KERBAU DI SAWAH

18/01/2017 at 15:05 (novel)

Enam kapal cadik dari Jawa Dwipa membuang sauh di lepas Pantai Ndori. Dengan perahu-perahu berdayung, penumpang dan barang-barang dibawa ke daratan. Kali ini Bhadrak datang, ditemani oleh Dharani. Selain itu ia juga membawa dua orang petani padi sawah. Ine Pare menyambut kedatangan Dharani dengan sangat hangat. Lama sekali mereka berpelukan, dan Ine Pare sempat meneteskan air mata. Tampak sekali mereka sebenarnya ingin sekali ngobrol akrab, tetapi terkendala bahasa, karena Dharani hanya menguasai bahasa tulis Lio. Tiba-tiba Swesti, istri Kalyan datang menghaturkan sembah ke arah Dharani, maupun Ine Pare. Tuan-tuan Puteri, bolehkah saya membantu Tuan-tuan Puteri sebagai penerjemah. Hamba ini memang masih belum lancar benar Bahasa Lio, dibanding dengan anak-anak kami. Tetapi sudah bisalah membantu Tuan-tuan Puteri untuk saling berbincang. Marilah kita duduk di dalam Kewa sana.

Dharani dan Ine Pare merasa senang sekali, sekarang ada banyak orang yang bisa membantu berkomunikasi. Dharani mengatakan bahwa sebaiknya memang ada orang-orang dari Negeri Lio yang mau datang ke Jawa Dwipa. “Kali ini kami juga membawa serta dua keluarga, Rishi dan Sarik. Mereka dua orang petani lahan sawah. Kami juga membawa serta benih padi sawah, termasuk padi ketan.” Ine Pare keheranan. “Apa itu padi ketan?” Tanpa menunggu penjelasan dari Dharani, Swesti langsung menjelaskan kepada Ine Pare. “Tuan Puteri, padi ketan itu seperti padi biasa, tetapi lengket. Itu seperti uwi sepi, uwi leke, uwi monda; kan ada yang pera, ada yang pulen dan lengket. Padi ketan itu berasnya kalau dimasak seperti uwi-uwi yang lengket itu.” Ine Pare segera menangkap apa yang dimaksudkan Dharani dan Swesti. “Ya, ya, saya tahu. Itu pasti akan enak sekali. Bagaimana cara memakannya?”

Dharani lalu menjelaskan bahwa di Jawa Dwipa, ketan dimasak dalam berbagai bentuk. Pertama ditanak biasa kemudian dimakan dengan kelapa. Setelah ditanak dan diberi kelapa, ketan itu juga bisa ditumbuk, lalu dipadatkan dan setelah dingin dipotong-potong. Bisa pula diberi gula merah dan santan, lalu dihamparkan di tampah, setelah dingin dipotong-potong. Ketan juga bisa dibuat bubur, atau ditepungkan dan dibuat dodol. Tapi yang paling enak, nanti kalau sudah panen membuat emping ketan yang dimasak dengan santan dan gula.” Ine Pare membayangkan makanan yang sangat lezat, makanan yang dulunya hanya milik para Dewa. “Aduh, andaikan padi ketan itu sudah tertanam di Negeri Lio, dan bisa dimasak seperti itu.” Dharani memberi tahu Swesti. “Kami membawa dodol ketan yang sudah hampir sebulan ini tetapi tetap masih enak dimakan.”

Para pembantu Dharani lalu mengeluarkan dodol ketan yang dibungkus daun pisang kering, dan pisau. Setelah dibuka dan dipotong-potong, mereka menyantap dodol itu dengan beralaskan daun pisang kering itu. “Sungguh, inilah santapan para Dewa di negeri Jawa Dwipa sana. Tahun depan santapan ini akan bisa dinikmati oleh rakyat Negeri Lio.” Mereka lalu berjalan meninggalkan Lewa menuju Sao Ria, rumah besar keluarga Raja. Bhadrak dan Raja juga berbincang dengan sangat serius sambil berjalan ke arah Sao Ria. Para awak kapal sibuk menurunkan barang-barang, dan juga menaikkannya. Ternyata dari enam kapal bercadik itu; hanya dua yang akan tinggal di Ndori. Empat kapal akan melanjutkan perjalanan ke Timor, Tidore, Ternate, Banda, dan kembali ke Jawa Dwipa. Dua kapal cadik yang tinggal di Ndori, akan langsung kembali ke Jawa Dwipa. Dua kapal cadik ini, rencananya akan membawa pulang Kalyan, Nikhil, dan Rhosan.

Tetapi setelah mempertimbangkan banyak hal, Kalyan memilih untuk tetap tinggal di Negeri Lio, menemani Rishi dan Sarik yang akan membuka sawah. “Kasihan mereka berdua kalau tidak ada yang menjadi penerjemah.” Kalyan ingat, betapa sulit mengajarkan bertanam padi ladang dengan bahasa isyarat. Padahal padi sawah lebih rumit lagi. Setelah lebih dari lima tahun bermukim di Negeri Lio, Kalyan merasa sudah tak ada hambatan berkomunikasi dengan bahasa negeri ini. Terlebih lagi, sekarang di Negeri Lio ini, mereka juga bisa makan nasi seperti halnya di Negeri Jawa Dwipa. Betapa sulitnya pada tahun-tahun awal, ketika mereka harus menyantap sukun, talas, pisang dan uwi-uwian, yang semua serba dibakar. Meskipun setelah ada nasi, kadang-kadang Kalyan juga sering merindukan menu-menu bakar tadi, terlebih masakan yang dibakar dalam volume besar, untuk disantap dalam upacara-upacara adat yang dihadiri banyak orang.

* * *

Kalyan memang sudah sering bercerita pada Raja, dan Ine Pare, bahwa di Negeri Jawa Dwipa, padi juga ditanam di lahan sawah, dan diberi air banyak. Di Negeri Lio ini pun banyak lahan yang bisa diberi air sepanjang tahun. Bahkan di sebuah lembah di barat laut sana, ada lembah dengan mataair berupa rawa, yang tergenangi air sepanjang tahun. “Saya naksir, rawa itu bisa dijadikan sawah yang subur Bapak Raja.” kata Kalyan. Tapi Kalyan sendiri sudah sangat sibuk dengan pembukaan ladang-ladang padi baru. Maka kali ini, dengan kedatangan Rishi dan Sarik, Kalyan berharap lahan rawa itu bisa diubah menjadi tanah sawah. “Jarak dari Ndori sampai ke lembah itu memang cukup jauh, apakah Bapak Kalyan dan dua teman baru dari Jawa Dwipa itu akan bermukim di sana?” Tanya Raja. “Bukan kami Bapak Raja. Yang perlu bermukim secara permanen malahan para Tuke Sani pengikut bapak raja di sini. Kami hanya akan membantu mereka, lalu kembali ke Jawa Dwipa.”

Ine Pare merasa keberatan apabila Kalyan kembali ke Jawa Dwipa. “Bapak Kalyan, sebenarnya kami menginginkan Bapak Kalyan, Ibu Swesti, dan anak-anak bisa tetap tinggal di sini. Kami ingin agar komunikasi antara masyarakat Negeri Lio dengan masyarakat Negeri Jawa Dwipa bisa tetap berjalan baik, karena ada yang bisa berbicara dengan dua bahasa dari dua negeri ini. Tadi Bapak Kalyan menanyakan apa? Kerbau? Untuk apa?” Kalyan baru ingat, bahwa kedatangan Rishi dan Sarik terutama untuk menjinakkan kerbau liar, dan menjadikannya penarik bajak dan garu di sawah. “Oh, itu benar Tuan Puteri. Kerbau itu akan dijinakkan, diikat dan digunakan untuk menarik bajak.” Mendengar kata bajak, Ine Pare tambang bingung. “Bajak? Apa pula itu Bapak Kalyan?” Bajak itu alat untuk membuat tanah terbalik, hingga tidak usah dicangkul.” Mendengar kata cangkul, Ine Pare kembali bertanya. “Cangkul? Apa lagi ini Bapak Kalyan?”

Dengan susah payah, dengan dibantu puluhan Ata Ko’o dan Tuke Sani, Rishi dan Sarik berhasil menangkap empat pasang kerbau liar jantan betina. Kerbau liar yang berhasil ditangkap itu kemudian dikaling hidungnya, dan diberi tali sebagai pengikat. Tiap hari kerbau itu digembalakan dan diberi pakan rumput, takut kalau-kalau mereka kurang bernafsu makan ketika digembalakan. Beberapa tukang dipandu Rishi dan Sarik membuat bajak. Mata bajak yang terbuat dari baja, dibawa dari Jawa Dwipa. Mereka membawa sekalian empat mata bajak. Setelah bajak itu selesai dibuat, kemudian dicoba untuk dipasang pada sepasang kerbau itu, dan ukurannya pas. Maka pada hari baik bulan baik, mereka pun berangkat ke arah barat laut, ke kaki Gunung Kelimutu. Di sana memang ada lembah dengan mataair yang menggenang sepanjang tahun, hingga lahan di sana becek berlumpur dan hanya ditumbuhi gulma air.

Mereka berombongan belasan orang, kebanyakan berstatus Tuke Sani. Mereka ada yang sudah berkeluarga, tetapi kebanyakan masih lajang. Ine Pare dengan dikawal Funu ikut dalam rombongan ini. Mereka berjalan bersama Swesti istri Kalyan. Begitu sampai di tepi lahan, mereka membangun pondok sementara terbuat dari kayu, bambu dan beratapkan daun lontar serta daun aren. Nantinya, mereka akan membangun pemukiman permanen di tempat ini. Tetapi itu semua akan dilakukan pelan-pelan. Secara bergotong-royong, pertama-tama mereka membuat tempat mandi, mencuci, dan buang air besar. Setelah itu mereka akan membangun Sao Ria (Rumah Besar), Kangaa (Arena Lingkaran), Sao Keda (Rumah adat tempat musyawarah), Kewa (lumbung) dan Kuwu lewa (dapur umum). Setelah itu, baru mereka akan membangun rumah masing-masing secara bertahap. Sambil membangun rumah, mereka juga mangatur tata air.

Kalyan, Rishi dan Sarik mengajar Tuke Sani dan Ata Ko’o, bagaimana menggunakan cangkul untuk membuat pematang, saluran air dan lain-lain. Kalau mata cangkul itu penuh ditempeli lumpur liat yang lengket, harus dibersihkan dengan menggunakan sabit. Sesuai dengan pengalaman dalam mengintroduksi padi ladang, Kalyan memperkirakan sawah di Negeri Lio baru akan berproduksi sekitar tiga sampai empat tahun yang akan datang. Tetapi, setelah setahun berada di pemukiman baru ini, Kalyan berencana untuk pulang ke Jawa Dwipa. Ia yakin Rishi dan Sarik sedikit-sedikit sudah mampu berbicara dengan bahasa Lio. Rishi segera mencari tempat yang agak dekat dengan pondok sementara mereka, untuk membuat semaian padi. Semaian ini memang harus agak berjauhan dari lahan yang akan dicetak menjadi sawah, sebab mereka takut akan diinjak-injak oleh kerbau yang masih liar itu. Empat pasang kerbau enam jantan dua betina itu mereka buatkan kandang berdekatan dengan sumber air dan pondok sementara mereka.

* * *

Tibalah saatnya praktek membajak sawah dengan kerbau. Lahan yang disebut sawah itu sebenarnya masih berupa lahan berlumpur yang ditumbuhi gulma air, dan sama sekali belum berpematang. Kedalaman lumpur bervariasi antara setengah lutut sampai sepaha. Hanya di bagian barat laut, kedalaman mencapai lebih dari sepaha. Areal dengan lumpur paling dalam ini, akan mereka biarkan menjadi tempat tampungan air, dan tak akan ditanami padi. Dari empat pasang kerbau itu, secara bergiliran dua pasang diturunkan, sementara yang dua pasang tetap di biarkan terikat di kandang. Begitu dua pasang kerbau itu diturunkan ke lumpur, mereka kembali menjadi liar. Ternyata memang jauh berbeda, mengajari kerbau jinak untuk membajak sawah, dengan menjinakkan kerbau liar. Selama ini, Rishi dan Sarik hanya berpengalaman mengajar kerbau jinak, untuk bisa membajak sawah. Sementara orang-orang Lio berpengalaman menangkap kerbau liar jantan untuk dipotong.

Maka dua pasang kerbau itu pun berlarian kesana kemari tanpa terkendali. Bajak yang sudah terpasang di belakang mereka sama sekali tak berfungsi. Orang-orang berupaya untuk menangkap kembali dua pasang kerbau itu, tetapi tak berhasil. Kerbau yang di kandang malahan ikut panik dan lepas lalu berlarian menuju teman-teman mereka yang berada di lumpur. Di rawa berlumpur itu kemudian terdapat delapan ekor kerbau liar yang berlarian kesana-kemari. Belasan orang berupaya untuk menangkapnya tetapi, seharian upaya mereka gagal. Sampai menjelang tengah hari mereka semua termasuk delapan ekor kerbau itu kecapekan. Tiba-tiba Funu berteriak kepada Ine Pare. “Bukankah bajak itu dimaksudkan untuk membuat lumpur menjadi seperti sekarang ini?” Kalyan, Rishi dan Sarik juga saling berpandang-pandangan. Mereka melihat lahan yang tadinya penuh gulma itu sekarang sudah bersih karena terinjak-injak kaki karbau, dan juga kaki manusia.

“Ya, lalu buat apa bajak dan garu? Dengan cara sederhana seperti ini pun, lahan sudah bisa menjadi lumpur yang siap ditanami padi. Jadi mari kita lepas bajak itu dan kita simpan di Sao Keda untuk kenang-kanangan.” kata Kalyan. “Selanjutnya saudara-saudara, kita akan mengolah lahan sawah dengan cara menggiring kerbau liar masuk ke dalam lumpur, lalu kita kejar-kejar seperti tadi. Besuk kita akan siap menanam padi. Bapak Rishi dan Sarik, apakah semaian sudah siap dicabut dan ditanam di lahan?” Serentak Rishi dan Sarik menjawab. “Sudah siap. Besuk kita cabut dan kita tanam.” Para Ata Ko’o, dan Tuke Sani, laki-laki dan perempuan, semua turun ke lumpur yang telah diratakan oleh kaki kerbau. Ine Pare dan Funu juga ikut turun ke lumpur mencoba memraktekkan cara menanam padi sawah, di bawah instruksi Swesti. Sekali-sekali Kalyan, Rishi dan Sarik juga memberi pengarahan. Kalyan dan Swesti istrinya, memberikan instruksi dalam bahasa Lio, sementara Rishi dan Sarik masih menggunakan bahasa isyarat, atau menggunakan Bahasa Jawa Dwipa dan diterjemahkan oleh Kalyan.

Ternyata padi sawah lebih cepat bisa beradaptasi dengan lahan baru, dibanding dengan padi lahan kering. Hanya dalam beberapa hari tanaman padi itu langsung tampak menghijau. Mungkin karena lahan tadi selama ratusan, bahkan mungkin ribuan tahun dibiarkan menganggur, hingga nutrisi menumpuk di sana. Selesai menanam padi Ine Pare dan Funu pulang ke Nua Ria, di Tanah Persekutuan Ndori. Kampung dan pantai itu sepi ketika tak ada kapal cadik dari Jawa Dwipa, atau kapal junk dari Negeri Han di Tiongkok yang singgah di lepas pantai itu. Perahu-perahu dagang kecil memang rutin ada yang singgah di Ndori, tetapi mereka hanya sekadar mengambil air tawar, dan membeli bahan makanan untuk bekal perjalanan. Ine Pare merasakan ada yang hilang, ketika Dharani, puteri Bapak Bhadrak dari Jawa Dwipa itu telah kembali ke negaranya.

“Funu, kau bisa bicara lancar dengan Puteri Dharani itu memakai bahasa apakah? Bukankah Puteri Dharani tak tahu Bahasa Tulis Lio, dan kamu juga tak bisa ngomong Jawa Dwipa?” Funu terhenyak mendengat pertanyaan Ine Pare. “Tuan Puteri, kami berbicara dalam Bahasa Sansekerta, bahasa dari Negeri Chola di India sana. Kami juga sama-sama bisa membaca lontar, karena lontar ditulis menggunakan huruf Palawa, dengan Bahasa Sansekerta. Apakah Tuan Puteri berkeinginan untuk mempelajarinya?” Dalam kunjungan keduanya, Puteri Dharani membawa sebuah lontar untuk Funu. “Ibu Funu, lontar yang Anda rampas dari Bheda itu sebenarnya tak lengkap. Dulu Guru Sarala tahu bahwa Bheda berhati jahat. Maka ia memang membiarkan Bheda menyalin lontar berisi ilmu santet, tetapi tidak seluruhnya. Lontar kedua inilah yang berisi penangkal, hingga apa pun yang akan diperbuat oleh Bheda, tak akan pernah berhasil.” * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi
Foto : HR. Indriati

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: