CADIK NEGERI JAWA DWIPA

23/01/2017 at 12:17 (novel)

Kadang satu dua kapal junk Negeri Han berlabuh di Flores, tetapi itu hanya merupakan kekecualian. Misalnya ketika cuaca sedang buruk, atau saat mereka mengantar pesanan tembikar, kain sutera, batu giok, dan kuda untuk mengangkut balok-balok cendana, hingga para Ata Ko’o tak terlalu capek.

INE PARE, ketika rambutmu tersibakkan angin, harum cendana akan tercium sampai ke Negeri Jawa Dwipa. Ketika kau gerakkan tanganmu, harum cendana akan terpancar dari seluruh tubuhmu. Seluruh dirimu selalu mengantarkan harum cendana dari Ibu Pertiwi, dari tanah yang paling dalam, dari Nggaé Wena Tana. Kayu cendana dari tubuh Ibu Pertiwi itu, hanya akan memancarkan aroma harum ketika tumbuh di Negeri Lio. Atau di tempat lain yang kering dan panas. Di Bumi Flores pun, cendana hanya tumbuh di bukit-bukit gersang. Bukan di Negeri Nagakeo, Negeri Ngada, dan Negeri Manggarai, yang terlalu basah dan banyak kabut. “Aku sungguh jijik melihat tanah yang becek dan berlumpur!” kata cendana dengan tajuknya yang hampir tanpa daun. “Maka Ibu, izinkan aku menyerap aroma harumMu, dari tanah-tanah yang kering dan gersang ini.”

Harum cendana dari tanah gersang di Bumi Flores ini, akan tercium sampai ke Jawa Dwipa, Negeri Han di Tiongkok, dan Negeri Chola di Tanah  India. “Sebenarnya para dewa juga mengizinkanku tumbuh di mana pun. Di Jawa, Di Sumatera, di Negeri Han, di Negeri Chola di India, juga tumbuh pohon cendana. Di Jawa dan Sumatera yang banyak hujan, aku memang bisa tumbuh sangat subur. Di kawasan basah itu banyak tumbuhan yang bisa menjadi inangku. Tapi di tanah-tanah basah itu, Nggaé Wena Tana tak mengizinkan kayuku beraroma harum. Di tempat-tempat kering di Negeri Chola di India, di Negeri Han di Tiongkok, kayuku memang bisa harum. Tetapi di sana, tingkat keharuman kayuku tak sebaik ketika aku tumbuh di atas haribaan Nggaé Wena Tana. Maka orang-orang Negeri Jawa Dwipa, orang-orang Negeri Chola, orang-orang Negeri Han, akan berupaya mewujudkan mimpi mereka, untuk memegang dan mencium harum kayuku dari dekat.”

Harum cendana tidak sama dengan harum pandan, lain dengan harum kembang pinang, beda dengan harum buah maja, dan tak mungkin disamakan dengan harum buah sukun bakar. Perlu waktu antara 35 sampai 40 tahun agar akar cendana yang cacat bawaan itu mampu menyerap aroma sejati Ibu Pertiwi, dan menyimpan dalam jaringan kayu yang keras. Semakin tua umur cendana, semakin sempurna keharuman aroma kayunya. Lalu aroma wangi dari Ibu Pertiwi itu wajib dikembalikan kepada Bapa Angkasa, kepada para Dewa, dengan cara dibakar. Asap wangi itu akan membubung ke langit, terhirup Bapa Angkasa, hingga para Dewa akan berkenan menurunkan air kehidupan, berupa hujan. Balok-balok cendana dari pohon yang telah berumur puluhan tahun itu ditebang, dipotong-potong menjadi balok, dipanggul para Ata Ko’o, dinaikkan ke punggung kuda lalu ditumpuk di lantai Lewa, Lumbung milik Raja dan Kaja menunggu kedatangan kapal cadik dari Negeri Jawa Dwipa.

Malam tadi Bhadrak dengan kapal cadik Jawa Dwipa merapat di Ndori. Itulah kapal yang secara rutin membuang sauh di lepas pantai Ndori. Bhadrak seorang saudagar besar dengan beberapa kapal cadik. Dia orang Jawa yang masih memiliki darah keturunan Negeri Chola di India. Ia bermukim di Pantai Selat Muria, wilayah kerajaan Jawa Dwipa. Sebenarnya ia hanya singgah di Ndori, dalam pelayaran menuju Ternate dan Tidore untuk mengambil bunga cengkih kering, kemudian singgah di Bandaneira, untuk membeli fuli dan biji pala. Bhadrak hanya sekadar melanjutkan pekerjaan kakek canggahnya. Ia merupakan keturunan keempat yang menguasai jalur perdagangan ini. Ada beberapa keluarga saudagar dari Jawa Dwipa yang biasa berlayar ulang-alik Jawa – Flores – Timor – Ternate – Todore – Banda – dan kembali ke Jawa.  Kapal-kapal dari Jawa, biasanya merapat di pelabuhan-pelabuhan Flores, dan pulau-pulau Nusa Tenggara pada saat angin selatan berhembus.

Sedangkan kapal-kapal junk china dari Negeri Han di Tiongkok, berdatangan pada saat angin barat, dan akan pulang ketika angin selatan mulai berhembus. Kapal-kapal itu datang ke Ndori dan beberapa bandar lain di Flores untuk membeli kayu cendana. Kapal-kapal Negeri Chola dari India hanya berlabuh di pantai utara pulau Jawa. Kapal-kapal Jawalah yang mengambil cendana dan buah pinang dari Flores; cengkih dari Ternate dan Tidore, serta fuli dan biji pala dari Kepulauan Banda. Di Negeri Chola, rempah, buah pinang, dan cendana itu akan disambut oleh kapal-kapal matahari dari Mesir, yang hanya mampu berlayar ulang-alik sampai ke pantai India. Kapal-kapal junk Negeri Han, sebenarnya bisa langsung berlayar sampai ke Ternate, Tidore, dan Banda. Tetapi mereka juga lebih senang berlabuh di Negeri Jawa Dwipa, dan Negeri Sriwijaya di Sumatera.

* * *

Kadang satu dua kapal junk Negeri Han berlabuh di Flores, tetapi itu hanya merupakan kekecualian. Misalnya ketika cuaca sedang buruk, atau saat mereka mengantar pesanan tembikar, kain sutera, batu giok, dan kuda untuk mengangkut balok-balok cendana, hingga para Ata Koo tak terlalu capek. Negeri Jawa Dwipa sudah sejak lama mendatangkan kuda dari Negeri Chola dan Negeri Han. Di Negeri Chola di India, Negeri Han di Tiongkok, dan juga di Negeri-negeri Timur Tengah, cendana dibuat butiran tasbih, patung, kipas, perkakas kerajaan dan ritual keagamaan. Tetapi paling banyak kayu itu dihancurkan, lalu serbuknya dijadikan dupa, yang akan dibakar agar asap harumnya bisa menyenangkan para Dewa di langit sana. Kapal cadik yang berdatangan dari Jawa Dwipa, biasanya membawa beras, lada, kemukus, cabe jawa, dan perkakas dari logam. Demikian pula dengan kapal cadik Bhadrak.

Bhadrak, saudagar Jawa Dwipa ini beristri enam orang, dan dikaruniai 25 orang anak. Suatu saat ia berniat untuk ikut berlayar dengan tiga kapal dagangnya menuju Ternate. Tetapi angin laut telah mengantarkan harum cendana Ine Pare sampai ke hidungnya. Aroma cendana yang terbawa angin laut itu telah membuatnya sampai ke lepas pantai Ndori. Ia betah tinggal di sana. Maka ia perintahkan dua kapal cadiknya untuk langsung menuju Ternate. Ia dengan satu kapal cadik tetap tinggal di pulau ini. Di Ndori, ia ikut para Ata Ko’o, para budak laki-laki menebang kayu cendana. Ata Ko’o, para budak, merupakan kelas masyarakat dengan derajat paling rendah. Tuke Sani, rakyat biasa, dan Mosa Laki elite masyarakat, yang terdiri dari para ketua suku yang tuan tanah. Ada dua kelompok Mosa Laki, yakni Mosa Laki Ria Bewa, kelompok masyarakat  bangsawan kelas atas; dan Mosa Laki Pu’u yang merupakan kelompok bangsawan kelas menengah. Di Ndori, Bhadrak dan rombongan diterima oleh Mosa Laki Raja.

Kepada Bhadrak, Raja dan Kaja dengan dibantu penerjemah, memperkenalkan tiga anak mereka: “Ini si sulung bernama Ndale, yang nomor dua Ine Pare, dan yang bungsu Sipi. Ketika menatap wajah Ine Pare, kemudian mencium harum cendana, Bhadrak seperti sedang melihat sosok Dewi Kaikesi, puteri Prabu Sumali. Dewi Kaikesi menikah dengan Begawan Wisrawa, yang melahirkan sifat angkaramurka Rahwana. Bhadrak bertanya kepada Raja: “Apakah puteri Bapak ini sudah ada yang meminang? Apakah yang meminang orang yang sudah berusia lanjut? Maksud saya jauh lebih tua dari usia Anda?” Raja, Kaja dan tiga anak mereka heran. Mengapa tamu dari Jawa Dwipa ini tahu bahwa Bheda yang kaya raya tapi lebih tua dari Raja dan Kaja itu berniat menikahi Ine Pare? Raja menjawab: “Memang benar Bapak Bhadrak, Bapak Bheda, seorang Mosa Laki di Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori ini, berniat untuk menikahi Ine Pare. Tetapi kami menolaknya. Bagaimana Bapak Bhadrak yang baru saja menginjakkan kaki di Tanah Negeri Lio ini bisa tahu hal ini?”

Bhadrak lalu bercerita kepada Raja dan Kaja melalui penerjemah; bahwa dalam Kakawin Ramayana, Dewi Kaikasi yang sedianya akan dinikahkan dengan Kuwera, anak Begawan Wisrawa, kemudian dinikahi sendiri oleh Begawan Wisrawa. Pernikahan itu menghasilkan anak bernama Rahwana, lambang angkaramurka. “Maka, sudah tepat apabila Bapak Raja, menolak pinangan itu.” Siang itu Raja dan Kaja bermaksud menjamu Bhadrak dan rombongan. Maka para Ata Ko’o menyiapkan pisang, talas, buah sukun, ikan, ayam, daging babi, pucuk melinjo, pucuk maja, pucuk johar, untuk dibakar. Memasak makanan di Negeri Lio dengan cara dibakar. Untuk makan keluarga dalam jumlah sedikit, mereka membakarnya di dalam tungku. Ketika mereka akan berpesta, makanan dibakar dalam lubang di tengah Kanga, arena berbentuk lingkaran. Kuwu Lewa, dapur umum, hanya digunakan untuk membakar makanan pada musim penghujan.

Badhrak, beserta rombongan dengan keluarga Raja dan Kaja serta para pembantu dekatnya duduk menunggu di dalam Sao Keda, Rumah adat tempat musyawarah. Untuk acara makan siang ini, para Ata Ko’o sudah harus menyiapkan bahan-bahan yang akan dibakar sejak pagi hari. Ketika saat makan siang tiba, semua makanan telah masak karena ditimbun  abu panas. Memasak dengan cara ditimbun api dan abu panas ini sangat menarik perhatian Bhadrak, yang baru pertama kali melihatnya. Sementara anak buahnya tak terlalu heran, karena sudah terbiasa melihatnya ketika datang ke Ndori tahun-tahun yang lalu. Pisang, talas dan sukun dibakar untuh, demikian pula ikan dan ayam. Daging babi dipotong-potong besar. Semua itu dibungkus pucuk melinjo, pucuk maja, pucuk johar; kemudian ditaruh di atas daun-daun lain, ditutup dengan daun-daun yang tidak akan ikut dimakan, baru ditimbun abu dan bara, sampai saat makan siang tiba.

* * *

Seorang Ata Ko’o mengambil pisang, buah sukun, dan talas berukuran besar, yang telah masak, dan menaruhnya di atas lembaran daun sukun, di depan Bhadrak, Raja dan Kaja serta anak-anak mereka. Kemudian mereka juga menaruh pucuk daun melinjo, maja, dan johar yang sudah masak, berikut ikan,ayam dan daging babi. Ketika dibelah, buah pisang, sukun dan talas itu sudah menjadi sangat lunak dan gembur. Mereka pun makan sambil berbincang-bincang dibantu penerjemah. Ketika Funu membelah talas kedua di depan Ine Pare, orang-orang yang melihatnya takut. Di dalam umbi talas itu tampak gumpalan ijuk aren, dan didalamnya tampak duri-duri tulang ikan serta pecahan kulit kerang. Demi melihat gumpalan ijuk itu, Ine Pare menjerit lalu lari ke tempat duduk Raja dan Kaja. Funu mengamati bungkusan itu dengan tajam. Melalui penerjemah, Bhadrak bertanya, apa yang terjadi. Raja dan Kaja juga tak tahu apa yang terjadi. Penerjemah mengatakan ada santet yang dikirim seseorang di dalam umbi talas Ine Pare.

Funu mengeluarkan kain putih segi empat dari kantung lontarnya. Ia menggelar kain itu di lantai Sao Keda. Umbi berisi santet itu ia taruh di atas kain, lalu keempat ujung kain itu ia pertemukan untuk diikat.  Funu lalu membaca doa: Duä Nggaé, Dewa Tertinggi, Duä Lulu Wula, Bapa Angkasa Penguasa Langit, Nggaé Wena Tana, Ibu Pertiwi Penguasa Bumi,  Wula dan Leja, Bulan dan Matahari,  Tana Watu, sabana berbatu-batu; dari manakah bungkusan ini datang, kembalikanlah kepada pengirimnya. Kami hanya akan makan sagu dari batang aren bukan ijuknya; kami hanya akan makan daging ikan, bukan duri-duri tulangnya; kami hanya akan makan daging kerang bukan pecahan kulitnya. Kemudian kain itu dibuka, dan tampak umbi talas itu kembali utuh. Funu membukanya dan yang tampak hanya daging umbi keunguan yang masih hangat.

Funu tak berani memastikan, siapakah pengirim santet ini, dan siapa pula yang ditujunya. Bisa dirinya, bisa Bhadrak tamu dari Negeri Jawa Dwipa, bisa Ine Pare, bisa pula Raja dan Kaja. Akan tetapi Raja dan Kaja, yakin bahwa si pengirim santet jelas Bheda, dengan tujuan Ine Pare. Bheda yang berkeinginan meminang Ine Pare yakin bahwa pinangan itu akan ditolak. Funu lalu meminta seorang Ata Ko’o laki-laki untuk mengambil sebutir kelapa muda warna hijau. Kelapa itu dipangkas bagian atas dan bawahnya, dibuka tempurungnya yang masih sangat lunak,  lalu Funu membaca doa: Terimakasih kepada Duä Nggaé, Dewa Tertinggi, Duä Lulu Wula, Bapa Angkasa Penguasa Langit, Nggaé Wena Tana, Ibu Pertiwi Penguasa Bumi,  Wula dan Leja, Bulan dan Matahari,  Tana Watu, sabana berbatu-batu; Funu lalu meminta Ine Pare meminum air kelapa itu sampai habis.

Setelah meminum air kelapa itu, Ine Pare menatap tajam mata Funu sambil berbisik: “Akulah Ine Puũ, puteri tunggal Ibu Pertiwi. Sekarang katakan siapa kau sesungguhnya Funu, sebab Ata Ko’o biasa tak mungkin bisa menolak santet yang dikirimkan Bheda!” Kali ini Funu tak bisa mengelak. Ia pun mendekatkan bibirnya ke telinga Ine Pare, lalu berbisik: “Tuanku Ine Puũ, aku bernama rahasia Wolo. Aku diberi tugas Duä Nggaé Dewa Tertinggi, untuk menjaga Tuan Puteri Ine Puũ, puteri Nggaé Wena Tana, Penguasa Bumi Terdalam.” Ine Pare manggut-manggut. Air Mata meleleh di pipinya. Orang-orang mengira Ine Pare menangis karena takut dengan santet yang baru saja dikirimkan kepadanya. Padahal ia menangis terharu, karena Funu, yang selama ini mengasuhnya, bersedia membuka jati dirinya. Ia bernama Wolo, yang diberi tugas Duä Nggaé, Dewa tertinggi untuk menjaganya.

Karena terganggu oleh kiriman santet dalam umbi talas Ine Pare, maka acara makan siang hari itu tak berjalan dengan baik. Bhadrak mengajukan usulan kepada Raja dan Kaja: “Bapak Raja dan Ibu Kaja, terimakasih untuk makan siang yang sangat enak. Inilah untuk pertamakali saya orang Negeri Jawa Dwipa mengenal makanan yang dibakar. Besuk, aku akan mengundang Bapak Raja, Ibu Kaja, putera puteri, dan semuanya untuk makan siang yang akan disiapkan para awak kapal dari Jawa Dwipa. Maka esok harinya masyarakat Ndori di Negeri Lio menyaksikan, bagaimana orang-orang Jawa Dwipa memasak biji-bijian berwarna putih, yang kata para pengikut Raja dan Kaja sangat lezat dan mengenyangkan. Tetapi para pengikut Bheda menyebut biji-bijian itu sebenarnya belatung yang telah disihir orang-orang Jawa Dwipa hingga menjadi biji-bijian. * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: