“PERCERAIAN” PROSA DAN PUISI

07/06/2016 at 15:07 (artikel)

Makalah Kemah Sastra Medini 23 April 2016

F. Rahardi

Sebenarnya Panitia Kemah Sastra minta saya mengulas tentang “Perkawinan” Prosa dengan Puisi. Sebab belakangan memang ada kecenderungan seperti itu. Puisi makin bernarasi, prosanya menjadi puitis. Tapi ternyata prosa dan puisi itu sebenarnya  tidak pernah kawin. Mereka sekadar rindu pada masa lalu saat prosa dan puisi merupakan satu kesatuan.

Dalam sastra purba, prosa dan puisi memang merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan. Contohnya dalam Epik Gilgamesh, yang ditulis tahun 2.100 SM di Sumeria (lembah Sungai Tigris dan Euphrat), yang sampai sekarang masih dianggap sebagai salah satu karya sastra tertua di dunia. Epik ini jelas berbentuk puisi, tetapi di sana ada tokoh, ada latar, dan ada alur cerita. Aslinya Epik Gilgamesh ditulis menggunakan salah satu dialek Bahasa Akkadian, dengan Huruf Paku (yang sudah menjadi lambang bunyi, bukan piktograf seperti hieroglyp), di atas tablet tanah liat. Teks Gilgamesh tulisan latin, baik dalam bahasa aslinya maupun Bahasa Inggris, bisa diakses melalui situs <http://etcsl.orinst.ox.ac.uk/cgi-bin/etcsl.cgi?text=c.1.8.1*#&gt;.

Tulisan paling tua yang saat ini diketahui manusia dibuat tahun 2.600 SM (juga berasal dari Sumeria), bukan fiksi sastra. Tulisan itu berupa semacam petuah atau kebijaksanaan, berjudul Instruksi Shuruppak, juga ditulis menggunakan Bahasa Akkadian, berhuruf Paku. Karena bukan fiksi, dalam Instruksi Shuruppak tak ada dikotomi puisi dengan prosa. Karya-karya sastra yang lebih muda, seperti Iliad dan Odyssey (Homerus) 800 SM; Mahabharata (Vyasa) 400 SM; Ramayana (Valmiki) 500 SM; La Galigo (anonim) 1200; Legenda Ular Putih (anonim) 1300an; Babad Tanah Jawi (anonim) tahun 1500an; masih setia menggunakan bentuk puisi epik. “Perceraian” prosa dari puisi, diawali dari Mesir dan tak dilakukan oleh karya sastra, melainkan karya jurnalistik.

Tersebutlah pada tahun 1400an SM, Thutmose III dinobatkan sebagai Firaun Mesir tatkala masih berusia remaja. Praktis yang berkuasa di Mesir Kuno pada waktu itu sebenarnya para tetua kerajaan. Dengan niat jahat, mereka minta Thutmose III yang sama sekali tak punya pengalaman, untuk berperang menaklukkan Negeri Kanaan (sekarang Israel). Megiddo yang terletak dekat Gunung Karmel, selama ini merupakan kota yang teramat sangat sulit ditaklukkan. Para tetua kerajaan, berharap Thutmose III gugur, lalu mereka akan menobatkan Firaun yang waktu itu masih bayi, hingga mereka tetap bisa berkuasa untuk jangka waktu lama. Harapan para tetua kerajaan ini tak kesampaian.

Thutmose III yang masih remaja itu ternyata jago perang dan ahli strategi. Megiddo berhasil ditaklukkan. Detil peperangan itu terekam dalam pahatan huruf hieroglyp di dinding Kuil Amun-Re, di Karnak, Thebes (sekarang Luxor, Mesir). Thutmose III tak hanya jago perang tetapi juga cerdas. Ia mengajak seorang penulis muda bernama Tjaneni. Penulis inilah yang melihat langsung peperangan, sambil mencatat di atas lembaran pelepah papyrus menggunakan huruf hieroglyp. Catatan Tjaneni ini merupakan karya jurnalistik (reportase) pertama di dunia, dan sepenuhnya menggunakan bentuk prosa. Pahatan dinding Kuil Amun-Re, merupakan “hard copy” dari catatan Tjaneni di lembaran papyrus.

Dari Prosa ke Retorika

Sesuai kodratnya, puisi lebih tepat digunakan untuk melukiskan perasaan yang paling mendalam. Meskipun dalam puisi epik ada tokoh, ada latar, dan ada alur cerita, kedalaman perasan itu tetap bisa terasakan dalam bait dan rima yang tersusun. Dalam Puisi Jawa “kedalaman” itu menjadi lebih rumit karena persyaratan jumlah baris, jumlah suku kata, dan persamaan vokal/konsonan pada akhir kata tiap baris (guru gatra, guru wilangan, guru lagu). Ketika berada di tengah peperangan di Megiddo, Tjaneni tak sempat menjadi mellow lalu menuliskan jalannya peperangan berupa puisi epik sesuai dengan kecenderungan saat itu. Ia mencoba mematikan perasaan, dan cepat mencatat jalannya peperangan dengan data-data akurat. Sejak itulah, manusia mulai mengenal prosa meskipun bukan berupa karya sastra.

Musa, yang diperkirakan hidup pada pergantian abad XIII ke abad XII SM, menggunakan bentuk prosa untuk menulis Taurat Yahudi. Sama dengan catatan reportase Tjaneni, Taurat Yahudi juga dingin tanpa emosi. Pada abad VI Pherecydes dari Syros dan Cadmus dari Miletus memperkenalkan bentuk prosa dalam penulisan ke Yunani. Tapi di negeri ini, prosa tak berkembang, yang tumbuh malahan drama. Sophocles (497 – 406 SM), dengan karya-karyanya seperti Oedipus Sang Raja, Oedipus di Colonus dan Antigone, merupakan puncak dari drama klasik dunia. Para filsuf Yunani, terutama Aristotélēs (384–322 SM), kemudian mengembangkan sistematika berbahasa dalam prosa yang dikenal sebagai retorika (narasi, diskripsi, eksposisi, argumentasi dan persuasi).

Awalnya retorika lebih banyak diterapkan dalam seni berpidato. Kemudian Gorgias (485 – 380 SM), mencoba menerapkan retorika dalam penulisan. Tampaknya Eropa “purba” (Yunani dan Romawi), memang tak terlalu berjodoh dengan fiksi berbentuk prosa. Lain halnya dengan Asia (Timur Tengah, Asia Selatan, Asia Timur dan  Asia Tenggara). Di kawasan ini fiksi berbentuk prosa berkembang sangat baik berupa cerita rakyat, dongeng, fabel, dan legenda. Di antara sekian banyak fiksi berbentuk prosa ini, satu dua ada yang menjadi klasik dan abadi. Misalnya Kisah 1001 malam, Dongeng Kancil, Bawang Merah dan Bawang Putih. Umumnya, cerita rakyat dan lain-lain ini disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi. Ketika prosa ini dicatat dalam bentuk tulisan, biasanya si penulis tak mencantumkan nama dirinya.

Perceraian puisi dari puisi epik hingga menjadi puisi murni, terjadi jauh di negeri Tiongkok. Para pertapa yang diam dalam kesunyian, mampu membebaskan diri dari gerak dan peristiwa, lalu melukiskan penyatuan mereka dengan alam dan Allah dalam bentuk puisi. Kalau prosa dihasilkan dari gerak dan peristiwa, maka puisi merupakan hasil kontemplasi. Puisi-puisi klasik Tiongkok ini umumnya anonim. Konghucu (551 – 479 SM) filsuf dan guru kebijaksanaan, telah menyeleksi puisi-puisi anonim ini,  termasuk puisi-puisi rakyat yang sudah ditulis pada abad VII SM, untuk dikumpulkan. Puisi-puisi murni Tiongkok ini disebut Shijing. Tradisi menulis puisi murni di tiongkok ini terus berlanjut dari tahun 475 – 221 SM dan seterusnya. Puisi-puisi dari zaman ini disebut Chu Ci. Setelah itu, mulailah muncul puisi-puisi klasik Tiongkok yang ditulis oleh penyair dengan mencantumkan nama mereka.

Novel dan Cerita Pendek

Meski sudah tidak anonim, puisi klasik Tiongkok tetap merupakan cermin keberhasilan penyatuan diri penyair dengan alam dan Allah. Dari daratan Tiongkok, konsep penulisan puisi klasik ini, menyebar ke Jepang dan dikenal sebagai haiku. Maka Haiku sebenarnya bukan sekadar bentuk puisi, yang kalau kita patuhi, akan secara otomatis melahirkan karya hebat. Haiku bahkan hampir identik dengan Jepang, sama halnya dengan bonsai, ikan koi, judo, sumo, dan sashimi. Maka juga hampir mustahil penyair yang bukan orang Jepang bisa menulis Haiku sebaik para penyair Jepang. Baik di Jepang, Tiongkok, maupun Korea, tradisi menulis puisi murni ini kemudian juga menyatu dengan seni kaligrafi.

Sebenarnya, Jepang tak hanya melahirkan Haiku, melainkan juga “novel pertama” di dunia.  Hikayat (Kisah) Genji (Genji Monogatari), yang ditulis oleh Murasaki Shikibu pada abad XII, acap kali dianggap sebagai novel pertama di dunia. Murasaki Shikibu sebenarnya merupakan nama samaran. Nama sebenarnya diduga Fujiwara Takako. Sama dengan Epik Gilgamesh, versi Bahasa Inggris Hikayat Genji juga bisa dibaca publik dalam berbagai bentuk di beberapa situs. Karya klasik Jepang ini juga pernah difilmkan oleh Kadokawa Pictures dengan sutradara Yasuo Tsuruhashi, dengan judul Genji Monogatari: Sennen no Nazo. Film berdurasi 136 menit ini diputar perdana 10 Desember 2011.

Selain Hikayat Genji, karya Miguel de Cervantes (1547 – 1616) berjudul Don Quixote (El ingenioso hidalgo don Quijote de la Mancha) juga dianggap sebagai novel (kadang disebut roman) pertama di dunia. Tahun 1923, karya Miguel de Cervantes ini pernah diterjemahkan Abdul Muis (penulis Salah Asuhan), dan diterbitkan oleh Balai Pustaka, dengan judul Don Kisot.  Don Quixote memang telah menginspirasi banyak seniman untuk menciptakan berbagai karya. Antara lain opera (Jules Massenet), balet (Léon Minkus), dan komposisi (Richard Strauss). Dalam rangka merayakan HUT ke 70 pada tahun 2011, terbit kumpulan puisi Goenawan Mohamad berjudul Don Quixote (Tempo/PT Grafiti Pers 2011).

The Poisoner of Montremos (1791), karya penulis Inggris Richard Cumberland (1732 – 1811), sampai saat ini masih dianggap sebagai cerita pendek pertama di dunia. Perkembangan Novel dan cerita pendek, tak lepas dari pertumbuhan kultur media massa cetak, berupa buku, majalah, dan koran. Media massa cetak merupakan kultur hibrida antara budaya timur karena kertas diketemukan di China pada abad II, sementara mesin cetak ditemukan di Eropa pada abad XV. Dengan adanya buku, majalah dan koran; karya sastra, buku agama, dan terutama ilmu pengetahuan bisa dibaca oleh siapa saja, kapan saja, di mana saja. Kalau prosa tumbuh melalui media massa cetak; puisi (sebagai teks lagu) ikut terangkat oleh pentas musik klasik, dan kemudian pentas serta rekaman musik modern. Sementara puisi murni menjadi lebih melekat ke kedalaman berpikir sebagai ekspresi pribadi.

Perkembangan di Indonesia

Dibanding sastra “daerah” terlebih dengan sastra dunia; sastra Indonesia tergolong masih sangat muda. Sama halnya dengan Bahasa Indonesia yang sampai sekarang masih terus bertumbuh sejalan dengan perkembangan Bangsa dan Negara Indonesia. Ketika timbul kesadaran menggunakan Bahasa Indonesia, yang disertai pula dengan kesadaran untuk menulis karya sastra menggunakan Bahasa Indonesia; sastra daerah; terutama Sastra Melayu, Sastra Jawa dan Sastra Bali masih sangat kuat. Sastra Indonesia yang lahir sebelum kemerdekaan, sangat dipengaruhi oleh karya sastra berbahasa daerah. Novel Azab dan Sengsara (Merari Siregar), Salah Asuhan (Abdoel Moeis), dan Siti Nurbaya (Marah Rusli); merupakan puncak-puncak “gunung es” yang sarat berisi novel Berbahasa Melayu karya para penulis keturunan Tionghoa.

Demikian pula halnya dengan puisi. Karya-karya  Armin Pane, Amir Hamzah, dan Sutan Takdir Alisjahbana; masih tampak sangat sulit untuk bisa lepas dari pengaruh puisi Melayu lama. Keputusan Bangsa Indonesia, untuk menggunakan Bahasa Melayu sebagai Bahasa Nasional, mengakibatkan para sastrawan pengguna Bahasa Melayu sebagai bahasa ibu, bisa tampil lebih cepat dibanding dengan sastrawan pengguna bahasa ibu bukan Bahasa Melayu. Maka, meskipun Etnisitas Jawa paling besar di negeri ini, sastrawan dari etnisitas ini muncul lebih belakangan dibanding sastrawan dari Sumatera, yang menggunakan Bahasa Melayu sebagai Bahasa Ibu. Karya prosa berupa novel dan cerita pendek, serta puisi yang lahir pada awal kelahiran Bahasa Indonesia, pada umumnya masih sangat setia pada kaidah prosa dan puisi.

Novel dan cerita pendek Indonesia menjadi puitis (mellow), karena pengaruh genre chik literature (chick lit), yang booming di AS pada dekade 1990an. Di Indonesia, gelombang chick lit ini dipelopori oleh novel Saman (Ayu Utami), dan kemudian disusul oleh para pengikutnya. Genre chick lit sebenarnya merupakan kelanjutan dari genre roman (romance novel), yang menjadi trend abad XVIII. Dalam roman, perempuan (dan cinta) dieksplorasi (dan dieksploitasi), oleh para penulis laki-laki. Pada chick lit, perempuan (dan seks), dieksplorasi (dan dieksploitasi) oleh para penulis perempuan sendiri. Eskplorasi ini antara lain dilakukan dengan revitalisasi penggunaan idiom, frasa, kalimat, dan paragraf yang cenderung puitis. Tokoh, latar dan alur cerita memang masih diutamakan, tetapi ada sajian baru berupa eksplorasi linguistik.

Dalam puisi juga terjadi hal yang sama, yakni kecenderungan untuk memrosa. Beda dengan prosa yang menjadi puitis dari akar romantisme, puisi memrosa bukan karena pengaruh romance poetry abad XIX, melainkan dari absurditas dan surealitas, yang juga melanda cabang kesenian lain pada akhir abad XIX dan awal abad XX. Dalam seni rupa dan teater, absurditas dan surealitas lebih kentara pengaruhnya. Di Indonesia memrosanya puisi ditandai oleh karya Afrizal Malna dan Joko Pinurbo. Meski mereka bicara tentang hal-hal konkrit: mikrofon, celana, sarung; tapi sebenarnya hal yang ingin mereka kemukakan absurditas dan surealitas di balik benda-benda itu. Inilah yang tak ditangkap oleh generasi penerus mereka, dengan menghasilkan puisi yang asal panjang dan memrosa.

Dengan fakta-fakta yang saya kemukakan di atas, saya melihat bahwa gejala prosa yang makin puitis dan puisi yang menjadi naratif, bukan menandakan perkawinan prosa dengan puisi; melainkan sekadar “kerinduan” akan masa kejayaan puisi epik yang dipelopori oleh Gilgemesh, dan terus berlanjut ke  Odyssey, Mahabharata, Ramayana, sampai ke Babad Tanah Jawi.  # # #

Cimanggis, 8 April 2016.  

F. Rahardi, lahir di Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah; 10 Juni 1950.
Penulis puisi, cerita pendek, artikel, esai, kritik sastra, novel dan buku-buku non fiksi sejak tahun 1969.
Kumpulan Puisi Tuyul (Pustaka Sastra 1990) mendapatkan Penghargaan Badan Bahasa 1995. Prosa lirik Negeri Badak (Visi Media 2007) mendapatkan penghargaan SEA Write Award 2009.
Novel Lembata (Lamalera 2008) mendapatkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2009.
Email <frahardi@yahoo.com>, Situs <https://frahardi.wordpress.com/&gt;.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: