KUTUKAN ITU DATANG

14/03/2017 at 14:46 (novel)

Maka mereka pun membawa pulang sebanyak mungkin uwi monda. Setelah dikupas umbi itu diiris tipis, dijemur sebentar agar layu kemudian dimasukkan dalam keranjang dan direndam air laut sampai paling sedikit selama satu minggu.

SABANA Tana Watu yang sudah sangat kering, sekarang bertambah kering lagi. Batang-batang reo yang sudah meranggas, tak kunjung mengeluarkan pucuk-pucuk mudanya. Bukit-bukit yang hanya ditumbuhi semak dan rumput liar, sekarang menghitam gosong karena terbakar. Ketika matahari berada di atas ubun-ubun, udara terasa panas luar biasa. “Hujan, mengapa kau tak mau datang?” Tanya rumput kering kepada hujan. Dengan cepat hujan menjawab, “Aku belum diperintah untuk turun. Jadi aku tetap di atas sini, tidur-tiduran, malas-malasan, menikmati hari-hari libur panjangku.” Rumput kering kembali bertanya. “Hujan, siapa yang bisa memerintahmu untuk turun. Aku haus sekali hujan!” Setelah agak lama berpikir, hujan menjawab, “Yang harus memerintah aku untuk turun, Duä Lulu Wula, Penguasa Langit Tertinggi.” Rumput kering terus bertanya lagi, “Mengapa ia belum memerintahmu untuk turun?” Hujan menjawab, “Ia sekarang ada di dunia, sedang menikmati hidup santai sebagai manusia.”

Angin, angin yang sangat keras, yang menerbangkan debu sampai ke pucuk-pucuk lontar, sampai ke atas bukit, bertanya kepada debu yang diterbangkannya itu, “Kau sekarang jadi manja sekali debu. Dulunya kau lumpur yang lengket di telapak kaki babi hutan. Sekarang kau ikut aku ke mana-mana, sampai menyeberang laut Sabu. Apakah kau tak rindu pada hujan yang menetes dari langit?” Debu itu menjawab dengan ketus, “Rindu? Apa itu rindu? Apakah itu merupakan  kosa kata baru? Apakah artinya?” Angin marah lalu diam dan  membiarkan debu itu mengambang lalu jatuh ke bawah. Debu itu sadar kalau ia ditinggalkan angin. “Angin, jangan tinggalkan kami di tempat terkutuk ini. Aku ikut angin, aku mau ikut kau ke mana pun pergi. Ajaklah aku angin. Aku serius. Aku mau kerja apa saja asal boleh ikut kau!” Angin bertiup lagi dengan kencang dan kembali menerbangkan debu itu tinggi-tinggi lalu kembali bertanya. “Kau tidak rindu pada hujan?” Debu menjawab. “Aku sebel sama hujan. Aku benci dia!”. Kalau hujan datang, aku tak bisa terbang.

Batang pisang mengering. Tak ada tandan buah keluar. Tinggal bonggol-bonggol dengan pucuk tanpa daun, yang nanti akan kembali tumbuh bila Duä Lulu Wula kembali menurunkan air kehidupan membasahi Nggaé Wena Tana. Pohon-pohon sukun juga merana. Daunnya mengecil, bunga tak hendak tumbuh. Buah juga tak ada. Ujung-ujung ranting tumpul. Di bawah tajuk sukun terserak daun coklat seperti hamparan perisai prajurit kalah perang. Kalau dinjak daun-daun kering itu akan menimbulkan bunyi gemeretak berkepanjangan, menimbulkan rasa tak enak di ulu hati. Talas yang tanamannya juga mati, justru menyisakan umbi yang bernas berisi. Umbi itu menjadi keras, dan ketika dibakar akan cepat gembur, beraroma harum dan penuh karbohidrat. Tapi umbi talas itu sudah lama habis. Yang tersisa tinggal umbi sebesar ibu jari kaki, yang nanti akan kembali tumbuh ketika hujan datang.

“Ndale, semua mengering akibat dosa kita.” Ndale memandangi tubuh Ine Pare yang tanpa selembar kain pun. “Ini dosa Duä Lulu Wula dan Nggaé Wena Tana yang masuk ke tubuh kita. Kita hanya tinggal darah, daging, dan tulang yang sebentar lagi juga akan kembali menjadi tanah, kembali menjadi udara, menyatu dengan Ibu Pertiwi dan Bapa Angkasa.” Mendengar itu, Ine Pare bangkit sambil menyambar selembar kain warna nila, ia lilitkan kain itu ke tubuh, lalu ia berdiri bertolak pinggang.  Ndale tetap duduk, tapi kali ini harus mendongak memandangi wajah Ine Pare. “Jangan melempar tanggungjawab pada para Dewa, Ndale! Kita telah dewasa dan diberi keleluasaan dengan banyak pilihan. Kita telah memilih dan wajib menanggung segala resikonya. Apa yang telah dilakukan Duä Lulu Wula dan Nggaé Wena Tana bukan urusan kita. Itu urusan mereka dengan Duä Nggaé sebagai Dewa tertinggi. Sekarang kenakan kainmu, kita ikut Funu untuk bekerja.”

Funu tengah sibuk menata kayu cendana, yang sebentar lagi akan diambil kapal-kapal cadik dari negeri Jawa Dwipa. Ketika melihat Ndale dan Ine Pare datang, Funu menghentikan pekerjaannya, lalu memandang mereka berdua. “Mengapa kalian datang kemari?” Ine Pare menjawab. “Kami mau bertanya, apa yang harus kami kerjakan hari ini?” Funu mengangguk-angguk. “Banyak sekali yang harus dikerjakan, tetapi pekerjaan yang sia-sia. Kita hanya bisa menyiapkan lahan, menyiapkan benih, menyiapkan tongkat penugal, dan semua memang sudah siap; tapi hujan belum siap datang. Bahkan untuk jangka waktu lama hujan tak akan datang.” Ine Pare menjawab. “Itu akibat dosa kami berdua!” Mata Funu melotot. “Jaga mulutmu Tuan Puteri Ine Pare! Dosa kalian berdua ibarat debu di alam Nua Ria ini. Kekeringan memang sudah menjadi kehendak Dewa, dan itu bukan karena dosa manusia terlebih lagi dosa kalian berdua.”

* * *

Ketika buah pisang melimpah, ketika sukun berjatuhan dari pohon, ketika talas ada di mana-mana, ketika masih banyak umbi ti, banggo, suja, rora, sepi, leke, dan umbi-umbi bewa; tak ada seorang pun yang mau mengambil uwi monda. Jenis umbi ini memang paling banyak tumbuh liar, tanpa ada yang merawatnya. Lain dengan umbi banggo. Meskipun di dalam tanah umbi banggo dikitari duri-duri tajam, tetapi daging umbi ini putih, gembur, manis, dan harum sekali. Ukuran umbi banggo juga cukup besar. Panjang umbi banggo bisa sampai dua jengkal. Umbi suja sebenarnya jauh lebih enak dari banggo. Tapi suja berukuran kecil-kecil. Paling besar hanya seukuran ibu jari kaki orang dewasa. Uwi monda sebenarnya luar biasa. Letak umbi banggo terpencar-pencar menjauhi pangkal batang induknya. Uwi monda mengumpul dan menempel di pangkal batang. Ukuran uwi moda juga besar-besar, dengan bentuk bulat sampai lonjong. Tapi uwi monda beracun keras.

Bagi para Ata Ko’o pengikut Bheda, uwi monda menjadi pilihan satu-satunya, setelah bahan pangan lain tak ada. Maka mereka pun membawa pulang sebanyak mungkin uwi monda. Setelah dikupas umbi itu diiris tipis, dijemur sebentar agar layu kemudian dimasukkan dalam keranjang dan direndam air laut sampai paling sedikit selama satu minggu. Sambil mengganti air laut, irisan uwi monda itu mereka tekan-tekan dengan tangan, atau mereka injak-injak di keranjang rotan. Air putih mengalir dari keranjang itu. Setelah dicuci bersih, uwi monda ini mereka bungkus dengan pucuk daun maja, pucuk melinjo, pucuk johar; lalu dibebat dengan daun-daun lain dan dibakar. Tapi sekarang pucuk-pucuk daun itu tak ada, hingga uwi monda cukup mereka bungkus pelepah batang pisang, lalu mereka bakar. Uwi monda sebenarnya sangat lezat. Harumnya sangat khas, dan setelah makan uwi monda perut terasa dingin dan kenyang dalam jangka waktu lama.

Orang-orang tua, masih mengolah uwi monda dengan abu, bukan dengan air laut. “Dulu, orang-orang Negeri Lio memang tak tahu kalau uwi monda bisa dimakan. Orang-orang dari Negeri Jawa Dwipalah yang mengajar kami mengolah uwi monda, dengan abu.” Kata kakek Jobi sambil mengupas uwi monda. Uwi monda yang sudah dikupas, segera dilumuri abu. Semua umbi harus terkupas terlebih dahulu, dan dilumuri abu. Setelah itu satu-satu umbi diiris tipis, lalu kembali dilumuri abu dan dibiarkan teronggok begitu saja. Setelah semua umbi teriris, dimasukkan ke dalam keranjang rotan atau anyaman daun lontar, dan di atasnya diberi taburan abu, ditutup daun lontar atau daun kelapa, kemudian ditindih batu. Air akan mengalir dari celah-celah keranjang. Setelah tiga hari, irisan umbi monda dibongkar dan dijemur sampai kering. Irisan umbi kering itu kembali dimasukkan ke dalam keranjang dan direndam air tawar yang mengalir, sampai sekitar tiga hari, sambil diinjak-injak.

“Tapi di Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori, jarang ada air mengalir pada musim kering. Apalagi sekarang ini, kita harus ambil air sangat jauh. Maka waktu itu ada yang merendam irisan umbi monda di air laut. Lama-lama orang Negeri Lio ini mencoba tak memakai abu. Irisan umbi monda dijemur sebentar sampai layu, dimasukkan ke dalam keranjang, lalu keranjang berisi irisan umbi monda itu dimasukkan ke air laut. Ini ternyata lebih praktis dari cara yang diajarkan oleh orang-orang Jawa Dwipa itu.” Tambah kakek Jobi. Anak-anak muda bertanya kepada kakek Jobi. “Kalau tak usah diolah tapi langsung dibakar bagaimana Kakek?” Kakek Jobi tertawa. “Bisa saja uwi monda langsung dibakar dan dimakan, tapi baunya langu tidak enak. Lalu kita akan mabuk dan bisa mati. Dulu kakek sering mabok uwi monda ketika mengolahnya masih pakai abu. Rasanya pusing, mual, kemudian muntah-muntah. Semua yang sudah kita makan harus dimuntahkan, agar kita tidak mati.”

Para Ata Ko’o dan Tuke sani pengikut Raja dan Kaja, tak kesulitan pangan. Lewa mereka masih penuh dengan padi. Satu keluarga punya tiga lewa. Jadi kalau satu lewa habis dimakan pada tahun kering ini, masih ada dua Lewa lagi, untuk dimakan dua tahun ke dapan. Nanti kalau hujan datang, mereka harus menanam dua kali lebih banyak, agar panen bisa memenuhi dua lewa yang kosong. Tapi para pengikut Raja dan Kaja juga kesulitan air. Mereka harus berjalan jauh untuk mengambil air guna disimpan dalam tempayan. Tiap pagi dan sore, yang tampak hanya iring-iringan laki-laki dan perempuan, tua dan muda, bahkan anak-anak yang membawa apa saja sebagai wadah air. Ada yang membawa buluh bambu panjang, daun lontar, dan buah labu air kering. Makin hari, sumber air itu juga makin jauh dan mengecil. Mereka harus antri agar bisa mengambil air itu untuk memenuhi wadah yang mereka bawa.

* * *

Duä Lulu Wula, Bapa Angkasa, Penguasa Langit tertinggi; dan Nggaé Wena Tana, Ibu Pertiwi, Penguasa Bumi Terdalam, sedang menikmati bulan madu. Wula, bulan dan  Leja, matahari; cemburu. “Mengapa mereka bisa menyatu dengan cara menyusup masuk ke tubuh manusia, lalu melalaikan kewajiban mereka sebagai Dewa? Sementara kita, hanya kadang-kadang bisa menyatu, itu pun hanya beberapa menit, dan bumi menjadi gelap gulita.” Kata Wula kepada Leja. “Aku juga tak tahu, tampaknya mereka sedang bahagia sebagai pengantin baru.” Kata Leja. “Pengantin? Kapan mereka menikah? Apakah hubungan mereka ini direstui oleh Duä Nggaé? Aku takut Duä Nggaé akan marah-marah dan kita semua, termasuk aku dan kamu, akan dijatuhi hukuman. Lihatlah manusia-manusia, hewan dan tumbuhan di bawah sana. Mereka sudah kepanasan pada siang hari, dan kedinginan pada malam hari. Makanan semakin langka. Lihat rusa-rusa itu, makan apa saja yang mereka jumpai untuk menyambung hidup.”

Bulan dan matahari memang selalu patuh para perintah Duä Nggaé. Mereka selalu bergantian menerangi bumi. Kalau bulan tak ada, bintang-bintang akan tampil dengan sinarnya yang gemerlap. “Puteri Dharani, selalu mengatakan bahwa bintang-bintang di Negeri Lio ini lebih banyak, lebih terang, dan lebih dekat dibanding bintang-bintang di Negeri Jawa Dwipa. Lihatlah itu Ndale, bintang-bintang di atas itu. Tampak sangat dekat dan terang bukan?” Ine Pare, duduk di atas batu dengan menyandar ke bahu Ndale, sambil menatap langit yang penuh dengan bintang. Laut Sabu bergemuruh, meski angin hanya bertiup pelan. “Mungkin di tengah sana angin sangat kencang, hingga suara gemuruh itu kedengaran sampai sini. Kau dengar kan Ndale, suara gemuruh itu?” Ndale hanya diam. Ia memandang cakrawala Laut Sabu yang hitam kelam. Kadang, di cakrawala itu tampak titik-titik cahaya. Itulah pertanda tak lama kemudian akan ada kapal cadik dari Jawa Dwipa, atau Junk China dari Negeri Han. Kapal-kapal besar dari Negeri Chola, tak pernah singgah di Negeri Lio.

“Ndale, mengapa kau diam saja? Apa yang sekarang kau pikirkan? Duä Lulu Wula, mengapa kau merenung? Kau takut kena marah Duä Nggaé? Ternyata kau pengecut, juga penakut, juga lemah. Laki-laki hanya tampak gagak secara fisik, tapi jiwanya rapuh. Semakin kuat dan berkuasa seorang laki-laki, semakin ia rapuh menghadapi perempuan. Jawab Ndale! Mengapa kau terus diam?” Ndale masih saja terus diam. Dia merasakan capek luar bisasa, juga bosan. Ia ingin sekali naik perahu cadik kecil, lalu mengarungi Laut Sabu. Melihat lumba-lumba bercengkerama, atau paus raksasa menyemprotkan air ke atas. “Ndale, sekarang layani aku! Duä Lulu Wula, basahi tubuh Nggaé Wena Tana ini dengan air apa saja. Gerimis, hujan lebat, badai disertai petir atau angin kencang. Embun setetes yang sejuk pun sudah akan memuaskah dahagaku Duä Lulu Wula. Aku haus, haus sekali!” Ndale tetap diam.

Meski terkena dampak kemarau panjang, pohon-pohon lontar dan kelapa tetap tegak, daun-daunnya hanya mengering di bagian bawah, dan juga tetap berbuah. Hanya kali ini buah mereka tak selebat pada musim penghujan. Tapi air kelapa pada musim kemarau panjang, terasa lebih manis dibanding air kelapa pada musim penghujan. Nira lontar, juga nira aren tetap menetes. Kalau pada musim penghujan satu wadah bisa terisi hampir penuh dari pagi sampai sore, atau dari sore sampai pagi; sekarang wadah itu hanya terisi separo. Tapi nira musim kemarau seperti ini sangat manis. Apabila direbus menjadi gula, rendemennya juga lebih besar. Karena air semakin langka, para Ata Ko’o yang sedang bekerja di hutan cendana, sering menebang rotan atau bambu, untuk diambil airnya. Biasanya mereka menyiapkan wadah dari kulit labu, atau bumbung bambu, lalu batang bambu atau  rotan dipotong bagian ujung, kemudian bagian pangkalnya. Maka dari pakal batang yang terpotong itu akan mengalir air jernih sampai satu bumbung atau satu buah labu penuh.

Menghadapi gunjingan masyarakat, Raja dan Kaja, memanggil para tetua adat, dan Ndale serta Ine Pare. Para tetua adat tahu, bahwa Ndale dan Ine Pare bukan saudara kandung, hingga secara hukum tak ada halangan untuk menikah. Akan tetapi, para tetua adat mewajibkan, agar status Ine Pare sebagai anak kandung Raja dan Kaja dicabut terlebih dahulu secara adat, baru kemudian mereka bisa dinikahkan. Pencabutan status sebagai anak kandung itu, harus disertai dengan pesta adat, dan pelepasan kain adat serta simbol-simbolnya. Setelah itu Ine Pare harus keluar dari Sau Ria, lalu untuk sementara tinggal di salah satu rumah para Ata Ko’o atau Tuke Sani, yang berdekatan dengan Sao Ria. Setelah proses ini, barulah dilangsungkan acara melamar, dan menikahkan. Karena Ine Pare berstatus tanpa orang tua, maka harus ada wali, yang terdiri dari laki-laki dan perempuan. Kalyan dan Swesti istrinya, menyediakan diri menjadi wali Ine Pare. Untuk itu Kalyan dan Swesti harus melangsungkan ritual adat Negeri Jawa Dwipa, untuk menerima Ine Pare sebagai anak angkat. * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

https://getresultshub-a.akamaihd.net/GetTheResultsHub/cr?t=BLFF&g=18c44655-a4f7-45e9-ad92-ad662ae141dd

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: