06/03/2017 at 16:22 (novel)

AIR, AIR, AIR!

Setelah empelur itu hancur, sedikit-sedikit dituangi air, hingga meluber, hanyut keluar dan ditampung dalam wadah daun lontar. Beberapa saat kemudian, pati itu mengendap, lalu pelan-pelan air di atas dibuang. Tepung yang terkumpul langsung dijemur sampai kering, lalu dibungkus dengan daun aren, dan dibawa pulang.

RAJA, Kaja dan para tetua Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori, berniat untuk menyumbangkan beras mereka kepada para Ata Ko’o, dan Tuke Sani, pengikut Bheda. Tawaran itu mereka tolak. “Sesuai dengan arahan dari Bapak Bheda, kami warga Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori, pantang untuk makan belatung.” Para Ata Ko’o utusan Raja dan Kaja berusaha menjelaskan bahwa beras berasal dari padi yang mereka tanam, dan bukan belatung. Tetapi para pengikut Bheda tetap menolak tak mau makan nasi yang mereka anggap berasal dari belatung. Warga Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori yang awalnya hanya satu keluarga besar, sekarang terpecah menjadi dua, yakni pengikut Raja dan Kaja, serta pengikut Bheda. Kaju istri Bheda sudah tinggal di rumah salah satu adiknya, dan tak mau lagi berhubungan dengan Bheda. Meskipun secara adat, mereka masih berstatus suami isteri, tetapi secara kenyataan sehari-hari, sebenarnya mereka sudah berpisah.

Menghadapi penolakan para pengikut Bheda; Raja, Kaja, dan para tetua adat di Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori prihatin. Sebenarnya, saat ini ilmu santet yang dimiliki Bheda, sudah bisa diatasi oleh Funu. Sebab dengan tambahan lontar dari Jawa Dwipa yang dibawa Dharani, Puteri Bhadrak, Funu bisa melengkapi ilmu yang sebelumnya hanya sebagian dikuasai oleh Bheda. Secara teknis, gangguan dari Bheda dalam bentuk pelet, santet, babi jadi-jadian, akan bisa ditanggulangi oleh Funu. Yang sulit diatasi, pengaruh Bheda kepada sebagian masyarakat Nua Ria. Masyarakat yang telah kena pengaruh ini tetap yakin bahwa padi berasal dari belatung. Mendengar kabar bahwa Ine Pare telah dinikahkan dengan Ndale, para pengikut Bheda juga marah. Sebab bagi mereka Ine Pare, memang sudah sejak lahir akan menjadi jodoh Bheda.

“Bapak Bheda, kita harus ambil tindakan. Diam-diam Ine Pare sudah dinikahkan dengan Ndale.” Bheda kaget mendengar kabar itu.
“Itu keterlaluan. Pertama, Raja dan Kaja telah menghina saya, karena pinangan saya telah mereka tolak. Kedua, bukankah Ndale dan Ine Pare kakak adik? Hubungan mereka akan mendatangkan amarah para Dewa di langit. Pantas kemarau kali ini sangat panjang, lebih panjang dari biasanya.”
“Lalu apa yang harus kita lakukan Bapak Bheda? Kami menunggu perintah.”
“Kemarau yang lebih panjang kali ini juga akibat tanaman belatung yang didatangkan dari Jawa Dwipa. Setelah kedatangan tanaman belatung itu, semakin banyak hutan ditebas, dibakar dan dijadikan ladang. Alam jadi rusak dan hujan tak mau datang. Nggaé Wena Tana, Ibu Bumi itu juga marah karena dicemari oleh tanaman belatung.”
“Tapi Bapak Bheda, bukankah belatung itu memang aslinya juga ada di tanah dan bukan di air? Mengapa Nggaé Wena Tana baru marah-marah sekarang?”
“Bodoh kamu. Belatung yang ada di bangkai hewan memang diberi tugas oleh Duä Nggaé untuk membersihkan alam. Dengan adanya belatung, semut, juga burung pemakan bangkai,  tanah tidak tercemari oleh barang busuk itu. Sekarang mereka malah memasukkan biji-biji busuk itu ke dalam tanah. Tentu Duä Nggaé marah besar dan hujan tak mau turun.”
“Bapak Bheda, bukankah yang menurunkan hujan Duä Lulu Wula, dan bukan Duä Nggaé?”
“Bodoh kamu. Yang menurunkan hujan memang Duä Lulu Wula, tetapi yang memerintahkan Duä Nggaé. Dia itu Dewa tertinggi di alam raya ini. Jangan kalian bantah terus penjelasan saya ini. Segera jalankan setelah perintah kukeluarkan nanti!”
“Tapi Bapak Bheda, sekarang ini mereka menyimpan banyak makanan berupa belatung itu. Sementara kita tak punya makanan apa-apa.”
“Diam kamu! Kita punya banyak makanan. Kalau pisang, sukun, umbi-umbian tak ada lagi, kita masih banyak pohon aren yang bisa ditebang dan diambil sagunya. Kita juga punya perahu untuk menangkap ikan. Kerang dan siput juga banyak di pantai ini. Kalau aku sampai tahu ada rakyatku yang makan belatung itu, akan kupenggal lehernya!”
“Sebaiknya kita mulai mencari pohon aren, karena uwi monda juga sudah mulai susah didapat.”
“Baik, tapi jangan sampai salah pilih. Aren yang ditebang harus yang sudah cukup tua, dan sebentar lagi akan keluar bunganya. Apakah kalian tahu cara tepat menentukan kadar pati pada batang aren?”
“Tahu Bapak Bheda. Kami buat lubang kecil di bagian pangkal, hingga kita tahu di dalam sudah ada tepung atau belum. Jangan takut kita akan kelaparan meskipun hujan tak turun selama setahun penuh. Biarkan rakyat Raja dan Kaja memakan belatung. Mungkin ini juga ramalan bahwa jasad Raja dan Kaja sebentar lagi juga akan dimakan belatung.”

* * *

Sore itu, Kalyan memerlukan menghadap Raja dan Kaja. Dalam pertemuan itu hadir pula Ndale, Sipi, Ine Pare dan Funu. “Ada apa Kalyan, kamu menghadapku.” Tanya Raja kepada Kalyan. Dengan agak takut-takut, Kalyan menyampaikan maksudnya. “Ampun Bapak Raja, kemarau kali ini sudah sangat panjang, dan rakyat di Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori makin hari makin kekurangan air.” Raja belum menangkap maksud Kalyan. “Ya itu semua kita sudah tahu. Lalu apa maksudmu menghadapku sekarang ini?” Kalyan lalu bercerita tentang kampung halamannya di Negeri Jawa Dwipa. “Bapak Raja, di Negeri Jawa Dwipa, sebenarnya juga banyak tempat yang kering seperti di Negeri Lio ini. Di pegunungan yang tanahnya curam-curam seperti ini, orang-orang Negeri Jawa Dwipa mengalirkan air dari atas sejauh sampai ribuan depa, dengan bantuan bambu. Lalu air itu ditampung hingga mudah diambil dan dimasukkan ke dalam tempayan.”

Raja bertanya kepada Kalyan. “Apakah menurutmu cara itu bisa diterapkan di Negeri Lio? Lalu apakah di sini juga masih ada mataair yang bisa dialirkan ke bawah?” Kalyan tidak menjawab, melainkan memandang ke arah Funu. Funu segera membungkuk memberi hormat lalu menyampaikan. “Bapak Raja dan Ibu Kaja, saya dengan Bapak Kalyan, dan diantar oleh beberapa Ata Ko’o, telah mencari mataair itu kemana-mana. Akhirnya kami menemukan jauh sekali, tetapi air itu masih mengalir kecil, dan habis meresap di tanah dalam perjalanan turun ke bawah. Kalau air itu dialirkan melalui bambu, kami yakin masih akan bisa sampai ke kampung ini. Tetapi bambu yang diperlukan berjumlah banyak.” Raja mengangguk-anggukkan kepala. “Apakah menurut kalian bambu itu ada dan cukup?” Kali ini Ndale yang menjawab. “Ada Bapak Raja, dan jumlahnya cukup, tetapi diperlukan tenaga untuk memotong dan melubangi ruas-ruas bambu itu, agar air bisa mengalir di dalamnya.”

Raja lalu memerintahkan para Ata Ko’o dan Tuke Sani menebang bambu, memotongnya dengan panjang yang sama, melubangi batas ruas di dalam buluhnya. Orang-orang lain menyiapkan lahan yang akan dipasangi bambu, untuk jalan air. Raja memerintahkan para Ata Ko’o perempuan untuk memasak nasi, ikan, dan sayur umbut rotan. Sebab pada musim kemarau panjang ini sulit untuk memperoleh sayuran daun. Maka sejak hari itu, terjadilah kesibukan luarbiasa di Tanah Persekutuan Ndori. Rakyat di bawah kepemimpinan Bheda menebang batang aren untuk diambil tepungnya, sementara rakyat di bawah kepemimpinan Raja, menebang bambu dan membersihkan tebing curam yang akan dilewati air itu. Untuk mengambil pati dari batang aren, juga diperlukan air dalam jumlah banyak. Maka rakyat Bheda pun juga mencari-cari sumber air.

Mereka mendapatkan satu genangan air tawar yang sudah tinggal sedikit dan keruh. “Tidak apa-apa, dari pada menggunakan air laut, nanti tepungnya terlalu asin hingga tak bisa dikonsumsi.” Maka mereka pun mulai menepungkan batang aren itu. Pertama batang itu mereka belah, lalu empelur mereka pukul-pukul menggunakan palu kayu. Setelah empelur itu hancur, sedikit-sedikit dituangi air, hingga meluber, hanyut keluar dan ditampung dalam wadah daun lontar. Beberapa saat kemudian, pati itu mengendap, lalu pelan-pelan air di atas dibuang. Tepung yang terkumpul dijemur sampai kering, lalu dibungkus daun aren, dan dibawa pulang. Satu batang aren ukuran sedang, bisa menghasilkan tepung, yang bisa dikonsumsi lima keluarga selama seminggu. Karena populasi aren di Ndori masih cukup banyak, sebenarnya mereka tak perlu ketakutan akan kekurangan bahan makanan.

Para Ata Ko’o dan Tuke Sani anak buah Raja, menebang ratusan batang bambu. Bambu sepanjang 10 depa itu mereka bersihkan cabang, ranting dan seludangnya, lalu langsung mereka angkut ke lokasi yang akan dilalui air. Tujuannya, agar mereka bisa menebang bambu dengan jumlah yang tepat sesuai keperluan. Bambu itu ditata bagian pangkal di arah mataair, dan bagian ujung di arah kampung. Batas ruas dalam buluh bambu, mereka pecahkan menggunakan bilah bambu yang sedikit lebih panjang dari ukuran bambu yang akan dilubangi. Dua orang memegangi bambu yang akan dilubangi, dua orang lagi mendorong belahan bambu yang telah diruncingkan ujungnya itu dengan kuat. Bagian pangkal belahan bambu untuk menusuk, bagian ujungnya untuk pegangan. Pelubangan batas ruas dilakukan dari bagian pangkal ke arah ujung. Setelah itu, ujung bambu yang beruas kecil dimasukkan ke lubang ruas bambu bagian pangkal yang cukup besar. Demikian sambung menyambung hingga menjadi pipa panjang.

* * *

“Bapak Bheda, sekarang kita bisa mengambil air dari dekat Sao Keda. Air itu mengalir dari pipa bambu.” Begitulah para Ata Ko’o menyampaikan berita kepada Bheda. Bukannya senang, Bheda malah marah. “Air dari bambu? Cobalah lihat ke sana. Air berbelatung bahkan berbau sangat busuk. Apa kalian mau mengambil air sebusuk itu?” Hari itu pekerjaan menyambung-nyambung bambu melewati tebing terjal memang telah selesai. Air bisa sampai ke Tanah Persekutuan Ndori. Tiga ruas buluh bambu ukuran sedang, bisa diisi air dari aliran itu dalam waktu yang agak lama juga. Maka agar orang tak berebut, Kalyan meminta Sarik dan anak buahnya untuk membuat lubang di tanah tepat di bawah aliran air itu. Agar air yang tertampung tidak meresep masuk ke dalam tanah, Sarik melapisi lubang itu dengan tanah liat bahan gerabah. Hingga pada malam hari ketika orang tak mengambil air, aliran itu tetap akan tertampung dan bisa diampil menggunakan tempurung kelapa pada siang harinya.

Funu sudah tahu, bahwa Bheda pasti akan mengganggu, dengan cara mengubah air itu menjadi darah, berbelatung, berbau busuk, atau dengan menyuruh anak buahnya merusak pipa-pipa bambu itu. Maka sejak awal ia sudah menaruh sesaji mulai dari mataair, sepanjang saluran, sampai ke tempat tampungan dekat Sao Keda itu. Dugaan Funu benar. Pagi itu ia merasakan ada getaran aneh yang ia terima. Karena sudah siap, maka Funu segera membaca mantra dari lontar yang ia terima dari Negeri Jawa Dwipa melalui Dharani. Di Sao Ria, Bheda marah-marah sendirian. “Ini pasti pekerjaan Funu. Ia sekarang ini telah menjadi musuh besar saya. Ia pasti telah menguasai ilmu santet dari lontar yang telah ia curi dari Sao Ria ini. Biar saja. Aku akan mengerahkan para Ata Polo lebih banyak lagi untuk menundukkan Funu. Ayo Funu, kita sama-sama mengerahkan kekuatan.”

Hari itu Funu menghadap Raja dan Kaja, disertai dengan  Kalyan, Sarik, Ine Pare dan Sipi. Ndale sedang berada di ladang memimpin orang-orang membuka lahan. “Bapak Raja dan Ibu Kaja, saya merasakan Bheda akan mengganggu saluran air yang telah kita buat ini,  dengan segala macam cara jahat. Untuk menangkalnya, tak bisa sendirian, hingga para tua-tua adat, dan warga masyarakat semua saya harapkan berkumpul di Kanga, dengan menggelar tikar dan membuat api. Secara bergiliran kita berjaga-jaga dan tidak tidur semalaman. Yang mengantuk bisa tidur, tetapi harus terlebih dahulu membangunkan yang sudah tidur. Hingga semalaman tetap ada yang berjaga. Ibu-ibu diminta memasak, di Kuwu Lewa, untuk kita makan bersama nanti malam. Saya akan memimpin mereka membaca lontar penolak bala.”

Maka malam itu semua pengikut Raja dan Kaja berkumpul di tengah Kanga, dengan menggelar tikar, mengelilingi api unggun. Di sekeliling Kanga itu dipasang potongan bambu yang ditegakkan. Bagian atas bambu dibelah-belah, kemudian dianyam hingga membentuk wadah untuk tempat lampu cangkang siput. Para perempuan yang memasak di Kuwu Lewa mengantarkan nasi dengan sayur, ayam dan ikan. Sore itu mereka makan bersama, dengan diawali doa oleh tetua adat. Sisa makanan tetap ditaruh di Kanga, agar bisa disantap oleh mereka yang berjaga-jaga dan merasa lapar. Funu mengajari orang-orang itu secara bergiliran membaca lontar dari Negeri Jawa Dwipa. Menjelang tengah malam, mereka melihat kilatan-kilatan api di atas Sao Keda. Kilatan-kilatan api itu setelah meletik-letik di atas Sao Keda, kembali berloncatan ke arah Sao Ria Bheda. Lewat dini hari, kilatan-kilatan itu mereda, tetapi orang-orang tetap berjaga-jaga sampai menjelang matahari terbit.

Malam itu Bheda merasakan dirinya ditimbun oleh puluhan roh jahat dari Tiwu Ata Polo. Ia sesak napas. Maka lewat dini hari, ritual mendatangkan belatung dan bau busuk dari aliran air di pipa bambu itu ia tinggalkan. Ia turun ke pantai, menanggalkan kain, dan menceburkan diri ke air laut. Ia merasa tindihan para Ata Polo itu hilang, dan napasnya kembali longgar. Ia naik lagi dan dari kejauhan ia melihat masih ada api unggun dan kerlap-kerlip lampu cangkang siput di Kanga. Ia masuk ke dalam Sao Ria dan tidur. Saat itulah puluhan Ata Polo beterbangan kembali ke Tiwu Ata Polo di Puncak Kelimutu, sambil berkeluh-kesah. “Kita diminta kerja, tapi makanan hanya sedikit, hingga aku tak kebagian. Bapak Bheda yang memanggil kita itu orangnya pelit. Mereka yang tak tidur di sekitar Kanga itu juga membaca mantra-mantra suci hingga ulu hati ini serasa ditusuk-tusuk pisau tajam semalaman.” * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: