MINYAK CENDANA

30/03/2017 at 11:47 (novel)

“Ayo keluar semua kau Ata Polo! Ini tubuh suci Puteri Nggaé Wena Tana. Jangan kau berada di dalamnya! Ayo keluar semua, dan juga jangan ganggu kuali penyulingan minyak cendana itu!” Funu menepuk punggung Ine Pare dengan keras sebanyak tiga kali.

SEBENARNYA Tuke Sani itu bernama Jelu. Tetapi karena terlalu sering kentut, oleh teman-temannya ia dipanggil Pesu. Panggilan itu terus melekat sampai sekarang. Ia pernah mengabdi kepada Raja, dan Kaja, sebagai Ata Ko’o. Di sinilah ia memperoleh istri bernama Riwu. Setelah menikah, Pesu dan Riwu diminta Raja menjaga kebun kelapa dan sukun yang cukup luas di sebuah pantai. Maka berubahlah status Pesu dari Ata Ko’o menjadi Tuke Sani. Kebun yang dijaga Riwu terletak jauh dari pemukiman Nua Ria, di Ndori. Di kebun kelapa dan sukun inilah ia membuat rumah, membangun barak, dan istrinya melahirkan 11 orang anak. Dua anak meninggal, dan sembilan tumbuh menjadi remaja dan dewasa. Pekerjaan Pesu dan Riwu bersama anak-anak mereka memungut buah kelapa yang jatuh, membelahnya, membuang airnya, lalu menelentangkan belahan buah itu menghadap ke atas.

Tertimpa terik matahari, buah kelapa itu akan mengering menjadi kopra lalu lepas dari tempurung. Kemudian kopra itu dimasukkan ke dalam kantung yang terbuat dari anyaman daun gebang berikut lidinya, dari rotan, atau bambu. Kantung berisi kopra itu dijepit di antara dua papan tebal, yang dipasang pada dua batang balok atas bawah. Bagian atas papan kemudian diberi pasak yang terus dipukul-pukul, hingga kantung kopra itu terjepit makin lama makin kuat. Meneteslah minyak yang ditampung tempayan di bawah balok. Minyak itu masih berwarna putih, dan akan mudah tengik apabila disimpan lama. Maka sebelum dimasukkan ke dalam guci, minyak mentah itu terlebih dahulu dipanaskan sampai berubah warna menjadi kecoklatan dan harum. Di Ndori, minyak kelapa hasil produksi Pesu, hanya digunakan sendiri oleh keluarga Raja dan Kaja, berikut para ata po’o. Masyarakat Negeri Lio hanya menggunakan minyak kelapa untuk bahan bakar lampu pada malam hari, dan juga sebagai minyak rambut. Tradisi menggoreng bahan makanan dengan minyak kelapa, masih belum mereka kenal.

Sebagai bahan bakar untuk penerangan, minyak kelapa itu mereka taruh di cangkang kerang, dan siput laut. Kerang dan siput itu dipilih yang besar, dengan lubang menyempit hingga bisa untuk menaruh sumbu. Kadang mereka sengaja melubangi ujung cangkang siput, dan membersihkan sekat cangkang bagian dalam, lalu menaruh sumbu yang akan menyala di bagian ujung cangkang itu. Sumbu dari kapas, atau malai alang-alang yang dipintal kasar, dimasukkan ke dalam salah satu sisi lubang cangkang kerang, atau cangkang siput yang diberi lubang seukuran sumbu itu. Bagian sumbu pendek tersembul di atas cangkang kerang, atau lubang cangkang siput, dan bagian yang panjang menjulur ke bawah, masuk ke dalam minyak kelapa. Bagian atas sumbu itulah yang tiap malam dinyalakan dengan api yang diambil dari dapur. Semua rumah tangga masyarakat Lio punya batu api dan besi pemantik untuk membuat api dengan bulu-bulu halus pelepah aren. Tetapi mereka cenderung membuat api dari tungku dapur yang tak pernah mereka biarkan mati.

Minyak cendana hasil produksi Pesu dan Riwu, hanya berupa minyak cenceman, yakni minyak kelapa yang ditaruh dalam guci, kemudian ke dalam minyak itu dimasukkan  serpihan kayu cendana. Tiap dua hari serpihan kayu itu mereka ambil, lalu mereka masukkan serpihan kayu baru. Setelah lebih dari 10 kali mereka memasukkan serpihan kayu cendana,  minyak kelapa itu menjadi sangat harum beraroma cendana. Minyak ini kemudian disebut minyak cendana, dan khusus digunakan sebagai minyak rambut. Minyak kelapa yang sudah beraroma cendana ini, biasa dilumurkan ke rambut yang baru saja dikeramas dengan abu mayang kelapa, atau dengan buah lerak. Setelah keramas, rambut dikeringkan di bawah terik matahari, lalu dilumuri minyak kelapa dengan wangi cendana. Riwu juga sering bertugas melumurkan minyak cendana ke rambut Kaja dan Ine Pare, apabila Funu sedang membuat minyak cendana murni.

Minyak cendana murni dibuat dengan cara mengukus serbuk kayu cendana dengan tempayan gerabah yang sangat besar. Sebagai sarangan, mereka gunakan bilah bambu atau rotan, yang dianyam halus membentuk wadah yang bisa dipasang di atas tempayan besar itu. Setelah serbuk kayu cendana dimasukkan ke dalam sarangan, di atasnya ditaruh tutup yang juga terbuat dari gerabah, tetapi dengan lubang di bagian tengahnya. Di lubang ini ditaruh buluh bambu, kemudian bagian pinggir tutup diberi tanah liat, agar asap tak bocor keluar. Buluh bambu ini kemudian dilewatkan air hingga uap yang menjadi dingin akan menetes dan ditampung dalam mangkuk besar. Uap itu mengembun dan menetes menjadi air dan minyak cendana di atasnya. Inilah minyak cendana murni yang biasa diambil oleh para saudagar dari Negeri Jawa Dwipa, dan negeri Han di Tiongkok. Funu punya keahlian membuat minyak cendana murni ini, dengan dibantu dua Ata Ko’o laki-laki.

* * *

Siang itu seperti biasa, Funu memberi perintah kepada dua orang Ata Ko’o untuk memasukkan serpih kayu cendana ke dalam sarangan pengukus. Api di tungku telah dinyalakan. Setelah sarangan itu penuh, tutup dipasang, buluh bambu dimasukkan ke dalam lubang penutup. Tanah liat ditempelkan di sepanjang lingkar batas tutup dengan tempayan, dan di batas buluh bambu dengan lubang tutup sarangan. Tak lama kemudian uap akan keluar dari ujung buluh bambu itu. Uap itu hanya tinggal kecil karena sebagian besar akan mengembun menjadi air bercampur minyak. Minyak itu berwarna kuning dan beraroma sangat harum, aroma khas kayu cendana. Sebelum penuh mangkuk itu harus diganti dengan mangkuk baru. Kemudian minyak yang mengapung di atas air itu diambil pelan-pelan. Dua Ata Ko’o itu mengamati api dan asap saling bergantian. Api harus tetap stabil, tidak boleh terlalu besar, tetapi juga tidak boleh mati. Kayu baru harus segera dimasukkan apabila kayu yang ada di tungku sudah hampir habis terbakar.

Tak terlalu lama setelah sarangan ditutup rapat, asap akan keluar dari ujung buluh bambu. Awalnya asap itu hanya kecil, kemudian akan makin besar, disertai dengan tetesan air bercampur minyak. Kali ini pun seorang Ata Ko’o menjaga api, Ata Ko’o satunya mengamati asap. Waktu itu Funu berniat meninggalkan tempat penyulingan, karena pekerjaan telah beres.  Tetapi dua Ata Ko’o laki-laki itu berteriak-teriak. Yang menetes dari buluh bambu itu bukan air bercampur minyak, melainkan darah berbau amis. Dua Ata Ko’o itu ketakutan. Setelah melihat tetesan darah dari ujung buluh bambu itu, Funu segera lari mencari Ine Pare. Funu mendapati Ine Pare sedang berjongkok dan muntah darah. Funu segera duduk bersila di belakang Ine Pare. Ia menempelkan telapak tangan kanannya ke punggung Ine Pare, telapak tangan kiri ia tempelkan ke dada sendiri.

Funu lalu mengatur napas, dan membaca mantra penolak santet. Saat itu juga dari mulut Ine Pare keluar darah dengan gumpalan ijuk sebesar telur ayam. Gumpalan ijuk itu bercampur dengan pecahan kulit kerang, dan duri tulang ikan. “Ayo keluar semua kau Ata Polo! Ini tubuh suci Puteri Nggaé Wena Tana. Jangan kau berada di dalamnya! Ayo keluar semua, dan juga jangan ganggu kuali penyulingan minyak cendana itu!” Funu menepuk punggung Ine Pare dengan keras sebanyak tiga kali. Ine Pare kembali memuntahkan darah dengan gumpalan ijuk dan pecahan kulit kerang, tetapi jumlahnya makin sedikit. Funu berteriak memanggil Ata Ko’o untuk mengambil air minum dari tempayan, menggunakan mangkuk. Setelah air itu datang, Funu membaca mantra, lalu minta Ine Pare meminumnya. Saat itu juga ia kembali sehat, meskipun masih tampak pucat dan ketakutan. Dua orang Ata Ko’o perempuan memapah Ine Pare masuk ke dalam Sao Ria, untuk dibaringkan di tempat tidur.

Dua Ata Ko’o perempuan itu menyelimuti Ine Pare dengan kain panjang. Funu memegang kening Ine Pare dengan ujung telapak tangan kanannya, lalu bertanya: “Bagaimanakah Tuan Puteri? Apakah masih tarasa sakit di perut, di dada, atau di bagian lain? Masih dengan wajah pucat, Ine Pare menggelengkan kepala, tanda ia sudah tidak merasakan sakit. Funu lalu berkata kepada diri sendiri. “Berarti penolak santet yang pernah diminum oleh Tuan Puteri itu tidak ada gunanya. Ilmuku masih jauh dibanding Bheda. Aku harus ambil lontar Jawa Dwipa itu dari tangannya.” Funu meninggalkan Ine Pare yang masih terbaring lemah ditunggui dua Ata Ko’o. Ia kembali ke tempat penyulingan. Ada belasan orang mengerumuni ketel penyulingan itu. Setelah ia mendekat, tampak yang menetes dari buluh bambu itu sudah kembali menjadi air dan minyak. Di dalam mangkuk itu juga hanya ada air dengan lapisan minyak di atasnya.

Di antara mereka yang berkerumun, tampak Ata Ko’o laki-laki pembantu Bheda. Funu berbisik ke salah satu Ata  Ko’o Raja, untuk meminta Ata Ko’o Bheda itu mendatanginya di Lewa. Setelah membisikkan pesan itu, Funu beranjak menuju Lewa, dan meminta para Ata Ko’o yang sedang bekerja menata Kayu Cendana di lantai Lewa untuk pergi meninggalkan tempat itu. Para Ata Ko’o itu patuh pada perintah Funu, perempuan paruh baya yang tak menikah ini. Meskipun Funu juga berstatus sebagai Ata Ko’o, tetapi para Ata Ko’o lain, Tuke Sani, bahkan Mosa Laki menaruh hormat padanya. Tak lama kemudian Ata Ko’o laki-laki itu datang. “Siapa namamu?” tanya Funu sambil menatap wajah Ata Ko’o itu. “Namaku Gəmi, Ibu. Ada perlu apakah Ibu meminta saya datang kemari?” Funu mengambil kantung dari lipatan kain yang dipakainya. Dari kantung itu, Funu mengambil keping uang emas, lalu diberikan kepada Gəmi. “Terimalah ini!”

* * *

Melalui perantaraan Gəmi, Funu bisa bertemu secara rahasia dengan Kaju, Istri Bheda di tengah hutan cendana yang sangat jauh dari Nua Ria. Di tengah hutan cendana milik Raja itu, ada sebuah pondok sederhana yang terletak di puncak bukit. Siapa pun yang akan mendekati tempat itu, akan ketahuan dari dalam pondok. Agar pertemuan ini benar-benar aman, Funu meminta beberapa orang Ata Ko’o untuk berjaga-jaga di bawah sana. Di dalam pondok itu Funu dan Kaju duduk di atas daun lontar yang dianyam kasar. Belum juga Funu mengemukakan maksud pertemuan ini, Kaju memeluk Funu sambil menangis. Funu menenangkannya. “Tenanglah Ibu Kaju. Aku Funu, Budak Perempuan yang hina ini akan berupaya untuk membantu Ibu Kaju.” Tangis Kaju mereda. Ia melepaskan pelukannya, lalu duduk sambil masih sedikit terisak-isak.

“Funu, kamu tahu apa yang sebenarnya telah terjadi antara Bheda suamiku, dengan keluarga majikanmu bukan? Aku benar-benar sedih melihat kelakuan suamiku itu, tetapi aku juga sungguh tak berdaya Funu!”
“Ibu, itulah sebabnya aku memberanikan diri, untuk memohon pada Ibu agar bisa bertemu seperti yang terjadi saat ini. Sudah beberapa kali, Tuan Puteri Ine Pare, mendapatkan kiriman santet. Tak bisa dibuktikan dari siapa santet itu datang, tetapi saya menduga itu dari Bapak Bheda, suami Ibu. Saya sebagai Ata Ko’o, budak perempuan Bapak Raja, telah berusaha untuk menangkal kiriman santet itu, dengan memasang penolaknya. Akan tetapi baru-baru ini Ine Pare kembali mendapatkan kiriman. Berarti penolak yang saya pasang di tubuh Ine Pare kalah kuat dari santet yang datang. Ilmu saya masih di bawah pengirim santet itu.”
“Saya tahu Funu. Saya sungguh tahu tentang itu. Bagaimana aku bisa membantumu?”
“Apakah Ibu bisa membantu mengambilkan lontar milik Bapak Bheda? Apabila lontar itu bisa ibu ambil, lalu saya pelajari, kemungkinan Funu yang hina ini bisa mencegah santet datang ke tubuh Ine Pare.”
“Itu mudah sekali Funu. Aku bersedia membantu.”
“Apakah Ibu Kaju tidak takut pada Bapak Bheda?”
“Tak ada yang kutakutkan di dunia ini Funu. Aku sudah tua. Mati pun memang sudah saatnya. Jadi sama sekali tak ada yang harus ditakutkan. Aku akan mengambilkan lontar itu dan kukirimkan melalui Gəmi. Aku juga sedih melihat kelakuan suamiku. Mengapa ia yang sudah tahu sejak puluhan tahun yang lalu bahwa kami tidak punya anak, tidak bersedia mengambil anak angkat? Mengapa baru sekarang ia ingin menikahi Ine Pare? Funu, aku menduga sebenarnya suamiku iri hati terhadap Bapak Raja, dan Ibu Kaja, majikanmu. Ia ingin menjadi Mosa Laki utama di Ndori ini. Ia ingin menguasai harta majikanmu.”

Kaju terlebih dahulu meninggalkan pondok di hutan cendana itu. Setelah ia berada cukup jauh, barulah Funu menyusul pergi dari pondok itu, dengan mangambil arah berbeda. Beberapa hari kemudian, Bheda marah besar. “Kaju, istriku. Kau pasti bersekongkol dengan anak buah Raja dan Kaja, untuk mencuri lontar keramat saya! Kamu ngaku sajalah sebelum aku bertindak lebih jauh.” Kaju menatap mata suaminya dengan tajam. “Bedha, dari waktu muda dulu kelakuanmu tak berubah. Kelakuanmu merupakan kelakuan para Ata Polo dari Tiwu Ata Polo di Gunung Kelimutu sana. Kapankah kau akan berhenti berbuat jahat, bertobat dan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi sesama?” Mendengar petuah istrinya, Bheda tambah marah. “Sekarang makin terbukti bahwa badanmu berada di rumah ini, tapi hatimu ada di rumah Raja dan Kaja. Mengapa kau tidak pergi saja sekalian ikut Raja dan Kaja?”

Mendengar dirinya diusir. Kaju bangkit dari tempat duduk. Ia mengambil pakaian dan barang-barang miliknya, memasukkannya ke dalam keranjang jinjing dari anyaman daun gebang. Melihat tindakan istrinya, Bheda bertanya, “Kau mau apa sekarang? Kau mau ke rumah Raja ya?” Kaju yang juga sudah sangat jengkel dengan kelakuan suaminya menjawab dengan ketus, “Mau apa aku, mau ke mana aku, itu bukan urusanmu. Sejak hari ini kau bukan lagi suamiku! Urus dirimu sendiri. Dengan hartamu yang banyak itu, kau bisa menikah dengan siapa saja, termasuk dengan Ine Pare kalau dia mau.” Kaju lalu melangkah keluar meninggalkan Sao Ria Bheda menuju Rumah salah satu adik kandungnya. Sambil berteriak-teriak Bheda menyuruh para Ata Ko’o untuk mengikuti langkah Kaju. “Ikuti terus ke mana ia akan pergi, dan segera laporkan padaku.” * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: