SAO RIA DAN SAO KEDA

10/01/2017 at 15:35 (novel)

Pantai Laut Sabu, puncak musim kemarau, udara dingin masuk sampai ke dalam kain tebal yang digunakan untuk selimut. Tapi Ine Pare justru merasakan udara sangat panas. Padahal semua orang saat itu sedang kedinginan. Bapak Raja dan Ibu Kaja sudah terlelap tidur, karena mereka sangat capek setelah seharian bekerja. Ndale dan Sipi juga sudah sejak sore tadi terlelap di dalam Sao Ria itu. Hanya Ine Pare yang malam itu masih terjaga ditemani Funu. “Mengapa aku merasakan udara sangat panas Funu?” Tanya Ine Pare. Funu heran. “Tuan Puteri, semua orang kedinginan pada puncak musim kemarau seperti ini. Lihatlah para Ata Ko’o yang berjaga di luar sana. Mereka duduk dan tidur-tiduran di depan tungku penyulingan cendana yang selalu menyala. Mengapa Tuan Puteri justru merasa udara panas? Apakah Tuan Puteri sakit? Apakah Bapak Raja dan Ibu Kaja perlu saya bangunkan?” Ine Pare menggeleng. “Funu, temanilah aku keluar!”

Di luar Sao Ria, udara terasa lebih dingin lagi. Angin mati. Tapi tampak ada aliran udara dingin dari arah laut Sabu. “Funu, mengapa aku ingin sekali bertemu dengan Bapak Bheda?” Funu kaget, selintas ia melihat ada cahaya merah dari arah Sao Ria Bheda mengarah ke Ine Pare. “Tuan Puteri, ayo masuk!” Funu menyeret tangan Ine Pare, meskipun sebenarnya Ine Pare lebih senang berada di luar Sao Ria, karena udara yang sangat panas. Di dalam Sao Ria, Funu mengambil air, dengan mangkuk dari Negeri Han. Ia memantrai air itu, tanpa sepengetahuan Ine Pare, kemudian menyuruhnya minum. “Tuan Puteri merasa sangat panas bukan? Inilah air yang akan mendinginkan udara, akan mendinginkan hati, akan mendinginkan kepala dan kemudian mendatangkan rasa kantuk yang luarbiasa! Minumlah Tuan Puteri.” Ine Pare memang merasa sangat haus. Air dari mangkuk itu terasa sangat dingin dan menyegarkan. Ia kemudian juga merasakan udara berubah menjadi sangat dingin. “Mana selimutku Funu? Mengapa sekarang udara menjadi dingin?”

Tak lama kemudian Ine Pare tertidur pulas. Funu segera keluar dari dalam Sao Ria dengan membawa semangkuk air. Ia melihat sinar merah terpancar dari Sao Ria rumah besar tempat tinggal Bheda, yang masih mengarah ke dalam Sao Ria Raja. Ia lalu duduk di halaman Sao Ria Raja, menghadap ke Sao Bheda yang memancarkan sinar merah itu. Funu membaca mantra, meneguk air dari mangkuk, lalu menyemprotkannya ke arah Sao Ria Bheda, sebanyak tiga kali. Tak lama kemudian sinar merah berubah arah menuju ke dirinya. Funu terus duduk di halaman Sao Ria itu sampai menjelang pagi. Dingin udara malam dari Laut Sabu tak terasakan, sebab aura udara panas yang terpancar dari Rumah Bheda itu telah menjadi selimut hangat di tengah halaman Sao Ria yang sangat dingin. “Terimakasih Bheda, kau telah mengirim selimut yang hangat ini.”

Pada malam yang gelap, Sao Ria yang berarti rumah besar itu tampak seperti sosok gunung hitam yang anggun. Sao Ria yang ditempati Raja, Kaja, Ndale, Ine Pare, dan Sipi terletak di atas gundukan tanah yang sedikit lebih rendah dari rumah adat Sao Keda. Sao Ria Raja berukuran besar, meskipun tetap lebih kecil dibanding Sao Keda. Sao Ria Raja terdiri dari rumah utama, dapur, Lewa atau lumbung  untuk menyimpan sagu aren, sukun, pisang, dan umbi-umbian. Di sebelah timur terdapat Lewa untuk menumpuk kayu cendana dan buah pinang. Sao Ria Raja dan Kaja, berbentuk panggung, beratapkan alang-alang, dan berlantaikan papan kayu cemara laut. Rumah Tuke Sani dan Ata Ko’o hanya berupa satu bangunan panggung, juga beratapkan alang-alang, tetapi berukuran kecil. Di rumah itulah  keluarga Tuke Sani dan Ata Ko’o tidur, memasak, makan, dan menyimpan bahan makanan.

Rumah  Tuke Sani dan Ata Ko’o terserak di seluruh lembah Nua Ria, bahkan sampai jauh ke atas bukit-bukit itu, atau menyamping ke arah barat dan timur pantai di Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori. Menjelang pagi, Funu merasakan udara panas itu pelan-pelan menghilang. “Awas kau Bheda. Peletmu telah kuketahui hingga akan menjadi tumpul. Ine Pare, Tuan Puteriku itu tak akan tersentuh lagi oleh daya peletmu. Duä Nggaé, Duä Lulu Wula, Nggaé Wena Tana, naungi Sao Ria ini dengan daya hidupmu. Lindungi Tuan Puteriku Ine Pare dari tangan-tangan Ata Polo yang ingin menjangkaunya. Duä Nggaé, Dewa Tertinggi turunkan kelimpahan berkatmu. Duä Lulu Wula, Bapa Angkasa penguasa langit, terangi tempat-tempat persembunyian para Ata Polo. Nggaé Wena Tana, Ibu Pertiwi, penguasa bumi terdalam, bersihkan tempat berpijak Ine Pare dari pengaruh jahat para Ata Polo.”

* * *

Di atas Sao Ria itu berdiri dengan kokohnya Sao Keda, rumah adat tempat seluruh warga masyarakat berkumpul. Meskipun yang boleh masuk ke dalam Sao Keda hanya terbatas para Mosa Laki dan tetua adat. Sao Keda berukuran paling besar, dengan atap paling tinggi di seluruh lembah Nua Ria. Sao Ria, rumah besar Mosa Laki Raja dan Mosa Laki Bheda, terletak berdekatan dengan Sao Keda. Di antara tiga rumah besar ini terletaklah Kanga, tanah lapang dengan Tupu Mbusu, sebuah batu lonjong di tengah-tengahnya. Kanga merupakan lambang Ibu Pertiwi, tempat bersemayam Nggaé Wena Tana. Sedangkan Tupu Mbusu merupakan lambang Bapa Angkasa, tempat bersemayam Duä Lulu Wula. Itulah Yoni  dan Lingga yang apabila menyatu akan mendatangkan kesuburan dan kemakmuran bagi seluruh rakyat di tanah persekutuan Ndori di Negeri Lio.

Sao Keda merupakan rumah paling besar di Nua Ria. Di Sao Keda itulah seluruh warga Nua Ria, di Tanah Persekutuan Ndori berkumpul, untuk melaksanakan ritual adat dan keagamaan kepada  Duä Nggaé, penguasa alam tertinggi; Duä Lulu Wula,  Penguasa Langit Tertinggi; Nggaé Wena Tana, Penguasa Bumi Terdalam; Wula, Bulan; Leja,  Matahari; dan Tana Watu, Tanah Batu. Upacara adat keagamaan di Sao Keda, diikuti oleh laki-laki dan perempuan, orang tua dan anak-anak, dipimpin oleh ketua adat. Di dekat Sao Keda, terletak Kuwu Lewa, dapur umum tempat membakar talas, sukun, buah pisang, ikan, dan daging babi. Waktu itu belum banyak makanan yang dimasak dengan cara direbus dalam kuali. Hampir semua bahan makanan dibakar. Selain dibakar dengan cara biasa, bahan makanan juga dibakar dengan cara ditimbun abu panas.

Rumah adat,  lumbung maupun tempat tinggal di Ndori selalu berbentuk panggung. Kerangka rumah terbuat dari kayu, berdinding belahan kayu atau bambu, yang ditata membujur ke atas. Rumah-rumah itu beratapkan alang-alang. Alang-alang untuk bahan atap harus dicabut, hingga batang dan bagian pangkalnya terambil. Alang-alang ini dijemur, kemudian ditata dan di atasnya ditaruh belahan bambu sebagai kerangka. Pangkal batang alang-alang itu ditekuk kedalam, hingga menjepit kerangka bambu itu. Deretan batang alang-alang itu kemudian diikat dengan tali bambu, sayatan tipis batang bambu yang masih berusia muda. Untaian alang-alang itu dipasang dengan jarak rapat dengan cara diikatkan pada kaso yang terbuat dari bambu utuh. Di bawah naungan atap alang-alang inilah masyarakat Lio berlindung dari terik matahari, hujan, dan angin kencang.

Kerangka rumah, biasanya terbuat dari kayu pohon  tilu tuna, nara, kodal, mondo, lui, worok,  kawak, nito, dan sa’u. Kayu-kayu itu dipilih dari pohon yang berbatang lurus, serta telah cukup tua. Kayu pohon reo tak pernah dijadikan bahan bangunan, karena tak terlalu keras. Kayu reo justru cocok untuk jembatan, sebab ketika ditaruh di atas tanah, bagian pangkal kayu akan tumbuh akar, sementara bagian ujungnya akan bertunas dan tumbuh sebagai tanaman baru. Maka jembatan dari dua atau beberapa batang kayu reo yang dipasang saling silang, akan terus awet, tak akan lapuk. Sebab batang kayu utuh itu tumbuh menjadi individu tanaman baru di kedua ujungnya. Selain tak akan lapuk, jembatan dari batang reo juga akan tetap terpancang di tempatnya, karena akar yang tumbuh di kedua sisi sungai atau parit, akan menjadi pasak yang menancap kuat di tebing sungai.

Orang-orang Lio percaya bahwa kayu reo tak bisa mati. Bahkan ranting kecil yang terpangkas dan jatuh ke tanah pun akan bisa tumbuh menjadi tanaman baru. Belum lagi biji-biji kecil yang diberakkan burung di sembarang tempat itu, yang juga akan tumbuh dengan sangat cepatnya menjadi tanaman baru. Kadang-kadang reo memang menjengkelkan, karena tumbuh di mana-mana memenuhi lahan mengalahkan cendana dan pinang. Padahal dua tanaman ini merupakan tumpuan hidup masyarakat Lio. Maka reo yang tumbuh terlalu banyak di antara tegakan cendana dan pinang, harus dikurangi. Untuk membunuhnya, orang-orang akan membakar pangkal batang reo sampai habis. Itu pun kadang-kadang saat hujan turun,  dari pangkal batang yang belum terbakar itu akan tumbuh tunas baru.

* * *

Pagi itu penghuni Sao Ria Raja dan Kaja telah beraktivitas seperti biasa. Ine Pare masih terbaring di tempat tidurnya. Ia merasakan pusing dan sakit di kepalanya. “Funu, apa yang terjadi malam tadi? Mengapa udara terasa panas, dan aku ingin sekali bertemu dengan Bapak Bheda?” Lama Funu tak menjawab. “Marilah aku pijat punggung, tengkuk, dan kepala Tuan Puteri. Sakit di kepala selalu diakibatkan aliran darah dari bawah terhambat mengalir ke atas. Maka punggung bagian atas, tengkuk, dan kepala bagian bawah harus dipijit. Demikian pula kalau tangan sakit atau kesemutan, yang harus dipijit tulang belikat, dan punggung bagian atas. Begitulah Tuan Puteri. Di sini sakit sekali bukan? Tahan Tuan Puteri. Di sini ini memang bagian yang paling sakit.” Ine pare merintih-rintih, bahkan tak jarang ia menjerit kesakitan.

“Apa kakak sakit?” Tanya Sipi pada Funu. Funu menggeleng. “Tidak Adik Sipi. Ia hanya capek karena semalam kurang tidur.” Setelah agak lama dipijat, Ine Pare merasakan pusingnya menghilang. Funu berteriak memanggil Ata Ko’o. “Ayo siapa yang ada di dapur, ambilkan aku air panas. Tak lama kemudian seorang Ata Ko’o laki-laki datang membawa mangkuk berisi air panas. “Ini air panas itu Ibu Funu! Apakah Ibu Funu haus dan akan minum?” Funu membentak Ata Ko’o laki-laki itu. “Taruh saja di sini dan terus pergi. Yang akan minum Tuan Puteri Ine Pare.” Funu lalu meminta Ine Pare minum air panas itu sedikit demi sedikit. Tak lama kemudian kening Ine Pare berkeringat. Setelah itu, punggung dan tangan Ine Pare berkeringat. “Biarlah para Ata Ko’o merebus air di tempayan besar. Nanti Tuan Puteri mandi di rumah. Tidak usah di Ae Bara.”

“Funu, kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang terjadi malam tadi? Mengapa udara sangat panas, dan aku ingin sekali bertemu Bapak Bheda?” Kali ini pun Funu agak lama terdiam. “Itulah ilmu pelet Tuan Puteri. Bapak Bheda telah mencoba mengirimkan ilmu peletnya kepada Tuan Puteri. Apakah sekarang Tuan Puteri masih merasakan udara panas itu?” Ine Pare menggeleng. “Tidak Funu. Sejak kau beri aku air dingin itu, udara panas menghilang, dan aku marasa ngantuk sekali. Sekarang jawab dengan jujur Funu. Siapa sebenarnya kau? Aku menjadi makin ragu kalau kau hanya seorang perempuan Ata Ko’o. Katakan dengan jujur Funu.” Kali ini Funu menjawab dengan sangat cepat. “Tuan Puteri Ine Pare, jelas hamba ini seorang Ata Ko’o, budak perempuan Bapak Raja dan Ibu Kaja. Siapa pun di Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori ini tahu, bahwa Bapak Bheda ingin meminang Tuan Puteri, dengan cara mengirim pelet.”

“Ya sudahlah Funu. Aku tahu itu. Untunglah Bapak Raja dan Ibu Kaja mempunyai seorang Ata Ko’o bernama Funu. Aku juga sungguh bersyukur kepada Duä Nggaé Dewa Tertinggi, kepada Duä Lulu Wula Penguasa Langit Tertinggi, kepada Nggaé Wena Tana Penguasa Bumi Terdalam, kepada Wula dan Leja, Bulan dan Matahari, serta kepada Sabana Tana Watu. Dan tentu saja kepada Funu, Ata Ko’o yang selalu menjagaku siang dan malam, bahkan ketika orang-orang lain telah terlelap dalam tidurnya. Funu, apakah Bheda juga mengirimkan daya mengantuk kepada para penghuni Sao Ria ini? Mengapa tadi malam semua orang tertidur dengan sangat nyenyaknya?” Kali ini Funu kembali terdiam sangat lama. Pandang matanya ia alihkan ke arah luar. Tanpa ia sadari air mata meleleh di pipinya. Ine Pare mendekat, lalu memeluk Funu, dan mengusap air mata Funu dengan kainnya. “Funu, maafkan aku telah banyak bertanya yang bukan-bukan kepadamu.”

Di Negeri Lio memang ada ilmu santet, tetapi tak ada ilmu pelet, juga ilmu sirep untuk membuat orang-orang tertidur nyenyak. Dua ilmu ini dipelajari Bheda dari lontar-lontar yang dibawa Sarala dari Negeri Jawa Dwipa. Untunglah Bheda belum terlalu menguasai dua ilmu itu. “Tuan Puteri, Hamba ini memang seorang Ata Ko’o. Pekerjaan apa pun Tuan Puteri, apabila dilakukan dengan sepenuh hati, hasilnya akan luarbiasa. Apabila kita bekerja dengan sepenuh hati Tuan Puteri, sebenarnya kita membuka hati terhadap pekerjaan itu, berarti juga membuka hati terhadap Duä Nggaé, Duä Lulu Wula, dan Nggaé Wena Tana. Pada saat itu, sebenarnya yang bekerja bukan diri kita, melainkan Duä Nggaé, Duä Lulu Wula, dan Nggaé Wena Tana. Itulah yang pernah saya dengar dari Bapa Raja, dan Ibu Kaja.”

Fragmen Novel Ine Pare

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: