DETUSOKO

20/02/2017 at 15:56 (novel)

Tetapi  ketika melihat ke arah timur, jajaran bukit itu sambung menyambung seperti tak akan putus. Dan itu semua harus dilewati untuk sampai ke Kelimutu.

HANYA tiga hari perjalanan dari Pemukiman Baru Detusoko, Ine Pare menemukan lembah berawa-rawa, dengan kawanan kerbau sangat banyak. “Bisakah kerbau-kerbau itu digiring untuk membuat lahan ini menjadi lumpur?” Para Ata Ko’o itu menjawab serentak. “Bisa Tuan Puteri.” Maka Ine Pare memerintahkan Funu untuk berhenti di lokasi tersebut. “Sebaiknya kita membuat pemukiman di atas sana. Itu tempat yang aman dari para penyerang. Lahan terbuka dengan tebing curam di belakang, dan hamparan rawa bagian depan. Pemukiman di sana akan lebih aman dari serangan mendadak. Lembah ini bisa kita ubah menjadi sawah yang subur, dengan memanfaatkan kerbau-kerbau itu.” Maka mereka pun membangun pemukiman baru di lokasi tersebut. Funu setuju untuk menunda kepergian mereka ke Kelimutu. “Tanah ini memang sangat bagus untuk menanam padi sawah. Mata Tuan Puteri Ine Pare memang cukup awas. Tapi karena di sini tak ada alang-alang, sebagai atap rumah kita gunakan daun sagu yang banyak tumbuh di tepi sungai itu. Apakah tempat ini juga akan diberi nama Detusoko?” Ine Pare mengangguk.

Karena hanya berjarak tiga hari perjalanan, para Ata Koo diminta untuk menjemput warga pemukiman baru Detusoko, dan warga Mutu Busa untuk datang guna membantu membuka lahan sawah. Sekitar 10 hari kemudian Ratu ikut datang ke tengah hutan yang masih belum dibuka itu, dengan membawa 20 orang Ata Ko’o dan Tuke Sani. “Saya mendengar kabar bahwa Bheda tengah bersiap-siap untuk mengejar Kalian kemari. Tempat ini bagus untuk dijadikan benteng pertahanan, juga untuk menanam padi, hingga seluruh rakyat punya cadangan pangan. Saya senang Ine Pare menemukan tempat ini, dan mengundang orang-orang Mutu Busa untuk ikut datang menggarap lahan. Tetapi saya sarankan, kalian segera pergi ke timur sana untuk menjumpai Bapak Konde dan  Ibu Ura. Mereka juga perlu diberi kabar, bahwa adik bungsu Raja dan Kaja istrinya telah meninggal, dan Tanah Persekutuan Ndori telah hilang. Mereka juga perlu diberi tahu tentang Bheda dan pengikutnya yang kemungkinan akan menyerang sampai ke Kelimutu.”

Selama beberapa hari, Ratu tinggal bersama Ine Pare, Ndale, dan Funu beserta para pengikutnya di tengah hutan itu. Kemudian ia memutuskan untuk pulang, dan akan kembali mengirim sebanyak mungkin keluarga untuk ikut membuka lahan di sini. Ine Pare mengingatkan Ndale dan Funu agar segera berangkat ke Kelimutu, tetapi Funu mengusulkan yang pergi cukup dia sendiri, sementara Ine Pare dan Ndale tinggal di Pemukiman Detusoko. Atau Tuan Puteri dan Kakak Ndale yang pergi, dan saya tetap tinggal di sini untuk mengatur orang-orang bekerja. Ine Pare dan Ndale memutuskan untuk tetap tinggal, dan minta Funu berangkat ke Kelimutu, didampingi empat orang Ata Ko’o dan tiga ekor kuda untuk membawa perbekalan. Mereka belum tahu, berapa lama perjalanan ke Kelimutu. Dari kawasan ini, jalan ke Kelimutu terus menanjak, dan baru akan menurun setelah melintasi perbatasan bukit itu.

Perjalanan Funu sungguh melelahkan. Jalan setapak yang ditempuhnya tidak biasa dilewati para pedagang. Di beberapa bagian jalan bisa hilang, hingga mereka harus mencari-cari arah yang benar. Jarak dari pemukiman baru Detusoko ke Kelimutu, sebenarnya tak terlalu jauh, tetapi karena harus jalan memutar-mutar menghindari tebing terjal, maka perjalanan itu menjadi sangat melelahkan. Meskipun Kelimutu cukup jauh dicapai dari Ndori, tetapi jalannya tidak terlalu terjal, hingga lebih mudah dicapai. Funu membayangkan, bagaimana sulitnya orang-orang zaman dulu harus mengangkut perbekalan dalam perjalanan jarak jauh, sebelum kuda didatangkan dari Negeri Han di Tanah Tiongkok, dari Negeri Chola di India, dan dari Jawa Dwipa. Hewan itu memang berpengaruh besar pada kemajuan Tanah Flores, karena kayu cendana yang besar-besar bisa mudah diangkut ke pantai menggunakan kuda. Setelah kapal-kapal Jawa Dwipa sering datang ke Tanah Flores, cendana di dekat pantai mulai habis, cendana dari bukit-bukit yang cukup jauh itulah yang harus ditebang dan diangkut ke pantai.

Selain melelahkan, perjalanan mendaki dengan cara memutar-mutar ke kiri dan ke kanan itu juga membosankan. Selama dua hari penuh mereka belum bisa mencapai puncak bukit. Baru pada hari ketiga puncak bukit itu bisa mereka capai dengan susah payah. Tetapi betapa kecewa mereka. Di sebelah barat tampak lembah yang sangat dekat, bahkan pemukiman Detusoko tampak cukup jelas. Tetapi  ketika melihat ke arah timur, jajaran bukit itu sambung menyambung seperti tak akan putus. Dan itu semua harus dilewati untuk sampai ke Kelimutu. Funu tak bisa memperkirakan, kapan mereka akan tiba di Kelimutu, tetapi pasti memerlukan waktu lebih lama dibanding dengan perjalanan dari lembah ke puncak bukit ini. “Untunglah, yang pergi aku, bukan Ine Pare serta Ndale yang belum berpengalaman.”

* * *

Ine Pare meminta orang-orang itu berdiri berjajar rapat membentuk kantung, mengelilingi lahan yang akan diolah menjadi sawah. Bagian kantung yang terbuka menghadap ke arah datangnya kawanan kerbau yang akan dihalau. Beberapa orang bertugas menghalau kawanan kerbau itu mendekati lubang kantung manusia. Setelah kawanan kerbau masuk ke perangkap kantung, bagian yang terbuka ditutup, hingga kawanan kerbau itu terjebak di dalam lingkaran manusia. Teknik ini, awalnya mereka gunakan untuk menangkap kerbau jantan muda untuk dipotong. Tetapi kini teknik itu mereka pakai untuk mengolah lahan sawah menjadi siap tanam. Setelah kerbau-kerbau itu berada dalam lingkaran, mereka akan dihalau hingga berlarian ke sana-kemari menginjak-injak lahan berlumpur itu, hingga rumput dan gulma air lain akan terbenam ke dalam tanah.

Setelah semua lahan terinjak-injak, kantung manusia itu pelan-pelan bergerak, mengarah ke lahan yang masih berumput tebal. Demikian seterusnya hingga seluruh lahan terinjak-injak kerbau dan menjadi hamparan lumpur. Biasanya mereka akan berhenti menjelang tengah hari, sebab kerbau itu juga perlu makan dan berendam dalam lumpur untuk mendinginkan suhu tubuh. Lama-lama kerbau itu tak terlalu takut pada manusia. Ketika berada di lahan berumput tebal, mereka tetap santai makan rumput, meskipun orang-orang menghalaunya. Baru setelah rumput di depannya habis, kerbau itu mau lari menuju ke arah rumput yang masih tebal, lalu berhenti untuk makan. Setelah berulangkali dilakukan, kerbau-kerbau itu juga tak perlu dikelilingi oleh “pagar manusia”. Cukup dengan dijaga oleh empat orang Ata Ko’o, kawanan kerbau itu sudah bisa membereskan lahan sawah hingga siap ditanami benih padi.

Untuk ditanam di lahan sawah, benih padi ditebar rapat di tempat persemaian, berupa petakan lahan berlumpur masing-masing berukuran empat kali enam depa. Jumlah petakan bergantung dari luas lahan sawah yang akan ditanami padi. Setelah berumur satu bulan, benih padi itu dicabut dari tempat persemaian, lalu ditanam di petakan lahan yang telah disiapkan. Sebulan sampai dua bulan sejak tanam, padi muda itu harus disiangi. Kemudian umur tiga bulan padi akan mulai bunting, dan keluarlah malai bunga yang masih mengacung ke atas. Padi sawah juga berumur sama dengan padi ladang, yakni antara enam sampai tujuh bulan. Malai padi sawah berukuran lebih besar dibanding padi ladang. Hingga hasil padi sawah, juga lebih banyak dibanding padi ladang. Ratu sangat tertarik mengirimkan warga masyarakat Ndona untuk ikut membuka lahan sawah di Pemukiman Detusoko itu.

Setelah capek mengawal kerbau, membuat pematang, dan menanam benih padi, Ine Pare dan Ndale duduk-duduk di beranda rumah darurat, berupa pondok. Rishi dan Sarik yang sudah bisa berbicara Lio patah-patah duduk menemani mereka. “Apakah rakyat Jawa Dwipa sudah sejak dulu makan padi?” Tanya Ine Pare pada Rishi dan Sarik. Rishi menjawab, “Benar Ibu, dari dulu mereka makan nasi yang terbuat dari beras dan padi. Tetapi Ibu Dharani pernah bercerita, bahwa dalam lontar-lontar yang beliau baca, dulunya rakyat Jawa Dwipa makan talas dan uwi-uwian seperti orang-orang Negeri Lio. Kata Ibu Dharani, nenek moyang kami baru menanam padi setelah para pedagang dari Negeri Chola dan Negeri Han datang memperkenalkan beras dan kemudian membawa benihnya. Seperti kami dari Negeri Jawa Dwipa datang kemari membawa beras dan menanam padi. Ine Pare menyela, “Jadi dulunya di Jawa Dwipa juga tak ada padi?”  Rishi menjawab, “Kata Ibu Dharani padi berasal dari Negeri Chola dan Negeri Han.”

Saat Ine Pare, Ndale,  Rishi dan Sarik dikelilingi para Ata Ko’o sedang santai pada siang hari itu, datanglah beberapa orang dari tempat pemukiman pertama mereka. Mereka datang bersama lima orang Tuke Sani dari Tanah Persekutuan Nua Ende. “Di bawah sana, lahan sudah semakin sempit, karena manusia tambah banyak. Bolehkan kami ikut membuka lahan di sini dan menjadi warga Detusoko?” Ine Pare menyambut kedatangan mereka dengan senang. “Bapak-bapak dari Tanah Persekutuan Nua Ende, silakan datang mau berapa keluarga; kami akan sangat senang; sebab lahan masih luas, sementara jumlah manusia di sini sangat sedikit. Lima orang itu heran, sebab orang-orang Detusoko ini mengolah lahan yang ada airnya, bukan lahan kering. Dan tanaman apakah yang mereka budidayakan itu? Mengapa bijinya kecil-kecil? Apakah itu enak? Mereka pun memutuskan untuk tinggal di tengah hutan itu membantu mengerjakan sawah. “Kami ingin sekali melihat tanaman ini dipanen, dan ikut merasakan hasilnya. Kami hanya berlima, paling banyak kalau nambah hanya akan menjadi enam orang. Keluarga akan kami ajak kemari tahun depan apabila sudah panen.”

* * *

Setelah menempuh perjalanan selama sembilan hari, sampailah Funu dengan empat orang Ata Ko’o dan tiga ekor kuda itu di Tanah Persekutuan Kelimutu. Konde dan Ura menyambut kedatangan Funu dengan empat orang pengawalnya. “Di sini udara sejuk. Maka dinginkan hati dan perasaanmu Funu!” Kata Konde, ketika Funu datang memperkenalkan diri, sambil bersujut mencium kaki seraya menangis berurai airmata. “Ayo minum air dingin. Sebenarnya aku juga sudah pernah mendengar musibah yang menimpa adik bungsuku. Aku juga tahu keponakanku Sipi selamat dan berada di Negeri Sikka. Tetapi aku kehilangan jejak keponakanku Ndale dan Ine Pare. Kalau mereka sudah menikah, saya sangat senang, sebab mereka memang dijodohkan oleh Duä Nggaé. Ayo Funu, ini juga rumahmu, kamu boleh memilih tidur di mana saja. Anak-anakku delapan orang sudah menikah semua, nanti kamu berkenalan dengan mereka.”

Funu merasakan kebenaran kata-kata Konde. “Bapak Konde orang berilmu tinggi. Ia tahu pikiranku sedang kacau, hingga dimintanya untuk menyejukkan dan mendinginkan hati di kawasan berudara sejuk ini. Tanah Persekutuan Kelimutu memang terletak di kawasan pegunungan, dekat dengan Puncak Kelimutu, hingga suhu udara selalu lebih dingin dibanding Nua Ria, Mutu Busa, dan Detusoko. “Sebenarnya jalan yang kau tempuh itu salah. Itu bukan jalur yang biasa dilewati para pedagang. Para pedagang selalu lewat Ndona, terus menuju Ende, atau agak memutar ke utara melalui celah pegunungan yang lebih landai. Lewat jalan ini mereka hanya perlu waktu enam hari sampai ke pemukimanmu, tak perlu sampai sembilan hari. Jadi nanti pulangnya jangan kembali ke jalan tadi, melainkan lewat Ndona. Jalannya memang memutar, tetapi lebih cepat karena landai dan juga sering dilewati pedagang.

Kepada Konde, Funu menyampaikan kekhawatiran mereka terhadap Bheda. “Bapak Konde, saya khawatir Bheda akan menyerang pemukiman kami yang baru, bahkan mungkin juga pemukiman Bapak Ratu di Mutu Busa. Aku masih belum tahu bagaimana menangani orang ini. Ilmu halus yang ia pelajari dari lontar-lontar Jawa Dwipa, sudah bisa saya atasi. Sekarang ia menggunakan kekuatan fisik.” Konde tertawa. “Funu, Funu! Yang telah mengatasi ilmu halus Bheda bukan kamu, tetapi Duä Nggaé. Kita semua ini hanya alat dari Duä Nggaé.” Funu menundukkan kepala sebanyak tiga kali. “Mohon ampun atas kesalahan saya Bapak Konde. Benar, bukan aku yang telah mengatasi ilmu Bheda, melainkan Duä Nggaé. Tetapi bagaimanakah cara untuk membuat agar ia tak terus mengganggu?” Konde menjawab. “Meskipun Ine Pare menerima pinangan dan menikah dengannya, lalu lontar yang kau ambil kau kembalikan, ia tetap akan mengganggu siapa saja.”

Funu mengangguk-angguk. “Kalau begitu, bagaimana cara mengatasinya?” Konde menjelaskan, “Bheda harus kau kalahkan. Caranya, pancing agar ia mau mendekat ke Tiwu Ata Polo, lemparkan lontar miliknya itu ke dalam kawah, maka ia akan terjun ke dalam kawah itu. Jadi kau tak perlu repot-repot membunuh dan menguburnya.” Funu tertegun mendengar penjelasan Konde. “Semudah itukah Bapak Konde?” Kali ini Konde menjelaskan dengan wajah serius. “Benar. Kadang-kadang orang mencari jalan yang sangat susah, padahal Duä Nggaé telah menyediakan jalan yang sangat mudah. Seperti kamu menuju ke Kelimutu ini, jalan memutar-mutar dan menanjak sampai sembilan hari, padahal ada jalan mudah yang cukup enam hari. Usahakan Bheda segera datang, lalu Ine Pare, dan Kamu harus berusaha memisahkan dia dari pengikutnya. Pancinglah agar ia mengejarmu sampai ke Tiwu Ata Polo.”

Konde melanjutkan, “Funu, Funu, kau datang kemari hanya untuk kepentinganmu dan kepentingan keponakanku itukah? Bagaimana dengan kepentinganku, dan kepentingan seluruh rakyat Kelimutu?” Funu terkejut mendengar pertanyaan Konde. “Apakah yang Bapak Konde maksudkan?” Konde menjelaskan. Orang-orang Negeri Lio sudah menanam padi, tetapi rakyat Kelimutu kau lupakan. Di sini belum ada padi. Itu Ratu, adik nomor duaku meskipun dekat juga tak pernah datang padaku. Raja pernah dua kali kemari. Suruh Ratu dan istrinya datang, membawa benih padi, serta para Ata Ko’onya, agar orang-orang Kelimutu juga bisa menanam padi, baik padi ladang maupun padi sawah.” Funu mengangguk-angguk. “Ampunilah Funu ini Bapak Konde, juga ampuni Bapak Ratu yang belum pernar datang kemari. Sepulang dari Kelimutu, aku akan meminta Bapak Ratu dan Ibu Gawi, untuk segera ke Kelimutu membawa benih padi dan para Ata Ko’onya.” * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Nove Ibu Padi

Iklan

1 Komentar

  1. timoteus marten said,

    Halo Pak F.Rahadi, salam kenal dr Timur. pertama tau nama ini dari HIDUP yg sa baca sewaktu di SMA. ternyata inilah dia. salam hangat dr Timur terjauh, Papua.
    GBU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: