BURUNG GARUGIWA

29/12/2016 at 11:37 (novel)

Matahari sudah pecah di celah tajuk pohon reo yang meranggas, tanda pagi sudah beranjak siang. Ine Pare menjijing kain bersih berjalan dengan cepat dikawal Funu, seorang Ata Ko’o,  budak perempuan setengah baya. Funu mengepit dua wadah dari daun lontar kering yang diikat di dua ujungnya. Wadah itu berisi buah lerak dan abu mayang kelapa. Mereka berdua berjalan menuju Ae Bara, sungai yang mengalirkan air jernih di antara batu-batu bulat berwarna putih. Batu-batu yang terbawa arus deras dari Kelimutu itu saling bergesekan satu sama lain hingga terkikis, berbentuk bulat, berpermukaan halus, dan berwarna putih bersih. Di seberang bukit itu mengalir pula Ae Mera, sungai yang juga berair jernih, tetapi dipenuhi batu-batu bulat berwarna merah. Di Ae Bara itulah Ine Pare dan Funu mandi, keramas, dan mencuci kain.

Funu mencairkan abu mayang kelapa dalam wadah daun lontar, dan membiarkan abu itu mengendap. Air abu yang sudah kembali jernih, ia tuangkan ke dalam wadah lain. Kemudian ia menaruh buah lerak di atas batu besar yang agak datar dan luas permukaannya, lalu menumbuknya dengan batu segenggaman telapak tangan. Buah lerak yang pecah itu ia buang bijinya, lalu kembali ia tumbuk dengan batu hingga hancur. Ine  Pare membasahi rambutnya dengan air sungai, lalu mengeramasinya dengan air abu mayang kelapa yang ia tuangkan sedikit demi sedikit dari wadah daun lontar. Rambut yang diberi air abu mayang kelapa itu akan berbusa. Sisik-sisik kulit kepala akan rontok terkena soda dari air abu itu. Kemudian ia menggosok tubuhnya dengan buah lerak yang telah ditumbuk hingga berbusa. Funu kembali menumbuk buah lerak, untuk mencuci kain. Air abu merupakan satu-satunya bahan pembersih kulit kepala, dan buah lerak merupakan satu-satunya bahan pembersih tubuh, serta pakaiaan.

Selembar kain berwarna putih, coklat soga dan biru nila itulah yang sehari-hari mereka lilitkan ke badan, mulai dari bawah lutut, sampai ke pinggang. Bagian dada mereka terbuka. Kadang mereka mengenakan kain yang agak panjang, yang dililitkan dari bawah lutut sampai menutup dada. Laki-laki hanya mengenakan cawat, kecuali ketika menghadiri pertemuan di Sao Keda mereka juga mengenakan kain seperti halnya kaum perempuan. Funu mencuci kain yang ia kenakan sendiri, dan kain Ine Pare. Hujan memang sudah jarang turun, tetapi Ae Bara masih mengalirkan air. Sebentar lagi, Ae Bara akan mengering hingga Ine Pare dan Funu harus berjalan jauh ke hulu sana untuk mandi. Di Negeri Lio, hujan hanya turun selama tiga bulan sepanjang tahun. Selebihnya kering. Hanya matahari yang terpancar menyilaukan di langit yang selalu biru bersih. “Apakah kulit tubuh dan rambutku sudah bersih Funu?” tanya Ine Pare. Funu mengangguk, membenarkan bahwa kulit dan rambut Ine Pare sudah bersih. “Sudah bersih Tuan Puteri. Marilah kita keringkan.”

Ine Pare membiarkan rambut yang sudah bersih itu dikeringkan angin dan sinar matahari. Setelah kering, Funu melumurinya dengan minyak cendana, minyak kelapa yang jenuh dengan aroma kayu cendana. “Aku tak akan membiarkan rambut dan kulit tubuhku ini disentuh oleh sembarang orang. Benar begitukah Funu?” Funu kembali mengangguk mengiyakan. “Benar Tuan Puteri, terlebih disentuh oleh tangan Bapak Bheda, tangan yang telah kotor oleh Ata Polo, roh jahat dari Tiwu Ata Polo, danau merah di puncak Kelimutu.” Ine Pare menaruh jari telunjuk tangan kanan di depan bibirnya yang terkatup rapat, matanya menatap Funu. “Jangan sembarangan menyebut nama itu Funu. Roh-roh jahat yang bergentayangan akan melaporkan apa yang kita bicarakan kepadanya Bapak Bedha!”

Bheda, merupakan orang terkaya nomor dua di Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori. Ia beristrikan  Kaju. Pasangan ini tak mempunyai anak. Bheda ingin menikahi Ine Pare, anak kedua pasangan Raja dan Kaja, orang terkaya di Nua Ria, agar bisa dikaruniai anak. Ine Pare menolak. “Akulah pengantin itu, akulah puteri Ibu Pertiwi, yang akan menikah dengan putera Bapa Angkasa, dan akan menghasilkan bahan pangan yang mengenyangkan, yang bisa disimpan lama agar Rakyat Negeri Lio tak kelaparan.” Funu tak tahu apa yang dikatakan majikannya. “Apakah yang Tuan Puteri maksud? Siapakah putera Bapa Angkasa? Apakah ia seorang pangeran tampan yang datang dari kerajaan Jawa Dwipa?” Ine Pare tak menjawab. Air matanya menetes. Ia dengar ramalan burung arwah itu masih sangat jelas terngiang di telinga.

* * *

Burung arwah, burung Garugiwa berukuran sangat kecil dan hanya hidup di hutan Kelimutu di ketinggian 1000 meter dpl. Tapi waktu itu tiba-tiba saja burung arwah tampak hinggap di salah satu ranting cendana di dekat Pantai Ndori. Ine Pare yang baru beranjak remaja, tengah berjalan berjingkat-jingkat di sela-sela pokok cendana, sambil menyenandungkan mantra yang biasa dinyanyikan pada upacara Mopo.

O… Duä Nggaé
Duä ghéta Lulu Wula
Nggaé ghalé Wena Tana
Nggoro sai noő soku lo
Tau ka aré kau gau doa
Rué kibi kau lema koja
Moő tau mujo wiwi kau
Noő moke mi.

(O… Dewa
Penyangga langit tertinggi
Pemangku bumi terdalam
Hadirlah lewat tiang sesaji
santaplah persembahan makanan ini
emping untuk meliukkan pinggang
segarkan mulut
dengan manis air nira).

“Dewa? Kau memanggil Dewa? Bukankah kau sendiri seorang Dewi Ine Puũ? Kaulah  puteri Ibu Pertiwi, Nggaé Ghalé Wena Tana!” Tiba-tiba terdengarlah suara burung Garugiwa dari tajuk cendana. Ine Pare kaget. “Ine Puũ? Siapa Ine Puũ? Namaku Ine Pare. Lagi pula siapakah kau?” Ine Pare menebarkan pandang matanya ke atas, dan tampaklah seekor burung Garugiwa bertengger di atas ranting cendana. Burung Garugiwa itu berbulu kuning, dengan kepala hitam, dan di lehernya terdapat warna magenta. Tiba-tiba perasaan takut menyergap Ine Pare. “Tak usah takut Ine Puũ. Aku Garugiwa, Burung Arwah dari Kelimutu. Aku diutus oleh Duä Nggaé, Penguasa Para Dewa untuk beri kabar kepada Ibu Padi di Negeri Lio. Ine Puũ, itulah nama rahasiamu sebagai Ibu Padi.”

“Lihatlah warna kuning bulu tubuhku, itulah pertanda kau akan jadi ‘Ibu Padi’. Kaulah yang akan menyebarkan padi dari Negeri Jawa Dwipa ke seluruh Negeri Lio. Raja dan Kaja orang tuamu di alam nyata ini, akan bernasib buruk, dibunuh oleh rakyat Lio sendiri. Nasib buruk itu bertandakan warna bulu kepalaku yang hitam. Dan kau Ine Puũ, lihatlah warna magenta di leherku. Inilah warna darah. Penanda lehermu akan terpenggal parang di Keli Ndota. Darah akan mengucur ke Ibu Pertiwi, alam akan kembali pada hukumnya; kau akan kembali ke pangkuan Ibu Pertiwi.” Selesai mendengar kata-kata burung Garugiwa, Ine Pare seperti terangkat ke atas puncak Kelimutu. Ia melihat kabut tersingkap dan tampaklah dunia yang sangat kecil. Ia melihat Bapa Raja dan Ibu Kaja hanyalah semut besar di antara semut-semut kecil yang sibuk berjalan mengangkut makanan untuk ditumpuk di sarang mereka.

Meski sangat takut, Ine Pare menyimpan pertemuannya dengan Burung Garugiwa dalam hati. Tak seorang pun boleh mendengarnya. Bapa Raja dan Ibu Kaja, dua orang tuanya itu tak boleh mendengarnya. Terlebih Ndale kakak laki-lakinya dan Sipi adik laki-lakinya. Mereka pasti akan menganggap pertemuannya dengan burung Garugiwa ini hanya sebagai dongeng yang dikarangnya. Tapi mengapa tadi ia menyingkap sedikit rahasia pribadinya kepada Funu, seorang Ata Ko’o? Bukankan Funu hanya seorang Ata Ko’o, seorang budak perempuan? “Funu, benarkah kau hanya seorang budak perempuan?” Funu, yang tengah melumuri rambut Ine Pare dengan minyak cendana terhenyak kaget. “Mengapa tadi Tuan Puteri menangis, dan sekarang bertanya tentang diri saya? Jelas hamba ini seorang budak perempuan yang harus selalu mengabdi kepada Bapa Raja dan Ibu Kaja, serta harus mengawal dan membantu Tuan Puteri!”

“Funu, semua itu semu. Kau tahu arti semu? Tak seperti yang sesungguhnya. Aku yakin kau sebenarnya bukan Ata Ko’o. Sama dengan diriku yang bukan Ine Pare, puteri Bapa Raja dan Ibu Kaja. Akulah Ine Puũ Puteri Ibu Pertiwi. Siapakah kau sesungguhnya Funu. Jangan menunduk. Tatap mataku dengan tajam, dan jawab pertanyaanku dengan jujur!” Kali ini Funu yang menangis. “Ampun Tuan Puteri, hamba memang Ata Ko’o bernama Funu. Bahkan aku tak tahu siapa dua orang tuaku, sebab sejak anak-anak hamba sudah berada di tengah-tengah keluarga Bapa Raja dan Ibu Kaja. Mengapa Tuan Puteri Ine Pare tega mengajukan pertanyaan seperti itu? Lagi pula, nama Tuan Puteri tetap Ine Pare. Aku sama sekali tak mengenal dan tak tahu siapa Ine Puũ.”

* * *

“Funu, karena kau tak mau membuka jatidirimu, aku pun cukup sampai di sini menyampaikan siapa diriku. Aku bukan siapa-siapa. Aku hanyalah pokok-pokok cendana itu, yang tercipta dari rahim Ibu Pertiwi dengan cacat bawaan. Akarku tak sempurna hingga tak mampu mengambil salah satu nutrisi mikro yang sebenarnya hanya kuperlukan dalam volume sangat sedikit, tapi kalau nutrisi mikro itu tak ada aku akan merana. Itulah aku Funu. Maka, agar aku bisa tumbuh baik dan jadi besar, kuperlukan tumbuhan inang seumur hidup. Biji dari buah cendana yang termakan burung itu hanya akan tumbuh, jika jatuh di atas gulma krokot bahkan alang-alang. Akarku yang masih lemah, akan langsung menempel di akar tumbuhan inang itu, agar dapat memperoleh nutrisi mikro yang tak bisa diserap akar langsung dari dalam tanah.”

“Funu, aku tahu kau malah bingung bukan? Ya, akulah pokok-pokok cendana yang seumur hidup memerlukan tumbuhan inang. Setelah agak besar tumbuhan inangku ganti semak orok-orok; kemudian perdu kayu secang. Setelah jadi pohon aku ganti lagi tumbuhan inang berupa pohon-pohon besar, mulai dari reo, malaka, maja, dan johar. Tapi dalam keadaan tidak sempurna itu, kayuku akan beraroma harum menembus langit hingga tercium oleh para dewa, bahkan oleh Dewa Tertinggi Duä Nggaé. Maka lihatlah para raja dari Negeri Han di Tiongkok, dari Negeri Jawa Dwipa, mereka menyuruh para saudagar itu datang ke Negeri Lio ini untuk membeli kayuku. Akulah cendana yang harum itu Funu, kau bisa mencium harum kayuku bukan?”

“Bisa Tuan Puteri Ine Pare. Tuan memang kayu cendana yang harum itu. Tapi aku tak akan membiarkan pokok cendana yang harum itu sampai tertebang oleh Bapak Bheda. Aku akan selalu menjaga Tuan Puteri agar tak sampai tersentuh oleh parang Bheda. Aku tahu Tuan Puteri, Bheda memang sangat menginginkan tuan puteri bisa menghasilkan anak untuknya. Sebab kata Bheda, istrinya mandul tak bisa menghasilkan anak. Tapi saya pernah mendengar Ibu Kaju, istri Bapak Bheda itu marah-marah dan mengatakan bahwa yang mandul Bapak Bheda.” Suatu hari, suami istri Bheda – Kaju memang pernah bertengkar dan terdengar oleh banyak orang. “Apa katamu Bheda? Aku Kaju istrimu ini mandul? Ketahuilah Bheda, kau dulu seorang Ata Ko’o. Kau naik martabat berkat bantuan pamanku bukan? Karena itu kau dinikahkan denganku! Bheda, ketahuliah sebelum dinikahkan denganmu, aku pernah dua kali hamil dan kugugurkan!”

Waktu itu Bheda juga marah besar. “Kaju, aku tahu semua. Aku tahu bahwa kau sebenarnya seorang sundal. Hanya karena pamanmu kaya maka kau terselamatkan hingga bisa menjadi istriku. Ketahuilah Kaju, aku juga tidak mandul. Ketika masih menjadi Ata Ko’o aku juga pernah menghamili seorang perempuan Ata Ko’o. Anak itu masih ada sampai sekarang. Jadi mari kita buktikan siapa di antara kita yang benar!” Kaju tambah marah. Umurku sudah lebih 60 sama denganmu. Kau sebagai laki-laki memang masih bisa menghamili gadis-gadis. Tapi aku sebagai perempuan sudah tak mungkin hamil meskipun digauli perjaka ting-ting! Kau tahu itu kan Bheda? Tapi apakah kau kira Ine Pare akan mau begitu saja kau nikahi? Apakah Bapa Raja dan Ibu Kaja akan merelakan puteri tunggal mereka menikah dengan tua bangka seperti dirimu?”

“Tutup mulutmu Kaju! Bukan aku yang akan melamar Ine Pare, tetapi Ine Pare yang akan minta pada Raja dan  Kaja untuk datang ke rumah ini. Mereka akan menyembahku dan memintaku agar bersedia menikahi Ine Pare. Apakah kau lupa Kaju? Dulu aku hanyalah seorang Ata Ko’o. Tapi budak laki-laki itu kemudian bisa memerintah para Ata Polo, abdi dari Tiwu Ata Polo di Puncak Kelimutu. Aku akan selalu dibantu olah para Ata Polo, roh-roh jahat itu. Semua keinginanku akan terkabul karena selalu dipenuhi oleh para Ata Polo yang datang dari Tiwu Ata Polo. Apakah kau ingin tubuhmu membusuk dan berlendir seperti pokok batang reo itu?” Pohon-pohon reo itu memang hanya mau tumbuh di kawasan berbatu-batu yang ekstrem kering. Di situlah gigitan serangga atau hewan, atau terpaan angin kencang, akan mengakibatkan kulit batang reo terluka, lalu dari luka itu keluarlah getah cokelat berlendir yang kemudian kering dan mengeras. * * *

Fragmen Novel Ine Pare  

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: