TANAH PEMUKIMAN BARU

17/04/2017 at 12:25 (novel)

“Menjadi laut?” Tanya Funu kaget. “Benar, seluruh bukit di atas Nua Ria itu runtuh akibat hujan dua hari dua malam setelah kemarau sangat panjang. Seluruh pemukiman itu hanyut ke laut dan penghuninya tak ada yang selamat.”

PADA waktu itu, masing-masing Tanah Persekutuan, merupakan kawasan independen; yang tak terkait satu sama lain. Bahkan komunikasi berupa kunjungan dan hubungan kekerabatan sangat jarang terjadi. Tanah-tanah Persekutuan itu hanya dihubungkan oleh jalan setapak melalui ladang, padang sabana dan hutan. Hanya para pedagang dengan beberapa kuda beban, secara rutin mengunjungi Tanah-tanah Persekutuan itu; sementara para penghuni hampir tak pernah meninggalkan rumah dan ladang mereka. Hidup masyarakat di Tanah Persekutuan, hanya berkisar di sekitar rumah sendiri, ladang, dan rumah para tetangga, sesama penghuni Tanah Persekutuan. Apabila ada peristiwa yang luarbiasa, barulah mereka meninggalkan Tanah Persekutuan, untuk mendatangi Tanah Persekutuan lain. Ndale, Ine Pare, Funu dan rombongan termasuk yang mengalami peristiwa luarbiasa, hingga meninggalkan Tanah Persekutuan, untuk membangun pemukiman baru.

Bagi Funu, ini merupakan pengembaraan kedua. Sekitar duapuluh tahun silam, ia juga mengembara dengan menggendong Ine Pare, diikuti oleh beberapa Ata Ko’o, dari Negeri Sikka, sampai ke Negeri Lio. Kali ini mereka berjalan ke arah barat, menjauhi Tanah Persekutuan Ndona. Setelah setengah hari berjalan, mereka terhalang oleh tebing terjal, hingga harus berbelok ke arah utara. Mereka mencari-cari celah tebing itu, untuk menembus bukit, menuju lembah di sebelahnya. Tetapi selama dua hari perjalanan, lembah itu belun juga mereka temukan. Baru pada hari keempat, mereka melihat ada lembah yang tampak masih sangat jauh di bawah sana. Meskipun sudah tampak, tetapi mencapai lembah itu harus dengan cara memutar, menghindari jurang yang sangat dalam. Lembah itu tak berpenghuni. Ine Pare yang berjalan depan, menunjuk tempat yang agak datar, bermataair dan berbatasan langsung dengan tebing bukit.

“Funu, aku merasa tempat ini cukup baik untuk pemukiman baru. Di timur ada mata air dan tebing bukit, di  barat ada lembah yang agak datar!” Funu setuju, lalu mereka berhenti untuk membangun pondok sementara, agar bisa digunakan untuk tidur bagi semua orang. Malam pertama tidur di tempat itu, Ine Pare merasakan pikirannya kosong. Malam selama dalam perjalanan tak begitu terasa, karena badan sudah sangat capek, dan suasana selalu berganti-ganti. Sekarang, mereka akan terus menghuni tempat ini, membuka pemukiman, dan tanah pertanian baru. “Apakah benih padi yang kita bawa itu masih baik?” tanya Ine Pare kepada para Ata Ko’o. Karena takut benih yang mereka bawa sudah tidak baik, Funu minta empat orang Ata Ko’o pergi ke Tanah Persekutuan Ndona untuk meminta benih yang masih baik sekalian memberi kabar, bahwa mereka sudah menemukan tempat pemukiman baru. Oleh Ine Pare, tempat pemukiman ini diberi nama Detusoko.

Para Ata Ko’o diminta memberitahu Ratu dan Gawi, agar para pedagang bisa datang ke pemukiman baru mereka. Untuk mengangkut perbekalan para Ata Ko’o itu membawa dua ekor kuda. Mereka menemukan jalan pintas yang bisa lebih cepat mencapai Mutu Busa, Tanah Persekutuan Ndona. Kalau sebelumnya mereka memerlukan waktu lima hari, maka para Ata Ko’o ini bisa mencapai Ndona hanya dalam waktu tiga hari. Mungkin juga, cepatnya perjalanan mereka ini karena tidak disertai oleh perempuan dan anak-anak. Dari Ndona, para Ata Ko’o ini pulang dengan disertai Ata Ko’o dan Tuke Sani  Mutu Busa, agar mereka tahu jalan ke Tanah Pemukiman baru ini. Mereka bercerita, bahwa sudah ada pedagang yang datang dari Ndori. Para pedagang ini bilang bahwa sekarang yang berkuasa di Nua Ria Tanah Persekutuan Ndori, Kalyan, Swesti, dan Roshan dari Jawa Dwipa. Bheda, malahan pindah ke Jopu. Para pedagang itu juga bercerita, bahwa Sipi, dan para pengikutnya telah membuat Tanah Persekutuan baru di Negeri Sikka.

“Di sini masih cukup banyak makanan, berupa umbi-umbian dan  buah sukun. Maka kita menanam padi sawah secukupnya. Bagaimanakah kita harus membuat tanah ini agar bisa berlumpur dan bisa ditanami padi? Di sini tidak ada kerbau.” Cangkul yang dibawa Rishi dan Sarik tak cukup untuk mengerjakan tanah yang ada. Para “Ata Ko’o dari  Mutu Busa itu akan kembali ke Ndona, untuk memesan cangkul dari para pedagang. “Di Mutu Busa juga sudah banyak petani yang mengerjakan sawah dengan cangkul. Cangkul-cangkul itu mereka datangkan dari Jawa Dwipa. Kapal-kapal cadik dari Jawa Dwipa dan kapal-kapal junk china dari Negeri Han, tidak hanya membuang sauh di lepas Pantai Ndori, melainkan di mana saja ada pemukiman. Para pedagang berkuda itu sudah punya hubungan baik dengan Mosa Laki setempat, yang juga berperan sebagai pedagang besar.

* * *

Di pemukiman baru ini, kadang Ine Pare bertanya, “Benarkah ramalan burung Garugiwa itu akan terjadi? Atau itu hanya halusinasi saat menginjak usia remaja? Meskipun serba kekurangan, serba susah, Ine Pare merasakan kebahagiaan luar biasa. Padi sawah tumbuh dengan baik. Padi ladang belum bisa ditebar, karena masih menunggu hujan datang. Di lahan sawah itu banyak terdapat ikan, kodok, belut, dan siput air tawar.”Apakah aku akan tetap merahasiakan ramalan burung Garugiwa itu, atau harus kuceritakan kepada Ndale dan Funu?” Ine Pare ragu-ragu. Baiklah, aku akan bertanya pada Funu. “Funu, ketika masih remaja, aku pernah diramal oleh burung Garugiwa, bahwa demi tanaman padi, leherku harus dipenggal oleh parang putera Bapa Angkasa. Apakah ramalan itu masih berlaku Funu?” Funu mengangguk.

“Apa yang sudah digariskan oleh Duä Nggaé, akan terjadi. Burung Garugiwa hanyalah sarana penyampaian pesan.”
“Apakah sebaiknya Ndale diberi tahu tentang hal ini, Funu?”
“Tuan Puteri, Ndale tidak perlu diberitahu. Sebagai Duä Lulu Wula, ia sudah tahu apa yang harus ia lakukan.”
“Itulah yang justru kuragukan Funu. Sebab setelah bisa menikmati hubungan antara laki-laki dan perempuan sebagai manusia, Nggaé Wena Tana    yang ada di tubuhku juga merasa kerasan, dan malas untuk kembali ke alam Kedewaan. Aku yakin Duä Lulu Wula juga akan merasakan hal yang sama.”
“Justru itulah Tuan Puteri, pada saat-saat tertentu, manusia juga harus mengingatkan para Dewa, apabila mereka alpa mengurus pekerjaan mereka, dan sibuk dengan kenikmatan duniawi yang seharusnya bukan menjadi bagian mereka.”
“Baiklah Funu, itu aku akan memberitahu Ndale.”

Maka pada suatu sore, setelah seharian bekerja di ladang, di beranda rumah mereka, Ine Pare memberitahu Ndale, “Kakak Ndale, aku pernah diramal oleh burung Garugiwa, bahwa aku akan menjadi Ibu Padi, dengan nama Ine Puũ.” Tanpa harus menunggu cerita selanjutnya Ndale menjawab. “Aku tahu itu. Aku juga tahu bahwa aku harus memenggal lehermu dengan parang tajam di puncak Keli Ndota.” Sekarang Ine Pare yang justru kaget, karena Ndale tahu persis ramalan burung Garugiwa, termasuk Keli Ndota. “Darimana kau tahu tempat itu Kakak Ndale?” Dengan tenang Ndale manjawab. “Dari burung Garugiwa.” Ine Pare makin kaget. “Kau juga pernah didatangi burung Garugiwa?” Ndale mengiyakan pertanyaan itu. “Benar, tetapi itu sudah lama sekali. Aku juga harus kuat menahan godaan dari Duä Lulu Wula yang ingin menetap di tubuhku untuk selamanya. Kalau hal itu terjadi,  Negeri Lio, bahkan seluruh Pulau Flores akan menjadi pasir panas tanpa tumbuhan sama sekali, sebab hujan tak akan turun.”

Ine Pare tak menduga, bahwa Ndale juga pernah didatangi burung Garugiwa. Ia memeluk Ndale kuat-kuat, sambil menahan air mata meleleh di pipinya. “Aku juga harus kuat Kakak Ndale. Godaan dari Nggaé Wena Tana untuk terus menetap di tubuhku juga sangat kuat. Tapi aku harus melawan. Oh, bukan Kakak Ndale, bukan melawan. Aku harus menerima dan memanfaatkan kekuatannya. Ya bukankah para Dewa itu sangat kuat? Dengan adanya Duä Lulu Wula, dan Nggaé Wena Tana, sebenarnya kita bisa dengan mudah membunuh Bheda dan para pengikutnya, lalu kembali merebut Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori. Aku akan menyampaikan hal ini kepada Funu.” Mereka berdua menemui Funu. Ternyata Funu bisa persis menebak yang dipikirkan Ine Pare. “Aku tahu apa yang akan kau kemukakan, yakni merebut kembali Ndori, dengan bantuan Duä Lulu Wula dan Nggaé Wena Tana.”

Funu tak setuju. “Kita tunggu saat yang tepat. Malapetaka ini mungkin justru merupakan jalan yang dibuat oleh Duä Nggaé agar kau bisa menyebarkan padi ke seluruh Negeri Lio.” Ternyata pendapat Funu ini sangat tepat. Tak berapa lama kemudian datang tiga orang pedagang dari Negeri Sikka. Mereka datang ke Tanah Pemukiman Baru ini atas permintaan Ratu dan Gawi. Para pedagang itu membawa cangkul tetapi hanya empat lembar. “Sekarang cangkul sangat laris karena banyak orang menanam padi. Nama Ibu Ine Pare juga disebut di mana-mana sampai ke Negeri Sikka sana.” Para pedagang itu juga bercerita bahwa akibat hujan lebat seluruh bukit di atas pemukiman Nua Ria longsor ke bawah, menimbun rumah dan perahu-perahu. “Di sana sekarang tak ada lagi kehidupan.”

* * *

Para pedagang itu tidak akan kembali ke Ndona melainkan terus melanjutkan perjalanan ke barat, menuju Tanah Persekutuan Nua Ende. “Jadi kalau kita terus ke barat, akan tembus ke Tanah Persekutuan Ende? Berapa hari untuk sampai ke sana?” Tanya Funu. “Benar Ibu, akan sampai ke Tanah Persekutuan Nua Ende, kami tidak tahu berapa hari lama perjalanan itu. Dari Ndona paling cepat 10 hari. Kalau pas hujan kami tidak berani jalan, karena bisa satu bulan baru sampai. Ibu mau ke Nua Ende?” Funu menggeleng. “Bukan sekarang. Sekarang saya justru akan ke Ndona. Siapkan kuda dan perbekalan. Dua Ata Ko’o ikut aku ke Ndona.” Bersamaan dengan keberangkatan para pedagang ke arah barat daya, Funu dengan dua Ata Ko’o menuju ke arah selatan, ke Mutu Busa, Tanah Persekutuan Ndona. Sesampai di Ndona, Funu disambut oleh Ratu dan Gawi. “Nua Ria, Tanah Persekutuan Ndori sudah tak ada.”

Dengan mata berkaca-kaca, Ratu bercerita, bagaimana adik bungsunya itu bekerja keras membangun Tanah Persekutuan Ndori. “Itu memang tanah tandus Funu, tapi cendana banyak sekali. Maka kapal-kapal dari Jawa Dwipa lebih senang membuang sauh di Ndori, meskipun untuk jualan kain dan barang-barang logam mereka lebih senang bersandar di Ende. Jadi sekarang, orang-orang Mutu Busa yang perlu barang-barang dari Jawa Dwipa, harus membelinya di Ende, sebab pantai Ndona ini curam semua, tidak ada yang landai. Ndori agak beruntung karena punya banyak cendana, tapi juga punya pantai yang landai. Tapi sekarang adik saya sudah tak ada, Tanah Persekutuan yang dibangunnya juga sudah hilang menjadi laut. “Menjadi laut?” Tanya Funu kaget. “Benar, seluruh bukit di atas Nua Ria itu runtuh akibat hujan dua hari dua malam setelah kemarau sangat panjang. Seluruh pemukiman itu hanyut ke laut dan penghuninya tak ada yang selamat.”

Sambil terbata-bata dan mata berkaca-kaca, Ratu kembali bercerita. “Mungkin ini merupakan amarah dari Nggaé Wena Tana, karena darah adikku yang tak bersalah itu telah ditumpahkan di atasnya. Saya dengar, setelah pembunuhan itu, jenasah adikku dan adik iparku juga dimakamkan dengan cara tidak layak. Mereka berdua mungkin mengadu ke Nggaé Wena Tana, hingga diberi makam yang lebih layak, bersama dengan seluruh penghuni Nua Ria yang telah membunuhnya, bersama dengan orang-orang dari Negeri Jawa Dwipa yang telah mengkhianatinya.” Funu menyela. “Bagaimana dengan Bheda?” Ratu menjawab cepat. “Ia tidak ikut menjadi korban. Karena sejak beberapa waktu setelah penyerangan,  Bheda pindah ke Jopu, yang lebih dekat ke Ndona dibanding ke Nua Ria.”

“Funu, aku dan seluruh rakyat Ndona juga harus siap-siap. Sebab dengan hilangnya Pemukiman Nua Ria di Tanah Persekutuan Ndori, tampaknya Bheda menjadi kalap. Dia mempersiapkan pasukan dan tiap hari berlatih. Mereka juga sudah memakan nasi dari beras. Uang emas adikku Raja dan Kaja yang ia rampas, tampaknya cukup banyak. Dengan uang itu ia telah membeli banyak kuda, parang, tombak, dan kapak. Tampaknya ia telah siap benar untuk merebut Mutu Busa ini. Tapi rakyat Mutu Musa berjumlah lebih banyak, hingga akan terus bertahan.” Funu cepat-cepat menyela. “Bapak Ratu, waktu mengambil alih Nua Ria dengan membunuh Bapak Raja dan Ibu Kaja, mereka juga hanya berjumlah belasan orang. Tetapi keterampilan mereka luar biasa. Saya menyarankan, agar Bapak Ratu memanggil para ahli memainkan parang dan tombak dari Tanah Persekutuan Ende, untuk melatih rakyat di Mutu Busa.”

“Itu memang benar Funu, tetapi saya menyarankan, kamu segera mengajak Ine Pare, dan Ndale untuk pergi ke Utara, ke  Kelimutu. Temuilah saudara tertuaku, Kakak Konde, dan Istrinya Ibu Ura. Mereka pasti akan menerima Ine Pare dengan senang hati. Biarkan pemukiman baru itu tetap tumbuh. Biarkan nanti orang-orang Mutu Busa membantu orang-orang Detusoko untuk membuka lebih banyak sawah, guna menghasilkan padi. Sebab tempat itu terlalu basah hingga tidak ada kayu candana. Saya akan memberikan 10 orang Ata Ko’o pilihan untuk mengawal Funu, Ine Pare, dan Ndale ke utara sana. Ajak pulalah satu keluarga orang Jawa Dwipa untuk menyebarkan tanaman padi ke utara sana. Duä Nggaé, Duä Lulu Wula, Nggaé Wena Tana, Wula dan Leja, akan menyertai perjalanan kalian Funu.” * * *

Fragmen Novel Ine Pare/Novel Ibu Padi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: