MALAKA DAN MAJA

01/02/2017 at 15:59 (novel)

Sayuran ini  digunakan untuk membungkus daging babi, ayam, atau ikan yang dibakar. Siang itu para Ata Ko’o memecah beberapa buah maja, mencampurnya dengan gula lontar dan air, lalu menyajikannya di mangkuk keramik dari Negeri Han.

LERENG bukit itu miring ke selatan menghadap laut Sabu. Udara panas. Gundukan batu besar kecil memenuhi lereng, puncak, dan dasar jurang di seluruh permukaan bukit gersang itu. Alang-alang sebagai tumbuhan pionir selalu ada di mana-mana. Di atas lahan yang hanya berbatu-batu tanpa tanah sedikit pun, alang-alang tetap tumbuh. Ketika tumbuhan lain tak bisa hidup, alang-alang akan mengawali kehidupan di lahan tersebut. Setelah tua, malai alang-alang itu akan mekar berwarna putih, kemudian angin kencang akan mancerabut rumbai kapas yang ringan itu, menceraiberaikan dan menerbangkannya ke mana-mana. Ketika angin reda, biji itu kembali mendarat dan jatuh di tempat yang jauh dari induknya. Tak peduli kondisi lahan, ketika hujan turun biji alang-alang akan tumbuh, mengawali kehidupan baru di tempat yang baru pula.

Ketika alang-alang sudah bisa hidup di lahan berbatu itu, di tana watu itu, tumbuh pulalah aneka gulma, semak dan perdu. Tapi tak semua pohon bisa bertahan di atas bukit berbatu berudara kering, yang rutin tertampar angin selatan, tersiram kabut garam dari laut Sabu. Udara juga sangat panas. Di kawasan seperti inilah malaka tumbuh dengan baik. Pada suatu siang, Ndale, Ine Pare, dan Sipi, ikut para Ata Ko’o pergi ke hutan cendana. Waktu itu mereka bertiga masih anak-anak. Jalan setapak itu mendaki, berbatu-batu, dengan rumput, semak dan perdu. Ketika hari sudah beranjak siang, para Ata Ko’o memetik buah malaka masak, lalu memakannya. Ndale, Ine Pare, dan Sipi ikut memetik buah itu kemudian ikut memakannya. Rasa masam dan kelat, memenuhi seluruh rongga mulut mereka. Serentak tiga anak itu menyemprotkan serpih daging buah dan biji malaka yang sudah mereka kunyah. Tetapi tak lama kemudian ada rasa nyaman di rongga mulut itu.

Rasa haus dan capek yang sebelumnya mereka rasakan juga hilang. Para Ata Ko’o itu tampak terus mengunyah dan menelan daging buah malaka, seakan rasa buah itu manis. Ternyata mereka memakannya dengan sedikit garam. Maka tiga anak itu kembali mengunyah buah malaka, tetapi kali ini dengan sedikit serbuk garam. Memang benar, rasa kelat dan masam itu sedikit hilang. Lama-kelamaan, mereka merasakan daging buah itu segar dan ada sedikit rasa manisnya. Di hamparan lahan berbelukar itu memang banyak sekali tumbuh pohon malaka. Setelah beranjak remaja, Ine Pare sering naik ke atas sendirian, untuk menyusul Ndale, Sipi dan para Ata Ko’o. Dalam perjalanan yang terus menanjak itu, sesekali ia memetik buah malaka, dan mengunyahnya sambil terus berjalan. Kini sejak dari rumah ia sudah berbekalkan garam yang ia bungkus daun pisang kering.

Pohon-pohon malaka itu biasanya tumbuh di tubir jurang, lalu dahan dan rantingnya yang penuh buah berwarna hijau terang sebesar telur burung puyuh, menyembul ke permukaan, hingga mudah dijangkau dari jalan setapak. Perdu malaka seakan tahu, mereka berbuah pada puncak musim kemarau. Saat itulah udara panas menyergap, hingga daging buah kelat dan masam itu bisa menghilangkan rasa haus para Ata Ko’o. Meskipun kayu perdu malaka tak sekeras asam, tetapi liat luar biasa. Ranting asam yang berkayu keras masih bisa dipatahkan dengan mudah. Ranting malaka sangat sulit untuk dipatahkan. Ketika dipelintir, ranting itu akan menjadi tali yang sangat kuat.

Siang itu Ine Pare naik sendirian, menyusul Ndale, Sipi, dan para Ata Ko’o ke ladang cendana dengan melewati tiga bukit kecil. Di tempat yang agak datar, Ine Pare beristirahat. Dari tempat lapang ini, rumah-rumah di Nua Ria tampak sangat kecil di bawah sana, di bibir pantai laut Sabu. Perahu-perahu nelayan juga tampak sangat kecil. Ia juga melihat ada beberapa kapal cadik merapat. Itu pasti kapal dari Negeri Jawa Dwipa, Bukan junk china dari Negeri Han. Kapal cadik berukuran lebih kecil dari junk china, dan ditandai dengan adanya dua cadik di kiri kanan kapal. Letak layar kapal cadik juga sedikit miring, sementara junk china tegak. Ine Pare memetik beberapa butir buah malaka dan memakannya dengan garam. Ketika rasa capek telah hilang, dan ia berniat melanjutkan perjalanan, dari bawah tampak beberapa Ata Ko’o berteriak-teriak agar ia berhenti. Mereka meminta Ine Pare pulang karena kapal cadik dari Jawa Dwipa datang, dan ada tamu yang ingin bertemu dengannya.

* * *

Hari itu Bhadrak, empat anak perempuanya dengan empat kapal cadik merapat di lepas pantai Ndori. Mereka turun ke darat menggunakan perahu-perahu. Empat anak perempuan Bhadrak itu bernama Deepika, Dhana, Dharani, dan Dulari. Mereka datang dengan disertai juru rias, juru masak, penerjemah, dan pengawal. Khusus Dharani, masih disertai pula juru catat yang membawa helaian lontar kosong dan pisau pĕngutik, atau pisau pĕngrupak. Hingga rombongan empat anak perempuan Bhadrak itu berjumlah sampai belasan laki-laki, perempuan dan banci. Busana Negeri Jawa Dwipa mereka menarik perhatian para istri dan anak-anak perempuan Ata Ko’o. Mereka berdatangan melihat rombongan perempuan Jawa Dwipa itu.

Bhadrak, keempat anak perempuannya, dan rombongan tamu itu disambut oleh Raja dan Kaja, lalu dipersilakan masuk ke dalam Nua Ria. Para Ata Ko’o segera mengeluarkan Mbeka Weti berisi sirih dan pinang. Keempat anak Bhadrak dan para pengiringnya heran karena sirih yang disuguhkan berupa buah memanjang seperti cabai jawa, tetapi berwarna hijau. Buah pinang yang disajikan juga masih sangat muda. Kapurnya juga kapur kering yang telah mati. Di Jawa orang makan daun sirih, dengan buah pinang tua yang dikeringkan, dan kapur sirih basah yang masih hidup. Aneh juga, tetapi mereka memakannya dan merasakan sedikit rasa pusing dari buah pinang muda itu. Bhadrak segera bertanya, di manakah Ine Pare dengan kakak dan adik laki-lakinya. Raja dan Kaja menjawab bahwa mereka sedang di hutan cendana. Maka para Ata Ko’o pun diminta untuk menjemput Ndale, Ine Pare dan Sipi, dan meminta mereka segera pulang.

Ata Ko’o, yang bertugas melayani tamu segera mengeluarkan minuman buah maja. Pada musim angin selatan seperti ini, buah maja bermasakan. Tana Watu di Ndori juga banyak ditumbuhi buah maja, di antara tegakan reo, dan perdu malaka. Beda dengan reo dan malaka yang tak berduri, pohon maja penuh ditumbuhi duri tajam. Duri itu berupa tonjolan kayu keras berujung runcing yang tak akan rusak atau tanggal ketika ranting itu berubah menjadi cabang. Bahkan di batang pohon yang sudah lebih dari ukuran paha orang dewasa pun, masih ada tonjolan-tonjolan duri tajam. Tak ada yang berani memanjat pohon maja untuk memetik buah, bunga, atau daun mudanya, karena takut tertusuk duri tajam itu. Buah maja bertempurung keras berukuran sebesar kepalan orang dewasa. Buah ini selalu ditunggu sampai masak dan berjatuhan, untuk diambil sebagai bahan minuman.

Banyak cabang dan ranting maja yang menjuntai ke bawah, hingga daun-daun muda dan bunga maja yang putih bisa dijangkau untuk dipetik sebagai sayuran lezat. Sayuran ini  digunakan untuk membungkus daging babi, ayam, atau ikan yang dibakar. Siang itu para Ata Ko’o memecah beberapa buah maja, mencampurnya dengan gula lontar dan air, lalu menyajikannya di mangkuk keramik dari Negeri Han. Daging buah maja itu berwarna kuning kunyit, lunak, berserabut, berbiji yang dikitari jelly resin kental dan lengket. Jelly ini biasa digunakan untuk merekatkan bilah-bilah daun lontar, selain dijahit dengan benang dari serabut pelepah aren. Ketika para tamu menikmati minuman buah maja, Ine Pare yang dijemput para Ata Ko’o tiba di Sau Ria. Meski menuruni bukit lebih ringan dari mendaki, napas Ine Pare tetap tersengal-sengal. Sebab para Ata Ko’o itu bukan berjalan, melainkan berlari. Ine Pare terpaksa harus mengikuti mereka.

Begitu Ine Pare masuk ke dalam rumah diantar dua orang Ata Ko’o, Dharani, salah seorang anak Bhadrak memberi salam, sambil berucap: “Perkenalkan saya Dharani, puteri Tuan Bhadrak saudagar dari Jawa Dwipa, sahabat ayahanda Raja. Sembah bakti saya kepada Ine Puũ, puteri Ibu Pertiwi, puteri Nggaé Wena Tana, puteri Penguasa Bumi Terdalam!” Sebelum penerjemah menyampaikan makna ucapan Dharani, Ine Pare sudah terlebih dahulu bertanya, tanpa menunggu hasil terjemahan. “Anda tahu nama asliku sebagai ibu padi?” Dari 25 orang anak Bhadrak, empat orang puteri ini, Deepika, Dhana, Dharani, dan Dulari, paling ia kasihi. Mereka berasal dari ibu yang sama, bernama Anuradha, puteri seorang pemangku adat di Kerajaan Jawa Dwipa. Dari empat puteri itu, hanya Dharani yang bisa membaca dan menulis huruf Palawa, bisa berbahasa Sansekerta, dan sedikit Bahasa Lio. Ia belajar Bahasa Lio dari murid Sarala, yang pernah mengembara ke Flores.

* * *

Selain bisa mengobati aneka penyakit, Dharani juga bisa menangkal santet, dan mengusir roh jahat. Karena banyak membaca ramalan dan ajaran Lio melalui lontar yang ditulis Sarala, ia tahu siapa sebenarnya Ine Pare, yang bernama rahasia Ine Puũ. Maka dua orang gadis beda etnisitas ini segera saja bersahabat, meskipun untuk berkomunikasi kadang-kadang masih harus melalui perantara penerjemah. “Puteri Ine Puũ, sesuai dengan janji Bapak Bhadrak, ayah saya, sekarang ini kami bawakan Anda benih padi untuk ditanam di ladang, beserta tiga orang petani dan keluarga mereka. Tiga orang petani ini bernama Kalyan, Nikhil, dan Rhosan. Kalyan dan Roshan datang bersama istri dan anak mereka, Nikhil masih bujangan. Mereka akan tinggal di sini untuk mengajari orang-orang Negeri Lio, bertanam padi dan mengolah hasilnya. Tahun depan mereka akan kami ajak kembali ke Jawa Dwipa, dan apabila ada orang Negeri Lio yang ingin belajar menanam padi lebih lanjut, bisa ikut kapal cadik kami ke Jawa Dwipa pada tahun depan.

Ine Pare tak bisa berucap apa pun. Ia memeluk Dharani dengan erat, sambil air matanya berlinang. Benih padi itu telah datang. Maka pada musim kemarau sekarang ini, Ine Pare memimpin para Ata Ko’o dan Tuke Sani untuk menebas hutan. Mereka mengikuti perintah  bahasa isyarat dari Kalyan, Nikhil, dan Rhosan. Sedikit-sedikit, tiga orang dari Negeri Jawa Dwipa itu juga belajar kosa kata Bahasa Lio, hingga mereka bisa saling berkomunikasi. Mereka memilih lahan yang subur di lembah yang tak berpohon cendana, untuk ditebas. Cendana memang tak mau tumbuh baik di lahan-lahan subur seperti ini. Kayu-kayu besar yang bisa digunakan untuk bahan bangunan, mereka pisahkan di tepi petakan lahan. Sementara batang-batang kecil, serasah, mereka kumpulkan di bagian tengah lahan. Tunggul batang-batang besar mereka biarkan tetap tegak di tempatnya. Demikian pula dengan batu-batu besar.

Setelah hasil tebangan itu kering, Ine Pare memimpin pembakaran. Asap bakaran yang mengepul itu tampak dari kejauhan. Asap bakaran alang-alang dan serasah yang rutin terjadi tiap musim kemarau, tampak tak sebesar dan sehitam asap hasil tebangan yang dibakar. Ine Pare, dengan bimbingan Kalyan, Nikhil, dan Rhosan, memimpin para Ata Ko’o mengurut malai padi berbulu panjang itu dengan pisau bambu agar butiran gabah lepas dari merang. Ketika hujan turun, kembali Ine Pare memimpin orang-orang bekerja menugal dan menabur benih dengan mengikuti cara yang diajarkan Kalyan, Nikhil, dan Rhosan. Tugal dibuat dari batang kayu yang lurus sebesar genggaman tangan orang dewasa,  sepanjang sedikit lebih tinggi dari orang dewasa. Ujung tugal itu diruncingkan dengan parang tajam. Tugal itu ditancapkan menghunjam ke dalam tanah yang lunak karena tersiram air hujan. Ke dalam lubang tugal itulah biji gabah dimasukkan, tanpa perlu ditimbun. Selang seminggu kemudian tampaklah di lahan itu tanaman seperti pucuk alang-alang yang tumbuh menghijau.

Pada waktu itu, semua jenis padi merupakan padi dalam yang baru panen pada umur tujuh bulan. Ternyata hujan di Negeri Lio hanya turun selama tiga bulan. Tanaman padi ladang itu kemudian mengering lalu mati. Di tempat yang agak datar di bagian bawah lembah, tanah selalu basah meskipun hujan sudah tidak turun. Hanya di petakan inilah padi tetap hidup dengan subur sampai siap untuk dipanen. Di petakan lahan di atas punggung bukit, hampir semua tanaman padi mati. Tetapi ada satu dua tanaman yang tetap bisa bertahan hidup, karena terselip di antara tunggul kayu, atau batu-batu besar. Di situlah humus banyak terkumpul, dan akar padi bisa menjangkau lapisan tanah yang lebih dalam. Beberapa tanaman yang bisa bertahan di punggung bukit itu juga bisa menghasilkan malai padi, tetapi berukuran kecil, dengan butiran padi yang juga kecil-kecil.

Ine Pare sedih memandang tanaman padi yang mengering. Panen perdana itu gagal. Meskipun padi yang berada di lembah subur itu tetap bisa tumbuh baik sampai umur tujuh bulan, tetapi bulirnya banyak yang hampa. Sementara di petakan lahan yang kering kerontang, yang bisa bertahan hidup hanya satu dua rumpun, tetapi tanaman yang bandel ini mampu menghasilkan bulir padi bernas penuh berisi. Kalyan, Nikhil, dan Rhosan, segera menyelamatkan bulir-bulir padi langka ini untuk dijadikan benih pada musim tanam yang akan datang. Hasil yang mereka kumpulkan kurang lebih sama dengan benih yang tahun lalu mereka bawa dari Negeri Jawa Dwipa. Bulir-bulir hasil dari lahan kering Negeri Lio ini kecil, dan tampak tak sebagus bulir-bulir benih yang mereka bawa tahun lalu. Ketika kapal-kapal dari Negeri Jawa Dwipa itu kembali datang, Kalyan, Nikhil, dan Rhosan, meminta izin pada Bhadrak untuk tetap tinggal di Negeri Lio, sebab percobaan mereka menanam padi telah gagal. * * *

Fragmen Novel Ine Para/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: