ANYAMAN DAN GERABAH

04/01/2017 at 14:20 (novel)

Ine Pare duduk di atas batu. Ia sudah tak remaja lagi. Tetapi laki-laki di Ndori tak akan ada yang berani menggodanya. “Tapi aku memang tak akan menikah seumur hidup. Dan hidupku memang hanya akan singkat saja bukan? Aku pengantin, aku tubuh yang hanya akan digunakan oleh Ibu Pertiwi untuk mendatangkan padi dari Negeri Jawa Dwipa. Tapi yang aku masih tak tahu, mengapa leherku harus dipenggal, agar bisa menyatu kembali dengan Ibu Pertiwi? Saat ini pun aku siap untuk dipenggal. Tapi siapa yang akan memenggal leherku ini? Apakah Bheda? Kalau dia yang akan memenggalku, aku tak akan mau. Aku lebih baik terjun masuk ke Tiwu Nuwa Muri Koo Fai, di Puncak Kelimutu sana, untuk menyatu dengan Ibu Pertiwi, menyatu dengan roh orang-orang muda. Funu!” Tiba-tiba Ine Pare merasa harus ditemani oleh Funu.

“Aku di sini Tuan Puteri. Aku segera datang.” Funu lalu datang dengan membawa nyiru. Rambutnya yang ikal penuh dengan serbuk warna putih kecokelatan dan berbau harum. “Ini bau apa yang harum ini Funu?” Funu melihat kainnya yang kotor, juga rambutnya. Ia menjawab. “Ini aroma dedak katul, serbuk yang akan terkelupas apabila biji padi terus ditumbuk agar menjadi putih. Hamba ini baru saja ikut latihan menumbuk padi, bersama dengan para Ata Ko’o dan Tuke Sani di dekat Lewa sana.” Seakan tak menggubris jawaban Funu, Ine Pare justru lompat ke pertanyaan lain. “Funu, mengapa kau tak menikah?” Seakan didorong ke sudut yang mematikan, Funu agak lama berdiri mematung. Setelah menarik napas dalam-dalam barulah ia menjawab. “Apakah semua orang wajib menikah?”
Ine Pare menjawab dan kembali bertanya lagi dengan cepat. “Tidak. Tak pernah ada keharusan untuk menikah. Tapi tentu ada penyebab, mengapa seseorang menikah, dan yang lain tidak.”

“Baiklah Tuan Puteri. Hamba ini mendapat tugas dari Nggaé Wena Tana untuk mengawal dan menjaga Tuan Puteri, sampai Tuan Puteri selesai menunaikan tugas. Tetapi setelah itu pun hamba masih harus mengawal agar tanaman padi bisa terus tumbuh di Negeri Flores. Agar tugas itu  bisa diemban dengan cukup baik, hamba memutuskan untuk tidak menikah.” Ine Pare mengangguk-angguk, tanpa bisa menerima jawaban Funu. Kemudian ia bertanya lebih lanjut. “Bagaimana kau menyalurkan hasrat seksualmu?” Kembali Funu seperti didorong ke sudut yang mematikan. Tetapi kali ini dengan cepat ia menjawab. “Kuserahkan semua pada Duä Nggaé, dan hamba ini tinggal menjalankan, apa yang dikehendakinya.” Ine Pare kembali mengejar. “Tetapi dengan cara apa Duä Nggaé memberimu jalan untuk menyalurkan hasrat seksual itu Funu?” Kali ini Funu menjawab. “Mohon ampun Tuan Puteri, pertanyaan itu sudah terlalu pribadi hingga mohon izin untuk tidak menjawabnya sekarang.”

Funu lalu mengajak Ine Pare untuk ikut belajar menumbuk, dan menampi padi, hingga menjadi beras. “Tuan Puteri, saya sudah mencoba membakar malai padi, dan abunya lebih bagus untuk keramas dibanding dengan abu dari mayang kelapa. Apakah Tuan Puteri mau mencobanya sekarang?” Ine Pare dan Funu kemudian hanyut dalam proses mengolah padi menjadi beras. Mulai dari menanam, baik padi ladang maupun padi sawah, menyiangi rumput, menjaga agar padi tak diserang hama, memanen, menjemur, memasukkan ke dalam Lewa, menumbuk, menampi, sampai akhirnya memasaknya menjadi nasi. Ini sebuah kultur baru yang ternyata memerlukan keterampilan tersendiri. Padi ladang tak memerlukan pengolahan lahan dengan cangkul, karena benih berupa gabah cukup dimasukkan ke dalam lubang yang telah ditugal. Tetapi menanam padi sawah memerlukan cangkul, bahkan bajak. Meskipun bajak kemudian tak berguna dan cukup diganti dengan injakan kaki kerbau.

Masyarakat Negeri Lio juga harus belajar membuat dan mengoperasikan ketam, alat penuai padi. Pisau ketam memang masih didatangkan dari Jawa Dwipa, tetapi bilah kayu pulai, dengan bambu bisa mereka buat sendiri. Mereka juga harus belajar mengoperasikan ketam itu, hingga memanen padi bisa efektif. Ternyata tidak mudah. Jari manis sering terluka apabila tidak tepat meletakkan tangkai malai padi, di antara jari tengah dan jari manis. Tetapi setelah berjalan setahun dua tahun, tampak mulai ada beberapa Ata Ko’o dan Tuke Sani yang bisa memetik malai padi dengan sangat cekatan. Demikian pula dengan menumbuk dan menampi padi menjadi beras. Malai padi bulu itu harus ditumbuk di atas anyaman daun lontar atau dirontokkan dengan pisau dari bambu. Setelah itu butiran gabah ditumbuk dalam lesung dengan menggunakan alu sampai pecah kulit, kemudian ditampi untuk memisahkan sekam dengan butiran beras.

* * *

Di Negeri Jawa Dwipa, yang disebut lesung merupakan balok kayu panjang yang dibentuk segi empat, lalu diberi lubang di bagian atasnya. Ke dalam lubang memanjang itu dimasukkanlah ikatan malai padi, kemudian ditumbuk dengan alu beramai-ramai. Setelah gabah itu lepas dari malai, merang padi diambil, dan gabah terus ditumbuk sampai menjadi beras. Untuk menumbuk gabah dalam volume lebih kecil, orang-orang Jawa Dwipa menggunakan lumpang. Balok kayu pendek yang diberi lubang selebar sejengkal berbentuk lingkaran. Ternyata di Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori, tak pernah ada kayu berukuran sebesar dan sepanjang lesung di Jawa Dwipa. Maka yang disebut lesung di Ndori, sebenarnya merupakan lumpang. Hingga sebelum ditumbuk di lesung kecil itu malai padi terlebih dahulu ditumbuk di tikar daun lontar, atau dirontokkan dengan pisau bambu. Untuk menampi gabah yang telah ditumbuk agar sekam dan beras terpisah, digunakanlah nyiru.

Sebenarnya orang-orang Jawa Dwipa juga membawa tampah, yakni nyiru dengan bagian tepi diberi pembatas setengah jengkal, dari belahan bambu utuh. Bagian tengah nyiru berupa anyaman bambu halus dan rapat, berbentuk lingkaran, berdiameter sepanjang lengan orang dewasa. Tetapi orang-orang Ndori tak mau memberi pembatas berupa belahan bambu yang di Jawa Dwipa disebut tampah. Mereka memberi pembatas nyiru itu dengan rotan utuh seukuran jari, lalu mengikatnya dengan tali rotan. Hingga nyiru Ndori, lebih kuat dari Nyiru Jawa Dwipa. Dengan nyiru inilah sekam, gabah, dedak, dan menir dipisahkan. Untuk memisahkan beras dengan sekam, nyiru itu digerakkan ke atas dan ke bawah dengan gerakan lambat, namun bersudut besar. Sekam akan terkumpul di depan nyiru lalu terbuang ke bawah, dan berasnya terkumpul di tengah dan belakang nyiru. Butiran gabah yang belum pecah, dipisahkan dari beras dengan memutar nyiru. Beras terkumpul di pinggir dan gabah berada di tengah.

Beras pecah kulit itu kemudian disosoh agar kulit arinya mengelupas. Untuk memisahkan kulit ari yang disebut dedak atau katul dengan beras, nyiru harus digetarkan ke atas dan ke bawah, hingga beras terkumpul di depan, dan katul bergerak ke belakang. Beras yang hancur menjadi menir juga bisa dipisahkan dari beras utuh dengan menggetarkan tampah ke atas dan ke bawah, tetapi kali ini dengan agak dimiringkan. Mengikuti saran Funu, Ine Pare ikut mencoba menumbuk padi menggunakan alu. Kemudian ia juga ikut menampi padi yang telah ditumbuk menggunakan alu. Alat penumbuk padi ini merupakan batang kayu sebesar lengan, dengan panjang setinggi orang dewasa. Jenis kayu dipilih yang keras misalnya kayu angsana, johar, atau bakau. Bagian tengah alu dikecilkan dan dihaluskan hingga enak digenggam tangan.

“Tuan Puteri Ine Pare, Anda tampak pintar menumbuk padi seperti orang Jawa Dwipa. Anda bahkan tampak lebih terampil dibanding Ibu Swesti. KapanTuan Puteri belajar menumbuk padi?” Tanya seorang Tuke Sani kepada Ine Pare. “Aku baru memegang alu hari ini, dan sebelumnya tak pernah tahu bagaimana cara menumbuk padi.” Kata Ine Pare, yang kemudian malah memberi tahu para Ata Ko’o dan Tuke Sani itu. “Begini ya, alu tidak boleh dipukulkan ke malai padi atau gabah dengan kekuatan tangan, melainkan cukup dijatuhkan. Hingga berat alu itulah sebenarnya yang menghantam malai padi atau gabah; agar rontok atau terkelupas. Dengan cara ini tenaga bisa dihemat. Tenaga hanya dikeluarkan untuk mengangkat alu, hingga telapak tangan berada di atas kepala. Setelah itu alu seakan dilepas hingga jatuh menimpa padi. Tangan hanya digunakan untuk mengemudikan arah ujung alu, agar bisa tepat jatuh di sasaran. Tadi, alu kupukulkan ke arah padi dengan menggunakan tenaga penuh, maka tanganku cepat capek bahkan lecet-lecet, dan beras remuk.”

Pola hidup rumah tangga pengikut Raja dan Kaja berubah. Mereka memerlukan perkakas dari anyaman bambu, dan gerabah. Sarik, yang datang bersama Rishi untuk menaman padi di lahan sawah, pernah bekerja di pembuat gerabah. Maka ia mencoba membuat alat pemutar lurus. Papan kayu berbentuk lingkaran, dengan lubang ditengah. Lubang papan bulat itu kemudian dimasukkan ke sumbu papan kayu yang juga berbentuk lingkaran tetapi berukuran lebih besar. Ketika alat itu ditaruh di tanah, papan di bagian atas bisa diputar dengan mudah. Sebagai pelicin, sumbu pemutar diberi minyak kelapa. Ada dua macam pemutar tanah liat agar bisa dibentuk menjadi gerabah. Pemutar lurus ditaruh tegak lurus di atas tanah, dan pembuat gerabah berjongkok atau duduk si sampingnya. Pemutar miring dipangku dengan posisi miring, dan pembuat gerabah duduk dengan posisi kaki diluruskan.

* * *

Meskipun pernah bekerja sebagai pembuat gerabah, tak semua diingat baik oleh Sarik. Maka ketika ia pertama kali memraktekkan pembuatan adonan dari tanah liat, kemudian membentuk kuali dan tempayan, banyak melakukan kesalahan dan jadi bahan tertawaan.  Kali ini Sarik hanya akan membuat tempayan dan kuali, berikut tutupnya. Dengan punya kuali dan tempayan, masyarakat Nua Ria di Tanah Persekutuan Ndori sudah bisa menanak nasi. Sebab sudah ada beberapa orang yang bisa menganyam kukusan. Tempayan akan digunakan untuk membuat karon, dan kuali panjang digunakan untuk mengukus hasil karon. Setelah terkumpul 10 tempayan dan 10 kuali yang telah kering, Sarik menata kayu di atas tanah yang datar. Di atas kayu itu dihamparkan serasah, lalu tempayan dan kuali mentah itu ditata di atasnya.

Setelah tertata rapi, lubang kuali dan tempayan itu juga diisi serasah dan kayu bakar, dan seluruhnya ditimbun lagi dengan serasah sampai tak kelihatan. Di atasnya kembali ditaruh kayu, lalu ditimbun serasah lagi dan kemudian timbunan serasah dengan gerabah di dalamnya dibakar. Asap terbang ke mana-mana, dan anak-anak senang sekali keluar-masuk ke dalam kabut asap itu sambil tertawa-tawa dan berteriak-teriak. Api itu akan hidup terus sampai sehari semalam, kemudian seluruh serasah dan kayu bakar itu menjadi abu. Setelah tiga hari, api itu sudah padam, tetapi bagian dalamnya masih tetap panas. Dengan hati-hati Sarik membuka timbunan abu putih itu dan di dalamnya tampak kuali dan tempayan yang sudah masak, berwarna kemerahan. Sebelumnya kuali dan tempayan itu berwarna cokelat gelap. Beberapa kuali dan tempayan tak terbakar sempurna, hingga ada belang berwarna hitam.

Tempayan dan kuali yang sudah siap pakai itu ditata berderet di atas hamparan abu, dan menjadi tontonan masyarakat Ndori. Sarik dibantu Funu harus menghitung, berapa nilai barter satu tempayan dan berapa satu kuali. Bahan yang bisa digunakan sebagai barter terdiri dari hasil bumi, ternak dan ikan. Mulai dari kayu cendana, kelapa, gula, pisang, sukun, talas, padi, ayam, babi, sampai ke ikan laut. Jumlahnya sesuai dengan kesepakatan. Beberapa Tuke Sani yang sangat memerlukan tempayan atau kuali tetapi tidak punya bahan barter, bisa mengganti bahan barter itu dengan tenaga kerja. Setelah berjalan beberapa bulan, yang banyak diminta oleh warga masyarakat Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori, bukan kuali atau tempayan dalam ukuran standar, melainkan juga tempayan ukuran sangat besar, sebagai wadah air permanen. Dengan kultur memasak nasi, kebutuhan air untuk memasak menjadi lebih basar. Dulunya warga masyarakat hanya minum air mentah, dan semua bahan makanan dimasak dengan cara dibakar.

Selain tempayan ukuran besar, masyarakat juga mulai memesan tempayan dan kuali ukuran lebih kecil. Tradisi memasak nasi, ternyata juga mulai mengubah cara memasak makanan lain yang dulu semuanya dibakar bersamaan. Sekarang orang mulai senang mengukus talas, buah sukun, dan uwi-uwian setelah terlebih dahulu dikupas. Kebutuhan pisau juga meningkat hingga makin banyak barang dagangan yang haru dibawa oleh kapal-kapal cadik dari Negeri Jawa Dwipa. Dengan kebiasaan baru memasak dengan merebus dan mengukus, memasak sayuran secara khusus dengan bumbu-bumbu juga mulai disukai. Kebutuhan bahan bumbu juga semakin banyak. Awak kapal junk dari Negeri Han memperkenalkan bawang merah dan bawang putih sebagai bumbu. Orang-orang Jawa Dwipa memperkenalkan merebus ikan dengan kunyit, buah asam, dengan diberi lada atau cabai jawa dan garam. Ikan yang direbus dalam kuali kecil dengan bumbu itu, terasa lebih lezat.

Orang-orang Ndori juga mulai berani naik ke kapal junk dari Negeri Han, untuk melihat para awak kapal memasak. Ternyata mereka punya alat memasak dari besi, yang dibuat seperti kuali tetapi dengan mulut sangat lebar. Ke dalam wadah itu dituangkan minyak, setelah panas ikan dimasukkan ke dalamnya. Baunya sangat sedap. Salah seorang Tuke Sani membarter alat itu dengan tiga ekor ukuran sedang. Setelah itu rumah Tuke Sani itu tak henti-henti didatangi warga masyarakat yang ingin melihat cara memasak ikan dengan minyak. Beberapa orang Tuke Sani tertarik untuk memesan alat memasak baru itu. Ibu Kaja juga memesan alat itu dari kapal-kapal Cadik Negeri Jawa Dwipa. “Pandai besi kami sudah terbiasa membuat alat memasak seperti itu Ibu Kaja. Nanti pada pelayaran tahun depan kami akan membawa alat-alat itu. Tetapi kami hanya mau dibarter dengan cendana atau buah pinang. * * *

Fragmen Novel Ine Pare

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: