PANEN PERDANA

06/02/2017 at 13:13 (novel)

Dari belatung yang disebar di ladang itu, tumbuhlah tanaman padi. Itulah yang kemudian dibawa ke Negeri Lio ini oleh para saudagar kenalan Bapak Raja dan Ibu Kaja. Kalian tidak percaya?”

SUDAH genap empat tahun Kalyan, Nikhil, dan Rhosan tinggal di Negeri Lio di Ndori. Sebenarnya mereka ingin sekali pulang, tetapi masyarakat Lio selalu saja menahannya. Tahun depan ini mereka akan memasuki tahun kelima. Memang ada yang menggembirakan mereka. Tanaman padi ladang itu sekarang sudah bisa beradaptasi dengan lahan kering di Negeri Lio. Kalyan, yang paling tua dari mereka bertiga, usul kepada Ine Pare, agar padi disemaikan terlebih dahulu di tempat yang ada airnya, barang dua bulan sebelum hujan jatuh untuk pertamakalinya. Ketika hujan sudah datang, padi yang sudah berupa anakan itu mereka tanam di lahan yang sudah dibuka. Dengan cara ini ketika hujan berakhir pada bulan ketiga, tanaman padi itu sudah berumur lima bulan. Ine Pare setuju. Setelah sebanyak empat kali ditanam di tanah Flores, umur padi itu juga memendek dari tujuh bulan menjadi enam setengah bulan.

Kalyan yakin, kalau sudah sepuluh tahun ditanam di tanah kering ini, umur padi akan lebih pendek lagi menjadi hanya enam bulan, bahkan mungkin bisa hanya lima setengah bulan. Karena seluruh hasil padi tidak mereka makan, setelah empat tahun areal tanaman padi bertambah luas. Setelah tahun pertama gagal, tahun kedua berhasil dengan cukup baik. Padi hasil panen waktu itu hanya digantung di Lewa yang biasa digunakan untuk menyimpan pisang, sukun, dan umbi-umbian. Tetapi pada panen ketiga, hasil padi itu sudah sangat banyak. Kalyan memberi saran agar dibuat Lewa khusus padi. Ine Pare menyetujui usul itu. Kalyan menjadi instruktur pembangunan Lewa khusus padi. Lewa itu merupakan bangunan biasa, berbentuk panggung, dengan lantai agak tinggi. Bagian atas diberi lubang untuk memasukkan padi. Bagian bawah juga diberi lubang untuk mengambil padi.

Memasukkan padi dari lubang di atas, harus menggunakan tangga. Mengambil padi dari lubang di bagian bawah cukup dengan berdiri. Pada keempat tiang Lewa, dipasang papan segi empat yang dikaitkan dengan pasak. Dengan adanya papan ini, tikus dan binatang lain tidak bisa naik ke atas. Umpak sebagai penyangga tiang Lewa, diberi cekungan agar selalu bisa diisi air dengan minyak. Minyak dituangkan di bagian atas air, agar air itu tidak cepat menguap pada cuaca yang sangat panas. Dengan adanya air yang mengelilingi dasar tiang, semut, rayap, dan serangga lain tidak dapat naik ke atas Lewa. “Pada tahun kelima nanti, padi harus dibagikan ke masyarakat Ndori sebanyak mungkin. Sebab hasilnya sudah sangat besar. Para Ata Ko’o dan Tuke Sani pengikut Raja dan Kaja, semua sudah menyiapkan lahan untuk menanam padi. Sampai saat ini para Ata Ko’o dan Tuke Sani pengikut Bheda, tidak ada yang mau ikut menanam padi.

Bheda selalu bersemangat memberitahu para Ata Ko’o dan Tuke Sani pengikutnya. “Padi itu sihir jahat yang berasal dari belatung mayat manusia. Di Negeri Jawa Dwipa, manusia yang mati tidak dikubur tetapi dibiarkan dikerubuti lalat. Telur lalat itu ketika menetas menjadi belatung yang kemudian dikumpulkan untuk ditebar di ladang. Dari belatung yang disebar di ladang itu, tumbuhlah tanaman padi. Itulah yang kemudian dibawa ke Negeri Lio ini oleh para saudagar kenalan Bapak Raja dan Ibu Kaja. Kalian tidak percaya?” Tanya Bheda kepada para Ata Ko’o dan Tuke Sani yang duduk mengelilinginya. “Ini, coba lihat dan amati. Aku juga masih simpan beras yang dibawa para saudagar Jawa Dwipa itu.” Beras itu oleh Bheda ditebar di halaman rumah. Ketika menyentuh tanah, beras itu berubah menjadi belatung yang melenggang-lenggok dan melenting kemana-mana. Ayam yang dari tadi diam segera menyerbu belatung-belatung itu dan memakannya sampai habis.

“Adakah yang masih meragukan pendapat saya? Sampai kapan pun, saya tidak akan pernah mau menanam, apalagi makan belatung. Kalau di antara kalian ada yang mau mencoba menanam atau memakannya, bilang kepada saya. Saya masih menyimpan benih belatung yang masih hidup, yang masih bisa ditanam.” Ata Ko’o dan Tuke Sani anak buah Bheda, semua ketakutan, tak ada seorang pun yang berani melawan kehendak majikan mereka. Hingga ketika Ata Ko’o dan Tuke Sani pengikut Raja dan Kaja menawarkan agar mereka ikut menanam padi, mereka tetap menolaknya. Sebenarnya beberapa pengikut Bheda ada yang tahu, bahwa beras itu bisa menjadi belatung, karena majikan mereka menguasai ilmu santet. Tetapi, di hadapan majikan itu, mana ada Ata Ko’o dan Tuke Sani yang berani membantahnya? Maka satu-satunya jalan, mereka harus tetap menolak ajakan untuk ikut menanam padi.

* * *

Di antara ketiga orang dari Negeri Jawa Dwipa itu;  Kalyan, Nikhil, dan Rhosan; hanya Nikhil yang masih bujangan. Kalyan dan Rhosan datang ke Negeri Lio empat tahun lalu bersama istri dan anak-anak mereka yang masih kecil. Sekarang anak-anak itu sudah besar, dan sudah fasih berbahasa Lio. Anak-anak itu malahan agak sulit untuk berbicara Bahasa Jawa Dwipa. Mereka juga sudah punya adik yang lahir di Negeri Lio. Nikhil yang waktu datang masih bujangan, sekarang sudah punya istri gadis Lio. Nikhil sudah fasih berbahasa Lio, dan istrinya sedikit-sedikit sudah bisa mengucapkan kata-kata Bahasa Jawa Dwipa. Ketika datang, mereka bertiga tidak punya apa pun, sebab rumah dan harta benda mereka tinggalkan di kampung halaman. Sekarang mereka sudah punya kebun, punya ladang, punya rumah, punya ternak babi dan ayam.

Tetapi tahun depan ini, yang merupakan tahun kelima, mereka akan kembali ke Jawa Dwipa. Mereka juga belum memutuskan, apakah akan kembali untuk seterusnys, atau hanya akan di kampung halaman selama setahun, kemudian datang lagi ke Negeri Lio. Yang jelas mereka sudah sangat senang menjadi warga Negeri Lio. Terlebih ketika tanaman padi pada tahun kelima ini tumbuh bagus, dan akan panen melimpah. Pada tahun ketiga mereka hanya membangun satu Lewa untuk menyimpan hasil panen, dan tahun keempat membangun lagi dua Lewa. Pada tahun kelima ini masing-masing keluarga pengikut Raja dan Kaja, harus punya Lewa masing-masing. Kalau tidak, hasil panen tidak akan bisa mereka simpan. Ine Pare senang sekali, sebab sekarang rakyat Negeri Lio sudah punya bahan makanan yang bisa disimpan sampai lebih dari satu tahun.

“Tuan Puteri Ine Pare, di Negeri Jawa Dwipa, padi tidak hanya ditanam di ladang yang kering dan hanya mengandalkan air hujan; melainkan juga di lahan sawah yang diberi air melimpah.” Demikianlah Kalyan menjelaskan kepada Ine Pare. “Hasil padi di Negeri Jawa Dwipa, disimpan dalam tiga Lewa. Lewa pertama untuk menyimpan hasil panen tahun ini. Lewa kedua berisi hasil panen tahun lalu. Lewa ketiga berisi hasil panen dua tahun yang lalu, dan sedang dikonsumsi tahun ini. Cara mengonsumsi padi, harus ditumbuk tiap hari, paling banyak untuk waktu satu minggu. Sebab kalau disimpan lebih dari satu minggu,  beras itu akan rusak. Paling enak kalau beras yang ditumbuk hari ini, dikonsumsi hari ini juga. Tuan Puteri Ine Pare, hasil panen padi tahun kelima ini, diharapkan sudah bisa mulai dikonsumsi.

Tahun ini, kami bertiga akan mengajarkan bagaimana membuat lesung, lumpang, alu, nyiru dan lain-lain peralatan untuk mengolah padi menjadi beras. Mudah-mudahan kapal-kapal cadik dari Negeri Jawa Dwipa, tahun ini bisa membawa paralatan gerabah untuk memasak nasi.” Pada bulan keenam setelah tanam, padi mulai menguning dan masak. Tiap hari siang dan malam, orang-orang Lio di Ndori menjaga ladang padi mereka secara bergiliran. Tanaman padi itu harus dijaga agar tidak dimakan burung pipit, gelatik, monyet, dan babi hutan. Babi hutan itu biasanya datang berikut anak-anak mereka dalam jumlah sampai belasan. Tetapi malam tadi,  Kalyan mendapat laporan dari seorang Tuke Sani. “Bapak Kalyan, tadi malam datang puluhan ekor babi besar-besar dan galak. Seluruh padi yang saya jaga habis mereka makan. Kalau saya dianggap salah, siap menerima hukuman.”

Ketika melihat langsung kerusakan lahan yang ditimbulkan oleh babi itu, Kalyan heran. “Ini sepertinya bukan sembarang babi, melainkan babi jadi-jadian. Saya curiga, jangan-jangan ini pekerjaan Bheda. Baiklah aku akan melaporkan hal ini kepada Ibu Funu.” Setelah mendapat laporan dari Kalyan, Funu segera berangkat ke ladang hari itu juga. Setelah  melihat kerusakan yang ditimbulkan oleh babi hutan, ia memutuskan untuk tidak pulang. Ia memilih tempat yang agak tinggi, hingga bisa melihat ke beberapa arah ladang. Untuk berjaga-jaga ia minta seorang Ata Ko’o mengambilkan tanah dengan wadah anyaman daun lontar. Tanah itu kemudian ia beri mantra. “Sekarang juga taburi semua batas ladang padi dengan tanah ini. Kalau tak cukup, ambil sejumput-sejumput lalu dicampur dengan tanah lain dan ditaburkan mengelilingi ladang.”

* * *

Malam itu semua orang menjaga ladang masing-masing. Mereka membuat api unggun hingga di mana-mana tampak ada nyala api dan asap. Mereka masing-masing juga membawa parang, tombak, serta kentongan dari bambu untuk memberi tanda kedatangan babi hutan. Funu berpesan kepada para petani warga Ndori. “Kali ini akan bisa kita buktikan, apakah yang datang benar-benar babi hutan, atau babi jadi-jadian. Babi butan asli, pasti akan ketakutan dan tak berani mendekat apabila mengetahui semua ladang dijaga manusia. Kalau yang datang babi jadi-jadian, mereka akan nekat masuk ladang untuk merusak.” Menjelang tengah malam, dari salah satu petak ladang terdengar bunyi kentongan dan teriakan. Serentak orang-orang yang berjaga mendatangi tempat itu, termasuk Funu, sambil membawa kayu bara api di ujungnya sebagai alat penerangan. Betapa kaget ketika di lokasi tersebut, mereka melihat enam orang Ata Ko’o tergeletak pingsan.

Semua orang tahu, enam orang Ata Ko’o itu pengikut Bheda. Mereka bukan hanya tak mau ikut menanam padi, tetapi juga paling aktif mempengaruhi orang-orang agar menolak tanaman padi mengikuti jejak mereka. Sesuai dengan perintah Bheda, mereka selalu mengatakan bahwa padi merupakan tanaman yang berisi belatung. Beras itu bukan biji-bijian, melainkan belatung yang telah disihir hingga berbentuk seperti biji-bijian. “Bagaimana Ibu Funu? Tadi yang saya lihat ada puluhan babi hutan besar-besar, ternyata setelah saya memukul kentongan dan orang-orang datang membawa bara api, yang tampak hanya enam orang ini. Padahal demi Duä Nggaé, demi Duä Lulu Wula, demi Nggaé Wena Tana, yang saya lihat tadi benar-benar puluhan babi hutan.” Funu mencoba menenangkan orang-orang itu. “Kalian tenang saja. Satu orang ini, bisa tampak seperti 10 ekor babi hutan. Jadi kalau ini ada enam orang, maka akan tampak seperti 60 ekor babi hutan.”

Tampaknya enam orang ini baru akan berangkat merusak, tetapi ketika melangkahi batas ladang yang telah ditebari tanah bermantra, mereka menderita kesakitan dan pingsan. “Sekarang kita biarkan saja, sebentar lagi mereka akan siuman dan bangun seperti biasa, tanpa menderita sakit sedikit pun. Mantra itu sudah kucabut. Nanti setelah bangun, mereka kita bawa ke Sao Keda untuk kita sidang.” Tak lama kemudian enam orang Ata Ko’o itu sadar. Mereka heran mengapa ada banyak orang di sekeliling mereka. Setelah seluruhnya bangun, keenam orang itu mereka giring ke Sao Keda. Di Sao Keda telah hadir Raja, dan para tetua adat. Bheda meskipun diberi tahu, tak bersedia datang, dengan alasan mengantuk. Maka sidang pun dimulai, dengan bertanya kepada enam orang Ata Ko’o itu. Salah satu di antara mereka menjadi wakil untuk berbicara.

“Benar bapak-bapak, kami berenam diminta Bapak Bheda untuk pergi ke ladang. Kemarin kami juga pergi, tetapi hanya berdua. Kami diminta Bapak Bheda untuk melihat dengan mata kepala kami sendiri, bahwa yang ditanam di ladang itu bukan tanaman pangan, melainkan belatung. Maka kami pun datanglah ke ladang. Kemarin kami juga datang hanya berdua, tetapi sesampai di ladang kami tak ingat apa-apa lagi, dan tahu-tahu malam sudah menjelang pagi, lalu kami berdua pulang. Tadi, kami berenam menderita sakit luarbiasa ketika memasuki ladang, lalu tak sadarkan diri.” Baru saja Ata Ko’o tadi  selesai berbicara, dari luar datang beberapa orang yang memberi tahu bahwa rumah Funu yang kecil di ujung jalan setapak itu terbakar. Funu dengan diikuti orang-orang mendatangi arah kebakaran, dan memang benar. Seluruh rumah Funu sudah menjadi bara api. Pada musim kemarau seperti ini, dalam sekejap rumah bisa habis sama sekali dan berubah menjadi puing bara, dan abu.

“O, jadi ada orang yang datang mencari-cari lontar itu, lalu setelah tak menemukannya, rumah kecilku itu dibakar. Baiklah Duä Nggaé, Duä Lulu Wula, Nggaé Wena Tana; tubuhku ini kecil sekali, bisa tidur di mana saja. Di Lewa pun saya bisa tidur nyenyak. Duä Nggaé, ampunilah orang yang telah membakar rumah ini.” Tiba-tiba dari arah kerumunan orang, datanglah seorang Ata Ko’o, yang langsung duduk bersimpuh di hadapan Funu. “Ampunilah aku Ibu Funu. Tadi aku memang masuk ke rumah Ibu Funu diminta Bapa Bheda, untuk mengambil lontar beliau. Tapi tak sengaja aku menyentuh pelita minyak yang jatuh menimpa tikar, lalu semua terbakar. Ampunilah Ibu Funu, janganlah sampai aku kena marah Bapa Bheda, karena lontar itu ikut terbakar.” Funu menepuk pundak Ata Ko’o itu, dan menyuruhnya bangun. “Sudahlah kau bangun dan pulang. Kau cerita pada Bapak Bheda bahwa lontar itu tidak ikut terbakar karena saya bawa ke mana-mana dalam keranjang ini!” * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: