Bheda dan Lontar

19/12/2016 at 15:56 (novel)

Bheda tak pernah tahu, siapa bapak dan ibunya. Ia hanya ingat ketika masih anak-anak harus berpindah-pindah rumah mengikuti para Ata Ko’o sebagai bapak dan ibu asuhnya. Maka setelah menginjak remaja ia pun menjadi Ata Ko’o, budak laki-laki. Bheda tak mau menjadi budak. Maka ia pun minggat ke arah utara, tempat tumbuh banyak pohon lontar. Ia berjalan berhari-hari tanpa bekal apa pun. Ia makan apa saja yang ditemuinya di jalan, sampai kemudian ia bertemu Sarala, seorang penulis lontar dari Negeri Jawa Dwipa. Bheda diangkat  sebagai anak oleh Sarala. Sejak itulah ia membantu Sarala memanjat pohon lontar untuk memetik buah, menyadap nira, dan terutama untuk mengambil daunnya. Bheda demikian terampil memanjat pohon lontar hingga para Ata Ko’o pembantu Sarala memanggilnya dengan nama Keli.

Para Ata Ko’o menganggap Bheda sebagai Keli, seekor monyet yang ketika memanjat seperti terbang. Orang-orang menganggap Keli memiliki ilmu untuk mendatangkan para Dewa agar membantunya memanjat lontar, memetik daun serta buah, dan menyadap niranya. Dengan berbekalkan parang tajam, dan wadah daun lontar yang diikat dua ujungnya, ia pun memanjat cepat sekali seperti terbang. Sesampai di atas ia segera naik ke tajuk di antara pelepah lontar itu. Di sana, ia melepas ikatan wadah nira dari pelepah bunga, menyayat ujung pelepah itu dengan sekali irisan, lalu kembali memasang wadah baru yang telah diberi laru. Tak lama kemudian turun dengan membawa wadah yang sudah penuh berisi air nira.

Pohon lontar berumah dua. Bunga jantan dan bunga betina berada dalam dua pohon berbeda. Bunga lontar jantan berupa malai dengan bunga bulat memanjang berwarna cokelat keputihan, saat mekar penuh dengan polen. Bunga betina juga berbentuk malai, juga dengan bunga bulat tetapi pendek, penuh tonjolan berwarna cokelat gelap. Baik bunga jantan maupun bunga betina bisa dipotong untuk ditampung air niranya. Tetapi bunga jantan akan menghasilkan air nira lebih banyak dari bunga betina. Maka orang-orang pun hanya menyadap bunga lontar jantan, sementara bunga lontar betina akan mereka biarkan terus tumbuh menjadi buah. Buah lontar ini akan dipanen muda, untuk diambil daging buahnya yang masih sangat lunak.

Selain memetik buah dan menyadap nira, Bheda si Keli itu juga harus mengambil daun lontar pada awal musim kemarau. Ia juga harus memotong-motong daun itu, menjemurnya sampai kering kemudian merendamnya hingga kembali lunak dan mudah ditekuk-tekuk. Daun yang sudah kembali lemas itu ia buang lidinya dan ia potong-potong,  ia bersihkan dengan sabut kelapa lalu kembali ia jemur sampai kering. Setelah itu ia menyiapkan tempayan gerabah yang cukup besar, diisi air laut dan diberi parutan kunyit. Di situlah daun lontar ia rebus selama seharian. Sore hari, daun lontar itu ia angkat lalu ia tiriskan semalaman. Paginya ia harus menjemur daun lontar itu sampai kering. Kali ini tugasnya tambah berat sebab pada sore hari, daun-daun itu harus ia basahi dan ia lap dengan kain sampai bersih.

Setelah kering dan bersih, daun kembali dipotong dengan ukuran yang diinginkan, diberi lubang di kedua ujungnya, lalu dipres dengan penjepit kayu. Tiap setengah bulan, daun-daun ini dibuka, kemudian dilap sampai bersih, dan kembali dipres. Demikian terus-menerus sampai setengah tahun. Setelah siap, daun-daun lontar itu disipat menggunakan benang bertinta, hingga siap ditulisi. Bheda tak pernah diberi tugas untuk menulisi daun lontar. Menulis lontar sebenarnya lebih tepat disebut mengukir atau menggores, sebab alat tulisnya berupa pisau kecil tapi tajam yang disebut pisau pĕngutik, atau pisau pĕngrupak. Setelah ditulisi, lontar diberi jelaga dari buah kemiri yang dibakar, lalu sebelum digabungkan dengan tali dan disatukan, terlebih dahulu daun-daun lontar itu dilap dan diolesi minyak sereh.

* * *

Dengan cara itu daun lontar akan bisa tahan sampai berabad-abad dan tidak lapuk dimakan ngengat. Bedha sebenarnya tak pernah berniat untuk belajar menulis. Tetapi Sarala mengajarinya membaca, kemudian menulis. Pada suatu hari, Sarala sedang asyik menorehkan pisau ke daun lontar, membentuk tulisan-tulisan huruf Palawa, dengan Bahasa Sansekerta. Bheda yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya, memberanikan diri bertanya pada Sarala. “Bapak Sarala, apakah aku boleh mengajukan pertanyaan kepada Bapak?” Sarala yang selalu berpenampilan tenang itu menjawab dengan datar. “Silakan, mau mengajukan pertanyaan tentang apa?” Mendengar jawaban Sarala, Bheda mengajukan pertanyaan dengan lebih berani. “Bapak, apakah di Negeri Jawa Dwipa sana, Bapak punya keluarga?”

“Oh, tentu punya Bheda. Aku punya istri, punya anak, tetapi anak-anak itu sudah besar-besar, sudah menikah, dan saya sudah punya cucu.”
“Mengapa Bapak Sarala merantau ke Negeri Lio meninggalkan keluarga di Negeri Jawa Dwipa, hanya untuk membuat lontar? Apakah di Negeri Jawa Dwipa sana tidak ada pohon lontar?”
“Banyak, Bheda. Di Negeri Jawa Dwipa juga banyak tumbuh pohon lontar. Buahnya dipanen, bunga jantannya disadap diambil air niranya, daunnya diambil untuk atap rumah, untuk tikar, juga untuk menulis seperti yang saya lakukan sekarang ini.”
“Lalu mengapa Bapak Sarala sampai datang ke Negeri Lio untuk mengambil daun lontar?”
“Oh, itu pertanyaanmu Bheda. Saya datang ke Negeri Lio, bukan hanya untuk memanen daun lontar, melainkan untuk mencari berbagai cerita dan ilmu yang ada di Negeri Lio, untuk saya tulis dan saya bawa ke Negeri Jawa Dwipa.”
“Bapak Sarala, ilmu apa yang Bapak peroleh dari Negeri Lio ini. Saya tak pernah melihat ada orang Lio mempunyai ilmu!”
“Itu karena kamu tidak tahu. Di Negeri Lio ini bukankah ada Gunung Kelimutu, dengan tiga danau di atasnya?”
“Benar Bapak Sarala. Aku juga pernah ke sana.”
“Salah satu danau itu bernama Tiwu Ata Polo, tempat roh manusia jahat yang semasa hidupnya memraktekkan ilmu santet. Aku diperintah oleh Raja Negeri Jawa Dwipa, untuk mencatat segala macam ilmu dari Negeri Lio, termasuk ilmu santet.”

Sejak itulah Bheda mempelajari ilmu santet dari salah satu lontar yang telah ditulisi oleh Sarala, tanpa seorang guru. Sarala hanya ahli tulis menulis dan menyalin, bukan ahli ilmu-ilmu itu. Kemudian ia meminta izin Sarala untuk menyalin salah satu lontar berisi ilmu santet itu. Sarala mengizinkan dengan syarat. “Ilmu itu jangan digunakan dengan maksud jahat, sebab akan berbalik ke diri sendiri, keluarga, atau orang-orang terdekat. Gunakanlah untuk mengobati mereka yang terkena santet, atau mengirimkan santet kepada para penjahat. Bheda kemudian berpuasa, tidak makan tidak minum. Ia hanya tahan selama sehari. Menurut lontar itu, seseorang baru akan bisa memraktekkan ilmu itu apabila telah berhasil berpuasa selama tiga, tujuh, dan yang paling tinggi 40 hari.

Sampai sekarang, Bheda masih menyimpan lontar berisi pengetahuan tentang santet dan pemanggilan roh-roh jahat. Maka, meskipun lahan dan kekayaannya masih berada di bawah lahan dan kekayaan Raja, ia lebih ditakuti oleh para Ata Ko’o, para budak, dan Tuke Sani, rakyat jelata. Meskipun sudah menjadi Maso Laki, tuan tanah, dan sudah tua, Bheda masih mampu memanjat lontar, dan naik ke atas pelepah. Ketika tak ada satu pun Ata Ko’o, pada siang yang sangat panas, Bheda bisa segera melompat ke batang pohon kelapa untuk memetik beberapa butir buah muda, memangkas sabut di pangkal buah dengan parang tajam dan meminum airnya. Beberapa orang Ata Ko’o bahkan percaya bahwa Bheda merupakan penjelmaan para Ata Polo dari Tiwu Ata Polo di Puncak Kelimutu. Mereka yakin bahwa Bapak Bheda, majikan mereka tidak bisa mati.

* * *

Lontar merupakan salah satu tumpuan hidup dua Maso Laki di Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori. Raja dan Kaja serta Bheda dan Kaju, mempekerjakan puluhan orang Ata Ko’o sebagai penyadap nira lontar, untuk direbus menjadi gula merah. Gula lontar Lio banyak dibeli saudagar Negeri Han di Tiongkok. Saudagar Negeri Jawa Dwipa tak terlalu tertarik membeli gula lontar Flores, karena di Jawa juga banyak terdapat pohon lontar. Sarala pernah bercerita kepada Bheda, bahwa di kampung halamannya, orang lebih banyak membuat gula merah dari pohon aren, kelapa dan tebu. Menghasilkan gula merah dari tebu lebih cepat, lebih murah, dan lebih tak beresiko dibanding membuat gula palma. Terlebih gula lontar. Pohon lontar itu berbatang besar, dan tinggi hingga paling sulit dipanjat. Aren juga sulit dipanjat, tetapi orang-orang Jawa biasa memasang tangga bambu betung utuh yang diberi lubang panjatan di tiap ruasnya.

Ndori dan bagian selatan pulau Flores tak banyak ditumbuhi pohon lontar, dan juga kelapa. Sebab di kawasan ini jarang dijumpai lahan datar yang cukup luas. Lontar dan kelapa menghendaki lahan datar yang luas, hingga buah yang jatuh tidak terus menggelinding ke bawah atau hanyut terbawa aliran air hujan dan masuk ke laut. Maka begitu ada lahan yang agak datar, di situlah bertumbuhan lontar dan kelapa dalam populasi cukup banyak. Beda dengan aren yang justru akan tumbuh di lereng-lereng terjal. Sebab biji aren yang disebut kolang-kaling, akan mengering dan tak bisa berkecambah jika terhampar di lahan datar terbuka, dan tertimpa terik matahari langsung. Di lahan terjal yang ternaungi semak belukar, kolang-kaling yang diberakkan musang akan terselip di sela-sela batu dan akar pepohonan yang kaya humus.

Di situlah biji aren akan berkecambah dan tumbuh menjadi individu tanaman baru. Maka di lereng-lereng terjal di Ndori ini, lebih banyak dijumpai pohon aren, dibanding lontar dan kelapa. Meskipun ada satu dua Ata Ko’o yang bertugas menyadap nira aren, Ndori dan juga seluruh Flores tetap lebih dikenal sebagai penghasil gula lontar. Bukan gula aren. Padahal hasil nira aren selalu lebih banyak dibanding nira lontar. Maka di Ndori, aren lebih banyak ditebang untuk diambil sagunya. Di kawasan ini memang jarang dijumpai pohon sagu. Tumbuhan palma penghasil pati ini juga lebih banyak tumbuh di Manggarai, Bajawa, dan lembah yang membentang dari Ende sampai ke Moni. Di sinilah air melimpah, dan sagu tumbuh dengan sangat suburnya.

Di tana watu, sabana yang berbatu-batu, lontar dan gebang tetap bisa bertahan hidup. Kelapa pun tidak. Kelapa menghendaki tanah aluvial yang datar dan subur. Sementara lontar dan gebang justru lebih suka lahan gersang berbatu-batu, yang kering, dan penuh ditumbuhi alang-alang. Di sinilah lontar bersahabat dengan alang-alang, reo, malaka, maja, dan kayu secang. Tana watu seperti ini sangat mudah terbakar. Pada musim kemarau yang berlangsung selama sembilan bulan itu, percikan api sekecil apa pun akan segera melalap serasah dan alang-alang kering. Ranting kering yang saling bergesekan ditiup angin selama berhari-hari, berminggu-minggu, dan berbulan-bulan di bawah terik matahari, suatu saat akan memercikkan api, yang akan segera menyapu tana watu itu sampai bersih.

Bagi Bangsa Lio, api itu bukan malapetaka, tetapi berkah. Tak sampai seminggu setelah tana watu terbakar, pucuk alang-alang yang hijau segera tumbuh dengan sangat suburnya. Padahal cuaca tetap panas dan kering kerontang. Rimpang alang-alang dalam tanah itu masih punya cukup air untuk menumbuhkan daun baru. Lalu akar-akarnya yang jauh menjangkau kedalaman celah bebatuan, segera menyedot air sedikit demi sedikit, untuk diuapkan di permukaan daun mudanya. Banteng dan Rusa yang selama kemarau ini terpaksa memakan apa saja, tiba-tiba menemukan santapan hijau, segar, dan sangat bergizi. Sabut buah lontar yang jelly kuningnya telah habis dimakan babi hutan dan monyet, lalu mengering terpanggang panas matahari, juga terbakar habis.

Tempurung tebal dan keras biji lontar itu jadi bersih, dan nanti, ketika Bapa Angkasa menurunkan air kehidupan, biji lontar itu akan berkecambah. Reo, malaka, maja dan secang kadang juga ikut terbakar. Tetapi mereka akan baik-baik saja. Ketika hujan pertama turun, pohon-pohon yang sekilas sudah tampak mati itu akan dengan sangat cepatnya menjadi hijau. Daun-daun lontar yang telah mengering, dengan pelepah tetap melekat kokoh pada batang itu, kadang juga ikut terbakar habis. Tetapi api tak akan sampai merambat ke atas dan mematikan titik tumbuh di bagian pucuk. Pangkal batang yang sebelumnya penuh dengan pelepah dan daun karing itu, sekarang jadi bersih. Para Ata Ko’o yang tak pintar memanjat pun, sekarang bisa naik ke pelepah lontar. Sebelumnya, tajuk lontar itu seperti dikitari oleh “benteng” daun dan pelepah kering yang sulit ditembus. * * *

Fragmen Novel Ine Pare

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: