PERSINGGUNGAN POLITIK DAN PROSTITUSI DALAM PUISI

14/06/2016 at 16:47 (berita)

Muhajir
email : karyamuhajir@gmail.com
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Universitas PGRI Semarang

Abstract

The purpose of this research is to find the intersection of politics and prostitution in poems entitled “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” by W.S. Rendra and “Pidato Akhir Tahun Seorang Germo” by F. Rahardi. How is the public perception of prostitutes? How the authors position of prostitutes in his poetry? This research using structural theory and descriptive analytical research method. After analyzing two poems, the researcher concluded that (1) Both authors use poems as a medium for criticism of the government. (2) The public perception of the prostitutes is bad, They are the bearers of state catastrophe, but the authors through his poems defend them because according to the authors prostitutes are victims of mismanagement of state. (3) in the poem “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” by Rendra occur politicization where prostitution is sold as issue of politics. Whereas in the poem by f Rahardi not found. The use of poetic language rendra more assertive and provocative and against the injustice committed by politicians and officials . The use of poetic language F. Rahardi more relaxed, joking, and appeal to submit problems to God (5) The use of poetic language F Rahardi softer because he did not want to suffer like W.S. Rendra were eliminated by the new order government.

Keywords: prostitution, politics, poetry

Abstrak

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan persimpangan politik dan prostitusi dalam puisi berjudul “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” oleh WS Rendra dan “Pidato Akhir Tahun Seorang Germo” oleh F. Rahardi. Bagaimana persepsi masyarakat pelacur? Bagaimana posisi penulis pelacur dalam puisinya? Penelitian ini menggunakan teori struktural dan metode penelitian analisis deskriptif. Setelah menganalisa dua puisi, peneliti menyimpulkan bahwa (1) Kedua penulis menggunakan puisi sebagai media kritik terhadap pemerintah. (2) Persepsi masyarakat terhadap pelacur buruk, Mereka adalah pembawa bencana negara, tetapi penulis melalui puisi Pengoptimalan Blog dalam Upaya Menunjang Keterampilan Menulis Mahasiswa

Latif Anshori Kurniawan

puisinya membela mereka karena menurut penulis pelacur adalah korban salah urus negara. (3) dalam puisi “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” oleh Rendra terjadi politisasi di mana prostitusi dijual sebagai isu politik. Sedangkan dalam puisi oleh F. Rahardi tidak ditemukan. Penggunaan puitis Rendra bahasa yang lebih tegas dan provokatif dan melawan ketidakadilan yang dilakukan oleh politisi dan pejabat.

Penggunaan bahasa puisi F. Rahardi lebih santai, bercanda, dan daya tarik untuk menyerahkan masalah kepada Allah (5) penggunaan bahasa puitis F. Rahardi lebih lembut karena dia tidak ingin menderita seperti WS Rendra tersingkir oleh pemerintah orde baru.

Kata kunci: prostitusi, politik, puisi

PENDAHULUAN

Prostitusi atau pelacuran adalah problem yang tidak ada habisnya untuk dibahas. Prostitusi memiliki sejarah panjang di negeri ini. Mulai dari zaman penjajahan hingga masa pemerintahan Joko Widodo sekarang ini. Prostitusi mengait pada banyak hal mulai dari politik, agama, moral, dan ekonomi.

Tidak hanya itu, prostitusi juga berubahubah bentuk. Mulai dilegalkan di zaman Jepang dan kemudian berubah menjadi prostitusi online dengan menawarkan Pekerja Seks Komersial mengunakan media sosial seperti Facebook dan Twitter seperti yang menggejala sekarang ini.

Antara tahun 1902-1912 dilaporkan bahwa ada sekitar 6,5% orang Eropa, 5,47% orang pribumi dan 13,11 % orang Cina kejangkitan penyakit sipilis. Hal ini menunjukkan bahwa prostitusi adalah bagian kehidupan masyarakat kolonial, baik dari masyarakat pribumi sampai orang-orang Eropa. Gejala prostitusi ini pun direspon para sastrawan Melayu rendahan dengan membuat karya-karya sastra seperti novel Nyai Dasima, Nyai Paina, Cerita Rossina, Oeij Se, Loe Fen Koei, Cerita Nyai Ratna, Hikayat Siti Mariah, Percintaan Dalem Rasia, Nona Fientje de Feniks.1 Bagi pelaku prostitusi, baik itu Pekerja Seks Komersial, mucikari, pengusaha, hingga pemilik warung, dan keamanan menganggap prostitusi adalah sebagai ladang ekonomi. Tempat untuk mencari nafkah. Mudjahirin Thohir dalam buku Memahami Kebudayaan – Teori, Metodologi, dan Aplikasi (2007, hal 227) mengatakan
bahwa ekonomi adalah salah satu faktor yang menjadi alasan seseorang terlibat pada dunia prostitusi atau pelacur.

Faktor lain antara lain suami yang tidak tanggung jawab, keluarga yang tidak harmonis, dll. Bagi mereka pelacur sama saja dengan Mbut Gawe atau bekerja, 1 Seksualitas di Jawa Pada Awal Abad XX http://pspk.ugm.ac.id/seminar/69-seksualitas-di-jawapada-awal-abad-xx.html

Vol. 2 No. 1 Januari 2014

dalam masyarakat juga dikenal istilah Lunga Sedelok Bondho Wis Ketok, maksudnya pergi sebentar harta sudah terlihat.

Bagi masyarakat umum yang mayoritas beragama Islam yang mengharamkan prostitusi, prostitusi dianggap mengancam. Menurut mereka, prostitusi adalah ladang penyakit kelamin, sumber kemaksiatan, dan merusak moral generasi muda. Atas alasan ingin mengangkat harkat perempuan, agar mereka bekerja dengan halal, pendidikan moral anak-anak dan remaja di sekitar lokalisasi, Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini menutup lokalisasi Dolly yang menurut kabar merupakan kawasan prostitusi terbesar di Asia Tenggara.2

Oleh sebagian kalangan, langkah Risma ini dan langkah wali kota yang lain yang hendak menutup prostitusi dianggap pencitraan. Inilah kenapa prostitusi mengait juga di bidang politik. Sebagian masyarakat menginginkan prostitusi ditutup maka menutup prostitusi akan mendapat dukungan politik dan simpati dari masyarakat.

Masalah yang perlu diajukan adalah, apakah pelacur itu pelaku atau korban? Sebagian masyarakat hanya menganggap bahwa pelacur adalah pelaku tindak kejahatan. Ia melakukan 2 Ini alasan Risma mati-matian tutup lokalisasi Gang Dolly.

Reporter : Moch. Andriansyah | Minggu, 25
Mei 2014 08:30
http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-alasan-rismatutup-lokalisasi-gang-dolly-mati-matian.html

tindakan amoral. Akan tetapi, ada yang menganggap bahwa pelacur adalah korban. Ia adalah golongan masyarakat yang tersisih dalam persaingan untuk merebut sumber-sumber ekonomi.

Banyak pelacur yang menjadi korban kekerasan, bahkan pembunuhan.
Banyak karya sastra, baik berupa puisi, novel, maupun cerita pendek, yang mengangkat tema prostitusi.

Namun, dari sekian banyak karya sastra tersebut, penulis memilih dua karya sastra sebagai sampel penelitian. Karya yang akan dikaji adalah (1) Puisi berjudul “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” karya W.S. Rendra, (2) Puisi berjudul “Pidato Akhir Tahun Seorang Germo” karya F. Rahardi.

“Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” karya W.S. Rendra masuk dalam kumpulan puisi Blues untuk Bonnie yang terbit pada tahun 1971, sedangkan puisi “Pidato Akhir Tahun Seorang Germo” karya F. Rahardi masuk dalam kumpulan puisi dengan judul yang sama.

Puisi ini di bagian akhir dicantumkan tanggal pembuatannya yaitu tanggal 28 Desember 1991 sampai 3 januari 1991. Puisi yang pertama ditulis Rendra pada masa awal pemerintahan Soeharto sedangkan puisi kedua ditulis menjelang masa akhir pemerintahan Soeharto. Pada masa itu, membicarakan pelacur masih tabu, apalagi mengkritik pemerintah yang pada waktu itu dikenal represif.

Bagaimana hubungan antara prostitusi dengan kekuasaan dan politik?
Persinggungan Politik dan Prostitusi dalam Puisi

Muhajir

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) Penyair menghadirkan prostitusi dalam karya puisinya, (2) Persepsi dan perilaku masyarakat dan penyair terhadap pelacur dan prostitusi pada umumnya dalam dua puisi ini.

METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif-analitis dengan pendekatan struktural. Menurut Pradopo (1987), analisis struktural adalah analisis yang melihat unsur-unsur struktur sajak sebagai sesuatu yang saling berhubungan secara erat dan saling menentukan artinya. Strukturalisme adalah cara berpikir tentang dunia yang
terutama berhubungan dengan tanggapan dan deskripsi strukturstruktur.

Menurut strukturalisme, dunia dalam sastra adalah dunia yang diciptakan oleh pengarang. Penelitian dilakukan dengan menganalisis puisi pada unsur lapis bunyi dan lapis arti.

Latar belakang sosial sebuah puisi tidak dapat ditinggalkan dalam memberi makna lagu yang dianalisis.

Ada dua kategori sumber dalam penelitian ini yaitu sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer ialah bahan yang menjadi objek analisis yaitu puisi. Sementara itu, sumber sekunder merupakan sumber pendukung penelitian yang diperoleh dari sumbersumber kepustakaan tentang objek yang diteliti. Penelitian ini sepenuhnya dilakukan melalui studi pustaka. Cara kerja yang dilakukan ialah membaca, mencatat, dan mengkaji rujukan-rujukan
yang berhubungan dengan objek penelitian. Objek analisis terdiri atas objek formal dan objek material. Objek formal penelitian ini dilatarbelakangi oleh permasalahan dalam makalah ini yaitu prostitusi. Adapun objek material berupa dua puisi berjudul “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” Karya WS. Rendra, dan puisi berjudul “Pidato Akhir Tahun Seorang Germo” karya F. Rahardi.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta

Puisi “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta” karya W.S. Rendra ini merupakan puisi yang panjang yakni terdiri dari seratus lima baris. Dari judulnya saja, sudah tampak nada gugatan pengarang. ‘Bersatulah’ ajakan untuk bersatu biasanya untuk menghimpun kekuatan, memiliki sikap yang sama. Karena bersatu biasanya lebih kuat. Sebagaimana sapu lidi, jika satu lidi lemah, lidi yang terkumpul dan diikat menjadi sapu maka akan menjadi kuat. Dalam puisi ini, ada tiga kelompok yang disebut ‘aku’ yaitu penyair Rendra sendiri yang mengaku kawan pelacur, kemudian ‘kalian’, ‘kau’ digunakan untuk menyebut pelacur, dan ‘mereka’ orang luar, orang yang dibicarakan atau dirasani adalah masyarakat luas, penguasa, politisi, dan pejabat tinggi.

Vol. 2 No. 1 Januari 2014

Untuk menyebut mereka ini, penyair kadang menggunakan kata ‘badut’. Kata badut digunakan sebagai penghinaan kepada politisi dan pejabat tinggi karena pejabat dan politisi itu diibaratkan sosok-sosok yang mengenakan topeng yang lucu untuk menutupi perbuatan aslinya.

Bait pertama menampakkan kabar tentang nasib pelacur Kota Jakarta baik yang kelas tinggi hingga rendah telah ‘diganyang, telah mengharu biru’. Perlakuan kasar dan merendahkan pelacur sering terjadi. Penggrebekan hotel kecil dan lokalisasi yang disiarkan televisi menampakkan pelacur yang menunduk menutupi wajahnya.

Bait kedua berisi semacam nasihat atau imbauan kepada pelacur; / Sesalkan mana yang mesti kau sesalkan/Tapi jangan kau lewat putus asa/Dan kau relakan dirimu dibikin korban/. Dengan kalimat ini Rendra memberi kesempatan kepada pelacur untuk merefleksi diri, untuk menyesal tentang perbuatannya menjadi seorang pelacur. Namun, Rendra juga mewantiwanti
kepada pelacur untuk jangan mau hanya menjadi korban. Kalimat tersebut dalam puisi ini diulang sampai tiga kali yakni pada baris ke sembilan belas dan diulang lagi pada baris enam puluh empat. Hal tersebut dilakukan sebagai penekanan, hal yang paling disampaikan penyair. Atau bisa saja sebagai pemanis biar lebih enak didengar. Seperti reff dalam sebuah lagu. Bait berikutnya masih ajakan kepada pelacur untuk bangkit dan tidak lagi tersipu-sipu, bukan hanya untuk membela diri, tetapi melacarkan serangan.

Bait keempat dan kelima Rendra menyebut Sarinah, Dasima, tokoh-tokoh yang digambarkan Rendra sebagai pelacur. Dua bait ini berbicara tentang perilaku pejabat publik setingkat menteri yang ternyata juga pelangan prostitusi:/Bagaimana kau dipanggil ke kantor menteri: /Bagaimana ia bicara panjang lebar kepadamu/Tentang perjuangan nusa bangsa/Dan tiba-tiba tanpa ujung pangkal/Ia sebut kau inspirasi revolusi/Sambil ia buka kutangmu/.

Bait keenam penyair mengampaikan kritik dengan sangat terbuka. Langsung menyebut politisi dan pegawai tinggi. Praktik pelacuran tanpa diketahui umum terjadi di konferensikonferensi dan kongres yang diselenggarakan oleh politisi tersebut.

Pelacur tidak bisa menolak karena urusan perut menjadi pertimbangan.
Bait selanjutnya masih menggambarkan tentang lapangan kerja yang tidak ada, ijazah tidak ada guna.

Di baris ke enam puluh dua, penyair menyampaikan ‘Kalian adalah sebahagian kaum penganggur yang mereka ciptakan.’ Jadi, menurut penyair, kondisi pelacuran, kemelaratan masyarakat pada umumnya adalah akibat dari kegagalan penyelenggara pemerintahan.

Bait kesepuluh terdiri dari tujuh belas baris. Bait ini masih mengkaitkan
Persinggungan Politik dan Prostitusi dalam Puisi

Muhajir

antara prostitusi dengan politik. Politisi dan pejabat tinggi jika di dalam kamar, ruang-ruang gelap dan tertutup takluk dan menggunakan jasa pelacuran. Kata Rendra: para kepala jawatan akan membuka kesempatan kalau kau membuka paha. Namun, di ruang terbuka, di hadapan rakyat, mereka sok suci dengan mengganyang pelacur, dan menuduh pelacuran sebagai sumber bencana negara. Inilah yang disebut politisasi pelacuran. Pelacuran digunakan oleh politisi untuk meraih dukungan massa. Kata Rendra, membubarkan pelacuran tidak semudah membubarkan partai politik karena menurut penyair, pemerintah harus juga memberi pekerjaan kepada pelacur dan orang-orang yang terlibat dalam pelacuran, harus pula memulihkan derajat pelacur, dan pemerintah harusmitu memikul kesalahan. Puisi ini ditulis pada masa Orde baru yang terkenal sangat mengekang kebebasan bereksprsi. Para aktivis diteror, majalah diberdel, Rendra juga dipenjarakan akibat puisi-puisinya yang keras mengkritik. Aktivitas berteaternya dengan Bengkel Teater juga sempat
berhenti cukup lama. Jika ada kata ‘tidak semudah membubarkan partai politik’itu karena pada masa Orde Baru banyak sekali partai dibubarkan, demi melanggengkan kekuasaan partai diringkas hanya menjadi dua yaitu Partai Demokrasi Indonesia (PDI), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan satu lagi yang ikut pemilu tetapi waktu itu tidak bernama partai yaitu Golongan Karya (Golkar).

Di bagian akhir puisi ini Rendra menyeru dengan apa yang disebutnya di bagian awal puisi dengan ‘Melancarkan Serangan’ dengan cara menaikkan tarif dua kali lipat, turun ke jalan mengibarkan kutang-kutang, dan bahkan mogok tidak melakukan pelayanan selama satu bulan.

Tema pelacur oleh Rendra dijadikan media kritik kepada masyarakat dan penguasa tentang
perlakuan mereka dan pandangan mereka terhadap pelacur. Penyair menghadirkan pelacur sebagai korban bukan sebagai perilaku kejahatan seperti yang dituduhkan orang-orang yang disebut penyair sebagai badut.

Rendra sama sekali tidak memaparkan dunia pelacuran yang biasanya berbau ‘ranjang’. Memang ada diksi ‘paha’, ‘kutang’, tetapi bukan sebagai perangkat untuk mengunggah birahi
tetapi sebagai bahasa perlawanan.

Rendra, dalam puisi bertema pelacuran ini, memaparkan tentang kesenjangan sosial, realitas sosial, ketidakadilan, dan keengganan pemerintah untuk menyelesaikan masalah ini karena pelacuran dianggap tabu.

PIDATO AKHIR TAHUN SEORANG GERMO

Sajak karya F. Rahardi ini terhimpun dalam buku kumpulan sajak dengan judul Pidato Akhir Tahun Serang Germo. Sajak ini menggambarkan

Vol. 2 No. 1 Januari 2014

suasana perayaan pergantian tahun di lokalisasi. Narator adalah seorang germo dan audien adalah pelacur, ketua RT, hansip, dan dokter puskesmas. Namun yang menjadi audien utama,
yang dalam sajak ini disebut ‘kalian’, orang yang diajak bicara oleh narator yang germo tersebut adalah pelacur, dalam puisi ini F. Rahardi menyebutnya dengan kata yang kasar yaitu ‘lonte’.

Kemudian yang dibicarakan yang disebut ‘mereka’ adalah masyarakat, politisi, penguasa. Subjek pembicaraan mengenai kebijakan-kebijakan ‘mereka’ yang langsung maupun tidak langsung mengkait pada profesi kepelacuran.

Jika Rendra menyampaikan kritiknya dengan nada orasi, seperti pidato dihadapan para pelacur yang melakukan demonstrasi dan mengobarkan semangat perlawanan, tidak demikian dengan F. Rahardi dengan sajaknya.

F. Rahardi memilih gaya humor yang memancing gelak tawa meskipun kritik juga disampaikan. F. Rahardi menggunakan gaya sindiran atau mimikri. Hal ini dilakukannya mungkin untuk menghidari nasib yang dialami oleh Rendra. Puisi ini dibuat pada tahuun 1991 dan terbit pada tahun 1997 di mana kekuasaan Soeharto masih sangat garang. Pada masa ini, pengarang yang juga menyampaikan kritik dalam puisi-puisinya adalah Wiji Thukul. Hingga kini, nasib Wiji Thukul belum diketahui, hilang entah di mana.

Pilihan dengan model guyonan ini dalam menyampaikan kritik ini mungkin merupakan strategi, dimaksudkan pengarang agar kritik diterima secara aikan oleh Germo tersebut disampaikan pada malam pergantian tahun 1991. Gaya slengean terlihat dari penggambaran suasana seperti kalimat “Nanti malem kita semua musti/mencopot kalender lama/dan menggantinya dengan yang baru/bergambar bintang film bugil”/.

Bahasa dan suasana memang digunakan untuk mendukung suasana prostitusi sekaligus memancing tawa karena tidak umum. Misalnya saja kalimat “tahun 1991 telah berada di belakang pantat kita dan mari kita kentutui ramairamai.’

Lalu kalimat keterangan digambarkan para hadirin kentut secara bergantian.
Diksi bugil, lonte, lonte, bikini, slangkangan, diservis digunakan untuk mendukung suasana dan penggambaran dunia lokalisasi, bukan untuk merangsang birahi, tetapi untuk medan deskripsi saja. Sajak ini ditulis seperti penulisan naskah drama. Kalimat langsung digunakan petik dua (“) dan kalimat keterangan ditaruh di dalam kurung .

F. Rahardi, dalam sajaknya itu, menggambarkan bahwa prostitusi masih dalam ancaman masyarakat yang tidak menyetujuinya. Narator yang germo tadi menggunakan kata ‘Tuhan masih berkenan memberikan ijin’ dan ‘kita harus selalu inget’.

Persinggungan Politik dan Prostitusi dalam Puisi

Muhajir

Persinggungan antara prostitus idengan dunia politik juga terdapat dalam sajak ini. /bahwasanya Andaanda itu adalah lonte dan lonte itu profesi bukan politik. Jika politik itu
memilih-milih, prostitusi itu profesional.

Narator mengingatkan kepada para lonte untuk profesional dengan melarang membedakan pelangan berdasarkan partai politiknya.

Sajak ini juga menyebutkan anggapan masyarakat tentang pelacur yang merusak bangsa; agen sipilis, bandar G.O., dan calo AIDS. Namun, menurut penyair, melalui tokoh germonya, politik lebih kotor daripada pelacur.

Dalam puisi ini, beberapa kali penyair menyebut ‘eling kepada Tuhan yang Maha Esa’. Kalimat tersebut seperti mengingatkan kepada masyarakat bahwa pelacur yang mereka singkir-singkirkan, yang sangat buruk dalam persepsi mereka masih berpegang dan mengingat Tuhan.

Pelacur bukanlah sebuah profesi idaman, dalam puisi ini, dikatakan bahwa di zaman uang, semakin sulit seperti sekarang ini semakin membuat berat hidup seorang pelacur, mereka tidak bisa seperti anggota KORPRI yang mendapatkan uang pensiun. Secara menggelitik, penyair mengatakan bahwa Ibu Kita Kartini tak pernah bercita-cita putri-putrinya menjadi seorang pelacur.

Para orang tua pada zaman dulu kalau ngudang anaknya “Nduk, kalau sudah besar nanti jadi dokter ya? Jadi guru TK ya? jadi bintang film ya? Tidak ada di antara mereka yang menginginkan anaknya menjadi pelacur.”

F. Rahardi kembali menyampaikan pandangan masyarakat tentang pelacur. Sekarang ini segala hal dibisniskan termasuk sampah plastik bahkan kotoran juga dibisniskan, tetapi pelacur adalah sampahnya masyarakat yang tidak bisa didaur ulang.

Jika dalam puisi karya Rendra “Bersatulah pelacur-pelacur Kota Jakarta penyebutan menteri, pejabat tinggi, dan politikus secara langsung sebagai pelanggan pelacuran, puisi F. Rahardi baru sebatas usaha, target yang akan dicapai oleh dunia pelacuran biar tidak hanya mengait pelukis kampung tetapi juga profesi yang lebih terhormat.

/….tapi sekali-sekali juga /dapat langganan dosen Antropologi/bahkan siapa tahu dapat kedatangan/Sutradara Sinetron kenamaan/atau Menteri Kebudayaan/Ini bukan sesuatu yang
mustahil/Asalkan Anda semua mau berusaha”/. Pusi diakhiri dengan kalimat ucapan selamat tahun baru dengan kata-kata yang tidak kalah unik.

Berikut  ini penggalannya /Tahun 1992 sudah mendekat ke selangkangan/dan tidak akan dapat lari lagi/sebentar lagi dia siap untuk diservis/dengan dua band/dengan body massage atau dengan Hotdog Style/.

Kemudian ditutup dengan kalimat: selamat Tahun Baru dan selamat menyervis para tamu”.

Vol. 2 No. 1 Januari 2014

PENUTUP

Dalam puisinya berjudul “Bersatulah Pelacur-Pelacur Kota Jakarta”, Rendra menggunakan pelacur sebagai media kritik terhadap penguasa yang tidak adil. Dalam puisi ini juga terungkap adanya politisasi prostitusi. Para pejabat tinggi itu menggunakan pelacur pada kongres-kongres dan konferensi-konferensi tetapi di luar, di hadapan masyarakat mereka meneriakkan ganyang pelacuran dan menuduh pelacuran sebagai biang malapetaka negara.

Hal itu dilakukan karena persepsi sebagian besar masyarakat terhadap pelacur dan prostitusi buruk. Ikut mengecam prostitusi bagi politisi adalah tindakan populis dan akan didukung oleh massa yang pada masa pemilu akan memilihnya. Masyarakat memandang bahwa pelacur adalah subjek atau pelaku kejahatan, sedangkan penyair menganggap pelacur dan pelacuran atau prostitusi adalah korban dari tata kelola negara yang tidak beres dan tidak memberikan cukup lapangan kerja.

Dalam sajaknya berjudul “Pidato Akhir Tahun Seorang Germo”. F. Rahardi menggunakan tema pelacur sebagai media kritik terhadap penguasa. Jika dalam puisi Rendra, kritik disampaikan secara lugas dan puisi F. Rahardi dengan nada gurauan. Dalam puisi ini, terungkap pernyataan bahwa pelacur itu kotor tetapi politik lebih kotor. Dalam puisi ini pandangan masyarakat terhadap prostitusi juga buruk namun penyair melakukan pembelaan.

Ia menganggap bahwa pelacur adalah korban dari keadaan dari luar yang tidak bisa ia hindari. Jika dalam puisi “Bersatulah Pelacur-pelacur Kota Jakarta”, Rendra secara tegas dan langsung menyuruh tokohnya bernama Dasima dan Sarinah yang pelacur untuk menyebut kelakuan menteri dan pejabat tinggi yang juga pelanggan lokalisasi maka F. Rahardi dalam sajaknya masih mengharap, datangnya menteri dan politisi ke dalam prostitusi masih berupa harapan yang semoga terwujud. Jika dalam puisi karya Rendra, pelacur yang disebut sebagai ‘kalian’ diajak untuk membalas dan melawan, memberi perhitungan dengan cara mogok, menaikkan tarif maka dalam puisi karya F. Rahardi hanya mengajak kepada pelacur untuk berdo’a dan ‘eling kepada Tuhan yang maha Esa.’

Penggunaan bahasa yang lebih lunak oleh F. Rahardi kemungkinan ia belajar dari pengalaman W.S. Rendra yang disingkirkan oleh pemerintahan Orde Baru. F. Rahardi tetap
menyampaikan kritik tetapi dengan bahasa bercanda dan diharapkan yang menerima kritik tidak begitu sakit hati.

DAFTAR PUSTAKA

Andriansyah, Moch. Ini alasan Risma mati-matian tutup lokalisasi Gang Dolly Reporter :.Minggu, 25 Mei 2014 08:30
Persinggungan Politik dan Prostitusi dalam Puisi

Muhajir http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-alasan-risma-tutuplokalisasi-gang-dolly-matimatian.html

F. Rahardi. 1997. Pidato Akhir Tahun Seorang Germo, Kumpulan Sajak.  Jakarta: Pustaka Sastra.

Pradopo, Rachmat Djoko. 1987. Pengkajian Puisi: Analisis Strata Norma dan Analisis Struktural dan Semiotik. Yogyakarta:

Gajahmada University Press. Seksualitas di Jawa Pada Awal Abad XX http://pspk.ugm.ac.id/seminar/69-seksualitas-di-jawa-padaawal-abad-xx.html

Thohir, Mudjahirin. 2007. Memahami Kebudayaan – Terori, Metodologi, dan Aplikasi.
Semarang: FASINDO

W.S. Rendra. 1971. Blues untuk Bonnie. Tjirebon: TJUPUMANIK

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: