BATANG-BATANG REO

13/02/2017 at 16:30 (novel)

“Aku terkutuk? Cobalah mengaca di air tempayan Bheda! Lihatlah wajah tuamu itu! Mengapa niat untuk menikah lagi baru datang sekarang? Mengapa tak kau putuskan barang 20 atau 30 tahun silam? Saat itu kau masih miskin? Benar! Memang saat itu kau masih miskin ……..”

PANTAI dengan batang-batang reo itu hanya ramai ketika kapal-kapal cadik dari Jawa Dwipa dan kapal-kapal junk china dari Negeri Han berdatangan. Selama beberapa minggu, kadang sampai beberapa bulan, kapal-kapal besar itu membuang sauh di lepas pantai Ndori, digoyang gelombang laut Sabu. Para awak kapal, nahkoda, juru mudi, juru layar, akan beristirahat. Para juragan turun dari kapal bersama pengawal dan penerjemah menggunakan perahu yang bisa merapat ke pantai. Mereka akan tinggal di darat selama beberapa minggu untuk tawar-menawar pertukaran barang dengan para pemilik kayu cendana dan pinang di darat. Setelah kesepakatan didapat, beras, lada, cabai jawa, dan perkakas logam dari Jawa diturunkan. Dari Negeri Han di Tiongkok mereka menurunkan pecah belah dari tembikar, sutera dan batu giok, lalu kayu-kayu cendana dan buah pinang dinaikkan ke atas kapal oleh Ata Ko’o, para budak.

Ata Ko’o juga menaikkan air, buah pisang, talas, sukun dan kelapa sebagai bekal perjalanan kapal-kapal cadik kembali ke Pulau Jawa, sebelum angin barat mulai berhembus kencang. Ketika kapal-kapal cadik dari Jawa Dwipa itu datang, batang-batang reo selalu sedang meranggas. Sebab saat itu sedang musim angin selatan. Saat itulah cuaca sangat panas dan kering. Tanah Persekutuan Ndori sedang pada puncak musim kemarau, hingga batang-batang reo selalu tak berdaun. Nanti, ketika Bapa Angkasa menurunkan air kehidupan dari langit, ranting-ranting reo yang seakan mengering itu, serentak akan menumbuhkan bunga putih kecil-kecil, yang kemudian disusul dengan tunas daun merah kecoklatan. Lalu hanya dalam hitungan hari tajuk yang meranggas itu akan kembali tampak hijau. Tapi hijau daun reo selalu masih menampakkan gradasi coklat yang tajam.

Reo identik dengan pantai. Sebab selain di Ndori, deretan batang reo juga bisa dijumpai di sepanjang pantai di seluruh Flores, di kepulauan Nusa Tenggara, bahkan juga di Jawa, Sulawesi, dan pulau-pulau lain di Kepulauan Nusantara ini. Di Jawa, pohon reo disebut kayu jaran, jaranan, pohon kuda, atau batang kudo.

Pagi itu, awak kapal cadik dari Negeri Jawa Dwipa, anak buah Bhadrak, menurunkan kuali, tempayan gerabah, pengaduk, dan centhong, tampah, kukusan, dan bakul berisi beras. Mereka membuat tungku di tengah Kanga. Ine Pare mengajak Funu untuk membantu para awal kapal itu memasak nasi. Para awak kapal itu sebenarnya melarang, tetapi kemudian mereka membiarkan Ine Pare melakukan semuanya. Para awak kapal itu kemudian terheran-heran. Ine Pare sangat cekatan melakukan semuanya tanpa diberitahu terlebih dahulu.

Ketika menerima beras dalam sebuah bakul, Ine Pare menaruh bakul itu di sebuah batu datar yang agak tinggi, kemudian menyembahnya. “Inilah makanan yang sudah sejak lama kudambakan. Makanan yang akan mengenyangkan rakyat Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori, seluruh Rakyat Negeri Lio, bahkan rakyat seluruh Flores. Duä Nggaé, Duä Lulu Wula, Nggaé Wena Tana, Wula dan Leja,  dan Tana Watu, izinkan hambamu, suatu saat nanti bisa menanam biji-bijian ini di Tanah Persekutuan Ndori.” Ine Pare lalu ikut beberapa orang mencuci beras dalam wadah bakul besar itu. Ia juga ikut membuat karon dalam kuali gerabah, kemudian mengukusnya dalam dandang yang juga terbuat dari gerabah, dengan kukusan dari anyaman bambu. Kukusan itu mereka tutup dengan kekeb yang juga terbuat dari gerabah. Ine Pare mencium aroma kehidupan sekaligus kematian dari uap pengukus nasi itu.

Aroma beras yang sedang dimasak menjadi nasi itu harum. Beras, yang berasal dari malai padi,  akan menjadi daya hidup bagi Negeri Lio, karena bisa disimpan lama dalam Lewa. Untuk menjadikan padi sebagai tanaman pangan di Negeri Lio, Ine Pare harus mati muda dengan dipenggal lehernya. “Mengapa aku yang dipilih Nggaé Wena Tana untuk menjadi Pengantin itu? Tak lama kemudian para Ata Ko’o datang membawa buah keluwih, pucuk daun melinjo, dan buah asam. Di tungku kedua, para awak kapal itu memasak sayur buah keluwih dengan pucuk daun melinjo. Mereka juga menggoreng ikan asin, dengan minyak kelapa. Para Ata Ko’o dan Tuke Sani mengelilingi awak kapal cadik anak buah Bhadrak itu, sambil menonton mereka memasak. Bhadrak, para Mosa Laki dan keluarga mereka duduk menunggu di dalam Sao Keda. Mbeka Weti berisi pinang dan sirih tersaji di hadapan mereka yang sedang menunggu nasi itu masak.

* * *

Pemukiman Nua Ria, tanah persekutuan Ndori, berupa lembah yang dialiri Sungai Merah, Ae Mera; dan Sungai Putih, Ae Bara. Lembah itu dikepung bukit-bukit yang sambung menyambung hingga sampai ke Kelimutu di utara sana. Pantai Tanah Persekutuan Ndori umumnya terjal. Hanya sedikit pantai landai dan berpasir, yang bisa digunakan untuk merapat perahu nelayan. Kapal dagang yang berukuran besar harus membuang sauh jauh di tengah, lalu orang dan barang diturunkan dengan perahu. Di pantai inilah jajaran batang reo mendominasi vegetasi. Pohon reo di Tanah Persekutuan Ndori tumbuh di tanah kering, berbunga dan berbuah kecil-kecil mirip buah mindi. Selain itu masih ada lagi reo yang tumbuh di rawa-rawa mangrove di pantai utara Flores. Reo mangrove berbunga terompet putih besar. Bunga ini enak disayur. Buah reo mangrove berbentuk polong memanjang seperti buah bakau.

Koloni batang-batang reo merupakan ironi. Pada musim penghujan, saat udara tak terlalu panas, tajuk reo justru menghijau. Namun ketika Duä Lulu Wula, Penguasa Langit Tertinggi; dan Leja, Sang Matahari, memancarkan panasnya yang menyengat pada puncak kemarau; tajuk reo justru tak berdaun. “Keluarga besar kita, memang juga ironi itu Kaju!” kata Bheda pada istrinya dengan suara keras dan nada sangat kasar. “Pamanmu yang pernah menolongku itu, yang sekarang jatuh miskin, juga punya anak banyak. Lihatlah para Ata Ko’o dan Tuke Sani itu. Rata-rata mereka punya 10 anak. Mengapa kita yang berkecukupan, bahkan berkelebihan ini sama sekali tak diberi anak? Apakah itu memang sebuah kutukan yang dijatuhkan para Dewa padamu Kaju? Kaju!” Kaju, ibarat batang-batang reo itu, semakin terkena panas, justru semakin kuat. Ia pun berteriak lebih keras dan lebih kasar dari suaminya.

“Aku terkutuk? Cobalah mengaca di air tempayan Bheda! Lihatlah wajah tuamu itu! Mengapa niat untuk menikah lagi baru datang sekarang? Mengapa tak kau putuskan barang 20 atau 30 tahun silam? Saat itu kau masih miskin? Benar! Memang saat itu kau masih miskin. Tapi kini, kau seperti hidup di alam mimpi. Pada saat Bapak Raja sedang menerima tamu dari Jawa Dwipa di Sao Keda, kau malah di rumah dan menyiapkan santet. Santet apa lagi yang sekarang sedang kau tujukan ke mereka?” Bheda makin meradang. “Santet? Siapa yang sedang menyiapkan santet? Merekalah yang saat ini sedang memasak belatung, bukan biji-bijian putih dari Negeri Jawa Dwipa. Kaju, kau tak tahu siapa Bhadrak dari Jawa Dwipa itu Kaju? Dialah Penyihir yang akan memasak belatung untuk disajikan kepada rakyat Negeri Lio. Tetapi ia tak akan bisa menipu Bheda, yang mampu mengerahkan para Polo dari Tiwu Ata Polo di Kelimutu.”

“Lihatlah, para Polo itu akan segera mengubah belatung yang mereka masak itu ke bentuk semula. Kaju, kalau kau juga percaya pada mereka, maka kakimu akan membusuk dan penuh dengan belatung.” Bheda memang sudah menyiapkan tiga Mbeka Weti berisi belatung, dan sesaji lain. Ia juga akan membakar kemenyan untuk mendatangkan para Polo. Di dalam Sao Keda, Ine Pare mencari-cari Funu, tetapi tak tampak. Ia bertanya kepada Ndale, dan Sipi, dimanakah Funu? Ndale dan Sipi juga tidak tahu. Mereka kemudian mengira, Funu sedang membantu para awak kapal Bapak Bhadrak memasak di tengah Kanga sana. Padahal waktu itu, Funu sedang duduk di bawah batang pohon reo terbesar di Nua Ria. Tak ada seorang pun yang melihatnya, sebab pohon reo itu tegak di lereng bukit yang agak terjal di tebing pertemuan sungai Are Bara dan Ae Mera.

Mempersembahkan sesaji makanan, tuak, dan bunga-bunga Funu mengatur napas, dan membaca mantra. Ae Mera dan Ae Bara, di Lembah Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori, ibarat pita merah dan pita putih yang dikibarkan dari Kelimutu ke Laut Sabu. Ae Mera seperti kepanjangan dari Tiwu Ata Polo, sedangkan Ae Bara kelanjutan dari Tiwu Ata Mbupu. Keduanya akan bermuara di biru laut Sabu, sebagai Tiwu Nuwa Muri Koo Fai yang juga berwarna biru. “Kalau kiriman santet dari Bheda itu jatuh di pangkuanku, aku akan segera membuangnya ke sungai Ae Mera, agar dikembalikan oleh para Polo ke rumah Bheda. Menjelang siang, di pangkuan Funu terjatuh tiga Mbeka Weti berisi belatung. “Kamu memang sudah keterlaluan Bheda! Mbeka Weti merupakan wadah keramat yang harus diisi pinang sirih untuk menjamu tamu. Tetapi kau  telah berani mengisinya dengan belatung.”

* * *

“Duh Dewa Tertinggi Duä Nggaé, Penguasa Langit Tertinggi Duä Lulu Wula,  Penguasa Bumi Terdalam Nggaé Wena Tana, Bulan dan Matahari Wula Leja, serta Sabana Berbatu Tana Watu. Duh Sungai Ae Mera, yang berasal dari Tiwu Ata Polo, kembalikanlah tiga Mbeka Weti ini ke dia yang mengirimkannya, dalam jumlah berlipat ganda. Maka siang itu, tatkala Bheda sedang duduk di ruang tengah, jatuhlah belasan Mbeka Weti penuh berisi belatung. Belatung-belatung itu berserakan di lantai. Beberapa berlompatan keluar. Bheda lalu keluar rumah dan memanggil beberapa Ata Ko’o: “Kalian lihatlah ini para Ata Ko’o. Betapa jahatnya para tamu dari Jawa Dwipa itu. Mereka telah menipu rakyat Negeri Lio. Siang ini mereka memasak belatung di tengah Kanga. Karena aku tak sudi datang untuk memakan belatung, mereka mengirimkannya ke rumah ini! Lihatlah!”

Di tengah Kanga, nasi, sayur keluwih dan pucuk melinjo, serta ikan asin itu telah selesai dimasak. Ine Pare, diiringi para Ata Ko’o dan awak kapal cadik, membawa masuk makanan itu ke dalam Sao Keda. Melalui penerjemah, Bhadrak memperkenalkan kepada Raja, Kaja, dan tiga anak mereka, bahwa yang dia sajikan bernama nasi, terbuat dari beras, yang berasal dari tanaman padi. Nasi itu biasanya dimakan dengan sayuran dan lauk. “Bapak Raja dan Ibu Kaja, kali ini anak buah saya hanya memasak sayur keluwih, pucuk daun melinjo, dan ikan asin. Marilah kita makan.” Mereka pun mengambil nasi itu dengan entong terbuat dari kayu, lalu menaruhnya di atas daun sukun, mereka juga mengambil sayuran dan ikan asin, lalu pelan-pelan menyantapnya. Raja, Kaja, dan rakyat Negeri Lio, merasakan sesuatu yang baru dan aneh. Sebab biasanya mereka menyantap talas, sukun, dan uwi-uwian.

Kali ini mereka menyantap masakan dari biji padi yang berwarna putih, dan terasa sangat enak. Selain enak, bagi mereka nasi itu juga mengenyangkan. Baru saja mereka menyantap sedikit, perut sudah berasa kenyang. Melalui penerjemah Ine Pare menyampaikan. “Bapak Bhadrak dan Rombongan. Saya mewakili Rakyat Negeri Lio di Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori, berterimakasih atas kemurahan Bapak Bhadrak menjamu kami dengan makanan yang sangat enak ini. Perkenankan kami mohon, dalam perjalanan berniaga tahun depan, Babak Bhadrak berkenan membawa benih tanaman penghasil makanan ini, agar bisa kami tanam di tanah Ndori.”  Bhadrak menjawab dengan tegas. “Di hadapan Bapak Raja, Ibu Kaja, Putera Ndale, Puteri Ine Pare, dan Putera Sipi; demi nama Dewa Brahma Sang Pencipta, Dewa Wisnu Sang Pemelihara, dan Dewa Syiwa Sang Penghancur; saya berjanji untuk kembali berkunjung ke Negeri Lio, sambil membawa benih padi.”

Pada saat Bhadrak mengakhiri kata-katanya, di luar Sao Keda ada dua orang Ata Ko’o berteriak-teriak: “Kita rakyat Negeri Lio ini telah ditipu orang Jawa Dwipa. Yang kalian makan itu bukan biji-bijian yang ditumbuhkan Nggaé Wena Tana, melainkan belatung yang berasal dari bangkai binatang. Sebagian dari belatung-belatung itu mereka kirimkan ke rumah Bapak Bheda.” Dua orang itu terus-terusan berteriak-teriak, hingga kemudian diusir oleh para Ata Ko’o Raja dan Kaja. Sambil terus berteriak-teriak, dua Ata Ko’o Bheda itu pulang ke rumah majikan mereka. Dua orang itu tampak bergegas sambil sekali-sekali menoleh ke belakang. Mereka hilang di tikungan jalan, yang tampak hanya batang-batang reo yang meranggas tanpa daun, tegak di sepanjang pinggir jalan itu. Para Ata Ko’o Raja dan Kaja, serta awak kapal Bhadrak, mengemasi alat-alat memasak, mencucinya di Sungai Ae Bara, lalu mengembalikannya ke atas kapal cadik.

Sore itu masyarakat pengikut Raja dan Kaja terus memperbincangkan kelezatan makanan bernama nasi, Mereka berdebat, bagaimanakah bentuk tanaman dan cara budidayanya. Para pengikut Bheda juga sibuk membahas perihal ilmu sihir dari Jawa Dwipa yang bisa mengubah belatung menjadi makanan. Ine Pare segera menemui Funu dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Funu menjelaskan dengan singkat: “Tuan Puteri, tadi aku tak bisa berada di samping Tuan Puteri, karena harus mengembalikan santet belatung yang dikirimkan oleh Bheda. Belatung itu telah kukembalikan ke rumahnya, tetapi kemudian ia memanggil para Ata Ko’o dan mengatakan bahwa Bapak Bhadrak dari Negeri Jawa Dwipa telah mengubah belatung menjadi makanan. Tuan Puteri Ine Pare, tampaknya Bheda akan terus mengganggu kita entah sampai kapan.” * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: