara. Tentu tidak semua begitu. Ada juga yang rendah hati. Tapi, bos-bos rendah hati ini rata-rata cuma bersembunyi, senyum-senyum, dan malu-malu saat terjadi kerepotan dan kekisruhan menyangkut Sastra Indonesia.

Artinya: kinerja sastra kita secara geografis kapanpun, paling dekat atau paling muda sejak zaman Hindia Belanda sampai hari ini, hanya mewakili sastra Indonesia pada lahan kecil geografis masing-masing kawasan. Mereka mustahil serta merta mewakili Sastra Indonesia yang luas secara total. Mustahil menjadi final meliputi seluruh Nusantara.

Kedua, sejarahnya.

Mengingat Indonesia adalah bentuk lanjut Nusantara, Sastra Indonesia sebagai ikutan bahasa Melayu bahasa pasar, menelan belasan abad. Pemetaan dan rumusan menyangkut periodisasi sastra Indonesia yang di suatu saat dianggap bagus, pada masa lain sudah  tidak lagi mencukupi dan sukar bisa dipertanggung-jawabkan di depan akalbudi yang sehat. Memaksakan suatu hal besar berdampak luas hanya berdasar mindset  kuasa bos-bos di suatu saat dan tempat terbatas, adalah wujud fasis-narsis-kolonialis. Ini tak boleh dibiarkan merajalela. Perlu digugat terus.

Ketiga,  ragawi alias materialitasnya.

Ini adalah wujud nyata Sastra Indonesia paling sederhana. Cukup dengan taraf kesadaran nalar naluriah paling sederhana, segera bisa kita saksikan: Totalitas Sastra Indonesia bersangkut-paut dengan buku, penerbit, suratkabar, majalah, redaktur, editor, organisasi, lembaga, radio, televisi, film, situs-situs di internet, honorarium, royalti, dan lain-lain. Dengan ujung: uang dan hasrat tampil unjuk diri memuasi naluri narsis. Jadi, merupakan bagian paling mudah dan  primitif dalam peradaban.

Keempat, batiniah alias spiritualitasnya.

Dalam bentuk ini  ia mengacu akal budi, selera, benci, simpati, pengalaman, penghayatan, dan segala perkara dalam diri orang-orang yang berkecimpung dalam entitas tersebut. Ini adalah bagian Totalitas Sastra Indonesia yang paling agung  tetapi rumit sebab hanya bisa dicerna dengan akalbudi puncak ialah berdasar tahap pasikologis superego (dunia mikro kemanusiaan, jagad cilik) dan tahap budaya teknis fungsional (dunia makro semesta, jagad gedhe) di dalam proses peradaban.

Bagian Ragawi Totalitas Sastra Indonesia

Sederhana adalah ajektif tentang suasana yang lugu, asli, altruis, dan suka saling tolong. Maka sastra sebagai bagian senibudaya adalah suasana sejuk para bijak mengedepankan keindahan, warna-warni, berujung pada cintakasih. Itu memang terjadi, sebanyak 10%. Yang 90% menjadi dunia buatan yang dibikin-bikin, egoistik, narsistik. Peta 10% dan 90% ini memang 100% cuma dugaan saya, yang hanya ingin mengatakan tentang “sedikit sekali” dan “banyak sekali”. Nah, menatap prosentase itu,  riang gembira saya lenyap, menjadi dukacita. Di depan saya terkuak tahta-tahta sastra, didirikan bos-bos. Latar belakang pribadi mereka warna-warni. Semua warna itu, pada awal memasuki dunia kepengarangan, dalam garis besarnya terdiri dari dua kawanan.

Pertama, para aktifis sastra, relawati-relawan tanpa pamrih, idealis, yang budi pekertinya menarik hati. Kedua, para penyelonong, umumnya kaum luntang-lantung yang bingung mencari nafkah sebab ogah berkeringat, ada juga yang suka mabuk, lalu mengadu untung dengan coba-coba menjadi pengarang.

Dari dua kawanan itu, ada yang berhasil dan ada yang tidak. Yang berhasil lama-lama naik derajat. Mulai bergaya-gaya dan makin banyak tingkah, setelah menjadi bos-bos. Mereka sewenang-wenang kepada para pengarang biasa tanpa kuasa yang dianggap pengganggu dan pesaing, bukan dengan cara terbuka tetapi slintutan, semisal menganginkan semua karya para pengarang tersebut. Terhadap para pengarang pendatang baru, kesewenang-wenangan para bos itu lebih norak sehingga tidak ada gunanya diuraikan lebih jauh.

Namun, dalam setiap musibah konon selalu muncul berkah. Akibat kesewenang-wenangan itu muncul macam-macam tandingan atau perlawanan, proses kelahirannya sampai menjadi mapan,  tidak berbeda dari pihak yang ditandingi dan dilawan. Petanding dan pelawan yang sukses, lalu juga menjadi bos-bos, menjadi insan-insan yang ajaib pula.

Oleh sebuah Panitia Sayembara Sastra kaliber nasional, hal tersebut dilukiskan begini: “Sastra Indonesia kian berkembang pesat. Ini ditandai dengan banyaknya karya sastra yang terbit, baik oleh penerbit mayor maupun beredar di kalangan indie. Geliat sastra tidak hanya terpusat di kota-kota besar, melainkan juga menyebar begitu masif ke berbagai pelosok negeri.”

Lho? Menjadi positif betul Totalitas Sastra Indonesia saat saya berdukacita melukiskan kenegatifannya. Itu bukan berarti persepsi saya tentang Totalitas Sastra Indonesia bertolak-belakang dengan Panitia Sayembara. Tapi tetap ada bedanya.

Pemetaan Totalitas Sastra Indonesia oleh Panitia Sayembara itu masih bersifat fenomenologis ragawi kasat mata berdasar himpunan data empiris gejala-gejala yang bersifat obyektif. Sedang persepsi  saya akan Totalitas Sastra Indonesia sudah nomenologis dan batiniah yang tidak kasat mata berdasar refleksi individual atas segala di balik gejala-gejala. Refleksi individual ini bersifat subyektif yang absolut, harta termulia untuk dayacipta dalam kepengarangan.

Dengan seluruh uraian di atas, kiranya cukup sudah modal untuk mempelajari dan mengupas buku Negeri Badak, untuk menentukan apakah ia hebat atau tidak.

Negeri Badak dan Sastra Indonesia yang Ragawi

Mengingat bagian ragawi Totalitas Sastra Indonesia merupakan bagian paling sederhana, studi atas Negeri Badak juga diawali dari bagian ragawinya. Dari konteks ini, terbitnya Negeri Badak menandai Sastra Indonesia  sehat dan hebat. Pada 2009 ia memperoleh SEA Award di Bangkok dan Penghargaan Pusat Bahasa di Jakarta. Namun, kehebatan ini baru terbatas dalam konteks ragawi Totalitas Sastra Indonesia. Konteks batiniahnya samasekali belum diuji, apakah Negeri Badak memang sama hebatnya. Ini akan diuraikan tersendiri. Nanti.

Masih dalam konteks ragawi, buku Negeri Badak ini disebut novel oleh sebagian orang. Sebagian yang lain menyebutnya  prosa lirik. Yang terakhir ini mengingatkan kita pada banyak karya sastra Nusantara yang diciptakan berabad-abad silam. Karya-karya prosa lirik purba itu misalnya, kronologis dari yang termuda sampai yang tertua: Gatoloco, Darmogandhul, Zaman Edan, Jangka Jayabaya, Ila Galigo (Bugis), Punu Nange (Soa, Flores), sejumlah lagu dolanan Jawa, dan masih sederet daftar judul yang panjang sekali.  Jadi, prosa lirik itu bukan barang baru bagi Republik Indonesia sebagai bagian Nusantara.

Baiklah. Disebut novel dan prosa lirik. Atau novel prosa lirik. Hanya begitu? Sebagai bagian kinerja sikap pikir banyak orang di dalam peradaban slintutan zaman kita sekarang? Negeri Badak hanya novel prosa lirik tanpa sebutan-sebutan lain? Bagaimana jika ia lebih besar atau lebih kecil daripada itu? Mengapa tidak disebutkan buku Negeri Badak adalah “novel prosa lirik berhaluan sangat kiri dengan ekspresi kanan sekali” atau “roman bersajak komedi tragis realisme sosialis berhaluan kanan” atau “novel suasana bernuansa roman bertendens dengan haluan kiri kanan yang hilir mudik”, misalnya? Atau rumusan-rumusan lain apa saja yang selalu bisa dibikin-bikin? Dalam perkara ini, saya sedang buka praktik menjadi filsuf, hanya bertanya sekedar membuka wacana, dan tugas saya selesai di situ.  Saya yakin tersedia sejumlah orang yang lebih berkompeten memberi keterangan lebih jauh tentang wacana yang bisa menjadi ensiklopedia itu.

Yang pasti betul, Negeri Badak adalah buku. Maka ia menjadi penting. Bahkan penting sekali. Kehebatan Negeri Badak adalah karena ia menjadi buku, sumber dan alat terpenting untuk kontemplasi. Di depan banyak entitas lain di bumi, barangkali buku itu lebih penting. Yang pasti, buku lebih penting katimbang presiden, raja, dan apalagi diktator.

Namun, di zaman informasi ini, buku juga ditantang oleh “kawan” sendiri, yaitu keangkuhan sibernetika. Seorang bos besar Google baru-baru ini sesumbar, lima tahun mendatang buku akan tumpas sebagai bagian ketumpasan media cetak. Bos besar itu salah besar! Buku bentuk cetak akan abadi, sebagaimana semua bentuk media terdahulu tidak akan mati oleh bentuk media kemudian, bila pihak pertama mempertahankan martabatnya dengan gagah berani dan tidak menjadi kambing congek pihak kedua. Justru soal inilah yang menjadi salah satu alasan saya mengarang tentang Negeri Badak, sebagai buku cetak, produk peradaban yang  martabatnya menjadi sumber keberlangsungan kegiatan manusiawi yang terpuncak: kontemplasi!

Selanjutnya, posisi Negeri Badak sebagai idea di depan buku harus dipertegas. Mereka dua entitas  otonom. Secara fisik, Negeri Badak  memang buku. Namun di dunia ini terdapat bermilyar buku,  dan tidak semua buku adalah buku sastra. Juga  tidak setiap buku sastra adalah buku sastra yang hebat.  Hal sama berlaku bagi para pengarang. Ada banyak pengarang, tetapi tidak setiap pengarang adalah pengarang hebat yang mengarang buku sastra yang hebat.

Sebagai ilustrasi, untuk menjelaskan wacana di atas, saya kisahkan peristiwa berikut.

Di Belanda, suatu ketika, di salah satu periode hidup saya. Dalam berbagai kesempatan kumpul-kumpul di antara orang-orang Indonesia, seorang ilmuwan Minang yang saat itu berkacamata tebal (ia lebih tua katimbang saya padahal saya kini sudah tua sekali), berulang kali berkata:

“Anu  itu hasil kerjanya ngocok dan ngocok melulu!”
Saya kaget. Dua kawan saya, Th A Sumartana almarhum dan Parakitri, senyum-senyum saja. Anu adalah nama terkenal di bidang sastra dan jurnalisme Indonesia sejak 1960-an sampai sekarang. Sebagian karyanya saya baca.

Tidak penting apakah karya Anu itu bernilai begini atau begitu, yang jauh lebih penting, masalah di atas harus direnungkan. Tuduhan kasar-vulgar-emosional itu ditujukan tidak kepada orang, tetapi pada karya. Lepas dari tuduhan itu benar atau ngawur, berbasis hal-hal hebat atau cuma berbasis sentimen pribadi, saya bisa memahami. Ia tetap harus direnungkan.

Apakah tuduhan itu menyangkut keterkenalan? Berarti salah alamat. Sebagai bagian ragawi Totalitas Sastra Indonesia, keterkenalan memang penting tetapi bukan terpenting. Ini selalu bisa direkayasa dengan banyak cara, sayang dianggap segalanya oleh anak-anak puber. Banyak nama terkenal atau dibuat terkenal dengan sebutan “papan atas” atau “figur kuat” dan sebutan-sebutan hebat yang lain, tidak serta merta menyangkut karangan-karangan yang hebat. Mereka hanya dikenal namanya dan tidak dibaca karangannya. Di antara banyak nama terkenal itu, yang saya kenal pribadi bisa dihitung dengan jari dan semua karyanya pernah saya baca. Yang tidak saya kenal pribadi, karena keterbatasan diri dan sehari semalam hanya 24 jam, ada yang saya baca karya-karyanya, dan banyak yang belum pernah saya baca karyanya.

Dengan kata lain, keterkenalan dalam Totalitas Sastra Indonesia menjadi jagat bikinan yang dibikin-bikin mereka yang berkepentingan. Siapa saja bisa apa saja terhadap siapa saja dan apa saja. Menjadi hal penting atau sampah, terpulang siapa saja dan apa saja itu sendiri.

Pertanyaan berharga bagi siapa saja yang merasa terpanggil untuk berkecimpung di bidang Sastra Indonesia, khususnya bagi kaum muda: mengapa harus terbius oleh nama (yang dianggap) hebat, menjadi beo-beo tukang tepuk tangan, merasa celaka jika terkucil tidak dimasukkan dalam klik sang bos, sehingga otonomi, pendasar kesejatian diri, terlantar atau bahkan dikorbankan?

Soalnya, pengarang yang otonom (sejatinya berlaku untuk semua profesi kecuali mungkin profesi militer, polisi, PNS, mandor-mandor  pabrik dan sejenisnya) tidak perlu grup dan tidak perlu restu dan pengakuan siapapun. Otonomi pengarang terletak dalam ketahanan mencipta karangan terus dan terus, sendiri dan sendiri, sampai mati.

Dengan seluruh uraian di atas, posisi buku Negeri Badak  di dalam bagian ragawi Totalitas Sastra Indonesia, telah saya upayakan selengkap mungkin semampu saya.

Hakim yang Legitim bagi Buku Negeri Badak

Juga, seluruh uraian di atas mengantar pada penajaman tentang kemampuan empat unsur terpenting Totalitas Sastra Indonesia sebagai dasar untuk menilai karya sastra. Saya berpendapat, tiga dari empat unsur yaitu unsur ilmu bumi, sejarah, dan unsur ragawi tidak meyakinkan untuk digunakan sebagai dasar penilaian.

Unsur ilmu bumi dan sejarahnya, karena amat kompleks, tidak bisa dikupas lebih jauh. Akan sia-sia belaka,  nyaris mustahil bisa menemukan hakikat, martabat dan intinya. Maka, sungguh tidak bertanggungjawab memaksakan kompleksitas yang belum menemukan hakikat-martabat-intinya sebagai dasar untuk memberi penilaian yang total terhadap suatu karya sastra, dalam hal ini, buku Negeri Badak. Dua unsur tersebut tidak pantas menjadi hakim.

Hal sama terjadi dalam unsur bentuk ragawinya. Sebagai entitas paling primitif tetapi bisa menjadi sangat kompleks karena faktor-faktor yang tidak relevan bagi sastra,  ia samasekali  tidak berwibawa menjadi salah satu dasar penilaian. Ia tidak akan mampu menjadi hakim untuk menilai buku Negeri Badak itu hebat atau tidak.

Tiga dari empat unsur sudah tidak lulus menjadi hakim. Mulai berdukacita? Jangan. Itu penyakit bagi kreativitas pribadi. Mari kita bergembira ria lagi, bersama bangsa badak di Negeri Badak. Masih tersisa satu unsur dalam Totalitas Sastra Indonesia yang bisa diandalkan menjadi hakim, yaitu, unsur batiniahnya. Kita sambut sang hakim ini dengan kegembiraan.Mengapa? Karena ia mengandung paling sedikit delapan hakikat-martabat-inti:

Pertama, ia mewakili seluruh unsur Sastra Indonesia yang betapapun kompleksnya, kacau-balaunya, gegap-gempitanya, yang belum pernah tuntas.

Kedua, ia mendalam dan menyeluruh serta mengatasi semua sekat-sekat yang dibikin-bikin oleh tiga unsur Totalitas Sastra Indonesia ialah unsur ilmu bumi, sejarah, dan unsur ragawinya.

Ketiga, ia tajam, kritis, argumentatif, meyakinkan, dan kaya dengan perspektif saat dihadapkan pada siapa dan apa saja menyangkut sastra yang jumlahnya sebanyak bintang di angkasa, termasuk menghadapi buku Negeri Badak karangan F Rahardi.

Keempat, ia hanya berurusan dengan ihwal-perkara mendasar yang inspiratif, orisinal, berani, dan segar sehingga bisa mementahkan segala konvensionalitas.

Kelima, di era informasi perannya sangat menentukan bagi peradaban saat umat manusia terkecoh oleh kemenangan budaya global  ultra kanan yang licik dan rakus.

Keenam, ia garda terdepan dan sumber refleksi menuju kontemplasi sebagai bidang kemanusiaan yang terpenting demi keterwujudan peradaban yang mulia. Ia mengingatkan mutu kehidupan merosot sebab orang makin jauh dari kontemplasi. Berkat kontemplasi, kita bisa membedakan mana baik mana buruk dan mana benar mana salah manakala tidak sedikit warga bangsa dan banyak sekali pejabat di negeri ini amat asing atau pura-pura asing dengan hal tersebut.

Ketujuh, butir di atas selaras dengan sikap sang pengarang Negeri Badak di dalam blognya: “Banyak hal tak beres di negeri ini saya kritisi. Saya menulis Migrasi Para Kampret, Negeri Badak, Menggugat Tuhan, Menguak rahasia Bisnis Gereja; bukan karena sakit hati pada Indonesia dan gereja, tapi karena pengelolaan negeri dan gereja yang tak beres wajib dikritisi.”

Kedelapan, menyangkut keindonesiaan, ia menunjukkan dasar Totalitas Sastra Indonesia adalah pengarang Indonesia sendiri. Sekalipun hidup di zaman edan peradaban slintutan, apabila di Indonesia tersedia banyak pengarang hebat akan lahir banyak karangan hebat pula. Karangan yang semacam apa itu?

Buku Sastra yang Hebat

Kini kita sampai pada bagian terpenting karangan ini, berkenalan dengan buku sastra yang hebat berdasar hakikat-martabat-inti unsur batiniah Totalitas Sastra Indonesia. Apa ukuran terpenting buku sastra yang hebat? Ukuran terpenting: isi dan pesannya bisa menjadi “wahyu” pembawa ilham menuju ke sebuah peradaban yang benar dan baik.

Berdasar itu, maka buku Negeri Badak adalah satu dari banyak bintang kecil di langit yang tinggi. Ia hebat dari sudut isi dan pesan dalam tumpuan media di mana informasi, pendidikan dan hiburan menyatu dalam korelasi yang dialektis sehingga segala kelemahan sejumlah unsur struktural dalam sastra konvensional semisal pendahuluan, penokohan, plot, dramatisasi, penggawatan, klimaks, peluruhan, dstnya bisa “dimaafkan, diabaikan atau dimafhumi” karena memang tidak dikupas khusus dalam karangan ini.

Meski demikian, “pemaafan, pengabaian, dan pemafhuman” itu bukan tanpa alasan. Dalam wujud ragawi menyangkut struktur isi, buku Negeri Badak adalah kumpulan 29 mozaik terdiri atas 1 Prakata, 1 Daftar Isi, 24 Bab, 1 Epilog, 1 Daftar Singkatan, dan 1 Biodata yang satu sama lain berkorelasi dialektis saling mengisi dan tidak bisa dipisahkan.

Dengan karakter mozaik semacam itu, buku Negeri Badak seperti punya privilese bisa sesuka hati dengan absah mementahkan segala persyaratan struktural sebuah prosa, novel, dan roman. Bukan berarti menafikan atau anti. Ada tokoh-tokoh namun seperti bukan tokoh dan bisa diganti siapa dan apa saja. Ada dramatisasi tapi seperti dramatika datang mendadak, tanpa proses mengapa bagaimananya, tanpa permisi, tanpa logika runtut, tapi bisa dimengerti. Ada latar dan alur, tetapi latar itu seperti bisa terjadi di mana saja, dan alur itu bisa berproses tanpa proses dan tanpa ke-bagaimana-an yang logis.

Hal sama terjadi dalam seluruh unsur-unsur strukturalnya. Negeri Badak membuat semua kebekuan menyangkut kanon, hukum, ukuran, norma, aliran, gaya ungkap berbahasa, kategorisasi, periodisasi, dan 1001 sistem sastra, menjadi cair lentur gemulai.

Dengan tambahan uraian di bagian ini, posisi unsur batiniah Totalitas Sastra Indonesia sebagai hakim makin kuat dan makin terpercaya dan makin legitim.

Maka, lihatlah!

Buku Negeri Badak dengan takzim penuh hormat menunggu vonis sang hakim yang mulia. Ternyata, vonis itu sederhana, cuma dua. Pertama, vonis atas Negeri Badak terkait peradaban global. Kedua, vonis atas Negeri Badak terkait peradaban Indonesia.

Negeri Badak dan Peradaban Universal

Yang disebut vonis itu dalam kenyataan cuma rumusan tentang sangkut paut buku Negeri Badak dengan peradaban universal. Negeri Badak oleh hakim dianggap hebat karena memuat banyak hal ihwal baik dan benar yang dibutuhkan peradaban sedunia kapanpun dan di manapun.

Artinya, ia mengandung banyak informasi penting. Hampir di setiap bab dalam 25 bab, diawali dengan pembukaan disebut Prakata sampai penutup disebut Epilog, buku ini kaya informasi berharga bagi peradaban universal dan peradaban Indonesia. Di sini sang pengarang agaknya sedang uji coba menunjukkan kesenimanannya yang merdeka riang gembira. Wahai, para ahli tatabahasa dan para pakar Sastra Indonesia, coba tebak mengapa saya pilih pasangan Prakata dan Epilog, bukannya pasangan Prakata dan Pascakata atau Prolog dan Epilog?

Tidak penting apakah para pakar sastra Indonesia mampu menebak atau tidak, yang penting, Negeri Badak disebut hebat karena paling sedikit menyajikan lima pesan berikut:

Pertama, Negeri Badak diciptakan dengan keluasan wawasan yang mampu merumuskan kebutuhan umum yang membuka faham pembaca ke arah peradaban mulia dunia seisinya. Hal  ini tampak dalam empat cuplikan berikut.

(1) Bab 4, Penjarahan II, halaman 31:  Hongkong / kawasan bisnis yang sibuk / dan kaya itu / bukan hanya perlu cula badak dan / kontol macan / dia juga senang lobster dan ikan napoleon / dan dolar Hongkong yang dikibas-kibaskan / aromanya sampai ke teluk Panaitan / Taman Nasional Ujung Kulon.
(2) Bab 8, halaman 89: mengapa bukan Vatikan atau Mekah / mengapa harus selalu Hongkong / dan Cina / mengapa bukan Batak / bukan Aborigin / bukan Badui Dalam / apakah karena mereka etnis terbesar / di planet ini / atau sejarah mereka yang sangat / panjang dan jauh ke belakang sana / atau karena mata mereka yang sipit itu / yang persis mata badak?
(3) Bab 22, halaman 268: bahkan bisa saja kita merasa terheran-heran, mengapa tiba-tiba saja kita ada dan mengapa di sini, di ruang ini, di saat ini, bukan di Antartika, bukan di Tibet, bukan di galaksi lain, bukan di milenium lain? Kita tidak akan pernah tahu, padahal kita ingin sekali tahu, dan akan terus berusaha supaya tahu, meskipun kita sadar upaya itu, akan sia sia. Semua akan tetap menjadi rahasia abadi.
(4) Bab 23, Mozaik Jakarta 1998, halaman 292+293: Jakarta, kubangan dengan 10 juta manusia itu, sekarang menjadi kebun binatang raksasa.

Kedua, Negeri Badak memberi informasi penting tentang agama yang umumnya dianggap segala-gala itu acapkali bikin repot dunia. Ini bisa direnungkan di antaranya dari cuplikan berikut: “Benar mbah! Pengarang cerita ini juga sulit untuk dimintai pertanggungjawaban. Dia terus berusaha mengelak sambil melemparkan tanggungjawabnya langsung kepada Tuhan YME!” –  “Nah, kan sulit? Sebab Tuhan memang sumber dari segala-galanya. Dan kalau sudah dilemparkan ke sana permasalahannya jadi buntu!” (bab 17, bab 17 lagi, mestinya bab 18, Interogasi I,  halaman 210).

Ketiga, ia membela kemerdekaan individu dan sosial secara total dan melawan segala bentuk kejadian yang muaranya mengerdilkan jati diri manusia di mana pun dan kapanpun. Ini bisa disimak antara lain dalam 3 cuplikan berikut:

(1) Bab 15, Badak dan Presiden II, halaman 176: “Tuan Presiden! / Kalau sekarang tuan berduka / maka sumber duka itu ada di dada / atau perut atau kepala Anda!”
(2) Bab 18 (mestinya bab 19, aneh juga pihak berwajib tidak mengabaikan kekeliruan ini), Interogasi II, halaman 215: Mengapa? / mengapa para mahasiswa itu / harus mati / harus luka-luka / harus kesakitan?
(3) Bab 21, Insiden di Markas Besar, halaman 252: Manusia modern takut pada atasan. Takut kekuasaannya tumbang. Takut borok-borok kehidupannya terbongkar. Makanya jangan punya borok.

Keempat, Negeri Badak menawarkan pemerdekaan pikir  yang riang gembira. Ini nyaris bisa ditemukan di setiap bab atau mozaik buku, semisal dalam lima cuplikan berikut:

(1) Dia itu yang menulis buku ini / Hati-hati lo / Dia itu sangat berkuasa / Dia lebih berkuasa dari presiden  atau / kepala Taman Nasional dalam buku ini (Bab 2, 12-13).
(2) Seratus ekor badak bercula satu / daratan Ujung Kulon / (Bukannya di Ujung Kulon tinggal sekitar / 50 ekor saja?) / Seratus ekor badak / Seratus! (Cerewet amat kamu itu! Seribu itu terlalu banyak, apalagi sejuta. Nanti susah ngitungnya!) {Bab 6, halaman 58}.
(3)  Bab 15, Badak dan Presiden II,  halaman 171: Merdeka itu hanya ada di hati kita masing-masing. Jadi, menuntut kemerdekaan kepada pihak lain adalah hal yang mustahil. Ketidakberdayaan, ketidakbebasan sebenarnya kita ciptakan sendiri.
(4) Bab 16, Sang Narapidana, halaman 180+181: Politik memang keras, berjuang menegakkan kebenaran dan demokrasi, lalu menjadi sama dengan copet, maling ayam, dan pemerkosa anak tetangga.
(5)  Bab 17,  Episode Sore, halaman 195: Memang. Merdeka itu tidak mudah. Merdeka itu harus iklas. Tidak diikat oleh apapun. Oleh harta, oleh anak istri, oleh atasan, oleh pangkat, oleh keinginan. Itu baru namanya merdeka.

Kelima, bisa ditemukan tersebar dalam banyak bab, Negeri Badak kaya dengan pesan-pesan positif, secara langsung atau tersamar,  agar manusia menjadi benar, baik, jujur, peka, obyektif,  jenaka, pintar, mulia, bergairah, cekatan, ekspresif, artistik, rajin, tekun, disiplin, bersikap terbuka, anti klik-klikan, tegas, tegar prinsip tapi lentur cara, berempati kepada semua orang tanpa membedakan SARA, dan selalu usil terhadap segala hal yang tidak beradab.

Negeri Badak dan Peradaban Indonesia

Di depan peradaban Indonesia, buku Negeri Badak dinilai positif. Hakim berpendapat, Negeri Badak mencerminkan Pancasila di dalam praktek.

Pertama, menjadi perenung segala soal rohani (sila pertama), mengantar manusia ke arah religiusitas tingkat sufi dan kritis terhadap sikap pikir keagamaan yang mabok.  Ini muncul di antaranya dalam 3 cuplikan berikut:

“Aroma apa ini?” / Seekor perkutut kaget lalu terbang / ke arah timur. / “Aroma Tuhan ya? Atau Setan?” (Bab 7, halaman 68).
“Kita tidak akan ke mana-mana / kita akan jadi hantu / akan jadi kenangan / dan akan hidup abadi” (Bab 10, halaman 106).
Roh yang sempurna, tak ada lagi baik dan buruk, suci dan dosa, panas dan dingin, semua saling mengisi, saling melengkapi (Bab 12, halaman 140).

Kedua, Negeri Badak itu manusiawi (sila kedua) yang antara lain bisa direnungkan dari 2 cukilan berikut:

1. Jendral itu, pundaknya agak melorot ke bawah ditindih empat bintang di kiri,  empat bintang di kanan, dan sederet tanda jasa di didada (bab 20, halaman 230).
2. Jenderal itu, dengan seragam yang mulai lusuh, dengan perut lapar, dengan nyali yang sudah menciut drastis, masuk ke peralatan body transfer, lalu tahu-tahu sudah berada di istana Bogor, yang penuh dengan badak, ratusan, mungkin ribuan (bab 20, halaman 242).

Ketiga, Negeri Badak itu patriotik (sila ketiga). Hal tersebut bisa ditemukan di banyak halaman, antara lain bisa disimak lewat 3 cuplikan berikut:

(1) Bab 11, Pantun Mahasiswa dan Sang Jendral: mahasiswa tak takut digantung, mati satu tumbuh seribu (halaman 122); (2) mahasiswa bersandal dilawan bedil, dihadang panser dihajar pentungan (halaman 123); (3) Beberapa mahasiswi lalu mencopoti baju mereka, mencopoti pakaian dalam mereka, melepas pakaian dinas sang jenderal, lalu live show pun dimulai (halaman 128).

Keempat, Negeri Badak membuat senang sebanyak mungkin orang atas nama kerakyatan yang bijaksana penuh mufakat (sila keempat). Fakta ini bisa disimak misalnya dalam 3 cukilan:

Bab 5, Penjarahan III, halaman 55: Awas! Jangan rebutan! Antre satu-satu! / Ayo, kita antre sembako! / Embah duluan. Embah itu harus nomor satu!
Bab 12, Doa Para Badak, halaman 139: marilah kita tidak / saling menuding tidak saling menikam / roh bisu / marilah kita berlomba diam
Bab 16, Sang Narapidana, halaman 184: polisi dan tentara mendadak linglung / sebelas petugas terluka parah / seratus napol hilanglah sudah / hanya napol

Kelima, Negeri Badak itu anti korupsi dan prokeadilan (sila kelima), memberi informasi tentang kesenjangan kaya-miskin yang makin dahsyat:  Ini bisa disimak antara lain dari 4 nukilan berikut:

(1)  badak yang jelek membela jenderal, karena kolusi dan uang sogokan (Bab 11, Pantun Mahasiswa dan Sang Jendral, halaman 125).
(2) Rumah besar, modelnya tidak jelas, untuk apa juga kurang kentara, bahkan milik siapa, juga tak ada jawabnya (Bab 13, Insiden Sentul, halaman 142).
(3) Tamu-tamu agung itu diangkut dengan heli, langsung dari bandara atau hotel bintang 5 tempatnya menginap (halaman 144).
(4) Lalu rakyat? Wong cilik, kawulo alit, gembel, para sudra, para waysia, para paria, kaum proletar, yang selalu lapar, yang selalu menuntut dan menuntut, lalu berontak, demo, bolehkah mereka masuk istana Sentul? (Bab 13, halaman 145).

Keenam, di samping menjadi Pancasila di dalam praktek, Negeri Badak memuat banyak informasi berharga yang harus dicerna, dipikirkan secara mendalam untuk ditindaklanjuti oleh bangsa Indonesia secara terus-menerus sebab mayoritas bangsa tidak tahu hal-hal dahsyat berdampak luas di balik informasi yang tampak sederhana. Ini bisa direnungkan dari 4 cuplikan berikut:

(1) sekelompok ninja bergerak cepat / langkah mereka tegas / tangan-tangan mereka cetakan / nyali mereka tinggi / dengan alat-alat dengan eknologi canggih / sarana komunikasi lengkap / dengan heli / dan kapal selam (bab 1, halaman 7).
(2) rombongan penjarah itu / mendirikan base camp / mereka menebang pohon / semua pohon / mereka merampas ternak penduduk / semua ternak / mereka memperkosa gadis-gadis / dan wanita-wanita yang masih layak / untuk diperkosa (Bab 3, halaman 25).
(3) E, jangan ikut-ikutan gila kamu. Dia itu simpanannya jenderal, konglomerat, menteri, presiden, Presiden pun masih ikut-ikutan. Kamu lagi! (Bab 5, halaman 51).
(4) “Sorak-sorai bergembira / bergembira semua / sudah pecah otak kita / juga otak pembaca / mari kita ledakkan / kepala kita semua / agar kita bisa bebas / dari amukan badak!” (Bab 9, halaman 104)

Ketujuh, Negeri Badak tidak menjadi corong elite politik bagi kepentingan umum  tetapi menjadi corong kepentingan umum agar dicerna elite politik. Maka mempunyai semangat investigasi yang tinggi terhadap isu-isu sosial.  Hal ini bisa direnungkan dari 4 cuplikan berikut:

Partai-partai politik / tetap ramai / seperti anak-anak TK / yang berhamburan ke arena /play ground setelah sekian jam diperam di kelas (bab 25, halaman 311).
Presiden sudah kita tahan, Menhankam juga ada di tangan,Jakarta menjadi kubangan hewan, mengapa kita hanya diam? (bab 24, halaman 296).
Bangunan bertingkat itu dijaga ketat. Apakah yang disimpan di sana? Pesawat tempur canggih? Senjata kuman? Kapal selam nuklir? Dokumen penting? Emas batangan? Permata berharga? Tokoh GPK? Pacar gelap? Atau apa? (Bab 21, Markas Besar,  halaman 243)
Aparat keamanan, intel, Wapres, Menhankam/Panglima TNI, Kapolri, Kapolda, Pandam, semua sibuk dan cemas tapi dalam hati berharap, semoga Presiden itu terus lenyap, sebab ada peluang untuk menggantikannya (Bab 14, Badak dan Presiden I, halaman 159).

Penutup

Menulis karangan semacam ini sepertinya berat sekali tetapi begitu selesai membuat saya sungguh bahagia. Harganya tidak ternilai. Tak bisa ditebus dengan apa saja, bukan nilai materialnya, tetapi batiniahnya. Mudah-mudahan ini bisa dimengerti oleh semua pihak yang terpanggil dan terpilih untuk bersetia di dalam, berkat dan demi kesusastraan.

Yang pasti, menengok ke belakang  tahun 1958 saat saya kelas 4 SR (sekarang SD) di Kutoarjo dan menemukan “tulisan” saya dimuat di Rubrik Anak koran Kuang Po, Semarang, Jateng, lalu sejak itu saya mulai senang menulis sampai sekarang, rasanya  hidup bersastra sebagai bagian berkesenian berkebudayaan berperadaban itu gampang-gampang susah. Maka susahnya dianggap tidak ada saja. Meski kesusahan di dalamnya seluas lautan.

Jadi, diambil gampangnya saja.
Caranya:  mengarang dengan riang, terus, sampai mati, tak usah gubris siapa, apa, bagaimana, mengapa, di mana, dan kapan yang membuat pilu akalbudi dan kalbu kita sendiri.
Dan itu hanya akan terjadi jika kita baca nulis dan baca nulis: terus!

Gunung Merbabu, April 2016

Sumber : Indonesiana Tempo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: