MURID SARALA

10/04/2017 at 12:33 (novel)

Di ketinggian itu mereka membuat api unggun, di sebuah cekungan, agar tak terlihat dari arah timur. Tetapi menjelang tengah malam, mereka melihat ada beberapa orang berjalan dengan membawa api ke arah mereka.

PADA pagi hari, tiga kapal cadik dari negeri Jawa Dwipa kembali merapat di lepas Pantai Ndori. Para penumpang dan barang dagangan diangkut ke pantai menggunakan perahu. Kali ini hanya ada tiga kapal cadik. Di antara para penumpang kapal itu tampak Puteri Dharani, dengan seorang laki-laki bernama Gauri dan para pengawal mereka. Puteri Dharani telah menikah dengan Gauri, tetapi belum dikaruniai anak. Gauri merupakan murid Guru Sarala, yang pernah tinggal di Pulau Flores untuk menyalin mantra-mantra lisan ke dalam lontar. Mereka hanya akan tinggal selama beberapa hari, untuk melanjutkan pelayaran mereka ke Timor, Tidore, Ternate, dan Banda, lalu kembali lagi ke Jawa Dwipa. Mereka disambut oleh  Raja dan Kaja, Ndale, Ine Pare, Sipi dan Funu. Orang-orang Jawa Dwipa yang berada di Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori, juga menyambut kedatangan Puteri Dharani. Mereka diminta untuk masuk ke Sao Keda.

Siang itu mereka akan dijamu makan siang oleh Raja dan Kaja. Secara khusus, Raja dan Kaja meminta orang-orang Jawa Dwipa yang bermukim di Ndori untuk memasak menu Jawa Dwipa. “Tetapi mohon maaf Puteri Dharani, kali ini sedang kemarau panjang, hingga tidak ada sayuran. Selain itu, sekarang anak saya Ndale, dan Ine Pare, juga sudah saya nikahkan. Ine Pare sebenarnya merupakan anak angkat kami. Karena akan menikah dengan Ndale, anak kandung kami, maka status anak angkat itu telah dicabut, dan sekarang Ine Pare menjadi anak angkat Kalyan dan Swesti. Berarti Ine Pare sekarang berstatus sebagai Puteri dari Negeri Jawa Dwipa.” Gauri, yang bisa berbicara Bahasa Lio, meskipun tidak terlalu lancar menjelaskan bahwa dirinya murid Guru Sarala yang pernah tinggal di Pulau Flores. Ia juga suami Puteri Dharani. Ia menyampaikan permohonan maaf karena Bapak Bhadrak tidak bisa ikut berkunjung untuk menjalin tali silaturahmi.

Gauri yang banyak mempelajari mantra-mantra Negeri Lio, kemudian terlibat pembicaraan serius dengan Funu menggunakan Bahasa Sansekerta. “Ibu Funu, saya mendengar dari Puteri Dharani, istri saya, bahwa Ibu Funu banyak tahu tentang mantra-mantra Negeri Lio. Dulu Guru Sarala sering bercerita tentang salah satu pembantu beliau yang kemudian diajari menulis dan membaca lontar. Ia bernama Bheda, dan katanya juga bermukim di sini.” Funu mengangguk-angguk, lalu menjelaskan, bagaimana Bheda menjadi Ata Ko’o, budak laki-laki di Negeri Sikka, negerinya. “Ia bekerja di rumah orang tua saya. Waktu itu kakak laki-laki saya baru saja menikah dan melahirkan Ine Pare. Entah karena apa, ia kemudian mengamuk dengan parang, dan membunuh seluruh keluarga orang tua saya, termasuk kakak saya dan istrinya. Saya bisa selamat bersama Ine Pare. Berhari-hari saya ikuti penjahat ini, maksud saya untuk membalas dendam.”

Funu mengatakan bahwa ia tidak mungkin bisa mengalahkan Bheda, sebab waktu itu berjalan sambil menggendong Ine Pare. “Saya kemudian ditolong oleh Bapak Raja, dan bermukim di sini.” Makan siang kemudian disajikan, dan para tamu menyantap masakan dengan enak. Kepada para tamu dari Jawa Dwipa, Raja menunjukkan, bahwa meskipun kemarau panjang, sekarang masyarakat Ndori bisa mengambil air di depan Sao Keda ini. Orang-orang Jawa Dwipa itulah yang telah membuat saluran dari bambu, hingga air bisa mengalir sampai ke pemukiman ini. “Jadi mereka sekarang sudah punya cadangan makanan berupa padi, dan air untuk memasak juga tidak perlu diambil dari tempat jauh. Dulu kami hanya memerlukan air untuk minum dan mandi, sebab kami memasak dengan cara dibakar. Sekarang dengan adanya padi, kami harus punya banyak air untuk memasak beras menjadi nasi. Sekarang umbi-umbian juga kami rebus, bukan kami bakar.”

Kepada Funu, Gauri menyampaikan cerita dari  Guru Sarala. “Saya pernah punya budak bernama Bheda. Saya tahu dia sangat jahat. Tetapi dalam menolong orang, saya tidak boleh pilih kasih. Yang baik, yang jahat semua harus saya tolong kalau mereka berada dalam kesusahan. Kata Guru Sarala, kejahatan tetap diperlukan di dunia ini, untuk mengimbangi kebaikan, hingga harmoni bisa tercipta. Kebaikan dan kejahatan harus selalu ada seperti halnya siang dan malam, panas dan dingin, jauh dan dekat, bahagia dan sengsara. Ibu Funu, meskipun sudah menjadi murid Guru Sarala puluhan tahun, saya tetap tidak mampu mengikuti jalan pikiran beliau. Mungkin ilmu saya masih sangat terbatas, hingga masih harus banyak belajar lagi.” Funu mengangguk-angguk. Masih terbayang bagaimana ketika itu Bheda menghabisi orangtua dan saudara-saudaranya.

* * *

Baru saja Raja dan Kaja beserta keluarga selesai makan siang bersama para tamu mereka, di salah satu kapal cadik itu terjadi keributan. Ternyata ada dua perahu yang datang menyerang kapal cadik itu. Para tamu dari Jawa Dwipa, termasuk Puteri Dharani, Gauri dan para pengawal mereka berlarian ke pantai. Ternyata di pantai itu juga sedang terjadi perkelahian. Puteri Dharani bisa dinaikkan ke perahu, lalu menuju ke salah satu kapal Cadik. Kapal Puteri Dharani itu kemudian menarik sauh dan menuju ke tengah Laut Sabu. Satu kapal lagi juga bisa melakukan hal yang sama. Satu kapal dikuasai oleh para penyerang yang sudah berhasil membunuh para awak kapal. Gauri dan para pengawalnya masih terlibat perkelahian dengan sekelompok penyerang di darat. Raja dan Kaja segera memerintahkan para Ata Ko’o untuk mengambil parang dan senjata lain guna membantu para tamu dari Jawa Dwipa ini.

Tetapi terlambat. Gauri dan para pengikutnya tewas di tangan para penyerang. Sebelum para Ata Ko’o datang memberi bantuan, para penyerang itu menuju ke arah Raja dan Kaja, lalu membunuhnya. Para pengikut Raja dan Kaja, sama sekali tidak menduga kalau akan ada serangan yang demikian mendadak. Funu dengan cepat mengambil empat ekor kuda. Ia mengajak Ndale, Ine Pare dan Sipi untuk pergi. Ternyata Sipi sudah terlebih dahulu pergi ke arah timur dengan dikawal beberapa orang. Dengan berkuda, Funu mengajak Ndale dan Ine Pare lari ke arah barat. Beberapa Ata Ko’o dan orang Jawa Dwipa mengawal mereka bertiga. Keadaan di Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori tampak sangat kacau. Para Ata Ko’o dan Tuke Sani yang berusaha melawan berhasil dikalahkan oleh para penyerang. Seluruh pemukiman Nua Ria di Tanah Persekutuan Ndori, telah berhasil dikuasai para penyerang.

Funu, Ndale dan Ine Pare, menuju Jopu pemukiman baru tempat budi daya padi sawah. Di sana Rishi dan Sarik tak tahu apa yang terjadi di Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori. Setelah diberi tahu, mereka dan seluruh penghuni pemukiman baru itu segera berkemas. Barang-barang, cadangan makanan termasuk benih padi mereka taruh di atas kuda, seperti para pedagang keliling. Kemudian mereka bergegas pergi ke arah barat. Karena hari sudah mendekati sore, mereka mencari tempat yang aman untuk bermalam. Mereka memilih tempat yang tinggi di lereng bukit, agar bisa melihat ke bawah, apabila para penyerang datang. Beban mereka turunkan dari kuda, dan mereka membiarkan hewan itu mencari rumput di tempat yang masih agak lembap.  Di ketinggian itu mereka membuat api unggun, di sebuah cekungan, agar tak terlihat dari arah timur. Tetapi menjelang tengah malam, mereka melihat ada beberapa orang berjalan dengan membawa api ke arah mereka.

Funu minta api dipadamkan. Barang-barang dikemasi dan dinaikkan ke atas kuda,  dan mereka bersembunyi di antara semak belukar di dekat tempat itu. Dari tempat persembunyian mereka bisa mengamati orang-orang itu datang. Mereka merencanakan menyerang para pendatang itu dengan mendadak. Dari kejauhan orang-orang itu tampak berjalan dengan katakutan, mereka tidak membawa apa-apa. Ternyata mereka para Ata Ko’o dan Tuke Sani pengikut Raja dan Kaja. Funu segera minta mereka semua keluar. Mereka lalu kembali menyalakan api. Orang-orang yang baru datang itu terdiri dari empat pasang keluarga dengan anak-anak mereka. Mereka bercerita bahwa penyerang itu terdiri dari para pengikut Bheda. “Tetapi Bapak Bheda dibujuk oleh Bapak Kalyan dan Ibu Swesti. Merekalah yang membujuk para Ata Ko’o dan Tuke Sani pengikut Bapak Raja dan Kaja untuk menjadi penyerang. Nikhil yang tak mau ikut dalam kelompok ini diancam terlebih dahulu dibunuh.”

“Jadi Kalyan dan Swesti yang memprakarsai penyerangan ini?” Tanya Funu kaget. Ia masih terngiang kata-kata Gauri, yang ternyata merupakan kata-kata terakhirnya. “Kejahatan tetap harus ada untuk mengimbangi kebaikan, agar tercipta harmoni. Ternyata tak hanya orang-orang baik yang datang dari Jawa Dwipa. Di antara mereka juga ada orang-orang jahat yang berpura-pura baik. “Saya jadi merasa hormat kepada Bheda. Ia orang jahat yang jujur, karena tak pernah menyembunyikan perilaku jahatnya. Kalyan dan Swesti, orang-orang yang selalu tampak baik itu, ternyata lebih jahat dari Bheda. Bagimana dengan Sipi?” Orang-orang yang baru datang itu bercerita, bahwa tadi ada yang melihat Sipi ditolong oleh adik Ibu Kaju, dan mereka dengan beberapa orang berhasil lolos ke arah timur.” Funu bertanya. “Bagaimana dengan Ibu Kaju?” Orang-orang itu menjawab. “Ibu Kaju juga ikut lari ke arah timur.” Dari lereng bukit itu, mereka bisa melihat ke arah bawah. Tapi tak terlihat apa pun selain hamparan hitam yang gelap.

* * *

Funu minta tiga orang berjaga bergantian. Kalau satu orang mengantuk, harus segera membangunkan orang lain untuk berjaga menggantikannya, kecuali anak-anak. “Besuk kita akan melanjutkan perjalanan ke arah Mutu Busa, Tanah Persekutuan Ndona. Kita akan melaporkan apa yang telah terjadi di Tanah Persekutuan Ndori, kepada Bapak Ratu, kakak Bapak Raja.” Maka sepanjang malam itu mereka berjaga-jaga bergantian, dan tak terjadi apa-apa. Pagi hari, sebelum matahari terbit, mereka melanjutkan perjalanan ke arah barat. Jalan ke arah Mutu Busa terus menanjak naik. Kadang-kadang jalan menurun, tetapi itu turunan tipuan, sebab tak lama kemudian akan ada tanjakan yang lebih tinggi lagi. Wilayah Tanah Persekutuan Ndona, terletak persis di sebelah barat Tanah Persekutuan Ndori, tetapi dibatasi oleh lembah yang sangat luas. Letak Mutu Busa agak sedikit lebih ke utara, di kawasan pegunungan.

Mereka tiba di Mutu Busa sudah lewat tengah hari. Ratu, beristrikan Gawi, merupakan Mosa Laki di Mutu Busa, Tanah Persekutuan Ndona. Mereka berdua, anak-anak mereka, para Ata Ko’o dan Tuke Sani, menyambut kedatangan Ndale, Ine Pare, Funu dan rombongan. Alangkah kaget, Ratu dan Gawi, ketika mereka mendengar nasib buruk yang menimpa adik dan adik ipar mereka, Raja dan Kaja. Ratu segera memerintahkan agar para Ata Ko’o dan Tuke Sani mempersiapkan senjata berupa parang, tombak, dan anak panah. Ia juga segera memerintahkan para Ata Ko’o untuk membangun empat pos jaga di sepanjang jalan masuk ke Tanah Persekutuan Ndona dari arah timur. “Pos-pos itu harus terus dijaga siang dan malam secara bergiliran. “Ketika pos paling depan melihat ada kelompok penyerang datang, mereka harus memukul kentongan bambu, hingga terdengar oleh pos di belakangnya, pos ini ikut memukul kentongan, demikian terus-menerus hingga seluruh penduduk di Tanah Persekutuan Ndona bisa tahu ada penyerang datang.”

Seluruh Tanah Persekutuan Ndona, tiba-tiba berada dalam suasana perang. Tetapi ketika mereka tahu bahwa di antara mereka yang datang itu ada Ine Pare, masyarakat segera datang untuk menyalaminya. Nama Ine Pare ternyata sudah sangat dikenal oleh masyarakat Mutu Busa, Tanah Persekutuan Ndona. “Jadi inikah Ine Pare, Ibu Padi itu? Yang telah memrakarsai datangnya padi ke Negeri Lio? Ibu, sekarang padi juga sudah menjadi makanan pokok di Tanah Persekutuan Ndona. Lihat itu di luar sana Ibu. Itu Lewa-lewa yang semua berisi padi. Ibu, di sini yang ditanam kebanyakan padi lahan sawah. Sebab di Mutu Busa Tanah Persekutuan Ndona, banyak lahan yang sepanjang tahun ada airnya. Tetapi ada juga padi ladang, terutama di lereng-lereng bukit yang mengarah ke selatan sana, sampai ke pantai Laut Sabu. Ibu, kami senang sekali ibu sampai ke Mutu Busa, tapi kami juga sangat sedih mendengar adanya penyerangan di Tanah Persekutuan Ndori.”

Sebenarnya, Ratu dan Gawi, ingin agar rombongan itu menetap saja di Ndona. Ratu dan Gawi, beserta seluruh masyarakat Ndona, akan menjaga keselamatan mereka, kalau ada penyerang datang. Tetapi Funu, Ndale, dan Ine Pare tidak mau perseteruan yang terjadi di Ndori, merambat sampai melibatkan Tanah Persekutuan Ndona. “Bapak Ratu dan Ibu Gawi, terimakasih atas kebaikan Bapak dan Ibu, juga atas penerimaan yang hangat selama ini. Tetapi mohon maaf, kami serombongan ini tidak ingin keberadaan kami di Ndona, menyebabkan para penyerang datang, dan merusak Tanah Persekutuan yang selama ini aman dan damai. Maka kami akan segera berkemas untuk melanjutkan perjalanan ke arah barat. Apabila nanti para penyerang datang, disebutkan saja bahwa benar pernah datang, tetapi hanya lewat lalu melanjutkan perjalanan ke arah barat sana.”

Maka mereka pun berkemas, dan esoknya, pagi-pagi benar tinggal menaikkan barang-barang ke atas punggung kuda untuk melanjutkan perjalanan ke arah barat. Ratu dan Gawi, memberi mereka bekal yang cukup untuk beberapa hari perjalanan, empat orang Ata Ko’o, dan dua ekor kuda. Mereka belum tahu akan ke mana, yang penting mereka bisa menjauhi Tanah Persekutuan Ndori, dan tidak merepotkan Ratu dan Gawi, kakak kandung Raja. Sebenarnya mereka berdua masih punya saudara tertua bernama Konde, yang menikah dengan Ura, dan bermukim di Tanah Persekutuan Kelimutu. Tetapi Ine Pare, Ndale dan Funu memutuskan untuk tidak ke sana. Mereka lebih memilih mencari lahan yang masih kosong untuk membangun pemukiman di sebelah barat Mutu Busa, Tanah Persekutuan Ndona. Tempat pemukiman baru itu harus agak terlindung dari para penyerang, sebab mereka yakin, Bheda masih akan mengejar untuk mendapatkan Ine Pare, dan lontar yang dikuasai Funu. * * *

Fragmen Novel Inepare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: