Melihat Pelarangan F. Rahardi di TIM

20/06/2016 at 11:42 (berita)

By F. Rahardi on 11 February, 2012 Viewed 1866 times, 1 times today | 4 Comments |

F. Rahardi feat. Bujang Praktiko

Pihak berwenang telah melarang penyair “setan” F. Rahardi untuk tampil membacakan puisinya Catatan Harian Sang Koruptor pada hari Rabu tanggal 22 Januari 86 di Graha Bakti Budaya TIM.

Tentu saja, sang penyair kelabakan mendengar keputusan yang mendadak datangnya lewat telpon tersebut. Padahal sebelumnya sang penyair sudah siap-siap mengasah lidahnya untuk membaca puisi-puisi, yang memang merindingkan bulu kuduk para bapak-bapak terhormat. Dan para bapak-bapak itu boleh tertawa terbahak-bahak dengan batalnya pembacaan sajak ini, tetapi simpatisan F. Rahardi boleh cemberut.

Relevansi apakah F. Rahardi dilarang?

Pertama, marilah kita mengupas karya puisi-puisi F. Rahardi sebelum kita mengutak-atik lebh lanjut sebab musabab pelarangan penyair “setan” itu.

Penyair F. Rahardi ini karyanya memang dableg, ini maupun ungkapannya dalam mengekspresikan karya puisinya. Jenis puisi-puisinya bersifat anekdot yang satir, tetapi tajamnya, lebih tajam dari clurit orang Madura. Di dalam puisinya segala borok pemerintah plus pejabatnya telah dicaci maki tanpa tedeng aling-aling.

Bagi seorang yang mendengar puisi F. Rahardi akan terpingkal-pingkal spontan, karena uneg-uneg yang selama ini terpendam dan tidak pernah disuarakan oleh anggota DPR nyatanya dalam puisi Rahardi disuarakan dengan lantang, lugas dan berani.

Maka tidak mengherankan bila puisi F. Rahardi telah menciptakan touch dengan penontonnya. Pencipta ini timbulnya sesuatu dialog yang wajar, antara kevakuman penonton terhadap nilai-nilai demokratis yang ada selama ini. Puisi-puisi Rahardi juga menggugah kebungkaman terhadap keberengsekan penyusunan sekenario vulgar.

Semua itu, tidak lepas dari puisi-puisi Rahardi yang garang dan apik. Walaupun puisi Rahardi sifatnya mencaci maki, tetapi cara penyajiannya tidak kalah bagusnya dengan karya si Burung Merak Rendra. Jika dalam karya puisinya Rendra ada keseriusan berbicara masalah ketimpangan, tapi dalam puisi Rahardi tidak ada. Yang ada hanya kata-katanya badutan-badutan yang menggelitik telinga. Puisinya memang ungkapan spontanitas yang tanpa direnungkan kembali seperti pisi-puisi Sutarji CB atau Rendra.

Karya puisi F. Rahardi bersifat temporer saja, sedangkan puisi Sutarji CB dan Rendra bersifat klasik. Puisi-puisi F. Rahardi seperti bungkus kacang, setelah dimakan lantas dibuang. Lain dengan puisi Rendra yang bisa bertahan dari tahun ke tahun. Karena puisi-puisi Rendra diciptakan dengan perenungan yang lama dan detail dalam mengungkap permasalahan yang akan diangkat dalam puisinya.

Bila puisi F. Rahardi bersifat fota, tanpa pengaturan komposisi secara matang, itu bukan berarti puisi F. Rahardi kalah bentuk dengan estetikanya Rendra. Yang membedakan adalah kelainan jenis dalam perpuisiannya. Puisi Rendra banyak bahasa yang ungkapannya ganda, tetapi dalam puisi F. Rahardi tidak kita temukan kata-kata yang ganda itu. Misalnya sebaris kata puisi Rendra: Manusia yang dipabrikan atau wajah tanpa alamat. Pabrik di sini punya penafsiran yang ganda. Karena anaknya bintang film, harus dijadikan bintang film atau masyarakat yang di KB kan. Alamat di sini bisa dipenafsiran seseorang gelandangan yang tanpa punya rumah atau seorang yang tidak bisa mengadu dirinya pada hukum. Hakekatnya mereka tidak punya alamat pengaduan tentang hak keadilannya.

Tetapi dalam puisi-puisi F. Rahardi kalimat semacam itu tidak kita temukan. Misalnya, Tuhan berfirman : hari ini masih kubuka kesempatan bagi kalian yang korupsi, silahkan. Jelas sekali, puisi F. Rahardi ada badutan yang langsung menjewer telinga, baik itu telinga pemuda, wartawan, kiyai dan pejabat. Penyajiannya prosais tapi seronok, dan enak didengar oleh siapapun yang tidak kena jewer. Tetapi ia jujur mengungkapkan hatinya dalam puisinya.

Karena kelugasan dan ketegasan dalam mengangkat puisinya yang terjadi pada masyarakat kita, maka tidak heran puisinya dinilai cukup membahayakan bagi pihak berwenang, yang tidak menutup sebelah mata atas ketajaman dan kebenaran yang diungkapkan oleh F. Rahardi itu.

Efek

Dengan pelarangan pementasan F. Rahardi kita terlebih dahulu menengok kondisining yang akan terjadi saat ini. Puisi dan pembacaan F. Rahardi dianggap yang berwenang bisa saja menimbulkan efek-efek yang tidak diinginkan, walaupun itu hanya sebuah puisi. Karena kondisining kita yang resah dengan segala permasalahan, di samping itu dengan dekatnya Pemilu ’87 yang sudah agak ramai seperti pasar sapi. Maka puisi-puisi F. Rahardi dianggap sangatlah membahayakan stabilitas politik yang ada sekarang.

Mungkin anggapan yang berwenang, masyarakat kita ini adalah rumput kering yang selalu tak terduga terbakarnya, relevansi sekali bila yang berwenang melarang pembacaan puisi. Puisi-puisi yang dibacanya tidak berbeda dengan puisi yang dibaca dalam Cakrawala Puisi yang lalu.
Kondisi sekarang memang tidak mendukung F. Rahardi untuk tampil, jangan bila pelarangan-pelarangan pembacaan sastra yang menyerang pemerintah mulai dilarang di seluruh pelosok Nusantara ini, baik itu di Yogyakarta maupun Rendra yang akan pentas di Surabaya.

Sebagai sastrawan memang punya keterbatasan untuk menampilkan karya-karya yang sifatnya menunjuk kebobrokan keadaan. Dan penyair memang ‘anak nakal’ yang perlu dijinakkan. (Bujang Praktiko)

Sumber : Merdeka, 2 Februari 1986
 

Read more: http://baltyra.com/2012/02/11/melihat-pelarangan-f-rahardi-di-tim/#ixzz4Bih8sDE7

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: