AWAL MALAPETAKA

05/04/2017 at 11:07 (novel)

Duä Lulu Wula yang selama ini jauh di atas sana, dan hanya bisa menyentuh Nggaé Wena Tana dengan pelangi, dengan kabut, dengan hujan; sekarang bisa benar-benar menyentuh tubuh itu bahkan memeluk dan menindihnya.

SORE itu, sehabis makan malam, Raja dan Kaja menerima Ndale, Ine Pare, Sipi, dan Funu. Suasana ruang tengah Sao Ria itu hening. Raja dan Kaja bertanya-tanya, apa yang akan mereka sampaikan? Meskipun mereka berdua juga sudah menduga-duga, apa saja yang akan disampaikan oleh Ine Pare. Dan benar, Ine Pare, segera mengajukan pertanyaan. “Bapak Raja dan Ibu Kaja, Kakak Ndale dan Adik Sipi; perkenankan saya mengajukan pertanyaan, siapakah sebenarnya Funu, yang selama ini selalu mengasuh dan melayani saya melebihi Ibu Kaja.” Ruang Sao Ria itu hening agak lama, baru kemudian Raja menjawab pertanyaan Ine Pare. “Tiga anakku, dan Funu, terutama Ine Pare dan Sipi, sudah tiba saatnya saya menyampaikan hal ini bagi kalian. Ine Pare, Funu memang bukan Ata Ko’o tetapi bibimu. Ia adik kandung ayahmu. Ine Pare, ayah dan ibu kandungmu orang Sikka dan telah terbunuh oleh Bheda.”

“Tetapi Ine Pare, kamu dan bibimu Funu sudah menjadi warga Nua Ria di Tanah Persekutuan  Ndori, karena sudah ada upacara adat resmi. Kamu resmi menjadi anak kandungku, anak keduaku, sebelum Sipi lahir. Saya senang sekali karena belum punya anak perempuan. Jadi kamu Ine Pare, tetap anak kandung Raja dan Kaja, tapi sejak sekarang, kamu boleh menyapa Funu dengan sebutan Bibi.” Agak lama Ine Pare mencerna, apa yang telah dikatakan Raja, yang selama ini menjadi ayah kandungnya. Setelah berdiam agak lama, Ine Pare menghampiri Funu. Ia bersujud dan mencium kaki Funu seraya berkata. “Bibi, maafkan aku Ine Pare, karena telah memperlakukan Bibi sebagai Ata Ko’o.” Funu menepuk-nepuk pundak dan mengusap kepala Ine Pare, kemudian memintanya duduk. Funu lalu memeluk Ine Pare erat-erat. Air matanya berurai, tetapi ia tampak tersenyum. “Aku memang ingin menjadi Ata Ko’o, agar keberadaanku, jatidiriku; tak diketahui oleh Bheda. Sudahlah, jangan ada yang berubah, aku tetap Ata Ko’o dan kau Tuan Puteri Ine Pare.”

Kemudian Ine Pare juga bersujud ke arah Raja dan Kaja, mencium kakinya sambil berkata. “Bapak Raja dan Ibu Kaja, Anda berdua lebih dari Bapak dan Ibu Kandungku. Aku telah sangat dimanjakan selama ini, melebihi Kakak Ndale dan Adik Sipi. Aku Ine Pare benar-benar berhutang budi kepada Bapak dan Ibu.” Ine Pare juga bersujud ke hadapan Ndale dan memeluk Sipi erat-erat. Tetapi ketika bersujud ke hadapan Ndale, ada perasaan aneh yang selama ini ia pendam, dan sekarang seperti terbangkitkan dengan sangat kuatnya. Perasaan sebagai seorang perempuan terhadap seorang laki-laki. Dan di dunia para Dewa, Duä Lulu Wula, Penguasa Langit Tertinggi; dan Nggaé Wena Tana, Penguasa Bumi Terdalam, juga sedang menjalin komunikasi. “Nggaé Wena Tana, sebenarnya sudah sejak lama aku ingin berhubungan denganmu, sebagaimana manusia laki-laki dan manusia perempuan.” Kata Duä Lulu Wula. Nggaé Wena Tana mengingatkan. “Itu menyalahi hukum alam, dan Duä Nggaé akan memarahi kita.”

Secara terucap,  Nggaé Wena Tana mengingatkan Duä Lulu Wula. Tetapi yang kemudian ia lakukan, justru meminta Duä Lulu Wula untuk cepat-cepat turun ke bumi. Malam itu juga Nggaé Wena Tana masuk ke tubuh Ine Pare. Dan tiba-tiba saja Puteri Raja dan Kaja itu ingin dipeluk seorang laki-laki, siapa pun ia. “Apakah aku sedang kena pelet seperti beberapa waktu yang lalu? Sepertinya tidak. Waktu itu ada hawa panas di sekitarku, dan perasaanku waktu itu hanya ingin ketemu Bheda. Sekarang ini aku hanya menginginkan seorang laki-laki.” Duä Lulu Wula mengingatkan Nggaé Wena Tana. “Tadi kau bilang itu menyalahi hukum alam, dan katamu Duä Nggaé akan memarahi kita. Sekarang malahan kau yang sudah lebih ngebet.” Nggaé Wena Tana yang sudah berada di tubuh Ine Pare, menjerit histeris. “Cepat turun dan masuk ke tubuh Ndale!” Duä Lulu Wula kembali mengingatkan, nanti kalau Duä Nggaé marah aku jangan dikait-kaitkan ya?”

Duä Lulu Wula lalu masuk ke tubuh Ndale yang waktu itu sudah tertidur lelap. Ndale segera bangun. “Mengapa aku ingin sekali memeluk seorang perempuan? Ya, sebenarnya sejak dulu aku sudah tahu bahwa Ine Pare bukan adik kandungku, tetapi bagiku tabu untuk menidurinya, karena ia sudah menjadi adikku. Tapi mengapa sekarang aku menginginkannya? Ndale lalu mendatangi kamar Ine Pare. Duä Lulu Wula yang selama ini jauh di atas sana, dan hanya bisa menyentuh Nggaé Wena Tana dengan pelangi, dengan kabut, dengan hujan; sekarang bisa benar-benar menyentuh tubuh itu bahkan memeluk dan menindihnya. Selama ini bila kemarau panjang datang, Nggaé Wena Tana hanya bisa berharap Duä Lulu Wula segera membasahinya dengan gerimis, sokur dengan hujan lebat. Selama ini Nggaé Wena Tana tak pernah berharap ada sentuhan hangat, kecuali gempuran kasar petir dan halilintar. Tapi sekarang ini Duä Lulu Wula berada dalam genggaman tangannya.

* * *

Duä Nggaé kecewa luarbiasa. “Mengapa hukum alam dibuat main-main? Mengapa yang sudah memegang kekuasaan, justru main-main dengan kekuasan yang dipegangnya? Baiklah. Kau  Duä Lulu Wula dan Nggaé Wena Tana, akan kubiarkan kau terperangkap dalam tubuh dua manusia itu sampai salah satu leher itu terpenggal!” Ine Pare dan Ndale seperti terbangun dari sebuah mimpi buruk. “Duh Duä Nggaé, apa yang telah aku lakukan?” Kata mereka hampir bersamaan. Duä Lulu Wula dan Nggaé Wena Tana juga seperti terjatuh dari langit dan menyembul dari dalam perut bumi. “Mengapa kami berada di sini?” Nggaé Wena Tana menampar Duä Lulu Wula. “Dengar, Duä Nggaé telah marah. Kita dikutuk untuk terus berada dalam tubuh ini sampai salah satu dari leher kita terpenggal!” Duä Lulu Wula menerima tamparan itu dengan sensasi luarbiasa. “Biasanya akulah yang menamparmu dengan petir, dengan halilintar, dengan badai. Sekarang kau yang menamparku. Ini sangat menyenangkan Nggaé Wena Tana! Kalau memang kau segera ingin pulang, sana ambil parang dan silakan penggal leherku saat ini juga!”

Funu yang mendengar ribut-ribut terbangun. “Sudahlah, Duä Lulu Wula, Nggaé Wena Tana, Ndale dan Ine Pare! Tidur. Sekarang sudah malam. Kalian mau melanjutkan tidur berdua silakan, mau masing-masing silakan. Kutukan sudah datang dan kami semua, rakyat Negeri Lio harus menanggungnya.” Funu lalu tidur lagi, dan dia benar-benar bisa cepat tidur pulas tanpa terganggu apa pun. Ndale dan Ine Pare, melanjutkan tidur berdua sampai pagi. Duä Lulu Wula dan Nggaé Wena Tana menikmati sesuatu yang selama ini hanya mereka lihat seperti halnya manusia melihat semut atau rayap. Ketika mereka bangun, Funu sudah berdiri tegak di halaman Sao Ria. Tangan kirinya bertolak pinggang, tangan kanannya menggenggam sebilah parang yang sangat tajam. “Duä Lulu Wula, sejak hari ini kau harus mengasah parang ini setiap hari. Kau juga harus kerja di ladang sebagaimana halnya dengan para Ata Ko’o!”

“Nggaé Wena Tana, sekarang kau harus selalu siap melayani nafsu Duä Lulu Wula setiap saat ia memerlukan. Sekarang kalian merdeka, tak terikat pada musim, tak terikat pada aturan alam.” Ine Pare terpana melihat Funu. Ia, Ata Ko’o pengasuhnya itu berani memerintah Duä Lulu Wula, dan Nggaé Wena Tana? Setelah terpana sesaat, Ine Pare berjongkok di depan Funu. “Kali ini aku yakin, Anda bukan Ata Ko’o, tetapi juga bukan bibiku. Aku yakin Anda benar bernama Wolo, utusan Duä Nggaé. Apa pun perintah Anda, akan aku laksanakan.” Funu meminta Ine Pare bangkit. “Ayo, sekarang mandi, pekerjaan sangat banyak, dan akan terus semakin banyak. Jangan pikirkan macam-macam!” Hari itu Ine Pare merasakan dirinya sebagai manusia lain. “Sekarang aku bukan lagi Puteri Tunggal Raja dan Kaja bernama Ine Pare, tetapi telah benar-benar menjadi Ine Puũ. Meski aku telah merahasiakan jati diriku, tetapi ternyata tak ada gunanya. Dia yang selama ini selalu merawatku, ternyata tahu semua tentang diriku.”

Ndale juga merasakan hal yang sama. “Mengapa sekarang aku bukan seperti Ndale yang dulu? Apa karena sekarang aku sudah menjadi seorang laki-laki? Mungkin itu salah satu penyebabnya. Tetapi mengapa sekarang aku bisa melihat segala sesuatu seperti seorang Dewa melihat umat manusia? Apakah benar aku telah menjadi seorang Dewa? Siapa yang telah menjadikan diriku seorang Dewa? Bukankah aku Ndale, putera Sulung Raja dan Kaja? Apa yang telah kulakukan belakangan ini? Mengapa aku tidur dengan Ine Pare? Apa karena ia sudah tahu bahwa aku bukan kakak kandungnya? Apa karena selama ini aku tak ada keberanian untuk mengajaknya tidur? Tidak! Aku merasakan ada sesuatu yang lain pada diriku? Siapakah Aku?” Ndale lalu menjumpai Funu. “Funu, katakan padaku, siapa sebenarnya diriku?” Funu mengatupkan dua tangannya ke bawah, lalu sambil membungkuk, ia menjawab. “Anda Tuanku Ndale, Putera Raja dan Kaja!”

Kecewa dengan jawaban Funu, ia bertanya pada Ine Pare. “Katakan padaku, siapa diriku!” Ine Pare, sebagai Ine Puũ, sebagai Nggaé Wena Tana, dengan cekatan menampar pipi Ndale. “Katakan pada Ndale siapa kau Duä Lulu Wula! Atau kupenggal lehermu sekarang biar bisa kembali ke habitatmu!” Duä Lulu Wula tertawa. Penggallah kalau kau berani Nggaé Wena Tana. Bukankah kau sekarang sedang dalam masa bulan madu, sedang dalam masa bisa menikmati tubuhku dari dekat, bukan yang satu di langit yang satu dalam tanah?” Ine Pare memegang kain Ndale, mendorong tubuh itu hingga terjatuh, lalu dengan kakinya ia menginjak selangkangan Ndale! Aku bisa saja tidak memenggal lehermu, tetapi bisa menghancurkan benda di selangkanganmu ini Duä Lulu Wula!” Ndale seperti tersadar. “Duä Lulu Wula? Duä Lulu Wula ada dalam tubuhku?”

* * *

Ata Ko’o dan Tuke Sani, pengikut Raja dan Kaja, maupun pengikut Bheda; tiap hari mempergunjingkan perbuatan inses Ndale dan Ine Pare. Hanya satu dua orang yang tahu, bahwa mereka berdua sebenarnya bukan bersaudara. Dan hanya Funu yang tahu bahwa yang melakukan hubungan suami istri bukan Ndale dan Ine Pare, melainkan Duä Lulu Wula dan Nggaé Wena Tana. “Sebaiknya mereka kita tangkap, kita penggal leher mereka, dan tubuh mereka kita cincang di tanah sampai hancur. Kalau itu semua tidak kita lakukan, hujan tidak akan datang dan kita semua akan mati. Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori ini telah tercemar oleh perbuatan buruk mereka.” Kata Tuke Sani pengikut Bheda. Tuke Sani lain menyambung. “Benar. Mereka sudah mendatangkan rumput berbelatung dari Jawa Dwipa, dan sekarang rumput berbelatung itu sudah tumbuh di ladang-ladang kita, bahkan di rawa-rawa kita. Sekarang mereka mencemari tanah kita ini dengan perbuatan terkutuk!”

Funu, merupakan Ata Ko’o yang “dituakan”. Para Ata Ko’o paling tua pun menaruh hormat kepada Funu. Bahkan kadang, Funu dianggap lebih berkuasa, dibanding Raja dan Kaja. Maka ketika berita inses Ndale dan Ine Pare merebak, para Ata Ko’o dan Tuke Sani meminta penjelasan Funu.
“Ibu Funu, benarkah Ndale dan Ine Pare telah melakukan hubungan suami isteri?” Funu menjawab dengan sangat serius.
“Aku tidak tahu. Aku tidak pernah melihatnya. Mengapa kalian mengajukan pertanyaan seperti itu? Apakah ada di antara kalian yang pernah melihat Ndale dan Ine Pare melakukan perbuatan seperti yang kalian maksud itu?” Para Ata Ko’o itu saling pandang satu sama lain.
“Kami belum pernah melihat hal itu Ibu. Jadi, apakah berita Ndale dan Ine Pare inses itu bohong?”
“Aku juga tidak tahu, apakah berita itu benar atau bohong. Sebab untuk itu harus ditanyakan pada Ndale dan Ine Pare, dan para tetua adat di Nua Ria. Menurut kalian berita itu benar, atau bohong?”
“Justru itu yang kami tidak tahu Ibu, maka kami memerlukan datang kepada Ibu. Sebab meskipun Ibu juga Ata Ko’o seperti kami, tetapi Ibulah yang merawat Ine Pare dari sejak kecil sampai sekarang.”
“Meskipun aku pengasuh Ine Pare, tetapi sekarang ia sudah dewasa, hingga aku tak tahu apakah ia pernah tidur dengan laki-laki atau belum, dan aku juga belum pernah bertanya kepadanya, ia juga tidak pernah menceritakan pengalaman pribadinya kepada saya.”
“Ibu, kami perlu ketegasan, kami ini harus bagaimana?”
“Kalian harus bekerja, agar kita semua bisa makan. Bukan mempermasalahkan sesuatu yang belum jelas benar.”
“Baiklah Ibu, mohon maaf apabila pertanyaan-pertanyaan kami ini kurang berkenan.”

Kemudian hujan memang tidak datang-datang, padahal sebenarnya sudah waktunya datang. Ata Ko’o dan Tuke Sani pengikut Bheda segera mengaitkan kemarau panjang ini dengan perbuatan inses Ndale dan Ine Pare.
“Inilah bukti, bahwa mereka perlu ditangkap, perlu dipenggal leher mereka, dan dicincang tubuh mereka! Bagaimana? Setuju?” Para Ata Ko’o yang ditanya menjawab serentak.
“Setuju!”
“Kapan kita akan melakukan hal itu?”
“Kalau perlu sekarang ini!”
“Tetapi kita harus melaporkan hal ini kepada Bapak Bheda terlebih dahulu. Kita tidak bisa langsung berbuat sesuka kita sendiri. Kita ini Ata Ko’o, budak milik Bapak Bheda.”
“Jadi kita minta izin beliau terlebih dahulu?”
“Benar, kalau beliau bilang ya, kita lakukan. Kalau beliau bilang tidak, kita batalkan.”
“Aku yakin beliau akan bilang ya! Tidak mungkin beliau bilang tidak!”

Maka para Ata Ko’o itu pun segera menghadap Bapak Bheda lengkap dengan parang mereka. Kalau Bapak Bheda bilang ya, maka saat itu juga mereka akan bergerak untuk menangkap, memenggal dan mencincang Ine Pare. Sebelum mereka mengajukan pertanyaan, Bheda telah terlebih dahulu bertanya.
“Mau apa kalian bawa-bawa parang menghadap saya?”
“Kami mau menangkap Ndale dan Ine Pare, dan akan kami penggal leher mereka, dan akan kami cincang tubuh mereka.”
“Apakah salah mereka berdua, hingga akan kalian tangkap, kalian penggal, dan kalian cincang?”
“Karena mereka telah melakukan hubungan suami isteri antar saudara kandung. Itu tabu, hingga akan mendatangkan malapetaka bagi Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori.”
“Kata siapa mereka telah melakukan hubungan suami isteri? Ine Pare itu akan jadi isteriku. Kalian lihat bukankah Ibu Kaju sudah meninggalkan Sao Ria ini dan pulang ke rumah adiknya?”
“Kami memang tahu bahwa Puteri Ine Pare akan menjadi intri Bapak Bheda! Tetapi kata orang-orang Ine Pare dan Ndale sekarang sudah melakukan hubungan suami isteri.”
“Apa orang-orang itu pernah melihat dengan mata mereka sendiri, Ndale dan Ine Pare melakukan hubungan suami isteri?”
“Kami tidak tahu Bapak Bheda!”
“Kalau begitu, kalian tanya dulu pada orang-orang itu, apa benar yang kalian katakan itu, dan orang-orang itu benar-benar telah melihatnya. Sebelum itu kalian ketahui, jangan ada yang bertindak sendiri-sendiri tanpa komando saya ya?”

Sepulang dari menghadap Bheda, para Ata Ko’o itu saling bertanya satu sama lain. “Mengapa Bapak Bheda tidak seperti biasanya. Mengapa tadi seakan-akan ia menjadi seorang yang sangat bijaksana? Apakah  ada yang tahu sebabnya?”
“Sebabnya jelas seperti yang beliau katakan, kita tidak boleh membunuh Ine Pare, karena ia akan menjadi isteri beliau. Itu jelas bukan?”
“Itu justru yang belum jelas, sebab Bapak Bheda belum pernah melamarnya, juga belum pernah ada perintah untuk membuat pesta.”
“Sekarang kita harus bertanya kepada siapa?”
“Aku juga tidak tahu. Siapa dulu yang pertamakali mengatakan bahwa Ndale dan Ine Pare berbuat inses melakukan hubungan suami isteri?” * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: