PEREMPUAN MEMESAN REMBULAN: Sebuah Telaah Cerpen

23/05/2016 at 15:06 (polemik)

Pengantar Sahaja

Sastra yang baik bukanlah akrobat kata-kata, fatwa Hamsad Rangkuti dalam acara Temu Sastra – Masyarakat Sastra Asia Tenggara di Palangkaraya, pada bulan Juli silam. Paparan menarik mantan Pemimpin Redaksi Horison itu menjadi bahan obrolan “serius” di rimba sastra nusantara. Bahkan sempat menjadi polemik yang mengundang F. Rahardi turut bersuara. Tentu saja, polemik itu mencerahkan dan menggairahkan bagi para penggiat dan penikmat sastra, termasuk saya.

Sesungguhnya, pemikiran dan pengetahuan saya terlalu terbatas, maka saya tidak berani bahkan sekadar menimpali runcingnya polemik itu. Bagaimanapun, lampu kuning yang dinyalakan Hamsad (Kompas, 24 Agustus 2008) kepada penggiat sastra agar tidak semata menghabiskan waktu dengan bermain akrobat kata-kata dan mengikuti tren penulisan, merupakan petuah berharga yang patut diperhitungkan. Begitupun dengan anjuran F. Rahardi (Kompas, 27 Juli 2008) tentang perlunya eksplorasi yang bisa menghasilkan energi ekstra, menimbulkan kesegaran, dan menghilangkan rasa kantuk.

Akan tetapi, hubungan mesra Hamsad dan F. Rahardi malah menjadi alat picu gairah menulis saya. Beberapa pertanyaan singgah, lantas mengendap di benak saya. Apakah benar karya sastra dewasa ini cenderung sibuk bermain akrobat kata-kata? Mengapa kita perlu mengabaikan tren? Bagaimana eksplorasi semestinya dilakukan? Pertanyaan-pertanyaan itu mengajak saya membaca karya sastra dengan cara paling intim untuk melakukan telaah ringan yang santai.

Dalam menelaah karya sastra, saya mencoba mengarahkan fokus saya, bukan pada apa yang dipikirkan oleh orang lain tentang kritik sastra, juga bukan pada apa yang saya perkirakan sendiri. Saya membaca banyak koran mingguan untuk mengayakan wawasan tentang bagaimana sastrawan pembaca lain mengupas karya sastra. Saya juga menghabiskan waktu berhari-hari untuk mengaduk-ngaduk isi lemari perpustakaan pribadi saya, yang tidak seberapa koleksi bukunya, demi penyegaran paradigma tentang kritik sastra. Maka, saya tidak perlu mengumbar kekurangan dari sebuah karya sastra, melainkan menyimpannya sebagai bahan ajar dan bahan belajar. Sekali lagi, saya seperti bayi yang sedang belajar merangkak. Sesekali saya membutuhkan bantuan orang dewasa yang lebih dulu bisa berjalan, agar saya bisa tegak berdiri. Jika tidak, saya hanya akan menjadi bayi yang terlambat memiliki kemampuan untuk tegak berdiri, berjalan, apalagi berlari.

Oleh karenanya, saya memaafkan diri saya untuk tidak terlalu sibuk menguarkan ketidakberesan karya sastra, tetapi ini bukan sebagai wujud ketakutan sendiri jika harus ”mencela” tulisan banyak orang yang lebih berpengalaman dan lebih dulu malang-melintang di rimba penulisan. Saya hanya membaca apa yang bisa saya lihat dengan jelas dan nyata, dan yang bisa saya simpulkan secara pasti, karena dengan cara seperti itulah saya memperoleh pengetahuan, termasuk pengetahuan menulis.

Mengapa saya, secara agak ekstrem, membincangkan tentang apa yang harus dan akan saya lakukan dalam menelaah karya sastra? Hal ini dikarenakan, pertama, kritik sastra itu bukan pekerjaan gampang, butuh kejernihan pandangan dan mesti banyak meluangkan waktu. Kedua, saya ingin tetap menjadi seorang pembaca sastra yang nyaman agar terus bersemangat menelaah karya sastra, bukan berhenti membaca karena lelah menggali kuburan yang mungkin bisa menimbun pengarangnya. Ketiga, saya berharap bisa mencerap bukan semata sisi baik dari sebuah karya sastra, melainkan semuanya, sebanyak-banyaknya.

Adapun cerpen yang saya pilih menjadi bahan telaah saya adalah Rembulan dalam Cappucino karya Seno Gumira Ajidarma yang dimuat di Kompas, Minggu 30 November 2003.
Rembulan itu Mengecil Sebesar Bola Pingpong

Sekitar 490 tahun SM, Protagoras dalam Robin Waterfield (1987) pernah menegaskan bahwa manusia adalah ukuran segalanya. Artinya, apa yang tampak bagi setiap manusia bisa dipastikan memang ada. Dengan demikian, sesuatu itu sekaligus ya dan tidak, baik dan buruk, bahwa isi dari semua pernyataan yang bertentangan dengannya adalah benar atau salah, sebab kerapkali ada sesuatu hal tertentu yang tampak indah bagi beberapa orang dan buruk bagi yang lain, dan bahwa apa yang terlihat oleh masing-masing manusia itulah ukurannya.

Seno Gumira Ajidarma (SGA) membuka cerpennya dengan permainan kata yang kuat, penuh metafora dan merangsang pengembaraan hening. Coba kita lihat paragraf pembukanya:
Seminggu setelah perceraiannya, perempuan itu memasuki kafe, dan memesan Rembulan dalam Cappucino. Ia datang bersama senja, dan ia harus menunggu malam tiba untuk mendapatkan pesanannya.

Perceraian, dewasa ini, bukan lagi aib yang memalukan atau sesuatu yang perlu ditutup-tutupi. Bahkan, beberapa kasus perceraian artis-artis ternama menjadi tontonan dan santapan khalayak. Perceraian pun selalu menarik untuk disimak proses sebelum, selama, dan setelah perceraian itu berlangsung.

SGA dengan cergas menggambarkan sosok ”perempuan” tak bernama, mengunjungi sebuah kafe, seminggu setelah perceraiannya. Boleh jadi perempuan itu berniat melupakan derita perceraiannya atau hanya untuk menunaikan hasrat lapar dan dahaga, dengan memesan menu yang hanya bisa disaji sekali saja, Rembulan dalam Cappucino. Sekali untuk selamanya. Itulah mengapa sehingga perempuan itu rela berlama-lama menunggu malam tiba demi mendapatkan pesanannya. Apalagi, ia tahu menu itu sudah lama diincar bekas suaminya.

Sebagaimana yang terjadi pada diri tokoh perempuan, demikian jugalah yang terjadi pada kehidupan. Yang penting bukanlah seberapa cerdas SGA memainkan tokoh dan alur cerita, melainkan seberapa baik kita mencerap pengalaman tokoh perempuan dan membandingkannya dengan pengalaman kita sendiri. Tidak penting di bagian mana kita berhenti, entah berakhir bahagia seperti harapan kita atau kesudahan yang menyakitkan. Seperti tokoh perempuan itu, kita juga semestinya bisa mengakhiri derita dengan cara yang bijak bagi diri sendiri: mendahului bekas suaminya memesan rembulan.

Apa yang disukai oleh seorang kekasih yang hangat adalah memandang orang yang dicintainya, dan ini adalah semacam persepsi yang dipilih dari beragam persepsi, dengan mengandaikan bahwa memandang orang yang dicintainya itulah yang membuatnya jatuh cinta dan tetap berada dalam cinta. Demikian pula, tentu saja, apa yang berharga bagi keragaman adalah kemampuan menerima perbedaan.

Mereka bergumam, tapi tidak menjadi gempar, bahkan pura-pura seperti tidak terpengaruh sama sekali. Mereka kembali duduk dalam bahasa yang beradab, namun diam-diam melirik, seperti kepalsuan yang telah biasa mereka peragakan selama ini.

Kenyataannya, tidak banyak di antara kita yang mampu menerima perbedaan itu dengan lapang dada. Hal ini digambarkan dengan manis oleh SGA. Bangsa kita sedang larut secara sistematis dalam upaya pelestarian budaya kasak-kusuk, budaya curiga, budaya membicarakan “lebih banyak kejelekan orang lain”. Sehingga, kita akan terperangah dan membangun asumsi sendiri jika ada orang lain melakukan tindakan tidak wajar, perbuatan di luar kebiasaan orang-orang kebanyakan. Kemudian, kita akan berpura-pura mengalihkan perhatian, namun sesekali melirik, karena didesak rasa ingin tahu: benarkah perempuan itu memesan rembulan?

Perempuan itu bukan tidak tahu kalau orang-orang memperhatikannya. Apakah perempuan itu akan memakan rembulan itu, menyendoknya sedikit demi sedikit seperti menyendok es krim, ataukah akan menelannya begitu saja seperti Dewa Waktu menelan matahari?

Oleh karena manusia, seperti ditasbihkan Marcus Tullius Cicero, orang-orang selalu membenci siapa pun yang lebih baik daripada mereka. Kebencian itulah yang kemudian menyulut perselisihan. Buah dari kebencian dan perselisihan itu adalah dendam kesumat, dendam seorang perempuan yang dicerai suaminya sehingga perempuan itu gelap mata dan menelikung apa saja dambaan masa kecil bekas suaminya.

Seminggu kemudian, seorang lelaki memasuki kafe itu, dan memesan minuman yang sama.
SGA menggiring kecerdasan pembaca menuju persepsi: lelaki yang memasuki kafe itu pasti bekas suami tokoh perempuan. Lantas, mengapa ia masuk ke kafe itu? Pasti karena ingin menunaikan hajat masa lalunya, memesan minuman Rembulan dalam Cappucino. Sayang sekali, minuman pesanannya sudah diseruput bekas isterinya. Dan, lelaki itu, langsung tenggelam dalam tuding yang menyesatkan, curiga tak beralasan, seperti lazimnya dilakukan kebanyakan orang.
“Ah, pasti dia! Dasar! Apa sih yang tidak ingin ditelannya dari dunia in? Apakah dia makan rembulan itu?”

Setiap orang, pada pihaknya sendiri, menamakan segala sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan bagi dirinya sebagai yang baik, sementara yang buruk adalah yang tidak menyenangkan atau tidak menggembirakan baginya. Sejauh setiap orang memiliki dasar pikir yang berbeda, pasti mereka juga saling berbeda dalam menentukan perbedaan umum antara yang baik dan yang buruk (Thomas Hobbes, 1928).

Dan, celakalah, ketika manusia menganggap diri mereka lebih arif dari yang lain, lantas berteriak dan menuntut dirinyalah yang menjadi hakim, sang penentu kebijakan. Namun, mereka tidak mencari kebenaran dari orang lain karena segala sesuatu harus ditentukan oleh nalarnya, oleh kemampuan berpikirnya, oleh kearifannya. Kadang-kadang ditambah dengan embel-embel senior-yunior, tua-muda, kaya-miskin, priyayi-awam, atau laki-laki dan perempuan. Padahal, bukan jaminan seorang senior lebih bijak dibanding yuniornya, sama halnya dengan yang lebih muda belum tentu lebih bodoh dari yang tua, atau perempuan tidak mutlak lebih naif daripada laki-laki.

Negeri Tanpa Rembulan

Begitu banyak persoalan negeri ini yang belum terselesaikan. Dari soal minyak tanah dan gas yang langka sampai soal perdagangan narkoba yang makin marak. Dari kepuasan baru merekam hubungan intim di telepon genggam sampai soal korupsi yang patah tumbuh hilang berganti. Dari soal kriminal yang makin mengerikan hingga soal tawuran pelajar yang sangat memprihatinkan. Dari soal pengkotakan sipil-militer, tua-muda, Jawa-luar Jawa, Islam-non Islam, pribumi-keturunan, sampai pertarungan laki-laki dan perempuan.

Namun, masalah selalu disertai solusi, tinggal seberapa cerdas kita bertindak cerdik untuk mengekang diri dan memperhatikan hajat hidup orang banyak.

Membaca cerita-cerita SGA, kita seolah-olah diajak masuk ke dalam dunia nyata, dunia yang kita lihat dan kita rasakan setiap hari. Namun, belum pernah kita benar-benar masuk hingga ke kedalaman paling dasar. Selama ini kita lebih banyak menyentuh, paling tidak meraba, kulit luarnya saja. SGA mengajak kita menyelam lebih dalam. Tentu saja, dengan menorobos ke dalam, akan lebih menjelaskan kenyataan kehidupan yang selama ini sering kita abaikan.

Dia berada di suatu tempat tanpa cahaya, kelam, begitu kelam, seperti ditenggelamkan malam, sehingga bintang-bintang yang bertaburan tampak jelas, terlalu jelas, seperti peta dengan nama-nama kota. Perempuan itu belum lupa, apalah artinya nasib suatu manusia di tengah semesta, nasib yang sebetulnya jamak pula dialami siapapun jua di muka bumi yang sebesar merica.

Pada awal rezim Orde Baru, karya sastra bernada protes bermunculan yang kemudian berakibat pelarangan, baik kepada pengarang maupun karya sastranya. Termasuk pelarangan pementasan karya sastra, seperti yang dialami Rendra. Bahkan berimbas pada penahanan pengarangnya. Lebih serius lagi, ada yang hingga kini belum ketahuan rimbanya, yakni Widji Thukul. Tentu saja, kekuasaan Orde Baru yang otoriter dan sangat represif telah melahirkan budaya oposisi bagi kalangan seniman dengan melahirkan karya sastra yang secara langsung berani menentang kekuasaan.

Ketika Soeharto memaksakan kehendak, “beliau” ingin menunjukkan kekuasaan. Ini sejalan dengan konsep Max Weber, kekuasaan merupakan kemampuan seseorang atas sekelompok orang untuk memaksakan kehendak kepada pihak lain, meski ada penolakan yang berbentuk perlawanan. Weber menambahkan, kekuasaan manusia atas manusia lain berlandaskan instrumen legitimasi, yakni kekerasan. Kekuasaan yang ditunjukkan Soeharto tidak hanya menindas kaum seniman, tetapi juga kalangan aktivis dan musuh politiknya.

Banyak orang lain harus hidup dengan gambaran bagaimana ayahnya diambil dari ayahnya tengah malam buta. Digelandang dan diarak sepanjang kota sebelum akhirnya disabet lehernya dengan clurit sehingga kepalanya menggelinding di jalanan dan darahnya menyembur ke atas seperti air mancur deras sekali sampai menciprati orang-orang yang mengaraknya itu. Tidak sedikit orang yang hidup dengan kutukan betapa ibunya telah menjadi setan jalang yang memotong-motong alat kelamin lelaki sambil menyanyi dan menari, dan karena itu berhak disiksa dan diperkosa, padahal semua itu merupakan kebohongan terbesar di muka bumi. Hidup ini bisa begitu buruk bagi orang baik-baik, meskipun tidak mempunyai kesalahan sama sekali. Tapa pembelaan sama sekali. Tanpa pembelaan. Tanpa … …

Peristiwa ”penetapan pesakitan” tanpa pembelaan dan pengadilan itu, mendapat catatan kaki yang serius:

Tentang penyiksaan sesama manusia Indonesia, bisa dilacak dalam sejumlah dokumen, antara lain, Pipit Rochiyat, ”Am I PKI or No PKI?” dalam Indonesia edisi 40 (Oktober 1985); A. Latief, Pledoi Kol. A. Latief: Seharto Terlibat G 30 S PKI (2000); Sulami, Perempuan—Kebenaran dan Penjara (1999); Sudjinah, Terempas Gelombang Pasang (2003); dan tentu saja Pramoedya Ananta Toer, Nyanyi Tunggal Seorang Bisu (1995).

Represi kekuasaan terhadap kehidupan berkesenian ternyata tidak terhenti dengan tumbangnya Orde Baru. Pelarangan berkarya dan berekspresi masih terjadi di era reformasi, seperti yang dialami Eros Djarot yang terpaksa menghentikan produksi pengambilan gambar untuk film Lastri, hanya karena tudingan film itu menyebarluaskan faham komunisme. Uniknya, pelarangan dan penghentian itu tidak dilakukan oleh Pemerintah sebagaimana lazimnya pada era Orde Baru, melainkan sekelompok masyarakat yang mengadili Eros Djarot berlandaskan asumsi, tanpa dukungan data dan fakta yang akurat.

Padahal, sepakat dengan pendapat Indra Tranggono (2008), asumsi tidak dapat dijadikan sebagai dasar tuduhan apalagi pengadilan atas sebuah karya karena asumsi selalu bersifat spekulatif, sumir, dan berpotensi menjadi fitnah. Asumsi, tambah Indra, dibangun dari kepingan-kepingan gosip, desas-desus, kabar burung, dan berbagai sumber lainnya yang tidak akurat. Pengadilan jalanan ini jauh lebih berbahaya dibanding represi Soeharto terhadap dunia kesenian.

Begitulah, negeri kita pernah kehilangan rembulan, karena tokoh perempuan itu memanggul rembulan di punggungnya, terbungkus dan tersimpan dalam ransel. Bahkan, boleh jadi, rembulan itu belum dikembalikan perempuan itu ke langit sehingga bangsa kita tidak juga bisa keluar dari kelamnya malam.

Antara Cappucino dan Soto Betawi

Kebesaran manusia, sepakat dengan pendapat Blaise Pascal dalam A. J. Krailsheimer (1966), adalah karena mengetahui dirinya malang: sebatang pohon tidak mengetahui bahwa dirinya malang.

Dalam kegelapan tanpa rembulan, perempuan itu tidak bisa melihat senyuman maupun airmatanya sendiri di permukaan sungai yang mengalir pelahan—dan ia tak tahu apakah masih harus mengutip Pablo Neruda.

Dan, seperti juga cerita-cerita pendek SGA lainnya, selalu tidak tertebak akhir ceritanya.
Tiga minggu kemudian, pada hari hujan yang pertama musim ini, perempuan itu muncul lagi di kafe tersebut.
”Saya kembalikan rembulan ini, bisa diganti soto Betawi?”
Itulah masalahnya.
”Tidak bisa Puan, kami tidak punya soto Betawi, ini kan restoran Itali?”
Nah!

Tentu saja, kemampuan menutup cerita dengan cara yang khas merupakan akumulasi pengalaman menulis SGA. Dan, saya banyak belajar darinya. Belajar tentang nasionalisme, tentang keberanian memilih soto Betawi atau cappucino, tentang kecintaan pada produksi dalam negeri. Belajar tentang bagaimana semestinya menutup cerita dengan cara yang tidak terkira, tidak terbayangkan sebelumnya oleh pembaca. Tidak seperti ending sinetron kita yang sering dengan mudah tertebak hanya dengan menonton beberapa episode awal saja.

Pada akhirnya

Berangkat dari cerpen Rembulan dalam Cappucino yang mengambil tema kehancuran rumah tangga, unit terkecil dari sebuah bangsa, saya menyimpulkan bahwa SGA tidak terjebak dalam keasyikan memainkan akrobat kata-kata, tidak juga terpengaruh, dan mumpuni dalam menggali kedalaman makna.

Setidaknya, bagi saya, ada tiga alasan penting yang membuat Rembulan dalam Cappucino menjadi cerita yang “bernas” dan “bergizi”. Pertama, SGA dengan cara yang nyastra banget berhasil mengemas cerita yang tidak semata menomorsatukan style, seperti yang ditakutkan F. Rahardi. SGA juga menekankan kekuatan ceritanya pada penokohan, plot, dan setting. Kedua, SGA berhasil menghindari jebakan permainan akrobat kata-kata, seperti yang dipesankan Hamsad. Tentu saja, masih perlu kajian yang lebih serius untuk membuktikan keabsahan hipotesa saya, setidaknya, begitulah yang bisa saya cerap dari cerpen ini. Ketiga, sejatinya kita tidak terpengaruh tren dalam menulis, seperti yang marak terjadi belakangan ini.

Saya selalu berusaha membebaskan diri saya dari jebakan asumsi dan mengangkat kejernihan berpikir dalam diri saya sehingga bisa lebih obyektif dalam menelaah karya sastra. Namun, saya bukan kurator. Bukan pula ahli sastra yang menghabiskan waktu bertahun-tahun bertumbuh bersama bahasa dan kata-kata. Akan tetapi, ajaib. Ketika saya menggunakan paradigma baru membaca, meminjam istilah Hernowo (2006), ada teks yang saya baca yang dapat mengubah diri saya, ada banyak kejadian menarik melanda saya ketika mengeja setiap demi setiap kata dalam cerita Rembulan dalam Cappucino, yang saya rasakan mampu menggerakkan pikiran saya dan menggugah semangat saya untuk segera menulis.

Setidaknya menulis telaah sastra ini. Bagaimana dengan Anda?

Parung, 21 Desember 2008 07:15
Sumber : http://www.kemudian.com/node/223627

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: